I Love You Om!

1218 Words
Lincah dan cerewet. Dua kata itu rasanya cukup untuk menggambarkan Athena. Dua hari dunianya terasa jungkir balik, menghindar sampai sore pun gadis itu tetap menempel dan menunggu. Hades menyugar rambut, memikirkan cara untuk menghindar esok hari dari gadis itu. Namun, semakin dipikirkan rasanya semakin buntu saja idenya. Ingatan tentang bagaimana saat Athena berlagak melamarnya beberapa waktu lalu membuat Hades tersenyum dan menggeleng. Jemarinya menggenggam erat tepian balkon. Mengapa gadis itu tiba-tiba hadir di pikirannya. Pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti, bahkan beberapa jam lalu Hades sama sekali tak menganggap kehadiran Athena berarti dalam hidupnya. Tapi sekarang? Setengah mati Hades ingin mengacuhkan Athena saat sore tadi. Membiarkan dia dalam guyuran air hujan, tapi hatinya menolak. Nalurinya menggerakan syaraf otak agar mau menolong Athena. "Om ini malu tapi mau ya. Tanganku masih perawan sudah Om jamah. Pokoknya Om harus tanggung jawab!" Ocehan gadis itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Niat hati menolong tetapi gadis itu justru mencibirnya. Tiba-tiba Hades melihat telapak tangan kirinya. Jemari lentik Athena sore tadi begitu dingin, bibirnya biru. Apa kabar keadaan gadis itu, pikir Hades. "Hah? Pegang tangan aja harus tanggung jawab?" Hades terkekeh. Bagaimana bisa opini seperti itu dibenarkan. "Gadis unik," lanjut Hades dalam hati. Pria berkaus hitam itu mendesah pelan, lagi-lagi dirinya memikirkan Athena. Hades menggeleng, sekuat mungkin mengenyahkan wajah berlesung pipit itu dari ingatannya. Ini baru dua hari. Hades membatin lagi. Hampir enam tahun, Hades tak pernah memikirkan seorang wanita. Tepatnya setelah perceraian menyakitkan itu. Hades benar-benar menutup hatinya untuk mengenal cinta dan sebuah komitmen. Baginya, komitmen itu bulshit. Janji seia sekata di depan Tuhan saja nyatanya tak mencegah terjadinya perpecahan. Lalu kini, Athena hadir secara tiba-tiba di kehidupannya. Gadis itu perlahan mulai menari-nari di kepala, tepatnya sejak pertemuan yang terakhir. Gadis itu seperti perangko yang menempel ke sana kemari, Hades tak kuasa menghindar. Entah bagaimana Athena yang selalu bisa menemukan keberadaanya. *** Pagi masih menyisakan hawa dingin sisa hujan kemarin. Beberapa tanaman masih meneteskan air dari ujung daunnya. Siapa pun enggan keluar sepagi ini jika bukan karena tuntutan pekerjaan atau setumpuk kewajiban. Namun, di sudut kantin ada seorang pria yang duduk seraya membaca buku, sesekali dia menyesap kopi dalam mug hitam itu. Matanya memang tertuju pada benda persegi dalam tangannya. Tetapi pikirannya berpencar ke seluruh sudut. Biasanya pagi hari dia sudah datang dengan segudang rayuan. Mengekor ke mana pun Hades pergi, tapi sampai detik ini gadis itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Ah, peduli apa aku. Elak batin Hades. Dia menyesap kembali cairan hitam pekat dalam mug hingga menyisakan ampasnya saja. Merapikan beberapa buku dan berdiri lalu melangkah meninggalkan kantin. Hades berjalan dengan gagah. Tak dipungkiri, bahwa beberapa mahasiswa lain acap kali mencuri pandang atau berbisik kagum saat Hades melintas di hadapan mereka. Seperti saat ini, dua mahasiswi dengan terang-terangan menatap Hades tanpa berkedip. "Heh! Mata lo semua gak pernah belajar sopan santun ya." Suara itu membuat hati Hades terkesiap dan selanjutnya berubah menjadi desiran halus. Dia berbalik. Benar saja, Athena tengah berdiri berkacak pinggang. "Seenak jidat lo liatin laki gue." "Hah? Laki lo? Na, jangan kepedean. Semua orang di kampus tahu kalau lo itu suka ngejar-ngejar dosen baru itu." Athena semakin mendelik, bibirnya mengerucut. "Lo—" "Athena," sela Hades. Jika tadi dia mencari keberadaan Athena, maka dalam pikirannya sekarang adalah menghilang dari hadapan gadis itu. "Kalian berdua silakan pergi." Dua mahasiswi itu mengangguk dan pergi dari sisi Athena. Hades menghela napas, menatap Athena sejenak. Setidaknya gadis itu baik-baik saja. Entah bagaimana semalam suntuk Hades tak kenal tidur karena memikirkan kondisi Athena. Terakhir bertemu gadis itu benar-benar pucat dan menolak saat Hades memaksa mengantarnya hingga ke depan rumah. "Om, tunggu!" panggil Athena saat