Luka

1059 Words
Athena melambai-lambai saat melihat mobil Hades bergerak meninggalkan dirinya yang berdiri sedikit memberengut di depan gerbang. "Dasar manusia kutub, gak peka, masa nurunin cewek di jalan. Orang mah diantar sampai depan pintu." Gadis itu berbalik, berjalan seraya mengentakkan kaki dan membuka gerbang. Baru saja berjalan beberapa langkah, samar-samar terdengar suara saling bersahutan dengan nada tinggi. Hal yang paling enggan Athena dengar. Gadis itu memejamkan mata, berusaha tak mengindahkan suara itu, tetapi nihil, masih saja terdengar dan begitu menyakitkan. Athena berbalik, berniar menghindar. "Ah ... pertengkaran lagi. Kali ini apa?" Athena bergumam. Di rumah, pertahanannya luruh, dia nyaris mati menahan sesak karena lagi dan lagi mendengar segala umpatan dan makian dari kedua orang yang begitu dia sayangi. "Papa baru pulang setelah sekian lama?!" Samar-samar terdengar suara mamamya berteriak dari luar. Athena berhenti sejenak dan mengurungkan niatnya untuk pergi, dia tersenyum miris. Andaikan dia bisa tetap berputar dan pergi saja, tapi tidak mungkin. Athena berjenggit, memejamkan mata saat mendengar lagi suara pecahan barang. Entah apa lagi yang papanya rusak, atau mungkin mamanya Perlahan, Athena melangkah. Jemarinya menggenggam tali tas punggungnya. Menduduk pilu, dia belum siap melihat drama itu lagi. Athena sudah tiba di depan pintu. Entah mengapa jemarinya enggan memutar knop tersebut. Terlalu sakit rasanya mendengar cacian demi cacian. Isakan sang mama mulai terdengar, pasti papanya berulah lagi. Athena masuk, dia disambut dengan sebuah figura besar berisikan foto keluarga. Semua tersenyum bahagia namun terkesan mengejek, dirinya, Mas Bagas, lalu Mama serta papanya, berdiri dalam foto seolah-olah tanpa masalah. Athena sangat merindukan masa-masa ketika semua baik-baik saja. Tanpa orang ketiga di tengah keluarga bahagia mereka. Benar saja, saat Athena berjalan ke arah ruang keluarga. Mamanya tengah duduk terisak, tersungkur di lantai. Sedangkan papanya duduk termenung seraya memijat pelipisnya. "Aku ingin kita cerai!" Mamanya berujar kemudian. Kata-kata dari mamanya seketika membuat Athena mendongak dan air mata meluncur begitu saja. "Jangan!" Athena menyahut spontan, berlari menghampiri mamanya yang tengah meringkuk. "Mama nggak apa-apa?" Sang mama menggeleng, tatapan Athena jatuh pada papanya. "Untuk apa lagi Papa pulang dan menyakiti Mama?" Air mata semakin tak kuasa Athena tahan, bulir bening itu lolos begitu saja. Anak mana yang rela melihat orang tuanya saling memaki dan menyumpah serapah. Pria paruh baya itu beranjak. Menghela napas dan berjalan keluar. Selalu saja begitu, pikir Athena. Perlahan, dia memapah mamanya agar berdiri dan duduk di sofa. Beberapa tahun sudah Athena hidup di antara keluarga yang tak utuh. Athena mengelus dan mengusap lelehan air mata mamanya. "Psst, Mama gak boleh keluarin air mata lagi untuk Papa." Mamanya menghambur memeluk Athena, remuk redam rasanya setiap kali kembali ke rumah. Tempat yang seharusnya memberi ketenangan saat lelah menghampiri. "Athena mau ke kamar dulu, Mama stop nangis. Ingat! Kita wanita terkuat," ujar Athena yang hanya dibalas anggukan oleh mamanya. Athena berdiri, berjalan dengan cepat ke kamarnya. Dia hanya ingin kembali menyendiri, menangis dan mengutuk keadaan atas keluarganya yang tak sempurna. Hanya di kampus Athena merasa lebih waras, di sana dia bisa tertawa tanpa memikirkan beban jika berada di rumah seperti ini. Tiba-tiba Athena teringat kejadian pagi tadi. Mengingat kampus, sama halnya mengingat dosen barunya. Hatinya berdebar saat mengingat wajah Hades. Apalagi saat melihat wajahnya dari dekat seperti tadi. Oh ... inikah hidup, duka dan tawa datang beriringan. Athena ingin segera berganti hari, kuliah dan melihat wajah Hades. Entah mengapa, Athena menyukai hobi barunya yakni menggoda Hades. Terlebih mukanya saat di mobil tadi, kentara begitu salah tingkah saat Athena melontarkan rayuan. Athena tersenyum, membayangkan bagaimana esok saat bertemu dengan Hades. "Calon suami ...." Athena bergumam, pipinya memanas. Dia tak berani membayangkan jika nantinya Tuhan benar-benar menjodohkannya dengan Hades. Athena memukul kepalanya pelan, mengumpati dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya membayangkan akan bersanding di pelaminan dengan om-om seperti Hades. Di tempat lain, tampak dua pria berbeda generasi sedang duduk di ruang tamu, aroma kopi menguar menembus indra penciuman. Pria yang tampak lebih tua dan sedikit renta itu menatap sosok di hadapannya. "Jodoh, mati dan rezeki itu Sang Khalik yang mengatur, Le. Seperti Eyang sudah pasti mati, tapi Eyang ingin melihat kamu bersanding dengan jodohmu." Pria tua itu terkekeh, tangan keriputnya meraih mug putih berisi kopi hitam. "Doakan saja, Eyang." Percakapan seperti ini adalah hal yang paling ingin dihindari entah oleh siapa pun. Entah, akhir-akhir pria pengganti mendiang ayahnya itu terus dan selalu membicarakan perihal jodoh. "Orang tua sudah pasti mendoakan anak cucunya, tapi ... balik lagi kamu, Hades," lanjut sang eyang. Hades tersenyum, entah harus berkata apa lagi. Kegagalan membuatnya seakan-akan takut memulai kisah baru. "Hades hanya takut semua terulang lagi, Eyang." Pria tua itu terkekeh, meletakan mug di meja. Matanya menatap sang cucu, seolah-olah menyelami apa yang dirasakan Hades. "Kegagalan dalam berumah tangga memang menjadi pukulan telak. Sudah lima tahun kamu terpuruk. Kamu masih muda, masih gagah, beda dengan Eyang yang tinggal menunggu ajal hehehe ...." "Eyang jangan berkata seperti itu," ujar Hades seraya berdiri. Dia melangkah ke tepi teras yang terhubung langsung dengan ruang tamu. Menatap pekatnya langit malam. Mendongak, menatap bulan yang sendirian tanpa ditemani gemerlap bintang. "Dulu, bagiku, hidup cuma sekali. Mati sekali, dan menikah pun harusnya sekali. " Hades berujar, suaranya tetap terdengar tenang, meski dalam hatinya berbanding terbalik. "Menikahlah, kubur luka hatimu. Wanita itu tak pantas kamu cintai. Sudah malam, Eyang mau ke dalam. Gak kuat sama angin malam." Eyang menghela napas, tubuh tingkahnya beranjak dan dia menatap cucunya lekat. "Ada orang mengatakan jangan menangisi mereka yang mati, dan jangan berharap kembali pada mereka yang telah pergi. Jika tidak hidupmu akan terus berada dalam kesulitan." Hades menoleh, mengangguk dan melihat tubuh renta itu berjalan meninggalkannya. Hades kembali menatap langit, menikah ... satu kata yang sangat dihindarinya selama ini. Tepatnya setelah perceraian dengan Yasmin. Ada luka menganga yang rasanya sulit untuk disembuhkan. Hades masih berdiri, tubuh tegapnya nyaris tak berkutik diterpa dinginnya angin malam. Dia duduk di tepian teras, mengeluarkan benda pipih dari dalam sakunya. Melihat galeri, di sana ada seorang anak kecil dengan rambut dikucir dua. Melihat foto itu, membuat hatinya semakin pilu. Dia merindukan Zinnia, anak semata wayangnya. Sudah beberapa bulan ini Hades sangat sulit untuk bertemu dengan bidadari kecilnya. Yasmin selalu menggunakan berbagai cara untuk menghalangi setiap Hades datang ke rumahnya. Terakhir, Yasmin berkata bahwa Zinnia sedang pergi bersama neneknya ke Bandung. Hades mengusap wajahnya secara kasar, dia berpikir bahwa menyibukan diri dengan pekerjaan adalah hal terbaik untuk lari dari kenyataan. Pengecut? Mungkin kata itu pantas untuk dirinya, apalagi yang lebih buruk saat terus lari dan menghindar dari masa lalu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD