"Kalau Ibu memintamu berhenti," kata wanita paruh baya itu. "Akankah kau melakukannya?"
Danendra menoleh asal suara. Ibunya sedang berdiri di ambang pintu, memperhatikan kesibukan Danendra mengatur tatanan sajen di atas nampan.
"Sejak kapan ibu di sana?" Danendra bertanya pada ibunya, tergagap-gagap, tanpa memandang wajah itu.
Sang ibu mendekati Danendra, mencari ke dalam matanya. Jemarinya menggenggam jemari Danendra, membuat pemuda itu menghentikan kegiatannya.
"Tidak apa-apa tidak memiliki nama besar. Setidaknya kau bukan orang jahat," ucap Manik, ibu Danendra. "Kau ingat siapa yang mengatakannya?"
Danendra bungkam. Ia menepis jemari Bu Manik dan kembali merangkai bunga sajen.
"Nendra," tegur sang ibu. "Boleh Ibu tahu jawabanmu?"
"Kakek," sahut Danendra. "Ka-ka-kek meng-mengata-ta-kan-nya."
"Kau sudah dewasa sekarang. Kau pasti tahu kenapa Kakek mengatakannya dulu."
Pemuda itu kembali bungkam.
"Kakek menyesali masa hidupnya yang habis untuk menyakiti orang lain. Rasa bersalah menghantuinya, mengganggu tidurnya hampir setiap malam menjelang kematiannya."
Bu Manik menatap si sulung, mengejar sesuatu di dalam matanya, kendati mata itu terus saja menghindar. Danendra menggeser duduknya, menjauhi sang ibu. Namun Manik ikut pula menggeser duduknya, mendekati sang anak.
"Sihir itu tidak akan memberimu apa-apa," kata Manik.
Danendra menghentikan kembali kegiatannya. Jemarinya meremas tepi nampan.
"Sihir tidak akan membuat gadis itu jatuh cinta padamu. Dia sudah memiliki seseorang yang dia cintai. Sihir itu hanya mengecohnya, mengecohmu."
Pemuda itu menatap ibunya. Air mata mengambang di pelupuk matanya. Belasan tahun ia sekarat menanggung cinta itu sendirian. Sang ibu tahu mengapa ia menginginkan sihir miliknya bangkit. Tapi mengapa ia tak tahu--tak mau tahu--bahwa hanya sihir itu yang akan menolongnya?
"Sihir itu tidak menolongmu, Nendra," ucap sang ibu memahami amarah yang membuncah di dalam diri sang anak. "Ia akan mencuri banyak hal darimu."
Dengan tergagap-gagap pemuda itu menyahuti sang ibu: "Bu, yang paling aku inginkan sekarang ini bukanlah menjadi orang baik. Tapi berdekatan dengan gadis itu."
"Nendra."
"Ak-aku men-men-cin-ta-tainya," ucap Nendra. Ia menunjuk ulu hatinya. "Di-di si-si-nii sakit sek-sek-kali."
"Nendra."
Danendra bangkit, membawa serta nampannya menuju halaman belakang rumah.
"Nendra, hentikan ini. Ibu mohon," ujar perempuan paruh baya itu. Lirih dan sedih. Hal-hal yang ia jaga supaya tak menampakkan wujud aslinya, saat ini, dengan lantangnya memberontak, mencuat ke permukaan. Ia selalu memupuk keyakinan tentang banyaknya kebaikan si anak sedari kecil, kendati pada nyatanya Danendra kecil kerap membunuh serangga dan burung yang ia temui tanpa alasan yang kuat dan masuk akal.
"Siapa suruh dia muncul di depanku," kata Danendra kecil saat ia baru saja menginjak sesekor laba-laba yang bersarang di bawah meja televisi.
"Di sanalah laba-laba itu tingal, Nak," sahut sang ibu. Ia menyayangkan sikap barbar si anak. Dengan sabar Manik menasihati anak sulungnya itu. Dan setiap kali Danendra akan mengulangi perbuatannya menyerang hewan-hewan kecil yang tak sengaja terbang atau merayap di sekitarnya. Kebiasaan Danendra kecil berhenti saat ia masuk sekolah dasar. Dan tetap, Manik tiada henti mengingatkan Danendra agar mengasihi hewan-hewan kecil itu. Ia was-was, jika sekali saja berhenti berpesan, maka si sulung akan kembali pada kebiasaan lamanya.
Namun hari ini, sesuatu yang lebih besar itu bangkit. Yang ia takuti lebih daripada ketakutannya saat si anak memelintir kepala jangkrik atau capung. Sebab kali ini, ia akan menyakiti sesama manusia--yang bahkan tak pernah bersinggungan dengannya atau menyakitinya.
Ada bangunan dari anyaman bambu yang dicat dengan batu kapur di pekarangan belakang rumah keluarga Danendra. Kapur itu mengelupas dan rontok menjadi serpih pipih dan bertebaran di permukaan lantai semen. Bangunan itu dulunya tempat sang kakek melakukan ritual sihir. Namun semenjak kakeknya meninggal bangunan itu terbengkalai dan beralih menjadi gudang sembarang benda.
Danendra membuka grendel pintu, ruangan yang semula gelap, mendadak terang, memperlihatkan benda usang dan berdebu. Seekor tikus di para-para mendecit saat melihat Danendra lalu binatang itu melarikan diri. Pemuda itu tak segera masuk, matanya terkunci pada tumpukan kardus di sisi kanan ruang. Kardus-kardus itu menampung bukunya semasa sekolah dasar. Ada tumpukan ember plastik pecah yang warna aslinya memudar yang bersisian dengan kardus-kardus itu.
Pandangannya beralih ke sisi kiri ruangan: polybag; topi ladang; karung; keranjang anyaman bambu. Benda-benda itu ditumpuk serampangan di atas rangka dipan yang dulu menjadi tempat tidur sang kakek. Di ujung dipan itu, ada gorden lawas abu-abu. Danendra melangkah ke sana. Ia membuka gorden dan menemukan potongan-potongan ingatan tentang kakek dan ritual sihirnya di dalam bilik itu.
Semasa kecil, ia kerap melihat sang kakek bersama orang-orang asing memasuki tempat ia berdiri saat ini. Mereka tidak datang sekali. Pada kedatangan yang kedua atau ketiga, mereka akan membawa prasyarat yang diminta kakek. Beberapa dari mereka tersenyum ramah saat berpapasan dengan Danendra kecil. Orang-orang itu berbusana apik, berwajah rupawan, dan sangat harum. Bagi Danendra yang masih bocah saat itu, sulit sekali memahami penderitaan semacam apa yang membuat mereka mesti mendatangi kakeknya.
"Kenapa Ibu itu datang ke sini, Kek?" Danendra tak tahan menyimpan pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.
"Dia menginginkan cinta dari suaminya," sahut sang kakek tanpa menatap cucunya.
Kali lain, Danendra berpapasan dengan lelaki muda yang memanggul seekor kambing persembahan. Kambing itu mengembik, meronta dari sampul yang melilit dua pasang kakinya. Ada air mata menggenang di sudut mata hewan malang itu. Setelah kedua manusia itu selesai dengan ritualnya, Danendra menghampiri kakeknya menanyakan ke mana perginya kambing berbulu hitam yang ia lihat sebelumnya.
"Surga," jawab sang kakek.
"Surga?"
Kakeknya membersihkan bercak darah yang menempel pada kulit tangannya. Ia mengambil sabun batangan berwarna kuning dan menggosokkan busanya ke kedua tangan. Aroma lemon menyergap indra penciuman bocah itu.
Sang kakek memutar kran, gemericik air menyapu busa dari tangannya. Ia membolak-balik tangan itu, memastikan tak ada bercak darah yang tertinggal. Ia lalu mematikan kran sembari menoleh cucunya. Ia berkata:
"Surga orang lain kadang menjadi nerakamu. Dan neraka orang lain kadang menjadi surgamu. Kau harus tahu itu."
Sang kakek kemudian masuk ke rumah, meninggalkan Danendra kecil yang kesulitan mencerna ucapan sang Kakek.
Sekarang Danendra dewasa mengerti betul ucapan itu. Dan ia sadar betul bahwa surga Alamanda dan Bobi adalah nerakanya.
Dari luar terdengar suara ayam berkokok histeris. Pintu bilik itu dibuka dengan tergesa. Danendra melihat sosok di ambang pintu itu tersenyum lebar padanya.
Setelah Danendra mendatanginya di bawah pohon beringin sehari lalu dan mengatakan ingin membangkitkan kekuatan sihir miliknya. Lelaki itu melunak dan menjadi selembut kapas padanya. Ia memeriksa kantong plastik berisi bebungaan sajen yang Danendra bawa dan mengatakan seharusnya ada sebelas kuncup cempaka putih di dalam kantong plastik itu. Maka tidak ada latihan ritual pada hari itu. Dan keduanya membuat janji melakukannya keesokan hari.
Sekarang hari itu tiba. Danendra melengkapi apa saja yang ia butuhkan dalam ritualnya dan sang ayah berjanji datang membawa ayam hitam besar.
"Siapa orang yang paling kau benci?" kata sang ayah setelah mereka duduk berdampingan di hadapan sajen di bilik itu.
Danendra tetap tidak mengerti bagaimana menjawab pertanyaan yang ditujukan untuknya sejak sembilan belas tahun lalu itu. Haruskah ia mengatakan pada ayahnya bahwa ia melakukan semua ini untuk mendapatkan seorang gadis? Haruskah ia menjawab orang itu adalah Bobi?
"Siapa orang yang paling kau benci?" Ayahnya kembali bertanya. Sorot matanya yang semula bersahabat berubah dingin. "Jangan bilang kau tidak tahu lagi orang yang--"
"Bu-bu yan-yanti," sahut Danendra tergesa.
Dingin di mata sang ayah mencair. Lelaki yang rambutnya berangsur memutih keseluruhan itu memberinya senyum manis.
Senyum itu membuat perutnya mulas. Namun Danendra membuang napas lega. Tegang pada bahunya mengendur. Pukulan bertubi-tubi yang pernah menyerang kepalanya beberapa tahun silam tak terulang lagi hari ini.
"Bagus. Perempuan itu memang harus diberi pelajaran," kata sang ayah.
Yanti adalah janda pemilik toko kelontong berjarak
dua puluh meter dari rumah Danendra. Ia tidak memiliki anak dari dua perkawinan yang pernah dijalaninya. Bibirnya Lebar dan ada t**i lalat besar di atas bibir. Di teras samping toko miliknya, ada bale-bale yang kerap menjadi tempat nyaman bagi para ibu-ibu melempar gunjing. Dan keluarga Danendra selalu menjadi sasaran empuk mereka.
Orang-orang itu terutama Yanti menyebarkan kabar ke seluruh penjuru tentang kutukan sihir yang menimpa keluarga Danendra. Bahkan setelah kematian sang kakek, dan setelah bertahun-tahun sihir itu bersembunyi di dalam diri Danendra, cap terkutuk itu tetap melekat pada keluarganya serupa panu pada kulit punggung. Jika salah satu anggota keluarga Danendra kebetulan lewat di depan toko kelontongnya, Yanti akan terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya.
Pernah suatu hari, ketika Danendra berusia sepuluh, ayahnya berencana membakar rumah dan toko kelontong Yanti. Dua orang dewasa itu bertengkar karena Yanti menuduh Ayah Danendra mencuri sebungkus rokok di etalase. Namun Manik menahan keinginannya. Ia menghadang langkah sang suami, meskipun pada akhirnya Manik menjadi bulan-bulanan tangan kasarnya.
"Lakukan," ucap Ayah Danendra. "Bikinlah sial perempuan itu."
Danendra melihat bara api di mata ayahnya. Pemuda itu mengangguk. Ia memejamkan mata, merapal mantra. Ingatan masa lalu berkelebatan di dalam kepalanya. Ia melihat mayat terbujur; darah; wajah sang kakek yang menahan sakit sekarat; ngengat hitam yang mendengung di telinganya; air mata ibunya; senyum Ranti. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara beraroma rupa-rupa bunga persembahan dan kemenyan. Titik-titik keringat menghiasi dahinya. Ia membuang napas, ingatan-ingatan itu terhempas. Pun dirinya. Ia terdorong dan bergeser dari tempatnya bersila. Ia terengah-engah. Wajahnya memerah.
"Lakukan lagi!" kata sang ayah. Ia mendorong bahu Danendra. Pemuda itu buru-buru membenahi posisi duduknya.
"Pikirkan orang yang paling kau benci," ujar sang ayah lagi. "Pikirkan! Pikirkan! Pikirkan betapa kau ingin membunuhnya. Buang jauh belas kasihmu!"
Danendra kembali memejamkan mata. Ia merapal mantra. Khusyuk. Ia melihat senyum Alamanda. Ia mendengar tawanya. Ia menghidu aroma tubuhnya. Lalu ia melihat Bobi. Lelaki itu bersamanya, mencumbu Alamanda. Danendra mengerang. Panas di hatinya bergejolak. Bibirnya makin cepat merapalkan mantra.
"Patahkan lehernya! Patahkan sampai kepalanya terpisah dari badannya." Sang ayah berbisik di telinganya. Hangat napasnya menyapu leher Danendra.
Danendra membuka mata. Pemuda itu meraih ayam yang telah berhenti memberontak, seakan ia tahu apa pun yang akan ia lakukan saat ini sia-sia dan tak akan menolongnya merebut kehidupan.
"Minum darahnya!" Sang ayah kembali berbisik. Suaranya melenakan, menuntun Danendra menenggak darah yang mengalir dari leher ayam malang yang badannya masih menggelepar di tangannya.Ia menenggak darah itu serupa musafir dahaga. Kerongkongannya menjadi sangat sejuk.
Ia memejam dan hanya melihat dirinya berdiri di kehampaan. Seekor ngengat terbang ke arahnya, berputar-putar di atas kepalanya. Danendra menggapai-gapainya. Ngengat itu terbang menghindar. Danendra berlari mengejarnya. Gerakannya tak terkendali. Kakinya tak mau berhenti. Ia berlari semakin cepat. Ngengat itu berhenti. Danendra tersentak dan tak bisa menghindar dari tabrakan. Ia merasakan tubuhnya meledak.