Harus Berurusan Dengannya

1524 Words
"Ma..af, aku tidak biasa memberikan nomer ponselku kepada orang yang belum aku kenal," jawab Cielo melepaskan tangannya dari genggaman Ansel. Ansel menatap mata Cielo dengan tajam. "Belum kenal? Bukankah kita baru saja berkenalan, Nona?" kata Ansel mendekatkan wajahnya. Entah mengapa sinar mata Ansel seolah-olah memiliki daya magis yang bisa menyihir orang yang ada di hadapannya. Dari jarak dekat, Cielo bisa melihat ada sebuah tato yang menyembul di bahu sebelah kanan cowok itu. Sedangkan di telinga kirinya, Ansel mengenakan anting kecil berwarna hitam. Dengan penampilan seperti itu, membuat Ansel terlihat liar sekaligus menawan. "Kelihatannya dia bukan tipe cowok baik-baik. Dia lebih mirip tokoh bad boy yang ada di film. Aku harus menghindari cowok ini jika tidak ingin dapat masalah," batin Cielo berusaha mencari jalan keluar. Cielo membalikkan badannya ke depan untuk membelakangi Ansel. "Maaf, aku harus mengantri fotocopy dulu." "Alasanmu sangat konyol," bisik Ansel di belakang leher Cielo. Dalam situasi canggung itu, Cielo sangat bersyukur karena Nayla dan Tobi datang di waktu yang tepat. "Ciel, masih panjang ya antriannya? Ya ampun bisa telat kita masuk kelas," ucap Nayla menerobos masuk di antara Cielo dan Ansel. "Eh, iya masih panjang, Nay," jawab Cielo merasa lega dengan kehadiran Nayla. Tobi ikut-ikutan berdiri di samping Nayla dan Cielo. "Haduh tinggalin aj deh. Mending kita siap-siap masuk ke kelas cari bangku yang posisinya di tengah." "Iya, Nay, ayo kita pergi. Nanti kita fotocopy lagi waktu pergantian sesi tiga. Sementara kamu bisa pinjam handoutku," kata Cielo meyakinkan Nayla. Cielo hanya ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu agar terbebas dari Ansel. "Oke, oke, yuk," jawab Nayla menarik tangan Cielo. Tidak ingin menengok lagi ke belakang, Cielo bergegas mengikuti Nayla. Tanpa disadari oleh Cielo, pandangan mata Ansel masih terus mengikutinya. "Kita pasti akan bertemu lagi, Nona cantik," gumam Ansel pada dirinya sendiri. "Tunggu aku, jalannya pelan sedikit," ucap Tobi berusaha menyusul Cielo dan Nayla. "Kamu sih jalan aja kayak siput. Lemes amat jadi cowok. Kita nih harus nomer satu masuk kelas supaya bisa pilih kursi," ejek Nayla. Tobi mendekati Cielo dan memicingkan matanya. Eskpresi wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang penasaran dengan sesuatu. Tobi buru-buru mengajukan beberapa pertanyaan untuk menghapus rasa penasarannya itu. "Ciel, tadi cowok yang antri di belakangmu, apa kamu kenal dia? Karena sejak aku datang, aku perhatikan dia terus memandangi kamu." "Cowok yang mana?" tanya Cielo pura-pura tidak paham pertanyaan Tobi. "Masa kamu gak tau? Cowok tinggi dan ganteng yang persis berdiri di belakangmu. Tampangnya blasteran gitu." "Ciel, si Tobi naksir cowok lagi tu. Harusnya kita biarkan dia kenalan dulu sama cowok itu," sindir Nayla sambil tertawa kecil. "Sialan kamu, Nay. Siapa juga yang suka sama cowok? Aku cuma agak khawatir karena penampilan cowok itu mirip berandalan. Aku belum pernah lihat dia di fakultas kita. Takutnya dia bermaksud gak baik sama Cielo." "Ciel, jangan mau kalau diajak kenalan sama cowok tipe seperti itu, bisa-bisa dia mainin kamu. Apalagi kamu masih polos gitu. Mungkin cowok itu lebih cocok kalau pacaran dengan kembaranmu, Selena," sambung Tobi menasehati Cielo. "Thanks Tobi, sudah perhatian ke aku. Tenang aja, aku gak kenal kok sama cowok itu." "Ah, Ciel, gak usah dengerin Tobi. Lagaknya udah kayak ortu kita, pake nasehatin segala. Dia aja belum pernah pacaran." "Eh, jangan salah. Walaupun gak punya pacar, pengalamanku segudang," ujar Tobi membela diri. "Yuk, kita masuk aja mumpung baru ada delapan orang di dalam," ajak Cielo mengakhiri perdebatan kedua sahabatnya. "Cuzzz..." jawab Tobi setengah berlari memasuki pintu kelas. Cielo memilih bangku nomer tiga dari depan. "Nah, pas banget kita duduk disini. Ciel, kamu duduk di tengah aja supaya kita bisa nyontek," kata Tobi berterus-terang. "Ketauan nih, kamu baik sama Cielo karena ada maunya. Ternyata minta contekan." Tobi menepuk tas Nayla. "Kamu juga mau nyontek jawaban Cielo tapi gak ngaku, Nay." "Iya, iya, aku duduk di tengah," kata Cielo mengalah. Kurang lebih sepuluh menit kemudian kelas mulai penuh. Bu Pristin, dosen Sistem Informasi Akuntansi, masuk ke dalam ruangan. Namun yang mengherankan adalah dosen itu datang bersama seseorang. Tobi menyenggol tangan Cielo. "Lihat, Ciel, Si Morgan datang lagi bersama dosen. Bukannya dia beda kelas sama kita ya? Aku jadi penasaran kenapa dia dekat sama semua dosen. Jangan-jangan dia anaknya yang punya kampus ini." "Hush, gosip lagi nih anak," ucap Nayla seraya mencubit tangan Tobi. Nayla memegang kedua pipinya untuk mengekspresikan rasa gemasnya. "Aku malah happy sekelas lagi dengan Morgan. Jadi, aku bisa melihat wajah ganteng dan cutenya lebih sering. Aku paling suka cowok yang ganteng tapi cool kayak dia." "Kulkas kali," sindir Tobi. Cielo menegakkan kepalanya ke depan untuk melihat Morgan. Untuk kedua kalinya, Morgan memilih duduk di barisan kursi paling depan. Wajahnya tampak begitu tenang dan penuh percaya diri. Bu Pristin meletakkan tas dan bukunya lalu menghidupkan laptopnya. Ia maju ke depan kelas dan membuka kuliahnya. "Mulai hari ini, Morgan juga akan bergabung di sesi kelas kita. Oke, seperti yang saya katakan minggu lalu, pertemuan hari ini saya akan menyelesaikan materi tentang pembuatan aplikasi laporan keuangan sederhana memakai Excel. Setelah itu, saya akan memberikan tugas praktek pembuatan aplikasi di Excel yang akan kalian lakukan secara berkelompok. Saya sudah membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari lima orang. Saya ingin nanti semua anggota kelompok berpartisipasi aktif. Kalau ada yang tidak mengerjakan, ketua kelompok wajib melaporkan ke saya. Pembagian kelompok akan saya umumkan setelah materai selesai. Mengerti semuanya?" "Mengerti, Bu," jawab para mahasiswa kompak. "Semoga kita bertiga satu kelompok ya," bisik Nayla kepada Cielo. Cielo menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia memang selalu ingin bersama dengan Nayla dan Tobi. Para mahasiswa tampak memperhatikan materi yang diajarkan Bu Pristin dengan seksama. Mereka juga terlihat penasaran menantikan pengumuman pembagian kelompok. "Nah, sekarang saya umumkan pembagian kelompoknya. Setelah tau kelompok masing-masing, silahkan kalian duduk bersama anggota kelompoknya untuk diskusi. Kita masih punya sekitar lima belas menit lagi. Kalian bisa lanjutkan diskusinya nanti di luar jam kuliah." "Baik, Bu." "Untuk kelompok satu ada Gerald, Velika, Nadia, Tobi, dan Lolita." Tobi langsung menggerutu ketika mendengar namanya disebut. "Yah, kita gak sekelompok. Jadi gak semangat." "Cup, cup, Tobi kasian. Kalau aku dan Cielo masih bisa sekelompok." "Iya, tetap semangat Tobi," bujuk Cielo. Bu Pristin melanjutkan kata-katanya. "Kelompok dua ada Monica, Thomas, Karen, Henry, dan Nayla. Untuk kelompok tiga terdiri dari Aby, Cielomita, Yusak, Jessica, dan Morgan. "Ciel, kita gak sekelompok. Malah kamu sekelompok sama Morgan," dengus Nayla kesal. "Waduh, dua orang pintar satu kelompok. Gak adil nih. Bisa-bisa kalian nanti malah bertengkar karena bingung siapa ketuanya," ucap Tobi memanasi Cielo. Cielo menggelengkan kepalanya. "Kalau dia mau jadi ketua kelompok biarkan saja. Aku gak minat. Yang penting tugasnya selesai dengan hasil yang baik." Di dalam hatinya, Cielo sebenarnya merasa jengkel karena harus berada di kelompok yang sama dengan Morgan. "Kenapa aku harus sekelompok dengan cowok arogan itu? Aku malas berurusan dengannya." "Silahkan kalian berkumpul dengan kelompok masing-masing," ucap Bu Pristin memberikan instruksi. Meskipun enggan, mau tidak mau Cielo harus meninggalkan kursinya. Ia mengikuti teman sekelompoknya menuju ke depan untuk duduk bersama Morgan. Kursi deretan depan memang masih kosong, sehingga mereka lebih mudah untuk segera duduk berkelompok. "Yusak, jauhan dikit. Kalau aku kesenggol kamu bisa patah tulang aku," ujar Aby merasa takut terkena tubuh Yusak yang gemuk. "Ogah kali aku dekat-dekat orang kerempeng," jawab Yusak sinis. Cielo dan Jessica tersenyum geli menyaksikan tingkah Aby dan Yusak. Kedua cowok itu memang memiliki bentuk tubuh yang saling bertolak belakang. Aby bertubuh kurus hingga tulang pipinya terlihat menonjol, sedangkan Yusak memiliki tubuh yang gempal dan besar. Morgan melirik sekilas ke arah Cielo yang tidak bisa menahan tawanya. "Lebih baik kita mulai diskusinya sekarang. Kita akan buat aplikasi untuk perusahaan di bidang apa?" tanya Morgan mengarahkan teman sekelompoknya. Yusak mengangkat bahunya. "Kita nurut aja lah sama kamu. Aku pilih kamu jadi ketua kita, Morgan." "Tunggu, pemungutan suara dulu," sahut Aby tidak setuju. Jessica ikut bersuara. "Iya, disini ada Morgan dan Cielo, dua mahasiswa yang IPKnya sempurna. Kita pemungutan suara dulu untuk menentukan ketua kelompok. Aku pilih Morgan." "Aku pilih Cielo," jawab Aby menentukan pilihannya. "Dua banding satu, sekarang giliran Morgan kamu pilih siapa?" Morgan terdiam sejenak sebelum memberikan jawaban. "Aku pilih Cielo." "Kenapa dia memilihku? Apa tujuannya? Mungkin dia ingin mengetes kemampuanku," tanya Cielo di dalam hatinya. Yusak memajukan bibirnya. "Yah, jadi seri dua-dua. Kalau gitu keputusannya ada di tangan Cielo. Ayo, Ciel tentukan pilihanmu." "Berasa pemilihan idol kali," kata Aby mengejek Yusak. "Ciel, pilih siapa? Dirimu sendiri atau Morgan?" tanya Jessica penasaran. "Aku tidak boleh melancarkan tujuannya. Biar dia rasakan senjata makan Tuan," pikir Cielo membulatkan tekadnya. Cielo menjawab dengan mantap. "Aku pilih Morgan. Jadi sudah jelas Morgan yang menang dan menjadi ketua kelompok kita." Yusak dan Aby saling berpandangan. "Wah, ada apa ini? Cielo dan Morgan saling memilih." "Sudah, sekarang kita tentukan dimana kita berkumpul. Ini waktunya hampir habis. Morgan, kamu khan ketuanya, tentukan aja dimana dan kapan kita berkumpul lagi," ujar Jessica mengambil alih pembicaraan. "Kita berkumpul besok jam lima sore di rumahku. Nanti aku share lokasinya," jawab Morgan santai. "Ini yang aku suka. Rumah Morgan punya banyak pembantu. Aku bisa dapat banyak makanan enak deh," ujar Yusak kegirangan. "Huh, dasar! Ketauan juga niatmu memilih Morgan," kata Aby sambil nyengir. Cielo merasa kesal mendengar keputusan yang ditetapkan oleh Morgan. Ia tidak habis pikir mengapa harus sekelompok dengan cowok itu. Ini artinya dia akan sering bertemu dan berurusan dengan Morgan hingga tugasnya selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD