Pria itu berdiri, tangan kekarnya membetulkan kerah yang sebenarnya tampak rapi sekali. Dia berjalan sedikit kepinggir hingga sampai di tengah kelas. Tidak ada kesan gugup, yang ada adalah aura wibawa yang begitu kontras dengan wajah tegasnya.
"Seperti yang kalian ketahui, dosen yang sebelumnya sudah berhenti. Jadi dengan kata lain, saya menggantikan beliau. Nama saya Hades Hermawan. Kalian boleh memanggil saya dengan nama itu."
Hades. Itulah nama yang baru Athena dengar, kebetulan macam apa ini, Athena berpikir bahwa nama mereka memiliki latar belakang yang sama. Hades, pria tegap yang begitu maskulin. Athena memerhatikan sekitar kelas, hampir seluruh mahasiswi menatap penuh minat pada dosen itu.
Ingin rasanya dia menyumpal satu per satu mulut mereka yang menganga saat melihat Hades. Menurut Athena, Hades tak setampan mantan-mantan kekasihnya. Namun, auranya memang begitu mendominasi. Terlebih tatapanya yang tajam.
Jika boleh jujur, Athena lebih menyukai dosen lamanya. Walau Pak Bowo termasuk dosen lebay, tapi nyaman jika sedang mengajar. Athena menguap, suara seksi Hades nyaris tak membuat minatnya naik. Seluruh teori hampir mirip iklan yang numpang lewat. Athena tak bisa fokus, dosen baru itu begitu dingin dan tak banyak bicara. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah Hades.
"Jika masih mengantuk, baiknya kamu istirahat di rumah."
Skak mat! Perkataan itu menggema memenuhi isi kelas, hampir seluruh penghuni menatapnya. Malu, untuk kesekian kali. Irish menyenggol lengan Athena, memberinya tatapan tajam. Terlebih Hera, si muka penuh riasan melirik skeptis ke arahnya.
Athena tidak pernah setertekan ini saat belajar. Mata elang Hades sesekali meliriknya, ambyar sudah hari ini. Gadis berlesung pipit itu tak berkutik, enam puluh menit berlalu dengan hening tanpa ada suara sedikitpun, tiba-tiba Hades mengumkan bahwa kelasnya sudah selesai. Seperti ada hawa segar yang menetes di puncak kepala Athena.
"Gue ke toilet dulu ya, kebelet dari tadi nih," ujar Irish seraya merapikan beberapa bukunya secara asal.
Athena mengangguk, membiarkan sahabatnya pergi lebih dulu. Tak lama, gadis berkaus merah itu berdiri. Betapa terkejutnya saat dosen itu masih duduk di sana. Athena berjalan pelan, jantungnya berdisko saat langkahnya semakin mendekati sang dosen.
"Permisi, Pak." Athena berujar sekadar basa-basi. Tak ada respon, membuat Athena melanjutkan langkah diiringi rasa malu untuk yang ketiga kali.
"Siapa nama kamu?" ujar Hades tanpa menatap lawan bicaranya.
Athena mendadak berhenti, berbalik dan menatap dosennya. "A-Athena, Pak."
Pria berjenggot tipis itu memerhatikan Athena, lalu berkata, "Kamu kan yang nembak saya tadi?"
Ingin rasanya Athena terjun bebas saat ini juga. Menghilang dari hadapan dosennya. Ketebalan muka Athena nyaris tak berguna saat ini, terlebih Hades masih menatapnya.
"Maaf, Pak. Saya iseng setengah serius tadi." Athena menunduk. Dia serius, bahwa tadi hanyalah iseng belaka. Namun, tak menolak dan menampik jika nantinya Hades adalah jodoh masa depannya.
Hades bergumam, menghela napas berat. "Aneh anak zaman sekarang. Cinta buat mainan."
"Berarti Bapak anak zaman old ya? Cinta saya bukan mainan kok, Pak." Athena berujar tiba-tiba. Sadar dengan kebodohan barunya, Athena langsung membekap mulut.
Kebodohan baru gue. Astaga! Athena membatin.
"Sejak kapan saya menikah dengan ibu kamu? Dan saya gak se-old yang kamu pikir." Hades menggeleng, menatap gadis jangkung di hadapannya.
"Jadi panggil apa? Mas, Bambang, Abang atau—"
"Keluar saja kamu, saya pusing lama-lama denger suara cempreng kamu."
Athena mencebik kesal, dia berbalik dan kembali melangkah. Namun, sebelum benar-benar keluar Athena kembali berkata, "Panggil sayang aja kalau begitu ya. Boleh kan? "
Dilihatnya wajah Hades memerah, tampak kesal dan siap mengutarakan kata-kata saktinya lagi. Athena langsung kabur dan lari tebirit-b***t meninggalkan kelas sastra. Sekali basah, kecemplung aja sekalian, itulah pikir Athena. Kadung malu.
Ini adalah rekor pertama Athena di kampus, tepatnya saat merayu pria yang tidak lain adalah dosennya. Napasnya terengah, dia duduk di koridor. Tiba-tiba sebuah tepukan mengagetkannya.
"Gila! Gue kira Pak Hades!" Athena mengembuskan napas lega. "Padahal gue hanya lari beberapa meter, tetapi lelahnya seperti habis lari berkilo-kilo meter. Lebay ya? Iya sih lebay, sesekali."
"Aneh, nanya sendiri, jawab sendiri. Otak lo udah terkontaminasi sama Pak Hades ya." Irish bersedekap menatap sahabatnya. "Sampai lo lupa wajah sahabat sendiri. Bener-bener kudu di ruqyah ni anak."
"Bukan gitu, ah ... panjang ceritanya." Athena mencebik kesal, dia berdiri dan berkata, "Pokoknya gue naksir dia, gue akan menikah dengan Pak Hades!"
"Serius?"
"Ntar lo bridesmaid-nya."
Irish menggetok dahi Athena, berusaha menyadarkan gadis itu dari khayalan tingkat tingginya.
Siang berganti sore, tampak beberapa mahasiswa mulai berjalan ke arah gerbang. Jam segini sebagian mahasiswa memang sudah selesai, beberapa dari mereka tetap tinggal untuk sekadar nongkrong dan sebagian lainnya memilih untuk pulang. seperti halnya Hades. Dia memilih untuk segera pulang ketika jam kelasnya sudah selesai. Hades tersenyum, mengingat gadis konyol di kampus ini. Dia duduk di jok kemudi. Alunan musik jaz mengalun, menari di telinganya. Sekonyong-konyong dia mengenyahkan wajah Athena dari ingatanya.
Tiba-tiba dia melihat gadis itu berjalan sendirian di dekat gerbang keluar. Spontan, Hades menjalankan mobilnya mendekati Athena. Tak butuh waktu lama, kini dia sudah berhenti di samping gadis yang menggerutu dengan bibir mengerucut. Semakin lucu aja wajahnya.
"Ayo saya antarin, kasian sendirian aja." Hades berkata dari dalam mobil.
Athena melirik dan menghentikan langkahnya.
"Ayo, sebelum saya berubah pikiran," lanjut Hades lagi. Kali ini mukanya terlihat sedikit kesal.
"Bapak harusnya lebih romantis kalau mau ngajak cewek jalan. Terus nanya kenapa saya sendirian, lalu—"
Mobil tiba-tiba melaju pelan. "Eeh! Tunggu. Saya mau."
Hades kembali menghentikan mobil. Athena membuka pintu dan beringsut duduk di samping Hades. "Baiklah kalau Bapak memaksa, gimana lagi. Saya mau deh dikasih tebengan."
Ingin rasanya Hades menendang keluar gadis di hadapannya. Dia mengusap wajah secara kasar, menghela napas kepayahan lalu kembali melajukan kendaraannya tanpa mau berdebat lagi.
Hening, suasana tiba-tiba begitu terasa kacau bagi Athena. Jika dilihat dari dekat Hades begitu tampan, sempurna untuk dijadikan teman kencan, bahkan teman hidup.
"Saya tidak mau dipanggil Bapak. Karena saya bukan Bapak kamu. Kalau di dalam kelas masih saya masih maklum."
"Ya udah, saya gak akan panggil Bapak, karena Bapak bukan bapaknya saya. Tapi sayang, karena Bapak calon suami saya."
Hades menggeram. Matanya fokus menatap jalanan ibu kota. "Apa semua hal kamu jadikan bahan candaan?"
"Enggak juga. Saya gak bercanda loh. Saya suka Bapak kok." Athena berujar santai seraya menatap Hades dengan senyuman yang dia buat semanis mungkin.
"Athena ... saya peringatkan. Atau kamu harus turun di sini."
"Iya deh, saya manggil Om aja. No nego."
Hades menggeleng dan mengusap wajahnya secara kasar. Enggan kembali berdebat dan memilih diam. Athena terus memberi komando ke mana saja jalan yang harus Hades ambil menuju rumahnya.