Hari ini, sembilan belas Desember, adalah hari ayah Alamanda menyerah pada kematian setelah menderita ISPA kronis selama berbulan-bulan. Devayana telah membawa sakit itu bersamanya sejak remaja dan sakit itu semakin parah setelah mengetahui perempuan yang kepadanya seluruh hidup Devayana dipersembahkan, merusak kepercayaan itu.
Sejak dua tahun terakhir, Alamanda mengenang kematian ayahnya dengan membagikan dua ratus bibit bunga gratis di depan gerai. Bibit bunga itu berukuran 10 sampai 20 senti yang ditanam dalam pot transparan. Tanaman itu adalah krisan, mawar, asoka, adenium, sss lily, calendula, begonia, melati, Daisy, dan masih banyak lagi. Setiap orang hanya mendapatkan satu bibit. Ratna dan Sari yang mendapat tugas menjaga stan tenda dengan rak susun yang dipenuhi bunga bermekaran itu.Tempatnya di depan pagar, berdekatan dengan garis trotoar.
Selalu tak sampai sehari, bunga-bunga itu habis diburu para pengguna jalan yang jatuh hati lalu melipir ke stan mereka. Ada beberapa orang yang memang sengaja datang ke sana untuk mendapatkan bibit-bibit itu secara gratis. Mereka sudah berancang-ancang sejak jauh hari. Dan mereka begitu berisik dengan bertanya terus-menerus, setiap saat berkunjung--apakah pembagian bibit gratis akan diadakan lagi tahun ini. Ada pula beberapa penduduk sekitar yang ikut meramaikan stan itu.
Matahari makin tinggi. Sinarnya tak lagi ramah di kulit dan mata. Dua pegawai itu bersiap-siap menutup stan darurat dan kembali ke dalam toko untuk menyejukkan diri. Mereka melirik lima bibit asoka merah dan dua bibit bugenvil ungu muda di atas rak yang masih menunggu pemilik baru.
"Sedikit lagi," gumam Sari. Ia mengusap keringat di lipatan leher belakang lalu menyentuhkan tangan itu pada pipi Ratna. Ia terkekeh, saat Ratna bersungut-sungut padanya.
Di seberang jalan ada seorang pemuda yang berjalan tergesa dan terus-menerus melirik ke arah stan. Tangan kirinya menenteng sekantong wortel. Ratna masih mengingat betul lelaki itu. Hari ini ia berkaos merah dan memakai celana olahraga hitam. Kepada kawannya, ia berkata: “Mau apa lagi dia ke sini?”
Sari menoleh dan masa bodoh dengan ucapan Ratna. Gadis itu sedang kegerahan dan menyimpan suaranya untuk menghemat tenaga.
Lelaki itu menyeberangi lalu lalang kendaraan dengan hati-hati dan tiba di stan mereka dengan senyum yang mengandung kepercayaan diri tinggi. Senyum itu membuat mereka berdua kikuk dan merasa aneh.
“Selamat datang di stan bibit bunga gratis Devayana,” kata Sari menyambutnya, “Ada yang bisa kami bantu?”
Danendra melirik bunga-bunga itu tanpa menaruh minat. Bukan bunga itu yang ia cari. Ia menunjuk ke dalam gerai.
"To-to-konya bu-buka?"
Sari mengangguk dan mempersilakan Danendra masuk. Katanya: "Ada satu karyawan kami yang berjaga di dalam toko."
Setelah Danendra melangkah ke halaman toko dan menggeser pintu kaca, Ratna menggerutu pada Sari.
"Kenapa tidak bilang tokonya tutup? Dia bisa merepotkan kita."
"Sudah ada Ade yang mengurus," sahut Sari. Ia meraih minuman kemasan dari tangan Ratna. "Lagi pula apa kau tega? Dia sudah kemari dua kali."
"Kalau dia sampai merusak bunga-bunga di dalam sana, kita yang akan membayar ganti rugi. Untung saja waktu itu dia sedang dilayani Nona Alamanda saat merusak bunga. Jadi kita bebas dari tanggungan. Kalau sekarang bagaimana? Nona sedang pergi ke makam mendiang Tuan Devayana bersama Tuan Bobi."
