Cielo duduk diam sementara Pak Min dan dua orang pelayan menyajikan makanan di atas meja.
"Nona, Tuan Muda, silahkan makan," kata Pak Min meninggalkan Cielo dan Morgan di meja makam.
"Apa kamu mau diam disitu terus sambil melihatku makan?" tanya Morgan memandang Cielo.
Morgan menyerahkan piring yang berisi nasi dan beberapa lauk kepada Cielo.
"Ini, makanlah. Kalau tidak makan mungkin kamu akan sakit perut lalu menyalahkan aku. Anggap saja hari ini kita sedang berteman dekat."
"Terima kasih," jawab Cielo canggung.
"Ternyata dia bisa juga bersikap baik walaupun kata-katanya tetap saja tidak enak didengar," pikir Cielo terkejut.
Cielo menerima piring yang diserahkan Morgan, hingga tanpa sengaja tangan mereka saling bersentuhan.
"Maaf," ucap Cielo merasa malu.
Morgan hanya memandangnya sekilas tanpa memberikan respon apapun.
Cielo berusaha makan secepat mungkin supaya dia tidak perlu berlama-lama berduaan dengan Morgan. Entah mengapa duduk berhadapan dengan Morgan membuat Cielo tidak nyaman.
Suara ponselnya yang tiba-tiba berdering membuat Cielo lega. Panggilan telepon dari mamanya telah menyelamatkan Cielo dari situasi canggung itu.
"Halo, Ma,"
"Cielo, kenapa kamu belum pulang dari kerja kelompok? Di luar hujan deras, Mama khawatir sekali. Dimana kamu sekarang?"
"Cielo masih ada di rumah teman, Ma. Sebentar lagi Cielo akan pulang."
"Jangan terlalu malam, Cielo. Lebih baik kamu minta tolong diantarkan salah satu temanmu, daripada naik taksi sendirian. Sangat berbahaya buat anak gadis sendirian di malam hari."
"Iya Mama tidak usah khawatir."
"Mama tunggu di rumah ya," kata mamanya menutup telpon.
"Apa itu telpon dari mamamu?" tanya Morgan melihat wajah Cielo yang tampak gelisah.
"Iya."
"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang sekarang. Tunggu aku di teras depan."
"Ta...pi, itu tidak..."
Morgan tidak menghiraukan Cielo yang belum selesai bicara. Ia berdiri dan berlalu begitu saja meninggalkan Cielo di meja makan.
"Dia menganggapku tidak memperhatikan orang lain. Tapi sekarang dia sama sekali tidak menghiraukan perkataanku. Untuk apa dia bersikeras mengantar aku pulang? Apa dia merasa kasihan padaku atau memiliki maksud tertentu?" gerutu Cielo kesal.
Cielo tidak punya pilihan selain mengikuti perintah Morgan. Ia berjalan ke teras depan diikuti oleh Pak Min.
"Nona, apa rumah Anda jauh dari sini?" tanya Pak Min penasaran.
"Rumah saya di Perumahan Anyelir, kurang lebih tiga puluh menit dari sini, Pak."
"Nona, Anda beruntung karena Tuan Muda mau mengantarkan Anda pulang. Biasanya Tuan Muda enggan pergi keluar saat hujan begini. Tapi kelihatannya Tuan Muda mau melakukannya karena peduli pada Nona," kata Pak Min dengan ekspresi wajah gembira.
"Mungkin dia merasa kasihan kepada saya karena saya teman satu kelompoknya. Lagipula ini sudah malam, Pak."
Pak Min menggelengkan kepalanya.
"Bukan karena itu, Nona. Saya mengenal sifat Tuan Muda sejak kecil. Tuan Muda hanya benar-benar peduli pada orang yang dianggapnya penting. Sekarang usia Tuan Muda sudah dua puluh tahun, saya berharap Tuan Muda akan jatuh cinta dan punya seorang pacar. Tuan Muda hidup sendirian selama ini karena papanya ada di luar negri. Kalau dia punya pacar, maka Tuan Muda tidak akan kesepian lagi."
Suara klakson mobil di depan halaman, mengejutkan Cielo dan Pak Min.
Ia melihat Morgan sudah berada di balik setir sebuah mobil SUV berwarna hitam.
"Ayo cepat naik, hujannya semakin deras," seru Morgan tidak sabar.
