"Aku mau pulang," kata Alamanda. Ia bertahan dengan tatapannya yang sengit. "Pulang? Ke mana?" sahut Bobi acuh tak acuh. Lelaki itu berjalan masuk ke kamar, mengabaikan tatapan Alamanda, meninggalkan lorong. Hujan masih setia dengan ritme yang deras. Sesekali petir bergemuruh. Namun suaranya jauh. Hawa dingin masuk, menyergap benda-benda, membungkus tubuh mereka. Diabaikan seperti itu, Alamanda tidak terima. Ia mengejar lelaki itu ke kamar sembari berkata: "Apa yang kaupikirkan? Tentu saja rumahku. Gara-gara sifat kekanak-kanakanmu, aku melewatkan banyak hal termasuk pekerjaanku." Bobi membuka jas abu-abunya yang basah oleh hujan. Ia melempar jas itu ke lantai. Lelaki itu kemudian menyahut:" Begitu menurutmu? Tapi kau tidak akan ke mana-ke mana. Kau tidak perlu lagi bekerja. Di sini