Ratna mengamati Danendra dari stan. Kakinya berjinjit demi bisa melihat ke dalam toko yang tertutupi pagar dan mawar rambat.
"Habislah kita."
Ratna,"
"Hm."
"Kau semakin mirip Nona Almond. Sangat perhitungan."
Dua wanita itu saling berpandangan kemudian tertawa bersamaan.
Sesungguhnya, Alamanda tidaklah seburuk itu. Setiap tiga tahun sekali, dibantu Bobi, ia mencari karyawan lulusan Sekolah Menengah Atas untuk dipekerjakan di gerainya dan mereka juga mendapatkan tawaran dari Alamanda untuk melanjutkan kuliah. Namun tidak semua dari mereka menerima tawaran itu. Ada remaja yang memang merasa cukup hanya dengan ijazah SMA. Ade termasuk salah satu pegawai sekaligus mahasiswa yang mendapat sponsor kuliah dari gerai Devayana. Sekarang adalah tahun kedua pemuda itu belajar di sebuah kampus swasta di Buleleng.
Tiga puluh menit kemudian, sampai Alamanda dan Bobi datang, Danendra belum juga selesai memilah-milih bunga. Ia mengelilingi seluruh rak dan kegiatannya itu membuat Ade dongkol setengah mati. Sebentar lagi jam istirahat siang dan toko akan tutup sementara. Haruskah ia mengusir lelaki itu sekarang?
Setelah Alamanda turun, mobil Bobi langsung berbalik ke barat. Ada rapat peresmian wisata baru yang mesti didatangi Bobi siang itu sehingga mereka tak bisa makan bersama. Biasanya, di tanggal ini, mereka akan menyempatkan makan siang bersama para karyawan Alamanda.
Alamanda menyapa dua pegawainya yang tengah menutup stan. Semua bunga sudah berpindah ke tuan dan rumah baru. Ketiga wanita itu terlibat percakapan seputar kegiatan pembagian bibit dan perjalanan Alamanda bersama Bobi ke pemakaman.
"Kita makan bersama setelah ini. Bobi mentraktir kalian," kata Alamanda. Ia menunjukkan dua kantong makanan yang tampak berat dan penuh. Dua perempuan tanggung itu bersorak kegirangan. Sari segera mengambil kantong-kantong itu dari tangan Alamanda.
"Nona Almond," panggil Ratna.
"Ya?" Alamanda menyahut tanpa berusaha menoleh Ratna yang berjalan di samping kanannya. Mereka akan masuk ke dalam toko untuk bergabung bersama Ade dan Bu Ami .
"Orang aneh itu datang lagi."
"Siapa?"
"Pria itu," Ratna menunjuk ke dalam toko. Seorang lelaki berdiri melihat ke arah mereka, dari gerak-geriknya, ia akan keluar dari sana. Di belakangnya tampak Ade bersandar pada sudut rak bunga.
Alamanda mencoba membangkitkan kembali ingatan tentang pria itu. Namun ia tak berhasil melakukannya. Akhir-akhir ini ia banyak disibukkan persiapan pertunangan dengan Bobi. Terlalu banyak hal yang mesti diurus membuat ingatan jangka panjang gadis itu melemah.
Lelaki itu menggeser pintu. Saat ini mereka berempat berhadap-hadapan di teras toko. Lelaki itu memberinya sebuah senyuman. Setelah meneliti penampilan lelaki itu, barulah Alamanda ingat.
"Astaga, " bisik Alamanda pada Ratna. "Kau saja yang urus. Aku lelah sekali. Tenanglah. Tidak akan ada potongan gaji jika dia merusak bunga."
Alamanda melemparkan senyum ramah pada Danendra kemudian ia bergegas menuju rumahnya.
"Tu-tunggu," ucap Danendra.
Alamanda berbalik. Danendra menatapnya begitu dalam. Seekor ngengat tiba-tiba berputar-putar di atas kepalanya lalu terbang hinggap di lengan Alamanda. Gadis itu takjub. Beberapa saat kemudian ngengat itu kembali pada Danendra lalu terbang menjauh lalu hilang. Begitu pula dengan kejengkelan Alamanda padanya.
Danendra kemudian mendekati gadis itu. Ia menyerahkan sekantong plastik wortel padanya. Ia bilang wortel itu adalah hadiah permintaan maaf setelah ia menjatuhkan aglonemanya beberapa waktu lalu. Alamanda menerima wortel itu di tangannya dan ia kebingungan kata macam apa yang harus diucapkan saat itu. Gadis itu lalu mengintip sekumpulan wortel yang masih segar dan gemuk-gemuk. Akhirnya ia mengucapkan sesuatu: terima kasih, katanya, dan ia juga bilang bahwa ia sudah melupakan peristiwa itu.
"Ini pertama kalinya ada pelanggan yang memberiku hadiah permintaan maaf," tutur Alamanda. "Dengan satu kantong plastik wortel pula."
"Kau suk-suka wortel?" kata Danendra. Ia berpura-pura tidak tahu bahwa gadis itu makan wortel hampir setiap hari. Dulu saat masih SD, pada jam istirahat, ia akan mengeluarkan wortel dari dalam kotak makan dan mengunyahnya sembari mengobrol dengan kawan-kawan. Beberapa anak menjulukinya anak kelinci dan ada pula yang memanggilnya dengan sebutan dewi hamster.
Alamanda mengangguk. Ia bertanya bagaimana Danendra tahu. Ada keheningan panjang di antara mereka. Danendra kemudian berkata: "Kit-kita pe-pernah satu ke-kelas sewaktu SD."
"Benarkah?" Alamanda kembali mengingat-ingat. Ia meneliti penampilan Danendra, menerka-nerka kenangan semasa sekolah dasar tentang pemuda di hadapannya.
"Kau ti-tidak ak-akan ingat," kata Danendra. Ia jengah dipandangi seperti itu. "A-ku--"
"Apakah kau anak yang jatuh di pinggir lapangan?" Alamanda memotong ucapan Danendra. "Di samping pohon mangga? Yang menangis dan tak mau bangun itu? Yang digendong wali kelas?"
Wajah Danendra bersemu-semu menahan malu.
Pemuda itu akan berpamitan pulang. Namun tiba-tiba Alamanda menahannya dengan berkata: "Kami mengadakan makan siang bersama. Sekarang adalah hari peringatan kematian Ayahku. Kau mau bergabung?"
Sontak kedua karyawan Alamanda yang ikut mendengar ucapan itu saling berpandangan. Ini adalah kali pertama Alamanda bersikap ramah pada orang yang telah merusak bunganya.
Danendra menyambut tawaran itu dengan suka cita. Mereka berempat lalu masuk ke dalam toko. Ratna membalik papan pengumuman, sehingga papan tulisan di pintu terbaca 'Tutup Sementara'.
Alamanda mengenalkan Danendra pada Bu Ami sebagai kawan masa sekolah SD. Semula, sama seperti tiga pekerja toko Alamanda, Bu Ami bereaksi kurang ramah pada Danendra. Sebentar lagi Nonanya itu akan menikah namun malah mendatangkan lelaki asing di rumahnya.
Suasana makan siang bersama itu agak kurang bersahabat. Danendra menyadarinya. Namun Alamanda terus berceloteh tentang masa SD-nya. Celoteh itu membicarakan Danendra kecil yang pendiam dan hampir terlupakan. Bahkan Alamanda baru tahu siang ini bahwa mereka tinggal berdekatan. Jarak rumah mereka berkisar delapan ratus meter. Rumah Danendra jauh dari jalan raya, di lereng bukit kecil. Dan jalan masuk ke sana terbilang payah. Pada kanan kiri jalan setapak menuju ke sana adalah kebun-kebun rimbun tak terawat. Hanya ada beberapa rumah di sana.
Lambat laun keempat orang yang bergabung di meja itu ikut mencair dalam celoteh Alamanda.
"Jadi rumahmu di bawah kaki bukit itu?" tanya Bu Ami.
Danendra mengangguk.
"Beginilah kalau tinggal di daerah wisata. Terlalu banyak turis keluar masuk membuat tetangga dekat tak kelihatan," kata wanita paruh baya itu.
"Sebentar," tutur Bu Ami lagi. "Rumahmu ada di mananya rumah yang katanya terkenal seram itu?"
Tangkai sendok dalam genggaman jemarinya mendadak bergetar mengikuti gemetar tubuhnya. Hanya Ratna yang menyadari kejanggalan itu. Sementara yang lain sibuk dengan makanan di atas piring masing-masing.
"Timur," sahut Danendra. "Agak ke-ke tim-timur, Bu."
Bu Ami kemudian bertanya ini itu tentang rumah seram itu pada Danendra. Ia mencari tahu kebenaran, apakah benar, bertahun-tahun lalu, ada orang sakti di tempat itu. Perempuan paruh baya itu tidak terlalu mengikuti pembicaraan penduduk. Waktunya banyak dihabiskan melayani keluarga Devayana dan membantu memasarkan bunga-bunga di gerainya. Begitu pula keluarga Devayana.
Mereka adalah keluarga pindahan dari Badung. Sewaktu masih di sana, Devayana memiliki usaha bunga potong yang sebagian besar bunga-bunga itu didistribusikan ke hotel-hotel sekitar. Namun seiring waktu, ia berkeinginan mengembangkan bisnisnya dengan menghasilkan bibit-bibit bunga. Untuk mendapatkan cuaca dan media tanam yang bagus, ia memboyong keluarganya pindah ke Bedugul. Bisnis itu melejit sebab ia memanfaatkan jejaring hotel dan seorang kenalan memakai bibit bunganya sebagai proyek pembangunan taman umum maupun pribadi.
Sejak kecil Alamanda jarang keluar rumah. Entah bagaimana keluarganya terpisah dan orang-orang memisahkan diri. Dulu ia memiliki sopir yang mengantar-jemputnya sekolah. Sopir itu bekerja pada keluarganya sejak mereka bermukim di Badung. Setelah Devayana meninggal, sopir itu makin sering sakit-sakitan dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Sampai hari ini Alamanda belum memiliki sopir baru. Ia selalu bersama Bobi dan terkadang jika pemuda itu tak bisa menemaninya pergi ke tempat yang akan Alamanda tuju, ia akan meminta Pak Gun, sopirnya, untuk mengantar-jemput Alamanda. Alamanda, lebih-lebih Bobi sangat pemilih dalam mempekerjakan seseorang yang akan berurusan dengan setir-menyetir mobil.
Danendra menyahut pertanyaan Bu Ami perihal keluarganya dengan kata sependek mungkin. Ya, tidak. Ya, tidak. Kepalanya lebih banyak menunduk, menyembunyikan gugup pada wajahnya. Setelah acara makan itu selesai. Danendra buru-buru mohon diri dan mengucapkan banyak terima kasih pada orang-orang itu. Alamanda pun ikut berdiri, ia akan mengantar lelaki itu sampai di depan pintu toko sekaligus membalik papan yang tergantung di pintu. Sehingga dari luar, tulisan itu akan terbaca 'Buka'.
"Main-mainlah kemarin lagi," kata Alamanda. "Kebetulan kami membutuhkan satu orang pekerja lagi. Sepertinya kau pekebun yang hebat. Wortel milikmu gemuk-gemuk dan rasanya manis."
Lagi-lagi ucapan Alamanda membuat keempat orang di ruangan itu, yang masih berkumpul di meja makan, saling melempar pandang tak percaya.
Danendra mengiyakan ucapan Alamanda. Katanya, ia akan membawakan gadis itu wortel lagi keesokan hari. Ia akan pilihkan Alamanda yang paling bagus di antara wortel yang bagus. Ia juga menawari Alamanda bunga kol. Gadis itu mengangguk sumringah.
"Akan diapakan stok sayuran yang masih penuh di dalam kulkas?" gumam Bu Ami yang disahuti Ratna:
"Bukankan Nona Almond sangat aneh hari ini?"
Bu Ami tidak menjawab. Ia tidak memiliki jawaban untuk membenarkan atau menyangkal praduga Ratna.
"Apakah dia bertengkar dengan Tuan Bobi?"
Bua Ami menggeleng mana tahu. Ia kemudian bangkit dari kursinya, menyuruh ketiga orang berusia tanggung itu untuk kembali pada pekerjaan masing-masing. Ia mengambil satu persatu piring, membuang sisa-sisa makanan ke dalam kantong plastik, dan terakhir ia mengelap meja sampai mengkilat lalu ia meninggalkan ruangan itu.