Saat itu hari Sabtu. Dua hari berlalu sejak kali pertama kakinya memijak halaman toko bunga Alamanda. Sebuah keberanian yang mengagumkan dan berakhir memalukan. Ia menimbang-nimbang hadiah permintaan maaf macam apa yang mesti ia berikan pada gadis itu, mengingat kecerobohannya yang merugikan sang gadis kemarin. Perasaan bersalah mengendap di alam bawah sadarnya dan menjelma bunga tidurnya.
Ia berniat menghadiahi Alamanda wortel. Namun ia tak yakin memiliki keberanian untuk datang ke tempat itu lagi. Ditambah dosanya yang mematahkan tiga tangkai daun aglonema sang gadis. Sepertinya ia tak lagi memiliki muka untuk menyapa Alamanda. Tapi sampai kapan? Sekali ia masuk ke hunian Alamanda yang tampak seperti surga, ia ingin kembali. Kembali dan terus kembali. Ia hampir gila memikirkan cara-cara yang tepat dan tak tampak dibuat-buat.
Aroma bebungaan yang ia hirup setiap kali Alamanda lewat di sampingnya semasa sekolah, amat kuat ia rasakan di sana. Alami. Murni. Segar. Pada masa itu, ia sempat mencoba segala aroma pengharum pakaian dari banyak merk agar ia memiliki aroma tubuh yang persis dengan Alamanda. Namun upayanya tak membuahkan hasil. Ia tak bisa menemukan aroma itu di mana pun kecuali Alamanda. Lalu lambat laun ia menyadari bahwa aroma itu adalah satu-satunya. Hanya Alamanda.
Danendra menampakkan sikap ganjil hari itu. Ia menyita perhatian seisi rumah. Ia tidak pergi ke ladang. Ia beralasan punggungnya sakit. Namun ia malah mondar-mandir di ruang tamu yang sekaligus ruang makan dan ruang keluarga. Dua kali jempolnya terantuk kaki meja. Ia meringis sebentar lalu kembali pada ritualnya. Dayu tak berani menegurnya setelah kejadian di bawah pohon beringin. Ia hanya lewat di hadapan sang kakak lalu mengadu pada ibu.
Saat itu sang ibu sedang menumis bunga kol di dapur. Ia menunggu kedatangan suaminya dari ladang sembari menyiapkan makan malam. Setelah mendengar aduan Dayu ia pun turut mondar-mandir dari dapur ke ruangan itu, menyiapkan sajian lauk-pauk. Namun keberadaannya hanya sebagai angin bagi Danendra. Sang ibu memahami, sesuatu sedang bergejolak di dalam hati anaknya.
Usai makan malam bersama, ayah Danendra keluar menuju kursi bambu di bawah beringin untuk merokok. Biasanya ia akan menamani sang ayah; terlibat sebuah percakapan yang kaku. Atau hanya duduk larut dalam pikiran masing-masing sembari merokok. Namun malam itu ia beralasan mulas dan kurang enak badan. Tetapi, lagi-lagi, sang ibu menemukannya berkeliling mengitari ruang. Ia gemas lalu menabrakkan diri pada Danendra.
Danendra terhuyung dan tersuruk ke kursi. Kursi itu tak siap menerima serangan dari Danendra dan keduanya berakhir jumpalitan.
Lelaki itu jatuh untuk yang kedua kali.
Ia meringis, menahan ngilu sikunya yang terantuk lantai. Sang ibu ikut duduk di sampingnya. Ia menatap sang anak, mencari jauh ke dalam matanya.
"Siapa gadis itu?"
Danendra tertawa mendengar pertanyaan ibunya. Namun sang ibu tak membalas tawa itu. Air mukanya bersungguh-sungguh, membuat Danendra kikuk.
"Yang fotonya kau pajang di belakang pintu kamar itu?" Kali ini Danendra benar-benar skak mat. Bagaimana ibunya bisa tahu tentang foto itu? Padahal ia menutupi foto-foto itu dengan gambar pemandangan Gunung Rinjani yang ia gunting dari kalender bekas.
Danendra tidak berusaha menjawab atau mengelak dari pertanyaan sang ibu. Hal itu makin mengukuhkan dugaannya. Benar. Si anak sedang kasmaran.
Dulu, saat masih SD, Danendra pernah bertingkah sama persis sekarang. Namun hal itu tak berlangsung lama. Suatu siang, ia pulang sekolah dengan lutut memar. Sang ibu menanyakan keadaannya yang dijawab bocah itu dengan mengurung diri sepanjang hari di dalam kamar. Lalu setelah itu ia menjadi pemurung.
Hingga saat ini. Ia melihat anak lelakinya itu tampak bersinar dan merona. Sesuatu yang hangat sedang singgah di hatinya. Tapi tidak mungkin anak perempuan itu lagi. Yang ia temukan gambarnya di belakang pintu si anak ketika ia akan mengambil baju kotor Danendra di gantungan. Gambar itu mengintip di balik tumpukan gambar pemandangan gunung. Sang ibu membukanya pelan-pelan dan menemukan foto diri seorang gadis kecil yang kecantikannya amat menyilaukan. Auranya tak tertandingi dan hidupnya tampak berkelimpahan. Ia familiar dengan wajah itu namun kapan dan di mana mereka sempat berpapasan, ia tak ingat.
Akan mudah membedakan seseorang yang semasa hidupnya aman dan terjamin dengan seseorang yang semasa hidupnya penuh tempaan hanya dari sebuah gambar. Tiba-tiba saja ia merasa iba kepada buah hatinya saat itu. Dan benar saja, si anak benar-benar terluka.
"Kalau begitu gadis lain?"
Danendra menggeleng. Ya, gadis itu, Bu, batin pemuda itu.
"Tinggal di mana?"
Dekat. Sangat dekat, Bu.
"Nendra?" Sang ibu menuntut jawaban.
Danendra tampak ragu untuk menjawab. Setelah yakin, ia berkata: "Dia ti-ting-ggal ber-ber-sama ba-ba-nyak bu-bu-nga-bu-bu-nga, Bu."
"Banyak bunga? Dia bekerja di toko bunga?" Ia mengingat-ingat foto siluet gadis yang tampak sedang berada di taman bunga.
Danendra mengangguk. "Di-di-a ti-tinggal di de-dekat sini," katanya.
"Oh, ya?" Sang ibu terkejut mengetahui bahwa gadis yang membuat murung anaknya selama puluhan tahun ada di sekitar sana. Tetangganya.
Danendra mengangguk lagi. "Ge-ge-rai bun-bunga Dev-deva-ya-na."
Air muka sang ibu berubah. Teranglah segalanya. Gadis cantik itu adalah anak pemilik gerai bunga paling makmur di kota. Sekarang ia ingat, mereka kerap berpapasan saat si gadis berdiri di luar gerai bersama pemuda yang sama menawannya. Terkadang gadis itu melihat ke arahnya yang baru pulang atau akan berangkat ke ladang, mereka saling pandang, lalu gadis itu melemparinya senyum. Gadis yang ramah. Tapi ia bukan untuk Danendra.
"Sudah berapa lama dia kerja di gerai itu?" Ibunya berusaha menyangkal kebenaran dengan berpura-pura tidak tahu bahwa gadis itu adalah pemilik gerai.
"Da-da-ri ke-kecil," sahut Danendra. "Di-dia nyang pu-pun-punya ge-ge-rai."
Sang ibu ingin memberitahunya agar berhenti mengejar gadis itu. Sudah pasti ia tak akan terkejar. Namun ibunya tidak mengatakan sepatah pun kata. Danendra pasti akan semakin terluka. Ia yakin sang anak tahu bahwa gadis itu bukan untuknya.
Wanita paruh baya itu mengangguk, memberinya seulas senyum sembari menepuk pundaknya. Ia kemudian beranjak merapikan meja makan. Ia memanggil Dayu untuk membantunya mencuci perabot.
Danendra mengartikan sikap ibunya sebagai sebuah dukungan padanya. Ia kembali bersemangat menepikan segala bentuk kecemasan yang mengganggunya.
Pagi-pagi sekali Danendra meninggalkan rumah. Ia membawa serta setengah keranjang wortel bersamanya. Wortel yang akan ayahnya setor pada pelapak langganannya di pasar Kota. Kedua orang tuanya sempat mengira wortel-wortel itu dicuri. Namun sang ibu menepis sangkaan buruk itu dengan ingatannya ketika ia melihat si anak tersipu-sipu membantunya menurunkan keranjang wortel tiga hari lalu.
Gadis itu lagi.
Sebuah tepukan di pundaknya dari sang ibu kemarin membuat langkahnya mantap. Langkah itu semakin mantap ketika ia sampai di gerai bunga Devayana. Ia tersenyum. Keceriaannya bersaingan dengan sinar mentari.
Dua karyawan Alamanda sedang bersih-bersih di halaman gerai. Dan seorang lagi berada di dalam gerai, menyapukan cairan pembersih pada permukaan kaca. Danendra masuk begitu saja, menanyakan pada salah satu dari mereka, apakah toko sudah buka. Ratna mengingat pemuda itu dengan baik sebab kesan pertama yang amat buruk. Ia lalu meminta Danendra kembali pukul sepuluh. Semula Danendra bersikeras bahwa ia datang hanya untuk mencari sang pemilik gerai. Namun Ratna juga bersikeras bahwa gerai masih belum buka dan tak bisa menerima pengunjung. Hari itu Minggu. Alamanda berakhir pekan dan tidak akan ikut melayani pengunjung mana pun.
"Anda melihat kami sedang bersih-bersih, bukan?"
Lelaki itu mengangguk. Namun bukannya pergi, ia malah berdiri menunggu di luar pagar.
"Kau mengusirnya?" Sari menghampirinya. Mereka memandang penuh keheranan pada pemuda itu.
"Apakah dia akan berdiri di sana selama tiga jam? Sekarang masih jam tujuh." kata Sari.
"Entahlah."
"Kau ada-ada saja. Kalau ada pengunjung datang setelah ini bagaimana? Kau tak mungkin mengusirnya juga, bukan?"
"Kita lihat nanti sajalah," sahut Ratna. "Lagipula untuk apa dia kemari lagi? Seharusnya dia malu."
Empat puluh lima menit kemudian sebuah mobil sport biru menepi di dekat Danendra berdiri. Pintu mobil terbuka ke atas dan Bobi keluar dengan penampilan yang mencekik kepercayaan diri Danendra.
Bobi melihatnya sekilas dan melewatinya begitu saja. Ia berjalan masuk ke gerai dan para karyawan menyambutnya hangat.
"Di mana Almond?" Bobi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ratna memberitahunya bahwa gadis itu belum keluar rumah. Tidak bertanya lebih jauh lagi, Bobi bergegas menuju rumah sang kekasih.
Tiba-tiba saja muncul keinginan Danendra untuk membuang sekantong plastik wortel itu ke jalan. Biar saja roda mobil melindasnya. Biar roda bus memipihnya. Lalu temperatur aspal yang panas mengeringkannya. Dan angin menerbangkan serpihnya.