Hades mulai melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Athena sesegera mungkin menyusul, mengimbangi langkah Hades. "Om!" Hades hanya berdeham, matanya fokus menatap ke sembarang arah. "Om," ucap Athena sekali lagi. Namun, Hades masih saja berjalan tanpa menghiraukan Athena. "Om! Ih, dengerin aku." Athena akhirnya mencekal tangan Hades. Tatapan mereka kembali bertemu. Desiran halus itu terasa lagi di hati Hades. "Gak mau gitu nanya kabar aku? Kan kemarin aku basah kuyup." Hades menaikkan sebelas alisnya. Bibirnya berkedut. Sungguh gadis macam apa yang ada di hadapannya saat ini. Sorot matanya menatap dan memperhatikan Athena dari atas sampai bawah. "Sehat. Gak ada yang perlu dikhawatirkan." Hades melepaskan cengkraman tangan Athena. Lalu kembali melangkah, meninggalkan Athena. "Duh, kutukan apa ini, punya calon laki kok budeg," gumam Athena. "Saya gak budeg. Dan cepat masuk kelas. Saya tidak mau ada gosip aneh-aneh di antara kita." "Tapi aku mau kok, apalagi gosip kalau kita akan segera menikah." "Athena! Apa kamu gak bisa diam sehari aja? Gak usah ikutin saya ka mana-mana." "Gak bisa, Om. Aku udah ditakdirkan menjadi pendamping setia Om." Athena nyengir, sedangkan Hades menggeleng. Harapannya untuk melihat Athena nyatanya adalah sebuah kesalahan. Hades mulai bingung bagaimana cara menjauhkan Athena dari kehidupannya. Semakin menjauh semakin menempel saja gadis di dekatnya itu. Hari berganti menjadi minggu, Hades mulai terbiasa dengan segala gombalan Athena. Diusir dan diabaikan pun Athena tetap berjuang mendekatinya. Setiap Hades ingin bersikap cuek dan masa bodoh. Ada saja yang dilakukan Athena untuk menarik perhatiannya. Seperti saat ini, jika bukan secara kebetulan bertemu di tangga, mungkin Athena sudah jatuh terguling. Badannya lemas, pucat dan mengeluarkan keringat dingin. Mau tak mau Hades menggendongnya ke salah satu sudut koridor dan mendudukkan gadis itu, Athena hanya bergumam bahwa dirinya kelaparan, belum makan karena sibuk mengejar cintanya. "Lagian, bodoh banget sih. Cuma karena cinta gak mau makan. Kamu mau mati?" Hades mencerca Athena habis-habisan. Namun, yang membuat Hades tersentak bukan karena Athena yang marah karena omelannya. Gadis itu justru menubruk d**a bidangnya dan menangis. Hades tak tahu apa yang terjadi. Dia hanya berpikir jika Athena terluka karena ucapannya. "Maaf," ujar Hades pada akhirnya. "Kenapa Om minta maaf?" ujar Athena dalam isaknya. "Kamu nangis karena saya kan?" Athena mendorong Hades dan menjauhkan badannya. "Geer. Aku nangis kan karena lapar." Dan karena kelakuan Papa, Om. Lanjut Athena dalam hati. Hades tersenyum. Dia berpikir bahwa Athena adalah gadis yang unik, Hades tiba-tiba berpikir. Apa seluruh kehidupan Athena diisi dengan guyonan saja. Jika iya, maka beruntunglah Athena. Tidak seperti dirinya yang hidup dalam trauma mendalam. "Om, gak niat ngajak aku jalan gitu?" Hades menoleh sekilas. "Ini kita lagi jalan." "Bukan, Om. Kita ini lagi makan." Athena mencebik. Bibirnya mengerucut. "Kolot emang ya. Maksudku itu jalan alias kencann." Hades berhenti, dia menatap Athena. "Aku ini kolot. Kamu nanti disangka jalan sama Om-om." "Gak apa-apa, omnya macho gini." Athena mengerling. "Saya yang gak mau kalau nanti disangka pedofil." "Halah, palingan nanti mereka bilang gini, 'eh om-om itu beruntung ya, dapat istri muda' nah, jadi Om yang beruntung kalau jalan sama aku." Hades tak mampu menjawab lagi, dia sudah kebal dengan segala ocehan Athena. Berapa kali pun Hades menjawab dan mengelak, Athena tetap bisa menjawab dengan jawaban konyolnya. Hampir tiga puluh menit mereka di kantin, dan Athena masih saja mengoceh. Ingin rasanya Hades membungkam mulut Athena, atau memelester bibirnya agar dia berhenti mengoceh tak jelas. "Om coba lihat di sana ada apa?!" Hades menurut, dia menoleh ke arah yang ditunjukkan. Namun, tiba-tiba Athena mencondongkan punggungnya dan berbisik, "I love you, Om." Bulu kuduk Hades meremang, kaku untuk memutar arah untuk melihat ke arah semula. Dan, gadis itu sudah pergi, punggung berhiaskan untaian rambut cokelat bergelombang itu sudah menjauh, meninggalkan dirinya, juga separuh hati yang baru saja tercubit oleh ungkapan cinta Athena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD