Dalam ketidakberdayaan, telinganya menangkap suara orang bercakap-cakap. Namun matanya enggan terbuka. Semakin ia berusaha membukanya, semakin mata itu rekat. Lalu kesadarannya menghilang lagi. Kembali sadar, Danendra berusaha keras membuat matanya terbuka. Upayanya berhasil. Ia menemukan dirinya berada di tempat maha luas. Putih. Sunyi. Seakan ia sedang terjebak di dalam gumpalan awan. Berada di sana membuatnya lupa akan rasa sakit dan takut. Tubuhnya melayang seperti layang-layang.
Ia melihat ibunya berdiri memunggunginya. Tubuhnya tambun. Rambutnya disanggul. Ada setangkai bunga ratna terselip di ujung sanggul itu. Danendra berjalan mendekat. Ia meraih pundak ibunya.
"Bu?"
Wanita paruh baya itu menoleh, memberinya senyum yang menyenangkan. Ia menyapa Danendra: "Nyaman di sini?"
Pemuda itu mengangguk ragu. Ia ingin bertanya apakah mereka berdua sudah mati atau sedang bermimpi. Sebab ingatan terakhirnya adalah saat ia berlari menabrak ngengat lalu tubuhnya meledak.Namun Danendra menahan pertanyaan itu. Kalau semua benar mimpi, maka ia tak ingin bangun. Hanya ada ia dan sang ibu di sana dan tak ada satu pun benda. Semua beban hidup yang sejauh ini menekan kepalanya menghilang.
Sang ibu tiba-tiba mengingatkan pemuda itu tentang masa kecilnya. Tentang banyaknya kenangan yang sudah mereka lalui bersama-sama.
"Kau tidak pernah menendang perut ibu selama sembilan bulan masa kehamilan."
"Oh, benarkah?"
"Ya. Ibu sangat cemas. Ibu pikir sesuatu yang buruk terjadi padamu. Tapi malam itu, kau lahir dengan selamat dan lengkap. Dan tangismu begitu keras hingga terdengar sampai ke dalam hutan. Tak lama kemudian Kakek dan Ayahmu datang."
Danendra tersenyum mendengarkan cerita sang ibu.
"Kau tahu betapa bahagianya kami malam itu? Saking besarnya perasaan itu, kami tidak memiliki suatu persamaan yang pantas untuk disandingkan. Kau lebih dari segalanya. Leong terus menungguimu siang malam, hingga mengabaikan ladang. Beruntung, Kakekmu mengambil alih semua tugas itu." Manik tertawa kecil. Matanya menerawang jauh, menembus gumpalan awan yang putih bersih.
Si pemuda kembali tersenyum. Ringan sekali ia melakukannya seakan ia memanglah terlahir pada keluarga yang normal pada umumnya. Tidak ada kutukan sihir. Tidak ada tangan dan mulut Leong yang kasar. Tidak ada tetangga yang menjauhi keluarganya. Semua itu, pengalaman hidupnya sejauh ini malah terasa bagai mimpi. Dan apa yang baru saja diceritakan sang ibu adalah kebenaran masa lalu.
"Terima kasih sudah hadir melengkapi kebahagiaan kami," kata Manik. Ia menggenggam jemari sang anak.
Danendra mengangguk. Ia mengeratkan genggaman itu. Hangat sekali. Danendra ingin berlama-lama dengan pose itu.
"Terima kasih juga sudah mencintaiku sangat banyak," kata si sulung.
Mereka lalu kembali bercakap-cakap banyak hal. Kadangkala disertai gelak tawa dan terikan kecil. Sesekali sang ibu menepuk bahu Danendra jika percakapan mereka menjurus pada hal jenaka.
Namun keadaan yang menyenangkan itu hanya berlangsung sebentar. Dari kejauhan ia melihat titik hitam yang makin lama makin besar. Benda hidup itu menuju tempat mereka.
"Ngengat itu," gumam Danendra.
Sang ibu memegang kedua pipi Danendra. Senyumnya masih utuh. Ia mengangguk padanya. Sebuah isyarat? Danendra tidak mengerti.
Ngengat itu makin dekat. Hewan itu begitu besar dan kepakan sayapnya membuat ibu dan anak itu melayang terpisah. Hewan itu menangkap ibunya. Lalu terbang menjauh dan kembali menjadi titik hitam kemudian lenyap sama sekali.
Danendra ingin berlari mengejar ngengat itu namun ia hanya membuat gerakan melayang berputar-putar di tempatnya.
***
"Belum sadar juga?"
"Sudah tiga hari."
"Lemah dia."
"Lalu kenapa kau memaksanya?"
"Kau lihat sendiri dia datang padaku, bukan?"
"Aku melahirkannya bukan untuk menjadi b***k sihir."
"Sihir itu memilihnya, dan dia menerimanya."
"Dia melakukan itu karena dia mengasihi kakeknya."
"Kau senang jika dia menjadi seperti ayahmu?"
"Kau bisa diam, bukan?"
"Perusak kehidupan orang lain."
"Sihir tidak sesederhana itu. Ini seperti jaring laba-laba. Ada banyak yang terlibat di sana."
"Pembunuh."
"Diam!"
"Pengecut."
Ayah Danendra yang semula berdiri menyandarkan punggung ke dinding, bergegas mendatangi istrinya yang sedang duduk di samping dipan--membelakanginya.
"Kau bilang apa?"
Ia mencengkeram leher istrinya. Wanita itu tidak melakukan perlawanan.
"Aku menikahimu juga berkat sihir ayahku. Asal kau tahu itu."
Air mata menggenang di pelupuk mata Manik. Bibirnya gemetar. Ia berkata: "Itulah kenapa aku tidak bisa mencintaimu sampai saat ini."
Cengkeraman di lehernya makin kuat. Lelaki itu mendelik padanya. Wanita paruh baya itu akan kehabisan napas dan telah memasrahkan nyawanya di tangan suaminya. Namun Danendra yang sudah tiga hari hilang kesadaran tiba-tiba mengerang, menggerakkan tangannya, dan mengerjap pelan. Lelaki itu melepaskan tangannya dari leher Manik. Ia menarik istrinya dari kursi agar ia bisa duduk di sana, melihat Danendra dengan jelas. Ia menyambut anak lelakinya itu dengan antusias.
"Nendra?" sapanya. "Kau baik-baik saja?"
Pemuda itu memperhatikan dua orang di sisi tempat tidurnya. Lalu perhatiannya beralih menjelajahi ruang. Ada lemari kayu tua dengan cermin besar buram yang menempel di pintunya. Keranjang berisi koleksi komik dan buku yang ia beli bekas. Jendela kecil yang dipasangi kawat rapat. Cahaya matahari menyusup ke lubang-lubang itu dan memberi penerangan yang muram di dalam ruangan. Meja kayu. Handuk merah yang tersampir di daun pintu. Ruangan ini persis kamarnya. Jika ia bermimpi lagi, berarti saat ini adalah yang ketiga kali.
Danendra memandang pada ibunya lagi. Ia lega wanita itu berdiri di belakang ayahnya. Ibunya tidak hilang. Ngengat itu tidak membawanya pergi. Danendra tersenyum. Dan gerakan bibirnya terasa sangat nyata. Begitu juga balasan senyum dari ibunya.
"Kau pingsan selama tiga hari," ucap sang ayah. "Apa yang kau lihat di dalam tidurmu? Kau pasti bermimpi, bukan? Kau melihat kekuatanmu? Sihir itu mendatangimu?"
"Hentikan bicaramu yang bukan-bukan itu" sahut Manik. "Kau membuatnya bingung. Biarkan dia beristirahat.":
Danendra mengamati ibunya Kelopak matanya cekung dan menghitam. Ia pasti memiliki kualitas tidur yang buruk sebab merawat dan menjaganya selama tiga hari.
Tiba-tiba secercah cahaya keemasan muncul di balik punggun sang ibu yang sedang berdiri. Cahaya itu begitu silau dan menyakiti matanya. Kemudian disusul dengan suara kepak sayap yang berat yang sekaan-akan sanggup mengacaukan sebuah pemukiman. Ngengat itu terbang ke arahnya. Danendra meremas sprei. Jantungnya berdegup tak beraturan dan membuat dadanya sesak dan sakit. Pemuda itu ingin berteriak namun suaranya tercekat. Ia menendang selimut katun abu-abu yang membungkus separuh badannya. Kedua orang tuanya tertular paniknya. Mereka menanyai pemuda itu apa yang sedang terjadi. Sang ayah berusaha menyentuh dan menenangkannya, namun tangannya ditepis kasar oleh Danendra.
Tiba-tiba gerakan pemuda itu terhenti saat si ngengat hinggap di bahu kirinya. Paniknya berangsur-angur mereda. Pemuda itu merasakan ngengat itu terikat dengan dirinya. Ia memejamkan mata begitu lama. Kedua orang tuanya berpikir ia jatuh pingsan lagi. Lalu matanya mengerjap. Mata itu berbinar-binar seperti cahaya api yang dikirim dari neraka. Danendra menyeringai pada ngengat yang menghinggapinya.
Semula hal itu membingungkan sang ayah. Namun sekarang lelaki tua itu mengerti. Sihir itu telah kembali. Danendra mendapatkan kekuatan yang berusaha ia hapuskan dulu. Lelaki itu tertawa terbahak-bahak. Ia merengkuh Danendra. Rengkuhan pertama sejak bertahun-tahum silam. Sihir itu menghangatkan kembali hubungan mereka.
Melihat pemandangan itu, Manik membuat gerakan mundur dan pergi dari kamar Danendra. Ia menyembunyikan air matanya.
Danendra, dalam dekapan sang ayah, melihat kepergian ibunya juga dengan setitik air mata.
***
Sekarang waktu Danendra banyak dihabiskan di bilik sihir bersama sang ayah untuk mempertajam kekuatannya. Jika kemarin Danendra membangkitkan sihir itu dengan perasaan kebencian yang menggebu-gebu pada orang lain, Maka malam ini ia akan mulai menyakiti orang-orang itu.
Danendra memulai ritualnya; menghisap leher ayam seperti orang lapar; membaca mantra kegelapan; memunculkan kesakitan.
Sesuai permintaan sang ayah, ia mengirim mantra itu untuk Yanti, pemilik toko kelontong yang pernah bermasalah dengan ayahnya.
Oh haldna i bolna voda. Oh haldna i bolna voda. Oh haldna i bolna voda.
Ngengat di bahunya terbang menari-nari di atas nampan persembahan, hinggap sebentar di bibir Danendra, menghisap sisa-sisa darah ayam hitam. Lalu ngengat itu terbang menjauh menuju rumah Yanti.
Danendra menoleh sang ayah yang duduk bersila di sudut bilik. Lelaki itu mengangguk sambil menyeringai.
Pagi hari, keluarga itu meladang sebagaimana biasa. Manik datang belakangan bersama Dayu, membawa bekal sarapan untuk kedua lelakinya. Setelah selesai menyiram bibit bunga kol, mereka mendatangi Manik di bale-bale. Wanita itu telah menyiapkan makanan untuk mereka; sepiring nasi yang ditimpa tahu balado dan tumis kacang panjang. Mereka makan dengan lahap. Begitu pula si bungsu, Dayu. Di sela-sela makan, Manik berkata: "Bu Yanti terpeleset di kamar mandi subuh tadi."
Sesaat suasana menjadi hening. Tidak ada kecipak suara mengunyah. Sang ayah, dengan roman menahan tawa, berkata: "Memang sudah seharusnya begitu. Kalau tidak, kau harus meragukan kemampuan anakmu."
"Kata orang-orang ia melihat ngengat hitam sebelum terpeleset," balas Manik. Ia memberikan tatapan yang menjengahkan pada Danendra. "Berhati-hatilah."
Mendapat tatapan seperti itu dari ibunya, makanan yang akan Danendra telan terasa berubah menjadi batu yang tersangkut di dalam kerongkongan. Pemuda itu meraih gelas air dan menenggak isinya tanpa tersisa.
Malam itu mereka kembali ke bilik sihir. Kekuatan Danendra mesti diasah supaya makin mumpuni. Sang ayah menuntun Danendra kepada siapa sihir-sihir itu mesti ditimpakan.
"Kau tahu Lesmana, mantan Kepala Desa kita?"
"Ya, tah-tahu," sahut Danendra.
"Kau memiliki ingatan yang buruk tentangnya bukan?"
Danendra menggeleng.
"Bagaimana bisa kau ini?"
Masih segar dalam ingatan ayah Danendra, Leong, semasa ayahnya masih hidup, kepala desa mendatangi rumahnya membawa dua saksi yang mengatakan bahwa ayahnya mencelakai istri kepala desa.
"Di mana kau melakukannya? Di mana tempatnya?" tanya salah seorang yang mengaku ada cahaya api yang muncul dari rumah itu. Api itu menuju rumah Kepala Desa. Dua hari kemudian, istri kepala desa menderita sakit perut.
"Kalian sangat sopan," kata Kakek Danendra. "Mari masuk dulu."
"Kau akan jamu kami dengan teh pencabut nyawa, ya?" kata orang kedua. Ucapannya disambut tawa oleh orang pertama dan Kepala Desa.
Ayah Danendra, Leong yang berdiri mensejajari ayahnya, menarik kerah kemeja orang itu. Dadanya naik turun. Ada amarah yang bergejolak di dalam dirinya.
Kakek Danendra, Artha, mengusap bahu sang anak. "Biarkan saja."
Dua lelaki itu kemudian menggeledah seluruh isi rumah untuk mencari barang bukti bahwa Artha telah melakukan praktik ilmu hitam selama ini. Leong mengikuti ke manapun mereka bergerak sembari berteriak-teriak mengingatkan agar dua lelaki itu tak merusak barang.
Danendra yang saat itu masih kecil baru saja pulang sekolah. Ia tak berani masuk dan berjongkok mengintip keributan di rumahnya dari pagar bambu rumahnya.
Sementara itu, Kepala Desa dan Artha terlibat percakapan serius. Mereka beradu pandang cukup lama.
"Kenapa kau melakukannya?" kata Kepala Desa.
Artha menyeringai. Ia memperhatikan penampilan seseorang yang pernah datang meminta tolong padanya itu, beberapa tahun lalu, saat pemilihan kepala desa. Ia bukan ditakdirkan sebagai pemenang. Ia merampas kemenangan milik orang lain dan ia mesti menukarnya dengan bayi hidup. Sekarang perutnya bertambah bulat dan kulitnya makin cemerlang.
"Bukankah aku sudah memberikan semua yang kau minta? Kenapa kau mencelakai istriku?"
"Kau tidak bisa membodohi iblis. Persembahanmu bulan lalu bukan bayi hidup, bukan?"
Roman muka Kepala Desa berubah pucat.
"Kalau aku tidak mencelakai keluargamu. Sihir itu akan berbalik padaku."
"Tapi…"
"Kau mau bilang kalau kau tidak bisa mendapatkan bayi hidup-hidup lagi? Istrimu baru saja melahirkan, bukan?"
Mata Kepala Desa membesar.
"Dan kenapa kau membawa orang-orang bodoh itu ke sini? Untuk menutupi keburukanmu?"
Artha memberinya senyum yang menghinakan sebelum pergi dari hadapannya.
"Aku akan membuatmu diusir warga."
"Lakukan saja," sahut Artha. "Jika kau keluar hidup-hidup dari sini."
" Dasar kaki tangan Iblis!" kata Kepala Desa.
Artha mengabaikan Kepala Desa dan mendatangi dua lelaki yang baru saja keluar dari bilik sihirnya.
"Sudah menemukan apa yang kalian cari?" katanya.
Dua orang lelaki itu menatapnya tak suka. Mereka tidak menemukan satu pun bukti yang bisa membuat keluarga Artha akan dihakimi massa. Kepala desa melambaikan tangan pada mereka. Sebuah isyarat untuk mundur.
Sebelum ketiga orang itu pergi, Artha berkata: "Jangan pernah lagi menginjak tanah ini."
Orang-orang itu tidak kembali lagi. Istri Kepala Desa meninggal dunia seminggu kemudian dan setelah itu Kepala Desa mengundurkan diri dari jabatannya.
Setelah kakek Danendra meninggal, mantan Kepala Desa itu kembali ke rumah Leong bersama dua lelaki yang sama. Mantan Kepala Desa berpikir sihir itu telah lenyap bersamaan dengan meninggalnya si pemilik, Artha. Mereka menggunakan kesempatan itu untuk membalaskan dendam. Ketiga orang itu mengacau di sana. Mereka juga menyebarkan berita ke semua kalangan bahwa keluarga Leong adalah pemuja iblis. Berita itu menyebar secara massif. Orang-orang menjauhi rumahnya. Jika berpapasan, mereka akan memberikan pandangan yang menghinakan. Leong tertekan namun tak bisa melakukan apa pun. Ia tak memiliki kekuatan dan ia tak bisa mengandalkan Danendra kecil yang penakut.
Saat itu beberapa warga mendesaknya meninggalkan desa itu. Kemudian suatu malam, ia mendatangi rumah mantan Kepala Desa, memintanya menghentikan orang-orang itu dengan ancaman akan membangkitkan sihir yang telah diwariskan Artha pada Danendra. Dan tanpa segan, Leong akan membunuh anak semata wayangnya, menyerahkannya pada iblis sebagai persembahan. Ancaman itu merupakan pukulan telak bagi sang mantan kepala desa.
Setelah hari itu, orang-orang berhenti mengusirnya dari desa hingga saat ini.
"Ha-harus ku-ku ap-apakan ma-man-tan ke-ke-pa-pa-la de-des-desa itu?"
"Sekarat," sahut sang ayah. "Bikin dia merasakan sekarat dalam waktu yang cukup lama."
Danendra mengangguk. Untuk dapat membuat mantan kepala desa terus-menerus merasakan sakit, sihir itu juga akan meminta lebih sebagai imbalan. Dengan apa ayahnya akan membayar? Seekor ayam hitam tidak akan cukup. Sihir itu akan meminta banyak. Sangat banyak.
Pemuda itu mulai memantrai persembahan di hadapannya, menyebut nama mantan Kepala Desa berulang kali. Kemudian ngengat di pundaknya terbang berputar-putar, mampir ke bibir atasnya, menyesap sisa darah di sana. Beberapa saat kemudian, ngengat itu terbang keluar menuju rumah mantan Kepala Desa.
Danendra kembali melihat senyum merekah milik ayahnya.
"Kau apakan mantan Kepala Desa kita?" kata Manik.
Ia mendatangi Danendra yang sedang meracik persembahan di biliknya. Pemuda itu akan mencelakai mantan Kepala Desa untuk kali kedua. Ia sedang menanti ayahnya membawakan seekor ayam hitam lagi.
Saat itu sore menjelang petang. Biasanya Danendra akan bermalas-malasan di kursi anyaman di bawah beringin, mendinginkan suhu tubuhnya sepulang meladang. Jika keringat di tubuhnya mengering, ia akan langsung menuju kamar mandi. Setelah berpakaian bersih, ia akan bergabung bersama Manik dan Dayu di ruang keluarga menonton televisi sambil makan malam. Lalu ia akan menenami sang ayah merokok sebentar, bercakap-cakap seperti orang asing. Lalu ia kembali ke kamar, menyesatkan diri ke dalam kehidupan tokoh-tokoh novel yang ia baca.
Semenjak sihir itu kembali padanya, semua rutinitas itu buyar. Waktunya sekarang banyak dihabiskan bersama Leong untuk mencelakai orang lain.
"Sudah Ibu bilang untuk berhati-hati," kata Manik lagi. "Kau tidak bisa mendengar suara Ibu sekarang? Suara iblis itu pasti sangat kuat, ya?"
"Bu,"
"Bagaimana bisa dalam dua hari berturut-turut ada dua orang yang terpeleset di kamar mandi dan keduanya sama-sama melihat ngengat hitam sebelum jatuh?"
"Bu,"
"Hentikan semua ini, Danendra. Kau akan menyakiti dirimu sendiri pada akhirnya."
Manik akan menggapai tangan Danendra, namun Leong datang dari belakang punggung Manik. Lelaki itu menepis tangannya.
"Kau yang sebaiknya berhenti mengoceh di sini," kata Leong. Ia mendorong manik dengan keras. Perempuan paruh baya itu jatuh terduduk. Danendra bergegas mendatangi ibunya, membantunya berdiri. Namun Manik mendiamkan uluran tangannya. Tertatih-tatih ia berdiri.
Sepasang ibu dan anak itu saling berpandangan. Sebelum pergi, Manik berkata: "Kau jarang makan masakanku akhir-akhir ini. Darah binatang sudah sangat mengenyangkanmu, ya."
Danendra membatu di atas kakinya. Bahkan setelah Manik sama sekali menghilang dari bilik itu. Leong memanggilnya dan mengatakan untuk mengabaikan ucapan Manik.
"Ayah, aku mau beristirahat dulu malam ini," kata Danendra tergagap-gagap.
Sang ayah melunak. Ia keluar dari bilik membiarkan Danendra sendiri. Pemuda itu merintih. Ia menangis tergugu. Ibunya seharusnya mengerti. Hanya dia yang seharusnya paling mengerti kenapa Danendra melakukan semua ini.