Gadis Bernilai Sepuluh dan Lelaki Bernilai Sebelas

1350 Words
Gerbang terbuka otomatis. Mobil yang ditumpangi Bobi dan Alamanda memasuki halaman rumah orang tua Bobi di perbatasan Badung dan Tabanan. Pohon bonsai berusia puluhan tahun mensejajari pokok plumeria. Tanaman yang sengaja dikerdilkan agar terbentuk batang pohon yang indah itu ditanam di dalam pot batu alam berukuran besar. Seorang pekebun berpengalaman didatangkan dari Tabanan kota khusus untuk merawat pohon-pohon bonsai itu. Ada delapan belas pokok plumeria di halaman depan rumah. Tingginya berkisar tiga meter. Dan dua pohon nusa indah tumbuh di pojok kanan pagar. Halaman itu dialasi rumput swiss dan gugur bunga plumeria dan nusa indah. Di kedua sisi jalan setapak berbatu menuju teras adalah kolam ikan koi milik ayah Bobi. Tidak seperti halaman rumah Alamanda yang menjadi rumah bunga dari segala jenis rupa, halaman rumah masa remaja Bobi itu tampak lapang dan wangi berasal dari satu-satunya kuntum plumeria. Ada dua pot alokasia melo dewasa di sisi kanan kiri pintu utama yang bersanding dengan patung kayu Budha dan Dewi Kwan Im. Tanaman itu Alamanda hadiahkan kepada ibu Bobi, Laksmi, saat ulang tahunnya yang ke 54. Ia memenangkan lelang saat festival tanaman hias tahunan digelar di Pontianak. Perempuan paruh baya yang telah melahirkan kekasihnya itu tergila-gila pada tanaman berdaun indah, unik, dan langka. Mereka pernah liburan bersama ke taman mawar David Austin di Eropa dan barisan mawar yang wangi dan rimbun dan tampak bagai surga bagi Alamanda itu tak terlalu memikatnya. Namun tidak dengan kunjungan mereka ke pameran alokasia ataupun philodendron. Ia akan histeris dan bermaksud memborong tanaman paling cantik di semua lapak jika saja Alamanda tak mengingatkannya untuk berbagi kesempatan dengan kolektor lain. Pasangan kekasih itu disambut hangat oleh seekor anjing husky abu-abu yang berputar di kaki mereka. Anjing itu merengek dan makin riang ketika Alamanda menggendongnya ke dalam pelukan. Ia berbasa-basi dengan anjing jantan itu selama beberapa saat lalu Bu Laksmi keluar dari dapur dan menyambut mereka dengan tart mungil. Ia berkata: "Selamat, ya. Akhirnya Bobi melamarmu, Sayang." Perempuan paruh baya itu mengecup kedua pipi Alamanda yang bersemu merah muda. Anjing Husky dalam dekapan Alamanda melorot turun dan berlari menaiki tangga. Ia mendatangi sosok ayah Bobi dan mengendus perut buncitnya. Lelaki tua itu melempar senyum pada mereka. Kali pertama Alamanda berkunjung ke rumah itu sebelas tahun lalu, bersama ayahnya. Bu Laksmi menjadi pelanggan tetap gerai bunganya setelah ia dan ayah Alamanda bertemu di pameran bonsai di Kyoto. Mereka menjadi akrab sebab mengetahui berasal dari pulau yang sama. Sang ayah memperlihatkan koleksi tanaman miliknya di gerai melalui gambar di ponsel. Saat itu Ayah Alamanda banyak membibit tanaman varigata dari beberapa spesies tanaman yang melambungkan namanya ke semua penjuru Bali. Kolektor berdatangan memesan tanaman dewasa padanya dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Suatu pencapaian yang belum bisa Alamanda raih hingga saat ini. Merawat tumbuhan varigata tak semudah merawat tanaman hias lain. Butuh kesabaran dan kehati-hatian sebab sifat bawaannya yang ringkih. Belasan tanaman varigata di gerai kemudian sekarat tak sampai sebulan setelah sang ayah dimakamkan. Sebelas tahun yang lalu, ketika Alamanda turun dari pikap di halaman rumah itu, sebuah bola kecil hijau muda menggelinding dan lajunya tertahan oleh kakinya. Saat itu si Husky yang masih mungil berlari ke arahnya untuk mengambil bola. Ia duduk menunggu Alamanda melempar bola padanya. Namun gadis itu malah memainkan bola dengan kakinya dan mempermainkan si anjing kecil. Seorang lelaki remaja memperhatikan kelakuan Alamanda dari balkon lantai dua rumah. Singlet basket membalut badannya. Ia melipat kedua tangan dan menyandarkannya di dinding balkon. Si anjing menyalak kecil lalu menoleh ke atas di tempat lelaki remaja itu berada. Alamanda mengikuti gerak kepala si anjing dan ia menemukan Bobi menatapnya. Ia pun salah tingkah dan refleks cengar-cengir. Alamanda mengembalikan bola itu pada si anjing lalu ia berlari mengikuti ayahnya mengusung pot ke halaman belakang di samping kolam renang. "Siapa gadis yang tadi itu, Ma?" Bobi mengekor ibunya yang sedang mengatur tata letak tanaman hiasnya di tengah-tengah ruangan. Ada air terjun buatan yang menyatu dengan dinding ruangan itu. Letaknya di bawah tangga dan tepinya dirambati Lee Kwan Yu yang ditanam di atas atap. Sinar matahari menembus atap kacanya dan memberi nutrisi pada semua tanaman di sana sepanjang hari dengan suhu yang bersahabat. Saat itu saklar air terjun dimatikan sebab ada tangkai Lee Kwan Yew yang menjalari kabel lampu. Suara Bobi menjadi seterang matahari siang. Tiga asisten yang membantu sang ibu mengotak-atik pot kaktus juga mendengarnya dan tampak menahan tawa. Gerak kaki Bobi yang tergesa menyenggol salah satu pot bonsai. Pot itu terguling. Sang Ibu mendelik lalu mengusirnya dari sana. Bobi berteriak dari atas sofa, masih dengan pertanyaan yang sama. "Anak Om Devayana," "Siapa itu? Teman bisnis Papa?" "Pemilik gerai bunga, Bob," sahut sang ibu sedikit kesal. "Apa kurang jelas? Dia kesini bersama ayahnya mengantar tanaman pesanan Mama." "Oh, ya." Bu Laksmi menoleh anaknya. Ia tersenyum jenaka lalu berkata: "Cantik, ya." "Seperti bunga." Gumam Bobi. "Apa? Kau bicara apa?" "Bukan apa-apa." Bobi beranjak dari ruangan itu. Ia kembali bermain dengan si Husky kecil. Sayup-sayup ia mendengar gemericik air yang menghujani tanaman ibunya. Salah satu asisten itu sedang menyiram tanaman. Segar. Sejuk. Bobi merasa seakan ialah tanaman itu saat senyum malu-malu Alamanda melintas lagi di dalam kepalanya. Haruskah ia bertanya juga siapa nama gadis itu pada ibunya? Bobi berbalik, diikuti si Husky kecil yang mengibas-ibaskan ekornya dengan cepat. Ia mendekati ibunya. "Ma?" "Ya?" "Itu--hm--itu, dia--" "Namanya Alamanda." Saat itu bulan Juli, di sekolah Bobi, SMA Parwati, anak-anak Osis disibukkan dengan agenda Mos tahunan. Begitupun Bobi yang menjabat sebagai wakil ketua osis. Pada hari kelima Mos berlangsung, kantor osis dihebohkan oleh kabar seorang anggota yang menyatakan perasaan pada siswi baru. Ia ditolak dan menjadi bahan tertawaan di dalam ruangan itu. "Sebelum menyatakan pun, aku yakin kau sudah ditolak," celetuk salah seorang dari mereka. "Sebenarnya kau tidak buruk-buruk amat. Tapi dia itu gadis bernilai sepuluh. Anggap saja kau ini bernilai delapan. Untuk mengencaninya kau harus menjadi lelaki bernilai sebelas." Bobi yang sedang mengambil minuman soda di lemari pendingin mendengarnya dan ikut tertawa bersama kawan lain. "Sialan. Alamanda sialan," umpat remaja lelaki yang sedang patah hati itu. Bobi tersedak. Ia bersin dan terbatuk-batuk. Hidung dan tenggorokannya pedih. "Siapa? Siapa nama siswi itu?" "Alamanda sialan!" "Kelas apa?!" "10 B kalau aku tak salah ingat," kawan lain turut menjawab." "Bukan. Sepuluh A," sahut si remaja patah hati. Lima hari yang lalu ibunya bilang nama gadis itu Alamanda. Dan sekarang ia mendengar nama itu disebutkan oleh kawan-kawannya. Mungkinkah mereka Alamanda yang sama? Bobi bergegas keluar dari ruang Osis, menyusuri lorong kelas, menuju ruang Sepuluh A. Melihat wakil ketua Osis mendatangi kelas mereka, beberapa murid baru menyambut Bobi dengan senyuman dan banyak murid perempuan berkasak-kusuk dan beberapa di antaranya histeris secara terang-terangan. Saat masa orientasi seperti sekarang, biasanya para anggota Osis itu akan sulit ditemui sebab murid baru memiliki tugas untuk mendapatkan tanda tangan mereka. Dan para anggota osis akan bersembunyi menghindari kejaran dari murid baru sekaligus mempersulit mereka. Namun Bobi mendatangi kelas itu secara sukarela. Segera bocah-bocah yang baru saja tamat sekolah menengah pertama itu mengerubungnya, menyodorinya lembar tanda tangan. Bobi memperhatikan kerumunan itu, terutama sekali anak-anak perempuan. Namun ia tak menemukan gadis itu di sana. Yang rambutnya coklat seperti warna mawar kering. Yang senyumnya mengganggu konsentrasi Bobi bermain basket beberapa hari belakangan. Ia menandatangani lembar-lembar kertas itu setengah hati dan berencana kabur. Ia menutup buku Mos salah satu siswi, dan terkejut saat membaca kolom nama. Alamanda? Tanpa sadar ia mengeja dengan lantang. "Bukan, Kak," sahut si pemilik buku. Nama saya Amanda. Bukan Alamanda." Benar. Di sana tertulis Amanda Putri. Bobi pasti sudah gila. Apakah ia salah dengar saat di kantor Osis tadi? Pasti bukan Alamanda. Bobi mengembalikan buku itu pada Alamanda. Ia kabur dari kerumunan itu, setengah berlari. Lalu ia menabrak seseorang. Keduanya terjerembab di atas lantai. Sekarang murid baru membentuk kerumunan untuk menertawakannya. Lututnya ngilu dan entah apa warna mukanya sekarang. Ia malu setengah mati. Ia bangkit dan mengulurkan tangan pada siswi yang baru saja ditabraknya itu. Gadis itu menunduk, menyapu debu yang menempel pada kedua sikunya dengan telapak tangan. Ada memar kemerahan yang berlapis debu di siku si gadis. "Maaf. Aku tidak sengaja," ucap Bobi. Gadis itu menatapnya--lebih tepat dikatakan-- mendelik. Bobi merasakan napasnya tertahan. Dialah gadis yang datang bersama sang ayah ke rumahnya beberapa waktu lalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD