Akan selalu ada gadis seperti Alamanda di dunia ini; yang tak pernah menangis kelaparan karena tak memiliki sesuatu untuk dimakan; yang air hujan di atap rumahnya tak akan merembes dinding dan menggenangi lantai; yang telapak kakinya tak pernah bersentuhan dengan kotoran ayam atau bahkan ia tak pernah tahu seperti apa bentuk dan aroma t**i ayam itu. Danendra yakin betul itu.
Dan akan selalu ada lelaki seperti Bobi di dunia para gadis seperti Alamanda. Seakan-akan memang mereka diciptakan di waktu bersamaan dan ditakdirkan berdampingan. Lagi-lagi Danendra membenarkan sangkaannya.
Dan akan selalu ada orang-orang yang berdiri di tepi--memandangi mereka dengan perasaan takjub dan iri; yang rambutnya kusam; yang kulitnya kering bersisik; yang tak akan tampak jika tak berteriak. Danendra merupakan satu di antara orang-orang ini. Kesalahan terbesarnya adalah keberaniannya mencintai Alamanda. Sejak awal dia tahu perasaan itu akan menjelma parasit yang menggerogoti kewarasannya. Namun bagaimanakah ia menghentikan parasit yang terlanjur gemuk di dalam tubuhnya itu?
Ya, itulah dirinya. Ia jijik dengan kenyataan gelap semacam itu. Lalu bagaimana ia bisa melarikan diri dari kemuraman itu? Ia, satu-satunya takdir baik yang ia miliki sepanjang dua puluh enam hidupnya adalah tidak ada. Ya. Tidak ada. Pemuda itu terkutuk, begitu pula keluarganya. Dan semua itu bersifat kekal. Ia sedih tapi ia bahkan tidak memiliki penawar untuk perasaan-perasaan muram semacam itu. Bahkan jika itu hanyalah senyum dari seorang gadis.
Danendra tahu diri. Ia tak cukup baik. Benar-benar tak baik.
Sore setelah urung menyerahkan hadiah permintaan maaf pada Alamanda, ia berangkat ke ladang dan tak dapat menyembunyikan gusarnya. Kepada tanaman di ladang ia membalaskan pedih di hatinya saat melihat pasangan itu duduk berdampingan di dalam mobil merah mengilap, berkendara ke arah timur. Mimik wajah yang mereka tampakkan, membuat orang lain berpikir bahwa keduanya tidak pernah disapa gelombang penderitaan.
Bibit bunga kubis miliknya telah mencapai umur dua pekan. Daun-daunnya berjumlah antara lima sampai tujuh helai. Tanaman di polibag mini itu siap dipindahkan ke lahan. Danendra baru saja selesai membuat lubang untuk menanam bibit-bibit itu. Ia mengusap titik-titik keringat yang keluar dari kulit dahinya. Lalu ia mendongak, memastikan sinar matahari sore berangsur-angsur menghangat supaya tanaman yang akan ia pindah tidak mengalami stres.
Ia mengeluarkan bibit-bibit itu serampangan dan tak sabar. Beberapa polybag yang semestinya bisa dipakai ulang malah sobek. Ia tampak seperti harimau yang sedang mencabik-cabik daging. Tetangganya berladang menasihatinya untuk lebih berhati-hati atau ia akan mematahkan semua tangkai daun. Tetapi Danendra tidak mendengarkannya. Bukan nasihat yang ia butuhkan saat ini. Ia butuh Alamanda bersamanya. Dan, ya, orang jatuh cinta tidak mendengar nasihat.
"Kalau ayahmu melihat kelakuanmu saat ini, dia pasti akan menelanmu bulat-bulat," ujar orang itu. Danendra menoleh orang itu. Tatapannya sanggup membuat orang itu bungkam dan menjauh.
Ia memiliki sihir dan ia mesti lebih berani mulai saat ini.
Dahulu, setelah upacara pewarisan sihir, ayahnya mengajarkan ritual-ritual yang dimaksudkan untuk mengganggu kehidupan manusia lain. Ritual itu adalah kerjasama antara roh pembawa energi buruk dan manusia tertentu, seperti dirinya. Roh-roh itu meminta tumbal, bermacam-macam, dari unggas hingga manusia. Tergantung pada tingkat kesulitan tugas yang dibebankan pada mereka. Bagaimanapun juga mereka sedang berurusan dengan langit; membolak-balik ketentuan yang sudah digariskan.
Saat itu sang ayah memberinya contoh cara mematahkan leher ayam hitam--yang diganti dengan ayam remaja biasa untuk menekan biaya--di hadapannya. Kemudian Danendra menangis dan menggigil ketakutan sepanjang malam. Ayam itu mendatanginya dalam mimpi, mematahkan lehernya sendiri, berkali-kali, di hadapannya.
"Aku tidak bisa melakukannya," kata Danendra saat sang ayah memintanya melakukan p********n sadis itu dengan kedua tangannya.
"Pikirkan orang-orang jahat yang menyakitimu selama ini," timpal sang ayah. "Anggap saja itu kepala mereka."
Danendra memejamkan mata, mengingat-ingat kembali orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya. Satu-satunya hal yang menyakitinya kala itu adalah kematian sang kakek.
"Aku tidak punya orang yang kubenci."
Sang ayah menatapnya takjub.
"Sungguh murni sekali hatimu. Tapi kau harus menyingkirkannya. Pikirkan siapa orang-orang menyebalkan. Tetangga. Teman. Kau pasti punya. Ingat-ingatlah kembali."
Siapa? Teman-teman yang juga menyukai Alamanda seperti dirinya? Guru yang memarahinya karena ia tidak mengerjakan PR? Teman sebangku yang mengatakan napasnya bau? Tidak. Dia tidak bisa melakukannya.
"Tidak ada," sahut Danendra. Ia tidak berani menatap mata ayahnya "Aku tidak bisa melakukannya."
Sang ayah melempar ayam yang kakinya masih terikat tali rafia ke wajah Danendra. Ayam itu berkeok-keok. Ada luka berdarah di ujung hidung Danendra yang tergores cakarnya.
Lalu lelaki yang otot-otot tangannya menonjol itu memukul kepala Danendra bertubi-tubi. Ia berteriak di telinga anaknya.
"Tidak ada orang yang tidak kau sukai? Hah!"
Pukulan itu melayang ke bahu Danendra.
"Apa kau ini buta? Tuli? Setiap hari anak-anak seusiamu berteriak di depan rumah kita, mengatakan rumah ini sarang iblis. Kau tidak membencinya? Tetanggamu di depan rumah menganggap kita tidak pernah ada. Apa kau tak tahu?"
Danendra membeku di tempatnya berdiri. Ia menerima pukulan sang ayah tanpa perlawanan. Ia menunduk. Air mata menggenang di pelupuknya. Kalau ayahnya tahu dia sekarang sedang menangis, pukulan itu akan bertambah keras.
"Kita melarat dan terkutuk kata mereka. Kau tidak membenci itu?"
Danendra mengangguk.
"Seseorang mengatakan padamu bahwa kau manusia terkutuk. Kau senang mendengarnya?"
Danendra menggeleng. Kalau sang ayah menanyakan sekali lagi, siapa orang yang mesti Danendra benci, bocah itu akan menjawab orang itu adalah ayahnya.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Patahkan leher ayam itu sekarang dan minum darahnya!"
Bocah kecil itu melakukannya.
Namun usai kejadian itu ia mengurung diri di dalam kamar dan berteriak setiap kali seseorang akan mendekatinya. Suatu malam sang ibu mendapatinya setengah sadar dan mengigau yang bukan-bukan. Suhu badannya tinggi seperti matahari siang tanpa penghalang. Setelah sembuh Danendra kehilangan kemampuannya berbicara dengan lancar.
"Bagaimana bisa sihir itu memilihnya?" Kata ayah Danendra pada istrinya.
"Jangan terlalu keras padanya," sahut wanita itu. "Dia masih kanak-kanak."
"Dia penakut. Lihat saja. Sifat itu akan melekat dalam dirinya sampai dewasa."
**
Danendra pulang petang itu membawa ingatan yang selama ini ia ingin enyahkan. Setelah kejadian itu, seakan ada dinding kokoh yang memisahkan ia dan sang ayah. Mereka bicara seperlunya. Bahkan saat sedang duduk berdua di bawah teduh beringin di pekarangan, mereka lebih banyak diam.
Sang ayah menyesalkan Danendra yang tak becus menggunakan sihir miliknya. Jika saja Danendra menekan rasa takutnya, menurut pada ayahnya, keluarga itu tak perlu bersusah payah menumbuhkan sayur di ladang untuk bertahan hidup. Semasa hidup kakek Danendra, pergi ke ladang hanyalah kedok agar tetangga tak mencurigai mereka. Sihir itu mendatangkan banyak uang. Orang-orang jauh datang pada kakeknya, meminta pertolongan dengan imbalan uang. Setelah sang kakek meninggal dan sihir itu jatuh ke tangan Danendra, keluarga mereka merasakan melarat yang sebenar-benar mlarat. Bocah itu pun tak bisa melanjutkan ke sekolah menengah pertama. Begitupun si adik yang tak berkesempatan mencicipi bangku sekolah dasar. Dan semua ini adalah ulah Danendra yang tak mau menurut, begitu keyakinan sang ayah.
Tiba-tiba saja, saat ini, ia ingin memperbaiki hubungannya dengan sang ayah. Merekatkan yang pernah retak. Mendekatkan yang pernah renggang.
Ia menemui ayahnya malam itu, berbekal ayam kampung dewasa dan sekantong bunga setaman. Langkahnya tergesa.
"Ma-mari me-melaku-ku-kannya la-lagi," kata Danendra pada sang ayah. Sang ibu yang sedang duduk di samping suaminya takjub sehingga kehilangan kata-kata. Sukar sekali mempercayai kalimat yang baru saja keluar dari mulut anaknya. Berbeda dengan reaksi sang ayah, lelaki itu tersenyum lebar lalu terbahak-bahak. Di sela-sela tawa, ia berkata: "Sudah lama sekali aku menunggu saat ini tiba."