Usaha PDKT

1289 Words
Athena berdebar-debar, hatinya tak keruan dan bibirnya terus menggumamkan kata-kata tak jelas. Jemari lentiknya membuka lembaran baru dari novel percintaan yang dia baca sejak siang tadi. Bagi Athena, membaca novel percintaan seperti mengisi nutrisi hati yang berkurang setiap kali berada di rumah. "Pantes aja ngebet pengen kawin. Bacaannya aja novel dewasa," cecar Irish seraya mengambil buku yang sedari tadi dipengang Athena. "Woy! Balikin. Nanggung nih. Mereka lagi mau—" Ucapan Athena terhenti saat melihat seseorang berjalan keluar dari ruang dosen. "Pergi sana. Aku mau kejar sang dewa Yunani." Iris mengikuti arah pandangan Athena dan mendengkus. "Nih aku balikin novelnya. Infoin kalau kamu udah mulai praktek sama tu dosen." Irish lalu memutar bola mata, meninggalkan Athena yang sudah siap menghujaninya dengan segala umpatan. "Jangan lupa pepet terus kayak perangko!" Mengabaikan Irish, Athena justru berdeham, menyugar rambut dan menampilkan senyum termanis, memperlihatkan dua lesung pipit yang menjadi pemanis alami. Dia berjalan sedikit cepat, menyebrangi taman kecil yang ditumbuhi bunga violet lalu melangkahi teras kecil yang biasa digunakan mahasiswa lain untuk duduk bersantai. "Gila. Cakep banget sih jodohku," gumam Athena mantap. "Ppssst!" Athena melambai seraya memberi kode. Tolol. Dia kan gak lihat gue. Gerutu Athena dalam hati. Athena memperpendek jarak dan terus berjalan mengimbangi langkah Hades. Dia melirik wajah yang masih fokus pada layar ponsel. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, hatinya berdebar lebih kencang bahkan melebihi saat Athena membaca kontemporer romantis. "Om," ujar Athena, sedangkan yang dipanggil masih terus berjalan tanpa menghiraukan. "Om tampan." Hades masih pura-pura tak mendengar. Athena tak lelah, dia membetulkan tas slempangnya yang melorot dan kembali mengikuti Hades. "Om Hades. Gak punya kuping ya? Aku manggil loh dari tadi. Gak sopan ih," gerutu Athena di sela-sela langkahnya. "Om. Kalau jutek gitu jauh jodohnya loh." "Biarin." Hades berujar ketus. "Iya biarin jodoh yang KW menjauh. Aku yang ori mendekat terus kok, hehe." Athena menyengir, Hades berjalan lebih cepat meninggalkan Athena. "Om tunggu! Aku bakal terus jadi follower kalau Om—" Ucapan Athena terhenti, dia menabrak punggung Hades. "Aduuuuh!" Hades berbalik. Mata elangnya menatap Athena tajam, tak habis pikir dosa apa yang dia lakukan hingga selama masa kerjanya beberapa hari ini diganggu oleh gadis tengil bernama Athena. Hening beberapa saat. Athena mengusap jidat dan bibirnya mengerucut. Hades menggeleng, mencari ucapan yang tepat agar Athena berhenti mengikutinya. "Kamu gak bisa ya sehari gak ngejar saya?" "Nggak bisa, Om. Hatiku inginnya ngejar sih." Hades mengembuskan napas kasar. "Dua hari saya jadi dosen, seperti dapat teror." "Kan enak diteror sama cewek cantik, Om." Athena nyengir, memperlihatkan deretan gigi putihnya. Tak lama, Hades membuang muka, lalu pergi lagi meninggalkan Athena. "Om, tawaran aku masih berlaku loh. Aku bahkan mau lamar Om jadi suami! Naik loh, kemarin kan cuma nawarin 'mau gak jadi pacar aku'!" Athena berkata dengan nada suara naik satu oktaf. Beberapa mahasiswa yang melintas memandang Athena dengan heran. "Om, kalau masih maju aku anggap iya." Hades masih berjalan, Athena juga masih membuntuti. "Selangkah lagi berarti beneran nerima aku." Hades menggeleng, tangannya memijit pelipis. "Oke fix! Aku bakal umumin, Pak Hades Hermawan adalah calon suami Athena Ayudya Putri." Spontan Hades berhenti. Secepat kilat berbalik dan membekap mulut Athena. Matanya melirik ke kiri dan kanan, berharap tak ada seorang pun yang berada di dekat mereka saat ini. "Kamu makin ngaco," desis Hades. Tangannya masih membekap mulut. Lalu mendorong tubuh Athena ke tembok, berharap tidak ada yang memergoki atau mendengar perbincangan di antara mereka. Tatapan mereka berserobok, Athena dapat dengan jelas merasakan embusan napas Hades yang menghangat di pipinya. Athena mengerjap-erjap, jantungnya kini bermaraton di dalam tubuhnya. Tiba-tiba Hades menjerit dan mengaduh, dia melihat telapak tangannya yang memerah karena ulah Athena. Sial, umpatnya dalam hati. "Mau kamu apa?" Hades menatap bola mata Athena. Tajam dan melelehkan hati Athena lebih banyak. "Mau Om jadi pacar aku," jawab Athena spontan. "Om jangan gitu lagi, sesak tahu, aku gak mau jadi janda muda sebelum dinikahi Om Hades." "Kamu sakit. Harus berobat atau minimal istirahat di rumah." "Kalau gitu ayo, Om kan dokternya." Athena mencekal Hades saat pria itu hendak meninggalkan dirinya. Sayang, tenaga Hades lebih besar. Hanya dengan satu kibasan Hades berhasil lepas dan meninggalkan Athena. "Yang rajin ngajarnya. Aku bakal setia nunggu kamu." Hades kembali mengabaikan Athena dan memilih melanjutkan langkahnya. Athena tak peduli, jika dia dicap w************n atau dianggap tergila-gila kepada Hades. Athena tak peduli dengan beberapa tatapan menilai para mahasiswa atas sikapnya, seorang ratu kampus populer kini mengejar dosen tampan. Berita murahan itu sudah dia dengar sejak awal pertemuannya dengan Hades. Menurutnya cara ini adalah yang paling manjur untuk menghibur diri sendiri untuk semua problema yang dia hadapi saat ini. Benar kata pepatah, dari mata turun ke hati. Dari menggoda menjadi suka. Dari suka menjadi cinta, Athena pernah membaca sebuah artikel, bahwa cinta akan hadir karena terbiasa bersama. Athena berpikir, mungkin hari ini Hades menolaknya, tapi suatu saat dia akan mencintainya berlipat-lipat bahkan lebih daripada cintanya. Langkah pria memang tak akan bisa diimbangi seorang wanita. Athena menyerah, napasnya tersengal-sengal. Memutar arah, Athena akhirnya memilih kantin sebagai tempatnya beristirahat. Athena duduk di salah satu pojok kantin. Sial, Irish tak terlihat lagi di kampus. Mau pulang pun Athena enggan, dia kembali mengeluarkan novel roman picisan yang sempat direbut Irish. Perasaannya terbawa saat membaca kata demi kata, kisah cinta memang begitu menarik. Bisa menggelitik hati dan tak jarang meneteskan air mata. Lama Athena menghabiskan waktu di kantin, dia bisa berjam-jam duduk di pojokan kantin hanya dengan sebuah buku. Fokusnya terpecah saat aroma petrikor menguar menusuk hidungnya. Athena terperanjat, hujan mulai deras mengguyur area kampus. Dia melirik jam yang melingkar di tangan, sudah sore rupanya. Membaca kisah percintaan memang sungguh bisa melupakan waktu. Athena menyimpan novel bersampul jingga itu. Beranjak dan merapikan pakaian, dia berjalan lagi di sekitar koridor yang mulai lengang. Athena benar-benar lupa waktu. Hujan semakin deras, langit menggelap. Sangat mustahil jika dia menerobos dan mencegat taksi di tengah guyuran seperti ini. Yang bisa dilakukan hanyalah duduk dan menunggu hujan reda. Namun sampai kapan, pikirnya. Tidak bisa menunggu, Athena takut sendirian. Kampus sudah sepi sore hari begini. Dia membungkuk, menggulung sedikit celana katun cokelat mudanya. Mengikat rambut bergelombannya menyerupai ekor kuda. "Ayo Athena, basah sedikit gak apa-apa," ucap Athena hampir menyerupai gumaman. "Wanita manja seperti kamu emangnya berani nerobos hujan?" Athena terkesiap, spontan berbalik dan melihat Hades berdiri bersedekap tangan, untuk sesaat Athena bersyukur karena kehadiran Hades sedikit mengurangi ketakutannya. "Berani kok, Om. Lamar Om Ganteng aja aku berani apalagi nerobos hujan. Kata Papa aku itu seperti dewa perang, gak boleh lembek apalagi takut sama hujan." Hades tersenyum skeptis. Mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa sore-sore begini masih keluyuran di sini?" "Ciyeeee kepo." Athena bukan menjawab justru meledek Hades. "Om sendiri nguntit aku ya sampai belum pulang." "Saya gak kepo. Saya juga mau pulang, selamat menunggu hujan reda." Hades pergi, meninggalkan Athena dan menerobos hujan. Tiba-tiba air mata menggenang di pelupuk mata Athena. Ada sadikit sakit di hati karena kepergian Hades. Pria itu pergi, masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Athena seorang diri di tengah hujan yang melebat. "Oke, Om. Aku buktiin kalau aku gak takut hujan," desis Athena mantap. Hujan begitu deras, jarak pandang menipis dan dalam hitungan detik bajunya sudah basah kuyup. Athena berhasil mencapai ujung jalan. Hanya tinggal menunggu taksi atau ojek maka dia akan selamat dari guyuran air hujan. Di tempat lain, Hades masih bergeming. Dia sebal melihat gadis itu begitu nekat, sudah lima belas menit dia berdiri di sana. Ingin rasanya Hades menutup mata dan menjalankan mobil tanpa melihat gadis itu Hades memukul stir, lalu menjalankan mobilnya. Dan menghampiri Athena. Gadis itu menggigil, berteduh di bawah pohon palem sungguh bukan ide bagus di saat hujan seperti ini. Hades turun, lalu berjalan dan menggenggam tangan Athena. "Dasar gadis keras kepala." Romansa baru tercipta, lewat hujan Athena mengukir senyum dalam debaran jantung. Dinginnya hujan seolah-olah kalah oleh kehangatan jemari Hades yang mencengkram lengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD