Sarapan selesai dengan menu yang ala kadarnya dan kini keduanya sama-sama diam membisu. Baik Ellard maupun Emily tidak tahu harus membahas dan membicarakan apa lagi. Diamnya mereka membuat suasan sedikit canggung. “Hm, sebaiknya aku pulang. Terima kasih untuk sarapannya,” dengan berat hati akhirnya Ellard beranjak dari kursinya. Jika ditanya hatinya, ia enggan untuk pergi dari sana. Sungguh ia masih penasaran dengan kehidupan Emily, tepatnya siapa yang sudah menikahinya karena tidak ada satu hal atau benda apa pun di rumah itu yang bisa memberikan ia petunjuk. Di samping rasa penasarannya, di satu sisi Ellard juga merasa tertohok bagaimana bisa Emily tidak mengenalinya sama sekali. Lalu di detik berikutnya ia menghela napas panjang. Memangnya apa yang ia harapkan? Andai Emily mengenaliny

