Terjebak Bersamamu

1619 Words
"Ciel, kamu jadi hari ini ke rumah Morgan untuk kerja kelompok?" tanya Tobi serius. Cielo mengangkat bahunya. "Iya, aku gak punya pilihan lain. Aku akan berangkat bersama Jessica sebentar lagi." "Tu, Jessi sudah datang," tunjuk Nayla. Nayla berbisik di telinga Cielo. "Ciel, titip salam buat Morgan. Atau kalau ada kesempatan, tolong foto dia. Aku suka menyimpan foto cowok ganteng seperti Morgan." "Sorry, Nay, permintaanmu kali ini gak bisa aku penuhi. Aku malas bicara dengan orang seperti Morgan, apalagi disuruh foto," jawab Cielo langsung menolak. "Heizz...ngapain bisik-bisik, Nay? Pasti mau kegenitan sama Morgan," tutur Tobi mencibir. Nayla menjulurkan lidahnya ke arah Tobi. "Bye, Nayla, Tobi, aku harus berangkat sekarang," ucap Cielo tergesa-gesa menghampiri Jessica yang sudah keluar dari lobby. Cielo membonceng motor Jessica menuju ke rumah Morgan. "Ciel, pegangan yang erat ya, aku agak ngebut. Aku belum pernah ke rumah Morgan, jadi mungkin aku butuh waktu untuk mencari alamatnya," seru Jessica dari balik helmnya. Cielo menganggukkan kepala tanda mengerti. Setelah berputar-putar kurang lebih empat kali, Jessica menghentikan motornya di depan gerbang sebuah perumahan elite. Perumahan itu dijaga ketat oleh security. "Jess, Yusak bilang alamat Morgan di Perumahan Aristomarine. Artinya benar di perumahan ini," kata Cielo meyakinkan Jessica. "Iya, Ciel. Aku dengar perumahan ini tempat tinggal para pengusaha ternama. Berarti Morgan itu anaknya orang tajir melintir." Jessica mengarahkan motornya untuk melapor ke pos security. "Pak, saya Jessica dan ini teman saya, Cielo. Kami mau ke rumah di Blok Tiga nomer delapan belas, milik Morgan Renato Dirgantara." "Bisa minta KTPnya, Nona?" "Iya, ini Pak." Security itu menerima KTP Jessica dan Cielo sambil memperhatikan raut wajah mereka. "Nona-nona ini ada keperluan apa mencari Tuan Muda Dirgantara?" "Kami teman kuliahnya, Pak. Kami diundang untuk kerja kelompok," jawab Jessica spontan. "Oh, tadi sudah ada dua orang pemuda yang bertamu. Katanya mereka juga mau kerja kelompok. Silahkan masuk. Nona bisa mengambil jalan lurus lalu belok ke kanan. Rumah Tuan Dirgantara ada di hook, yang paling besar bertingkat tiga," kata security membuka palang pintu gerbang. "Terima kasih, Pak." Tidak butuh waktu lama, Jessica pun berhasil menemukan rumah Morgan. "Pasti ini rumahnya. Itu ada motor Yusak diparkir di halaman," ujar Jessica menunjukkan motor cowok besar berwarna hitam. "Besar sekali rumah Morgan," batin Cielo mengagumi bangunan megah di hadapannya. Seorang pelayan laki-laki setengah baya menyambut kedatangan Cielo dan Jessica. "Nona, temannya Tuan Muda Morgan? Saya Pak Min, pelayan disini. Silahkan masuk Nona-nona, Tuan sudah menunggu." "I...iya, Pak, permisi," jawab Cielo ragu-ragu. Pak Min mengantarkan Jessica dan Cielo masuk ke ruang tamu yang luas. Ruang tamu itu dihiasi sofa yang terbuat dari kulit dan beberapa furniture kayu antik. "Mari, kita ke ruang tengah, Nona. Dua orang teman Tuan Muda juga ada di ruang tengah," ajak Pak Min mempersilahkan Cielo dan Jessica masuk. Cielo tercengang melihat banyaknya pelayan berlalu lalang di dalam rumah Morgan. Saat masuk, Cielo melihat Yusak dan Aby duduk di karpet permadani besar sambil menikmati camilan dan minuman yang disajikan para pelayan. Sedangkan Morgan sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya. "Akhirnya para ladies datang juga. Apa kalian berdandan dulu sebelum kemari? Aku sampai bosan menunggu," tanya Yusak dengan mulut penuh makanan. Jessica membalas dengan ketus. "Ngapain butuh makeup kalau cuma mau ketemu kalian? Kita tadi nyasar tau." "Wih, Yusak kamu dihina. Kamu gak lihat, Jes, Yusak dan aku ini ganteng. Sebelas dua belas lah dengan idola cewek-cewek kampus, Tuan Muda Morgan," kata Aby menggerakkan tangannya ke arah Morgan yang sedari tadi diam saja. Morgan melirik sekilas ke arah Cielo. "Ayo kita mulai sekarang. Kita sudah terlambat hampir lima belas menit. Jangan buang waktu lagi. Tentukan proyek apa yang akan kita buat? Perusahaan jasa atau dagang?" ucap Morgan kembali menatap layar laptopnya. Cielo dan Jessica ikut duduk di karpet mendekati Aby dan Yusak. Aby berdehem sebelum bicara. "Aku sih pasrah. Terserah dua orang pintar andalan kita, Morgan dan Cielo." "Bener, bener," sambung Jessica dan Yusak bersamaan. "Ciel, menurut kamu kita buat proyek untuk perusahaan jasa atau dagang? Sebaiknya pilih yang gampang dibuat supaya pikiranku gak kusut," saran Jessica yang berharap tugas mereka cepat selesai. "Kalau aku pilih jasa, mungkin salon atau restoran cepat saji. Transaksinya lebih simple. Kita tidak butuh waktu lama untuk mengerjakannya," jawab Cielo memberikan ide. "Apa kamu yakin kita bisa dapat nilai bagus? Kalau begitu aku akan mengikuti kemauanmu," tutur Morgan tanpa basa-basi. "Kenapa dia selalu bersikap seperti ini padaku? Apa dia punya kegemaran baru untuk mempermalukan aku?" pikir Cielo kesal dengan sikap Morgan. Cielo membela diri untuk membalas perkataan Morgan. "Aku tidak bisa menjamin berapa nilai kita nanti, karena aku bukan dosen maupun peramal. Jadi lebih baik kamu sebagai ketua kelompok yang memutuskan." Suasana tegang antara Cielo dan Morgan, membuat teman-teman mereka mencoba mencairkan suasana. "Menurutku kita buat sistem restoran cepat saji saja. Itu sesuai dengan hobiku," ucap Yusak sembari mengambil sepotong kue. "Kali ini aku setuju dengan Yusak," sahut Aby menimpali. Atas kesepakatan bersama, mereka mulai merancang program untuk transaksi restoran cepat saji. Di tengah-tengah diskusi, ponsel Jessica tiba-tiba berdering nyaring. Jessica berdiri dan menjauh sebentar untuk mengangkat panggilan telponnya. "Teman-teman, sorry ya, aku ijin pulang duluan. Mamaku gak enak badan, aku harus mengantarnya ke dokter sekarang." "Oke oke, pulang aja, Jess. Kalau aku no problem. Bagaimana dengan ketua kita?" tanya Aby melihat ke arah Morgan. "Iya, kamu bisa ikut di pertemuan kedua minggu depan," jawab Morgan santai. Jessica mengarahkan pandangannya kepada Cielo. "Ciel, maaf ya, aku gak bisa mengantar kamu pulang." "Gak apa-apa, Jess, aku bisa naik taksi online. Semoga mamamu cepat sembuh." "Terima kasih, Ciel. Teman-teman, aku pulang ya," ucap Jessica melambaikan tangan dan berpamitan. Mereka berempat melanjutkan diskusi hingga satu jam berikutnya. Yusak mulai menguap karena mengantuk. "Hhuaamm, ngantuk, sudah jam tujuh lewat tiga puluh. Di luar sepertinya mendung. Bagaimana kalau kita pulang sekarang, Morgan?" "Bener, takut kehujanan nih, nanti kulit hitamku luntur. Apalagi aku nebeng si Yusak," ujar Aby menggoda Yusak. "Iya, kalian boleh pulang. Kita lanjut Senin depan," jawab Morgan mematikan laptopnya. "Morgan, Cielo, kita duluan. Kalau kalian mau melanjutkan berdua, kita gak keberatan lho. Kita justru senang kalau proyek ini kalian selesaikan tanpa kami," ucap Aby sambil nyengir. Cielo tersenyum menyaksikan tingkah kedua temannya yang kocak itu. Cielo mengikuti Aby dan Yusak hingga ke ruang tamu. Ia hanya tidak ingin tinggal berduaan saja dengan Morgan di ruang tengah. "Ciel, cepat pesan taksi. Sebentar lagi bakalan hujan deras," pesan Yusak sebelum pergi meninggalkan rumah Morgan. "Iya, hati-hati Yusak, Aby." Setelah Yusak dan Aby pergi, Cielo buru-buru membuka ponselnya untuk memesan taksi online. Ia berhasil mendapatkan satu driver, yang lokasinya berjarak sekitar dua puluh menit dari rumah Morgan. "Kenapa jauh sekali lokasi drivernya dari sini?" gumam Cielo dalam hati. Cielo hendak mengirimkan pesan, ketika ia mendengar suara gemuruh petir bercampur air hujan di luar. "Nona, maaf saya batalkan pesanannya karena sedang hujan deras disini. Lebih baik Nona coba mencari driver lain yang lokasinya dekat," tulis driver itu sebelum membatalkan orderan Cielo. Cielo mencoba memesan ulang, tapi belum ada driver taksi yang menerima orderannya. "Aduh, bagaimana aku bisa pulang kalau tidak ada driver yang lewat?" batin Cielo gelisah. Pak Min menghampiri Cielo yang sedang berdiri seorang diri di pintu ruang tamu sambil menatap ponselnya. "Nona, masuk saja. Tunggu di ruang tengah bersama Tuan Muda. Disini dingin, Nona. Hujannya sangat deras." "Saya sedang menunggu taksi, Pak. Saya disini saja." "Nona, kalau hujan begini pasti sulit cari taksi. Taksi juga jarang lewat di sekitar perumahan ini. Para pemilik rumah punya mobil dan supir pribadi, jadi tidak butuh taksi. Lebih baik Nona makan malam dulu bersama Tuan Muda. Nanti kalau hujannya sudah reda, Nona bisa cari taksi lagi." Cielo langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Pak, terima kasih." "Nona, jangan sungkan. Tuan Muda biasanya makan malam sendirian. Saya yakin Tuan Muda senang kalau ada yang menemaninya." "Tidak perlu, Pak. Sebentar lagi saya pasti dapat taksi," tolak Cielo enggan menerima tawaran Pak Min. Membayangkan duduk berdua dengan Morgan di meja makan, membuat Cielo bergidik ngeri. Apalagi jika harus mengobrol dengan pemuda arogan itu sepanjang makan malam. Semua itu akan menjadi siksaan tersendiri bagi Cielo. "Pak Min?" seru Morgan. "Saya di ruang tamu, Tuan. Ini ada teman Anda yang masih menunggu taksi." Cielo mendengar suara langkah kaki Morgan menuju ruang tamu. "Kamu belum pulang?" tanya Morgan memandang Cielo. "Maaf, aku menunggu sebentar disini. Mungkin setelah hujannya agak reda, aku akan dapat driver." "Tuan Muda, saya tadi tawarkan kepada Nona untuk makan malam dulu bersama Anda. Apa Tuan Muda setuju?" ucap Pak Min meminta ijin. Morgan menjawab dengan acuh tak acuh. "Terserah dia saja." Pak Min kembali berusaha membujuk Cielo. "Mari Nona, kita ke ruang makan." "Terima kasih Pak, saya belum lapar." "Tapi, Nona..." "Pak Min, biarkan saja. Dia itu gadis keras kepala. Aku mau makan malam sekarang," sahut Morgan berlalu meninggalkan Cielo. "Maaf, Nona. Tuan Muda saya memang bicaranya agak ketus. Tapi Tuan Muda sebenarnya sangat baik. Saya tinggal dulu, Nona," ucap Pak Min tergesa-gesa mengikuti Morgan. Cielo menggerutu di dalam hatinya. "Siapa juga yang mau makan malam dengan orang menyebalkan itu." Cielo duduk di sofa dan berusaha memesan taksi. Namun lagi-lagi tidak ada driver yang mengambil pesanannya. "Sampai kapan aku harus berada di rumah Morgan? Aku tidak tahan berada disini," batin Cielo ingin cepat-cepat pulang. Suara Morgan memecah lamunan Cielo. Cielo sama sekali tidak mengetahui kalau Morgan sudah berada didekatnya. "Aku heran kamu bisa melamun ketika berada di rumah orang lain. Sudah aku duga, kamu tidak pernah memperhatikan keadaan sekelilingmu. Ayo ikut aku," ucap Morgan menarik tangan Cielo ke ruang makan. Cielo terkejut karena tindakan Morgan yang begitu tiba-tiba. "Ke...kenapa kamu menarikku?" Morgan tidak menjawab pertanyaan Cielo hingga mereka sampai di meja makan. Ia memaksa Cielo duduk di kursi. "Aku tidak mau ada tamu di rumahku yang sakit karena kelaparan. Jadi makanlah sekarang. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ucap Morgan sembari duduk berhadapan dengan Cielo. "Kenapa lagi-lagi aku harus berdua dengan dia?" pikir Cielo merasa canggung. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD