Montclair Opera Balet
Flore langsung tersentak saat pria itu menarik gaunnya lebih tinggi, sampai kain itu nyaris tidak lagi menutupi celana dalamnya.
"Aku akan taruh tanganku di antara kedua kakimu," gumam Big Dog. "Kalau celana dalammu tetap kering dan kamu menjauh dari sentuhanku, kamu boleh pergi."
Detak jantung Flore langsung terasa berat dan lambat.
"Tapi kalau ternyata pikiran kamu sudah kacau dan basah gara-gara aku—"
"Apa? Kamu? Nggak akan, dasar orang sakit—"
Flore tiba tiba menjerit, erangan kasar dan melengking pun keluar dari mulutnya ketika pria itu dengan santai mencubit salah satu putingnya melalui kain gaun. Sensasi berdenyut seketika menjalar ke seluruh tubuh Flore.
Apa yang salah dengan dirinya?
"Biarin aku menyelesaikannya," dengkur pria itu dengan suara manis. "Atau, dari pada melakukan permainan ini, kita bisa memainkan permainan lain yang lebih seru? Atau kamu mau aku tempel di dinding bersama burungku?"
Tenggorokan Flore terasa tercekat. Dia menelan ludah lalu mengangguk.
"Anak pintar. Sekarang, seperti yang tadi aku katakan, kalau celana dalammu sudah basah kuyup untukku, aku akan melakukan apapun yang aku mau ... dan aku rasa, sih, celana dalammu akan lebih becek setelah ancamanku barusan. Berdasarkan penilaianku terhadapmu—"
"Dan apa tepatnya yang bisa kamu simpulkan dari itu?" potong Flore tiba-tiba.
Pria itu membiarkan keheningan berlangsung beberapa saat, dia sengaja membiarkan Flore gelisah. Tangannya yang kuat masih bertumpu di pinggul Flore, menarik gaunnya hampir sampai ke atas.
Kemudian, dengan suara rendah dia berkata, "Itu memberitahuku kalau kamu menyukai rasa takut, Penari Kecil."
Flore hanya bisa menahan napas.
"Itu juga memberitahuku kalau kamu punya masa lalu yang penuh luka. Dan itu juga memberitahuku kalau, sekeras apa pun pikiranmu mencoba untuk menolak, tapi tubuhmu gak akan pernah bisa."
Jari-jari Big Dog tiba-tiba bergerak turun, menggodanya sambil menelusuri lekukan di antara paha dan bagian intim Flore. Seluruh tubuh Flore pun mengejang hebat.
"Itu memberitahuku kalau kamu menyukai kegelapan, apalagi kegelapan itu datang dalam bentuk yang nikmat."
Tiba-tiba, tangan pria itu menyelip di antara kedua pahanya. Telapak tangannya menempel tepat di bagian intim Flore melalui celana dalamnya. Yang membuat Flore semakin malu, celana dalam itu sudah basah kuyup.
Tawa kemenangan pun langsung terdengar dari mulut pria itu saat dia memiringkan kepalanya. Flore gemetar, napasnya menjadi tidak teratur dan tersendat ketika kehangatan suara Big Dog menyentuh daun telinganya.
"Sepertinya kita sudah mendapatkan jawabannya," tegas Big Dog.
***
(DUA HARI SEBELUMNYA)
"Ulangi lagi!"
Setiap otot di tubuh Flore rasanya sudah hampir menyerah, tetapi Mama Garreth, Instruktrur Baletnya, tidak peduli. Perempuan itu tetap duduk di kursinya, empat baris di depan panggung, mengawasi mereka dengan jemari saling bertaut di bawah dagu.
Edric menarik napas panjang di samping Flore, rahangnya mengeras. Angeline bahkan tidak berusaha menahan erangan. Dia membungkuk ke depan dengan kedua tangan bertumpu di lutut.
"Ahhh, sialan ... kita sudah melakukan ini empat kali, lho, argghh!" keluh Angeline.
Mama Garreth langsung mengangkat satu tangan yang berkilau oleh cincin, tangan itu bergerak anggun dan penuh wibawa. Dia tidak perlu meninggikan suara, tatapannya saja sudah cukup untuk membuat siapa pun ciut.
"Dan sekarang kalian akan melakukannya untuk kelima kalinya!!" geramnya. "Karena yang keempat tadi kacau sekali!"
Flore dan Edric pun saling pandang. Mata Edric berbinar geli, tetapi Flore tidak membalas senyumnya. Dia terlalu lelah. Dalam menari balet, jelas tidak ada waktu untuk tersenyum.
Mereka mulai lagi, melakukan pas de trois (Gerakan tari oleh tiga orang). Pikiran Flore menjadi kosong, seperti yang selalu terjadi setiap kali dia menari. Tidak ada apa pun selain musik dan gerakan.
Tangan Edric di pinggangnya terasa kuat tetapi tetap terkendali, mengangkat tubuhnya tanpa kesulitan. Angeline pun berputar untuk mengambil posisi di samping mereka. Mereka mengulangi seluruh rangkaian gerakan sampai akhirnya mencapai posisi akhir yang sempurna, Angeline dan Flore berdiri di kedua sisi Edric.
Untuk pertama kalinya malam itu, Mama Garreth tidak meminta mereka mengulanginya lagi. Sebaliknya, dia justru mengangguk.
"Cukup. Untuk sekarang!" tegas Mama Garreth.
Flore merasa lega. Sedangkan Edric melepaskan tangan mereka sambil mengerang, lalu menjatuhkan diri telentang di tengah panggung dan menatap langit-langit yang penuh ornamen.
"Balet benar-benar penyakit sialan!" serunya ke udara.
Angeline mulai memutar mata lalu menyentuh kaki Edric dengan ujung sepatu. "Setidaknya kamu bisa pakai sepatu balet."
"Huuftt."
Mama Garreth lalu berdiri sambil merapikan kain sutra yang menutupi lengannya. "Kita mulai lagi pukul sembilan besok pagi, ya. Datang dalam keadaan sudah pemanasan dan siap mulai!"
Setelah itu, dia membungkus tubuhnya dengan selendang, lalu berjalan menyusuri lorong gelap Montclair Opera Balet dan menghilang di balik bayangan.
Cindy muncul di tepi panggung, memutar botol air di salah satu tangannya sambil menunjuk ke arah kepergian Mama Garreth.
"Dia benar-benar orang menyebalkan!" katanya santai.
Edric pun berguling hingga tengkurap sambil menahan sakit. "Meski begitu, dia sayang sama aku."
Angeline langsung mendengus, "Dia itu cuma menoleransi kamu!"
Edric berkedip lalu bangkit, "Menoleransi, atau menyayangi, sama saja."
Flore menggelengkan kepala lalu berbalik menuju belakang panggung dan masuk ke ruang ganti. Kedua kakinya terasa sakit, bahkan tubuhnya pun sudah kelelahan. Dia butuh mandi air panas dan tidur sekitar empat belas jam.
Ruang ganti sudah kosong karena latihan sebenarnya sudah selesai sejak lama. Namun, Mama Garreth memutuskan untuk memusatkan perhatian ketatnya pada Angeline, Edric, dan Flore, lalu membuat mereka harus tinggal lebih lama karena merekalah yang akan membawakan pas de trois dalam Swan Lake, yang akan dipentaskan oleh Montclair beberapa bulan lagi.
Cindy masuk tepat di belakang Flore sambil mulai melepas sanggulnya. Dia adalah Odette/Odile mereka, yang juga dikenal sebagai Ratu Angsa, untuk pertunjukan berikutnya. Dan alasan dia tetap tinggal lebih lama bukan karena Mama Garreth, melainkan karena urusannya sendiri.
"Kamu harus ikut keluar sama kita akhir pekan ini," desak Cindy sambil bersandar di loker. "Atau kamu mau pura-pura sibuk, kita berdua tahu ya kamu enggak punya kegiatan lain selain ini!"
Flore pun tersenyum miring. "Ya, tapi aku lebih butuh tidur daripada minum minuman mahal kalian."
Flore jelas tidak mampu membayar koktail yang harganya kelewat mahal. Bahkan yang harganya normal pun tidak sanggup dia beli. Jangankan itu, harga soda kaleng diskonan saja sudah di luar kemampuannya dengan kondisi keuangannya sekarang.
Cindy pun mengerang. "Ishh ... kamu kuno banget."
Angeline lalu duduk di bangku di samping Flore. "Kayaknya aku malah sudah mati sebelum akhir pekan ini," gumamnya. "Garreth benar-benar psikopat!"