Cinta Yang Absurd

1203 Words
Pagi hari, Emilie sudah siap untuk pergi meninggalkan rumah. Sejak semalam dia tidak bisa tidur memikirkan pria asing yang mampu menggetarkan hatinya. Emilie tidak tahu pria itu siapa dan hari ini dia akan mencari tahu. Jeans panjang berwarna hitam, mantel tebal membalut tubuh, sepatu boot berwarna senada menemani langkahnya. Emilie berjalan menuju meja makan dengan bernyanyi riang. Seakan lupa kejadian semalam bersama Richard. Semua anggota keluarga menatap sinis dan dia tidak peduli pandangan itu. "Kau akan pergi kemana Emilie? Tidak biasanya berpakaian rapi sepagi ini?" tanya Charlotte, ibu Emilie. Dia berkata dengan tangan sibuk mengoles roti dengan selai kacang. "Ada urusan penting, Mom," balasnya dengan merogoh roti yang sudah dipanggang. "Apa sedikit saja kau tidak punya malu, Emilie?" sambung Jennifer dengan melirik sinis, kemudian menyuapkan roti yang sudah dibalut selai coklat ke dalam mulutnya. Richard masih diam mengamati. "Malu? Untuk apa aku malu?" jawab Emilie acuh. "Kau seperti w************n. Pulang malam," Jennifer berkata dengan tatapan meremehkan. Emilie menghembuskan napas kasar membuang emosinya. Bagaimanapun tidak akan ada yang membela dia jika dia marah karena ucapan Jennifer. "Harusnya kau seperti kakakmu terjun ke dunia bisnis. Jennifer cerdas dan berbakat sedang kau? Memalukan!" tambah Richard. Emilie menoleh ke arah ayahnya. "Mommy setuju. Kau terlalu banyak membuang waktu!" ucap Charlotte. Emilie menghembuskan napas kasar. Semua orang menyerangnya dan itu sangat tidak nyaman. Dia segera menghabiskan makanannya dengan cepat. Semua orang menggelengkan kepala dengan sikap urakan Emilie. "Jika kau masih bersikukuh dengan pendirianmu, maka jangan harap kami akan bersikap baik," ucap Jennifer. Emilie masih diam, dia memenuhi mulutnya dengan roti tawar agar lidahnya tidak gatal menimpali ucapan kakaknya. "Berhentilah mengurusi mereka yang tidak berguna!" sambung Richard. Emilie menelan semua rotinya susah payah dengan dorongan air. "Aku tetap akan menolong mereka. Tidak peduli kalian suka atau tidak! Karena hidupku bukan hanya tentang kepentingan pribadi!" Emilie berkata dengan menyunggingkan senyum. Kemudian ia beranjak dari duduknya dan berlalu. "Tunggu, Emilie!" Charlotte memanggil putri bungsunya. "Apakah kau tidak punya rasa malu atau sakit hati? Sedang kami perlakuan kau dengan tidak baik?" ucapnya dengan beranjak. Emilie menghentikan langkahnya tanpa berbalik. "Aku tidak peduli. Bukan urusanku kalian suka atau tidak denganku yang penting tidak mengurangi isi dompet dan Atm-ku, haha." Emilie menanggapi semua keadaan dengan sebuah candaan. "Kau tidak bisa pergi hari ini. Karena kau akan melanjutkan kuliah di sorbonne Paris," ucap Richard. Emilie berbalik dan kembali duduk di meja makan. "Aku tidak mau!" tolak Emilie. Dia kembali menoleh ke arah ibunya, meminta bantuan untuk membujuk, namun wanita itu menggelengkan kepala. Emilie kembali mengarahkan pandangannya pada Richard. "Dad, aku tidak bisa jauh dari Amsterdam," ucap Emilie. "kumohon jangan buang aku." Emilie memasang wajah melas. Menggoyang tangan kekar ayahnya. Richard diam tidak bergeming. "Mom." Emilie menoleh ke arah ibunya. "Kami sudah memutuskannya semalam dan kau harus berangkat hari ini," ucap Richard. "Tidak, aku tidak mau!" Emilie beranjak. "aku tidak bisa meninggalkan Amsterdam!" sambungnya. "Meninggalkan Amsterdam, apa anak jalanan itu, hah!" Richard menggebrak meja makan. Hingga sendok loncat dan mengapung di udara, semua tersentak kecuali Emilie. "Sabar, Dad. Sabar!" gadis itu menenangkan ayahnya. Richard melirik dengan tatapan tajam. "Kau yang membuat aku tidak sabar, Emilie!" bentaknya. "Iya sabar, Dad." Emilie terus menenangkan. Charlotte yang menyaksikan tingkah Emilie ingin sekali ia tertawa anaknya ini sangat unik. Bagaimana bisa ia bersikap tenang sedang ayahnya sudah terlihat murka. "Suka atau tidak suka. Kau tetap akan pergi!" Richard berkata dengan tatapan mengintimidasi dan tidak ingin dibantah. "Paman, bolehkah aku ikut kuliah di Sorbonne?" sela William yang baru datang, membuat semua orang menoleh. "Wah, kau memang dewa keberuntungan," pekik Emilie dengan mata yang berbinar. Ia melepas pegangan di tangan ayahnya dan berlari memeluk