Bobi adalah anak bungsu keluarga Mahendrata. Dia memiliki dua kakak laki-laki. Keduanya bermukim di luar negeri. Kakak pertama bekerja di industri perfilman Hollywood. Sedangkan kakak kedua memutuskan menjadi pelancong abadi yang mengembara di dataran Asia-Afrika sejak tujuh tahun lalu. Setelah mereka pergi dari rumah, Bobi menjadi satu-satunya harapan sang ayah untuk menggantikannya memimpin perusahaan; Siva Group--sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata dan didirikan oleh mendiang buyut Bobi dan menjadi perusahaan besar yang merambah ke bisnis properti dan aspal di masa kepemimpinan kakek Bobi dan berlanjut hingga saat ini.
Ia memulai karirnya di perusahaan keluarga sepulang dari kuliah S2 di Sydney, setelah orang tuanya tak berhasil membujuk anak nomor satu meninggalkan pekerjaannya di Amerika. Dan ia juga gagal merayu anak kedua meninggalkan Kamboja, melepas kegemaran mengembara dan kembali ke Indonesia. Sebuah tugas yang berat dan membutuhkan tanggung jawab besar bagi Bobi yang saat itu masih berusia 22 tahun. Ia juga ingin berpetualang sebagaimana yang dilakukan kedua kakaknya. Namun ia tak memiliki kesempatan dan hidup tak memberinya pilihan.
Bobi mengikuti rapat ayahnya, dari kota ke kota, dari pagi sampai pagi lagi. Tiga tahun kemudian, sang ayah melepasnya sendiri. Dua puluh empat jam miliknya habis untuk membuat analisa bisnis, membaca laporan keuangan, mengikuti pelatihan bisnis, dan merayu investor. Pada masa itu ia memiliki sedikit sekali waktu untuk Alamanda. Jadi ia berusaha memberikan lamaran yang sangat pantas dan akan melekat selamanya dalam ingatan si gadis ketika beberapa tahun kemudian ia mengosongkan sebuah restoran untuk melamarnya dengan sebuah buket juliet rose dan kembang api yang pecah di langit malam Samudera Hindia--mengingat ketabahan gadis itu menunggunya sekian waktu.
Apalagi setelah ayah Alamanda meninggal, keluarga dari pihak ayah mendesaknya segera menikah. Sebab mereka mengasihani statusnya sebagai sebatang kara yang tak pernah lagi bertegur sapa dengan sang ibu sejak perceraian itu membekukan kehangatan di dalam rumahnya. Alamanda mesti menebalkan telinga dan menahan bibirnya mengucapkan kata yang bukan-bukan yang akan memperkeruh keadaan. Jadi ia hanya mengangguk sembari tersenyum lalu menjawab: "Aku dan Bobi sedang merencanakan pernikahan."
Ia mengatakan kalimat itu pada mereka hampir setiap saat kunjungan mereka ke gerai Alamanda--berulang kali di menit yang sama. Namun Alamanda tidak pernah mendesak Bobi. Ia menunggu.
Hari ini adalah kunjungan pertama pasangan itu ke rumah orang tua Bobi sejak tiga bulan terakhir. Bobi pindah ke villa keluarga di Candi Kuning dua tahun lalu agar lebih dekat dengan Alamanda dan memudahkannya memantau proyek rumah makan di desa itu yang baru berjalan dua bulan.
Bu Laksmi menginginkan acara pertunangan resmi digelar di taman bunga komersial Siva Group yang rencananya baru akan beroperasi bulan depan, mendekati liburan akhir tahun agar tingkat kunjungan naik di atas rata-rata. Taman itu memiliki luas dua hektar dan baru digarap setengahnya dengan tema perkebunan bunga Mediterania.
"Siapa tahu investor akan banyak berdatangan setelah itu," ucap ayah Bobi, Ade Mahendrata. "Tanah yang terbengkalai bisa tergarap lebih cepat."
Bobi mengangguk. Ia memperhatikan Alamanda dan si Husky yang berlarian di taman belakang. Mereka baru saja makan siang bersama. Lalu gadis itu mengajak bermain si Husky yang terus saja merengek padanya, meninggalkan Bobi bersama sang ayah di balkon bagian belakang. Sementara Bu Laksmi bergabung bersama Alamanda dan si Husky di taman. Ia bersantai di atas kursi tidur di samping kolam renang. Wanita paruh baya itu melakukannya untuk memperoleh warna kulit yang lebih gelap. Ia sedang tergila-gila pada sengatan matahari siang.
"Semoga saja semua bunga sedang mekar saat itu," ucap Bobi.
Percakapan bapak-anak itu berlanjut membahas tentang siapa saja kolega yang akan diundang yang berpotensi sebagai investor. Terakhir sebelum pasangan itu kembali ke Bedugul, sang ayah berpesan pada Bobi untuk membujuk kedua kakaknya agar hadir di acara pertunangan itu.
"Melihatmu akan segera menikah, barangkali bisa mengetuk hati mereka mengikuti jejakmu."
Bobi tertawa.
"Orang-orang bergosip apakah mereka normal atau tidak. Kadang-kadang Papa tak tahu harus bicara apa saat beberapa kolega datang menawarkan anak gadis mereka untuk dijodohkan dengan kakak-kakakmu."
"Lalu apa yang Papa katakan?"
"Mereka tidak tertarik pada perempuan."
Bobi kembali tertawa, "Papa sendiri yang membuat mereka bergosip seperti itu."
"Supaya mereka malu lalu sadar. Tapi tidak ada gunanya. Justru Papa yang malu dan tak tahan mendengar gosip yang tidak-tidak tentang mereka. Jadi pertunanganmu nanti akan membuat wajah Papa kembali terangkat di hadapan kolega. Setidaknya kau normal. Sangat normal karena memilih wanita seperti Alamanda menjadi pendamping hidupmu."
Sepasang kekasih itu lalu pulang membawa selusin wejangan dari orang tua Bobi tentang pernikahan dan kanak-kanak. Dalam perjalanan mereka membicarakan kembali wejangan-wejangan itu.
"Kau tahu kenapa kakakku melarikan diri dari mereka?" ucap Bobi sembari menyetir. Ia menoleh Alamanda. "Karena mereka memperumit segalanya, mendengarkan gosip, dan menyembah kesempurnaan."
"Tidak sepenuhnya seperti itu,"
" Mereka, Almond," kata Bobi. "Masih sepenuhnya berkeyakinan bahwa pernikahan adalah sebuah tujuan akhir."
"Terdengar seperti kau sedang mengatakan kau terpaksa menikahiku karena desakan orang tuamu."
"Kau terlalu cepat menarik kesimpulan. Tidak semua manusia menjadikan pernikahan sebagai prioritas hidup."
"Terdengar seperti kau sedang mengelak."
"Atau jika pun menikah, mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak. Demi menjaga keseimbangan alam; memberi kesempatan pada makhluk lain untuk berkembang biak. Itu kata kakakku. Keduanya sependapat meskipun kedengaran agak konyol bagi sebagian besar orang."
"Terdengar seperti kau tidak ingin memiliki anak."
"Mereka lebih suka memelihara anjing daripada harus menikah dan memiliki anak."
Bobi tertawa. Alamanda tidak.
"Mata dan senyum bayi akan menguras segalanya, kata mereka."
Alamanda diam.
"Entahlah, Kakakku itu--"
"Jadi kau akan menikah denganku atau tidak?!"
Bobi tidak siap dengan rekasi Alamanda. Ia membanting stir, lalu menepi ke trotoar.
Alamanda keluar dari mobil, menutup pintunya serampangan. Ia berlari ke arah danau, mengabaikan mata wisatawan yang sesaat tertuju padanya. Gadis itu menopangkan kedua tangannya pada pagar pembatas. Matanya menatap jauh ke barisan pegunungan yang melatarbelakangi danau yang kehijau-hijauan, serasi dengan warna pegunungan yang diselimuti kabut tipis. Angin memainkan rambut panjangnya. Saat itu jarak mereka sudah cukup dekat dengan rumah Alamanda. Telinganya menangkap suara penjaja makanan yang menawarkan isi keranjangnya pada para pengunjung yang melintas di trotoar.
"Kita datang ke rumah orang tuaku hari ini bukan untuk bertengkar." Bobi mengikuti Alamanda. Ia berdiri mensejajari gadis itu. "Aku tidak berkeyakinan sama seperti kedua kakakku. Jadi kupikir marahmu itu tidak perlu. Kita akan menikah dan membesarkan bayi bersama-sama."
Alamanda masih diam.
Bobi melanjutkan kembali ucapannya, "Hanya saja, seandainya kedua orang tuaku lebih terbuka pada keyakinan mereka, mungkin kami bisa kembali akrab seperti saat masih kanak-kanak. Sekarang aku tampak sebagai si bungsu yang rakus dan akan mengambil alih seluruh aset. Sedikit banyak, hal itu membebaniku."
Mereka saling mendiamkan cukup lama. Danau yang luas dan barisan pegunungan yang kokoh mencuri ketertarikan pasangan kekasih itu. Barangkali amarah si gadis memudar oleh semilir angin yang bertemperatur sejuk. Lalu ia menoleh kekasihnya, mengulas senyuman canggung. Bobi membalas senyum itu dengan tulus, menampakkan gigi depannya yang rapi. Amarah si gadis luruh sepenuhnya. Bobi menularkan senyum itu pada Alamanda. Tangan Bobi menggapai jemari si gadis, menggenggamnya erat seakan jemari itu akan kabur sewaktu-waktu.
Pasangan itu kembali memandangi barisan pegunungan di depan mereka, menitipinya harapan yang sama Mahanya.