Alamanda melempar ponselnya di atas kasur. Kakinya menendang-nendang selimut. Kain tebal itu melorot jatuh ke lantai. Ia mengambil posisi duduk dari tidur telentang, gerakannya tiba-tiba, membuat kepalanya berdenyut-denyut. Kemudian ia meraih gelas air di samping tempat tidur, membuka tutupnya dan menenggak seluruh isinya. Setelah pusingnya mereda, kakinya menyuruk sandal bulu abu-abu, dan ia berjalan ke wastafel di samping pintu masuk kamar mandi. Ia mengguyur wajahnya dengan air kran. Namun ia menjadi histeris setelah ia sadar ia belum mengusapkan embun mawar pada wajahnya. Rusak sudah ritualnya. Dan satu-satunya orang yang mesti disalahkan adalah Bobi yang membangunkannya melalui telepon dan langsung berkata: Undangan untuk Ibumu akan dikirim via pos atau kita sendiri yang ak

