"Ciel, akhirnya kamu pulang juga. Kamu naik taksi atau diantar pulang oleh temanmu?" tanya Ny. Irene merasa lega melihat putrinya pulang dengan selamat.
"Aku diantar teman, Ma."
"Kalau begitu cepat kamu mandi lalu makan malam, Ciel. Lengan bajumu basah," kata Ny. Irene memperhatikan kemeja Cielo.
"Aku sudah makan tadi, Ma. Aku mandi dulu."
Selena tampak penasaran mendengar jawaban Cielo. Ia mengikuti Cielo masuk ke dalam kamarnya.
"Siapa yang mengantarmu, Ciel? Apa kamu naik mobil? Tadi hujannya sangat deras, tidak mungkin kamu pulang naik motor," tanya Selena mencari tau.
"Aku diantar Morgan karena Jessica ada keperluan mendadak," jawab Cielo sembari mengambil handuk kering dari dalam lemari.
Mata Selena membulat sempurna saat mendengar nama Morgan disebut oleh saudari kembarnya itu.
"Kamu diantar Morgan Renato? Cowok ganteng dan pintar dari jurusanmu itu?"
"Iya, aku dan dia satu kelompok di proyek Sistem Informasi Akuntansi. Morgan adalah ketuanya, makanya kami kerja kelompok di rumahnya. Mungkin tadi dia merasa kasihan padaku lalu dia mengantarku pulang."
"Ciel, apa rumah Morgan mewah? Aku pernah dengar kabar kalau dia itu anak pengusaha kaya raya."
"Iya, dia tinggal di kawasan perumahan mewah. Morgan memang orang kaya, karena itu sifatnya angkuh. Aku mandi dulu, Lena."
Cielo hendak beranjak menuju ke kamar mandi, tapi Selena mencegahnya.
"Tunggu, apa kamu bisa mengenalkan aku pada Morgan? Morgan itu tipe cowok idamanku. Ganteng, cool, pintar, dan tajir."
"Lena, hubunganku dengan Morgan gak terlalu baik. Kami hanya sebatas teman satu kelompok. Bagaimana caranya aku bisa mengajakmu berkenalan dengan dia?"
"Ya kamu atur sedikit lah. Misalnya kamu memintaku untuk menemani ke rumahnya saat kalian sedang kerja kelompok."
"Len, bukannya kemarin kamu masih bersikeras ingin pacaran dengan Devan. Kenapa tiba-tiba berubah ke Morgan?" tanya Cielo tidak memahami jalan pikiran kembarannya itu.
"Dengar, Ciel, waktu di kelas Statistika aku melihat secara langsung seperti apa Morgan Renato. Saat memperhatikannya, aku baru sadar kalau Devan gak ada apa-apanya jika dibandingkan Morgan. Aku sudah memutuskan untuk menjadikan Morgan sebagai calon pacarku."
"Kalau kamu memang ingin mendekatinya, kamu bisa duduk di kursi paling depan waktu kelas Statistika. Lalu coba pinjam catatannya, pena atau semacamnya," saran Cielo menanggapi keinginan Selena.
"Ih, mana mungkin aku duduk di depan. Aku gak mau jadi sasaran empuk Pak Sastro."
"Cuma itu cara yang aku tau, Lena. Sudahlah aku mau mandi."
"Katakan saja kalau kamu tidak mau membantuku," teriak Selena dari kamar Cielo.
Rasa lelah dan kantuk yang sudah menyerangnya, membuat Cielo enggan menanggapi komentar Selena. Meskipun mereka saudara kembar, namun sampai detik ini Cielo masih belum bisa memahami isi hati Selena.
"Kenapa Nayla dan Selena memintaku agar mendekatkan mereka dengan Morgan? Mereka berdua mudah sekali terpesona hanya oleh penampilan luar seorang cowok," batin Cielo enggan ikut campur.
Setelah kelas akuntansi pajak, Nayla mengajak Cielo dan Tobi pergi ke kantin untuk makan siang.
Langkah mereka terhenti ketika melewati papan pengumuman yang dipasang di sebelah ruang dosen.
"Ciel, lihat tuh pengumuman seleksi asisten dosen sudah keluar. Kemarin aku dengar khusus untuk semester ini, ada dua orang yang terpilih. Satu cewek dan satu cowok. Aku yakin kamu yang terpilih," ucap Nayla dengan suara lantang.
Tobi menyingkirkan Nayla ke samping dan membaca isi pengumuman itu.
"Sini biar aku yang baca. Aku penasaran," ujar Tobi tidak sabar.
"Yang lolos seleksi asisten semester ini..., aduh gawat," seru Tobi.
"Kenapa, Bi?" tanya Cielo keheranan.
"Asisten dosen akuntansi keuangan menengah semester ini adalah...jreng jreng! Cielomita dan Morgan," sambung Tobi pura-pura memberi kejutan.
"Uh, kayaknya kalian berdua berjodoh nih. Duduk berdua di kelas, lalu satu kelompok di proyek. Sekarang malah harus bekerja sama sebagai asisten dosen. Aku jadi iri. Aku juga pengen berjodoh sesekali aja dengan Morgan," rajuk Nayla.
Tobi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nay, kalau mimpi jangan ketinggian. Mending upgrade dulu IQmu supaya pintar seperti Cielo. Setelah itu baru kamu bisa berjodoh sama Morgan."
"Sirik aja kamu," jawab Nayla kesal.
Cielo kembali membaca pengumuman itu dengan seksama. Disitu tertulis bahwa asisten terpilih harus menemui Bu Dewi hari ini pukul satu siang. Bu Dewi akan memberikan penjelasan tentang materi dan jadwal mengajar untuk asisten baru.
"Nay, jam satu aku harus ke kantor Bu Dewi untuk briefing asisten. Aku gak bisa pergi bersama kalian ke perpustakaan."
"Oke oke. Hayuk kita buruan ke kantin sebelum antriannya panjang," ajak Nayla menggandeng tangan Cielo dan Tobi.
Cielo berusaha menghabiskan makan siangnya dengan cepat agar tidak terlambat sampai di ruangan Bu Dewi. Sebelum pergi, ia berpamitan pada dua sahabatnya.
"Nayla, Tobi, aku duluan."
"Iya, Ciel, semoga sukses jadi asisten," ucap Tobi memberikan semangat.
"Jangan berantem sama Morgan ya," sambung Nayla menimpali ucapan Tobi.
Cielo buru-buru keluar dari kantin untuk menuju ke ruang dosen. Di depan pintu, ia berpapasan dengan Morgan.
Morgan membuka pintu dan membiarkan Cielo masuk terlebih dahulu.
"Terima kasih," ucap Cielo kepada Morgan sebelum melangkah ke dalam ruangan.
Morgan menyusul Cielo di belakang dan menutup kembali pintu ruang dosen.
"Selamat siang, Bu."
"Siang, Cielomita, Morgan. Ibu senang kalian sudah datang. Silahkan duduk," sapa Bu Dewi dengan ramah.
Bu Dewi memulai penjelasannya.
"Selamat karena kalian sudah terpilih menjadi asisten dosen di mata kuliah saya. Kalian akan mulai mengajar minggu depan untuk akuntansi keuangan menengah. Ini silabus materi yang akan kalian ajarkan selama satu semester."
Cielo dan Morgan membaca dua lembar kertas yang diberikan Bu Dewi dengan seksama.
"Kalian boleh membuat soal sendiri untuk latihan para mahasiswa, minimal lima soal setiap pertemuan. Tapi sebelumnya tunjukkan soal dan jawabannya dulu kepada saya. Untuk materi yang diajarkan silahkan lihat dari buku dan handout."
"Iya, Bu."
"Untuk jadwal mengajar setiap Selasa dan Jumat sore. Seperti biasa dimulai pukul lima lewat tiga puluh menit di ruang E3. Kalian bisa atur berdua siapa yang giliran mengajar, dan siapa yang bertugas membantu mahasiswa mengerjakan soal. Saya biasanya hanya butuh satu asisten. Tapi khusus semester ini, saya sengaja merekrut dua orang supaya kelas asistensi lebih efektif. Saya percaya kalian berdua bisa bekerja sama dengan baik. Apa ada yang mau kalian tanyakan?"
"Bu, jadi kami harus membuat soalnya berdua?" tanya Morgan mencoba memastikan pemahamannya.
"Itu terserah kesepakatan kalian saja. Boleh dibuat berdua atau salah satu dari kalian bergantian membuat soal. Kalian bisa membahasnya sendiri nanti. Apa ada yang mau ditanyakan lagi, Morgan?"
"Tidak ada, Bu."
"Cielo, kamu ingin menanyakan sesuatu?"
"Belum ada, Bu. Terima kasih atas penjelasannya."
Bu Dewi tampak senang menyaksikan keseriusan sikap Cielo dan Morgan.
"Oke, kalau begitu selamat mengerjakan tugas. Jika nanti ada kesulitan, jangan sungkan menghubungi saya. Kalian boleh kembali sekarang."
"Baik, Bu."
Cielo dan Morgan berpamitan kepada Bu Dewi sebelum meninggalkan ruangannya.
"Cielo, kamu hari ini ada kelas sampai jam berapa?" tanya Morgan tiba-tiba.
"Sampai jam empat sore."
"Bagus, jadwal kita sama. Kalau begitu selesai kuliah, temui aku di perpustakaan. Ini sudah hari Jumat. Kita harus segera membahas materi dan soal asistensi untuk hari pertama. Di hari Senin, kita bisa menunjukkannya kepada Bu Dewi."
"Iya, nanti aku akan ke perpustakaan. Aku ada kelas Teori Akuntansi sebentar lagi. Sampai jumpa di perpustakaan," kata Cielo menyetujui permintaan Morgan.
"Jangan buat aku menunggu lama. Segera ke perpustakaan setelah kelasmu selesai," seru Morgan memperingatkan Cielo.
Cielo berjalan menuju kelasnya sambil memikirkan apa yang dikatakan Nayla. Entah mengapa semua kejadian akhir-akhir ini, selalu membuatnya harus berhubungan dengan Morgan. Apakah ini merupakan kebetulan semata. Atau takdir yang sengaja mempertemukannya dengan Morgan, untuk menguji seberapa besar tingkat kesabarannya.