Pak Min buru-buru mengambil payung untuk mengantarkan Cielo masuk ke dalam mobil Tuan Mudanya.
"Nona, Tuan Muda sebenarnya orang yang lembut. Biasanya tidak bersikap segalak ini terhadap orang lain. Mungkin dia sengaja melakukannya khusus hanya kepada Nona," ucap Pak Min setengah berbisik.
Dari ekspresi wajahnya yang gembira, Pak Min seakan mengetahui sebuah rahasia yang disimpan oleh Morgan.
"Kenapa Pak Min berkata seperti itu kepadaku? Apa dia tidak sadar kalau Tuan Mudanya memang orang yang paling menyebalkan yang pernah aku kenal," pikir Cielo tidak memahami ucapan Pak Min.
Cielo duduk di samping Morgan tanpa bicara. Dari ekspresinya yang datar, Cielo tidak bisa menebak suasana hati Morgan saat itu.
"Di mana rumahmu?" tanya Morgan memecah keheningan.
"Di Perumahan Anyelir," jawab Cielo singkat.
"Apa kamu memiliki seorang kembaran yang bernama Selena?" tanya Morgan tiba-tiba.
"Iya, apa kamu kenal dengan Selena?"
"Tidak, aku hanya melihatnya di kelas statistika waktu itu. Wajah kalian mirip, tapi tidak sama persis. Penampilan dan sikap kalian juga sangat berbeda."
Entah mengapa perkataan Morgan membuat Cielo menjadi tersinggung. Ia merasa Morgan sengaja membanding-bandingkan dirinya dengan Selena agar bisa mengejek penampilannya.
"Kamu benar. Selena, kembaranku, adalah gadis yang populer dan cantik. Banyak cowok yang suka padanya. Walaupun kami kembar, tapi dia jauh lebih cantik dariku," jawab Cielo mencegah Morgan terlebih dahulu menghinanya.
"Siapa yang bilang begitu? Aku justru lebih suka gadis yang cantik alami tanpa banyak makeup," ucap Morgan lirih.
"Apa telingaku sedang bermasalah? Apa benar dia mengatakan lebih menyukai penampilanku daripada Selena?" batin Cielo tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
Morgan dan Cielo tidak melanjutkan obrolannya, hingga mereka sampai di Perumahan Anyelir.
"Rumahku di Blok F No 10," kata Cielo memberikan petunjuk.
Morgan melajukan mobilnya sesuai arahan dari Cielo.
"Ini benar rumahmu?" tanya Morgan memarkirkan mobilnya di depan rumah Cielo.
"Iya, benar, terima kasih sudah mengantarku," ucap Cielo hendak membuka pintu mobil.
"Tunggu, biar aku mengantarkanmu. Masih hujan di luar."
Dengan cepat, Morgan mengambil payung dari kursi bagian belakang lalu keluar dari mobilnya. Ia membukakan pintu mobil untuk Cielo dan segera memayunginya agar tidak terkena air hujan.
"Kenapa dia mendadak bersikap manis padaku? Apa dia ini punya kepribadian ganda?" pikir Cielo terheran-heran.
Memakai payung bersama, membuat jarak di antara mereka begitu dekat. Jika semakin lama dilihat, wajah Morgan memang tampak makin tampan. Dan Cielo tidak bisa memungkiri kalau jantungnya berdegup lebih kencang ketika mereka berdua sedekat itu.
Karena sedikit melamun, Cielo hampir tersandung batu kecil yang ada di halaman rumahnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Morgan menahan pinggang Cielo secara refleks.
Sejenak mata mereka saling beradu pandang di tengah situasi hujan itu.
"Eh, tidak, terima kasih," jawab Cielo menundukkan wajahnya.
Cielo merasakan kedua pipinya menghangat, karena rasa malu atas kecerobohan yang dilakukannya sendiri.
Ketika sudah sampai di depan pintu rumah Cielo, Morgan berbalik untuk menuju ke mobilnya.
"Terima kasih, Morgan. Hati-hati di jalan," seru Cielo.
"Hemmm," jawab Morgan singkat seraya membalikkan punggungnya.
Cielo menunggu hingga mobil Morgan menghilang dari pandangannya. Meskipun pemuda itu tampak dingin dan angkuh, namun Cielo baru memahami bahwa Morgan juga memiliki sisi hangat di dalam dirinya.