William. Jennifer terlihat tidak suka, ia menatap sinis ke arah Emilie. William melepas pelukan, berjalan dengan menggandeng tangan Emilie. Menggeser kursi dan meminta Emilie untuk kembali duduk, William mendaratkan tubuhnya tepat di samping Emilie. "William kau dan aku akan segera terjun ke dunia bisnis," ujar Jennifer. "Tentu, tapi nanti. Aku harus memperdalam ilmu bisnis dan Sorbonne adalah universitas yang kuimpikan," jawabnya. Richard tersenyum simpul. "Baiklah. Aku akan meminta Joe mengurus semuanya," tutur Richard. Sebenernya, Emilie tidak ingin kuliah di Paris, tapi menentang ayahnya akan sangat percuma. Setidaknya ia bersama William dan itu tidak akan terlalu membosankan. "Emilie setuju, tapi ijinkan Emilie pergi sebentar saja," kata Emilie meminta izin para Richard. "Tidak!" Semua orang menjawab kompak, kecuali William. Mendengar itu Emilie terkekeh. "Kalian seperti paduan suara!" serolornya. Jennifer merotasikan mata. "William pikirkan baik-baik. Bukankah kau akan belajar bisnis denganku. Jika dengan Emilie kau akan direpotkan," kata Jennifer. Ia kembali mempengaruhi William. "Justru aku tidak tenang meninggalkan Emilie sendiri di negara asing," jawabnya dengan tersenyum simpul. "Wah kau sahabat terbaik!" Emilie merangkul pundak William. Jennifer beranjak dari duduk dan berlalu pergi. Emilie selalu menunjukan keceriaan di depan semua orang, namun di dalam kamar ia kembali terdiam. Ia ingin kabur namun penjagaan sangat ketat, Richard seakan tahu apa yang akan dilakukan Emilie. Kabur. Richard tahu, Emilie bisa saja melarikan diri. Emilie diam termangu. Ia sadar, menemui pria asing itu seakan tidak mungkin saat ini. Jika hal itu terjadi, sudah dipastikan Richard akan mengirim Emilie ke Afrika jika ketahuan membuat masalah. Ia memutuskan untuk menyerah, ia duduk di tepi ranjang, mengamati beberapa maid yang sedang mengemasi pakaiannya dan mempersiapkan kepergian Emilie. Gadis berambut madu ini mengambil secarik kertas dan bolpoin. Ia menulis setiap kata yang indah tersusun dalam bait-bait penuh makna. Oik, aku Emilie. Aku tidak kenal engkau wahai pria asing. Namun, kau satu-satunya pria yang mampu menggetarkan hati. Entah ini perasaan yang semu, namun jika kita kembali dipertemukan aku akan tahu. Jika rasa ini masih tersisa, maka kau jodohku, haha. Emilie membuang surat itu yang ia rasa terlalu to the point dan memalukan. Kemudian, ia kembali menulis. Oik, aku Emilie. Aku berharap kau baik-baik saja. Dan, semoga kita bisa bertemu di lain waktu. Salam kenal, Emilie R. Van. H. Emilie tersenyum dan melipat surat itu, ia melambaikan tangan pada salah satu Maid. Maid berseragam menghampiri Emilie. Ia membungkuk hormat. "Berikan pada Antoni. Katakan padanya, sampaikan surat ini pada pria semalam yang kutemukan. Kau paham?" tanya Emilie. Maid itu mengangguk patuh. "Cepat! Kupenggal kepalamu jika surat ini tidak sampai!" ancamnya. Maid itu segera berlalu. Mendapatkan perintah, Antoni segera bergegas pergi ke tempat Zahid. Sedikit kesulitan karena jalanan masih sedikit licin, meski salju sudah dibersihkan. Antoni sampai di tempat Zahid, ia melihat pria ini menikmati sarapannya sendiri. Celia dan pengawal Emilie sudah pergi sebelum pria ini bangun. Antoni menghampiri Zahid. Tanpa banyak bicara ia memberikan surat pada Zahid dan berlalu. Zahid membuka surat itu, ia tersadar. Bayangan kejadian semalam masih ia ingat meski samar. Zahid mengejar pria yang mengantarkan surat untuknya. "Tuan, tunggu!" Zahid memanggil Antoni. Pria bertubuh tegap itu berhenti tanpa berbalik. Zahid meminta kertas dan bolpoin pada resepsionis. Ia membalas surat Emilie dan memberikan pada Antoni. Zahid mengucapkan terimakasih, tapi pria dingin itu hanya mengangguk dan berlalu. Zahid kembali mengejar langkah Antoni. Zahid menahan pintu mobil Antoni saat pria itu hendak masuk. "Tuan bolehkah saya tahu dimana Nona Emilie?" tanya Zahid. "Aku harap anda tidak mencari tahu jika ingin selamat," jawabanya dengan menepis tangan Zahid dari mobilnya dan menutup pintu mobil. Zahid berdiri tidak bergeming menatap kepergian Antoni. "Aku akan mencarimu, Nona. Aku tidak peduli jika aku harus menghalau badai, membelah lautan, mengitari dunia asal aku bisa menemukanmu, Nona Emilie."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD