Pertemuan Pertama

1236 Words
Emilie duduk mengamati wajah Zahid yang tampan dan berkulit kuning langsat. Wajahnya yang tadi pucat kini mulai terlihat sedikit bercahaya. Emilie memiringkan wajahnya ke satu sisi. Mengamati setiap inci wajah khas penduduk Asia. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, wajah tegas namun terlihat teduh. "Wajah yang unik," gumamnya. Tanpa bosan ia duduk di tepi ranjang di samping Zahid dengan terus menatap lekat. "Nona, ayo kita pulang." Antoni kembali membujuk Emilie. Gadis berambut madu ini menoleh ke arah jam dinding. Matanya terbelalak ia tidak menyangka bahwa waktu hampir menunjukan pukul dua dini hari. Ia beranjak dari duduknya. "Hampir satu jam anda mengamati pria ini, Nona," ucap Antoni. Emilie terkekeh kecil. Dengan berat hati ia meninggalkan Zahid bersama dengan dokter Celia dan satu pengawal yang menjaganya. "Antoni," panggil Emilie saat berada dalam lift. "Ya, Nona." Antoni membungkuk hormat. "Siapkan kupingmu untuk mendengarkan ceramah terpanjang yang mengalahkan sungai Nil," ucapnya dengan terkekeh. Antoni hanya menggelengkan kepala lemah. "Aku rasa tugas saya selesai saat anda sudah masuk ke dalam rumah. Mungkin anda sendiri yang akan mendengarkan," jawab Antoni. Emilie berdecak sebal. "Aku berharap, nasib baik berpihak pada anda, Nona." Hibur Antoni membesarkan hati Emilie. Gadis berambut panjang ini menoleh dan tersenyum kecut. Mobil terparkir di halaman depan rumah mewah. Emilie berjalan melewati air mancur dengan dihiasi patung anak kecil yang sedang kencing berdiri. Sungguh patung unik yang sangat Emilie suka. Emilie berjalan dengan tenang. Berbeda dengan Antoni yang sudah tegang. Emilie mendongak ke sebelah kiri, Ia melihat Wiliam menatap dengan wajah yang cemas di teras lantai dua rumahnya. "Oik ...oik … William." Emilie berteriak, melambaikan tangan dengan senyum yang mengembang. "Oik." William membalas lambaian tangan Emilie dengan suara pelan nyaris tidak terdengar. Emilie hendak kembali berteriak, namun William memberikan isyarat agar Emilie diam, ia menyimpan jarinya di bibirnya yang sensual. "Nona, pelankan suaramu, jika tidak ingin tuan Richard bangun," tegur Antoni yang berada dibelakang Emilie. Gadis itu mengangguk dan tersenyum simpul. William mengangkat tangannya di udara, memberi isyarat agar gadis berambut madu itu segera masuk. Emilie mengangguk dan berjalan mendekati daun pintu. "Aku pikir Daddy sudah tidur," ucapnya pada Antoni dengan nada berbisik. "Semoga harapan anda menjadi kenyataan, Nona," balasnya. Antoni membuka pintu yang menjulang tinggi. Emilie masuk, sedang William masih berdiri di teras lantai dua rumahnya, matanya terus mengamati sahabatnya, Emilie. Hingga tubuh gadis tinggi semampai itu hilang ditelan daun pintu yang kembali menutup. "Semoga tuan Richard sudah tidur," ucap Antoni saat menutup pintu rumah. "Semoga kau beruntung, Emilie," gumam William dengan berbalik dan masuk kedalam rumah. Emilie berjalan dengan mengendap-endap. Ia menenteng sepatunya agar tidak terdengar bunyi berdecit karena menggesek marmer. Merasa lega saat ia hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia harus hati-hati karena ruangan sangat gelap. Saat baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama, lampu ruangan tiba-tiba menyala. Jantung Emilie berdegup kencang, ia sudah bisa menebak siapa yang kurang kerjaan menunggunya pulang. "Emilie!" Terdengar suara bariton menggelegar memecah kesunyian malam. "Semoga ceramah kali ini tidak terlalu panjang," gumam Emilie didalam hati. Emilie membalikan setengah badan. "Daddy," ucapnya lirih dengan cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa kau tidak bisa membaca jam?" ucapnya dengan nada menyindir. "Sepertinya jam hanya bisa dilihat, Dad," balas Emilie dengan terkekeh dan membalikan badan. Richard berjalan mendekat. "Sepertinya Daddy kurang keras mendidikmu, Emilie. Aku sudah bilang berhenti membuang waktu mengurus orang-orang miskin! Kau harus lebih fokus pada bisnisku! Kau selalu saja melakukan hal-hal yang tidak berguna!" omel Richard ayah Emilie. "Lihat kakakmu Jennifer. Dia sudah terjun ke dunia bisnis. Sedang kau! Kau tidak berguna!" kesal Richard. Emilie sudah bosan mendengar dirinya selalu dibandingkan. "Aku rasa sudah banyak orang yang pintar, Dad. Tapi, jarang orang yang peduli pada sesama," jawab Emilie. Ia menyimpan sepatunya di anak tangga pertama. "Apa untungnya, hah? Apa bisa membuat kau kaya? Apa kau bisa makan dengan cara menolong orang? Mereka hidup tidak berguna sama seperti dirimu!" berangnya tanpa ampun. Emilie masih terlihat tenang menghadapi sikap ayahnya. Karena ia sudah terbiasa dengan sikap keras Richard. Melihat tidak ada perlawanan dari anaknya Richard merasa percuma ia marah dan pasti Emilie akan melakukan hal yang sama. Ia menghembuskan nafas kasar dan membuang emosinya bersama dengan karbondioksida yang keluar dari mulut. "Emilie aku merasa bisa terkena serangan jantung, jika kau terus seperti ini," ucapnya dengan menurunkan nada suara. "Ya, makanya Daddy tidak usah atur hidup Emilie," balasnya dengan santai. Richard kembali geram. "Kau ini harus seperti kakakmu. Jangan menjadi orang tidak berguna. Jangan terus bersikap semaumu, Emilie!" Richard kembali tersulut emosi. Emilie berjalan mendekati ayahnya. "Sabar, Dad, sabar," ucapnya dengan mengelus tangan kekar ayahnya. Richard menoleh ke arah Emilie dengan dipenuhi kekesalan. "Sabar kepalamu! Kau ini kenapa jadi anak pembangkang, Emilie! Aku tidak mengajarkan kau menjadi anak seperti ini!" Richard menepis tangan Emilie. "Daddy mengajarkanku menjadi wanita yang kejam, ambisi, fokus pada bisnis dan tidak peduli pada sesama, begitu? Emilie menjawab dengan mengangkat satu alisnya. "aku pikir, jika Emilie menuruti kemauan Daddy, aku pun tidak akan peduli padamu, Dad," jawab Emilie. "Itu pengecualian!" sergah Richard. "Tidak, Dad. Seorang yang gila bisnis akan lupa pada apapun. Termasuk keluarga dan juga orang tua," ucap Emilie. "Jangan mengada-ada kau, Emilie!" sembur Richard. "Itu kata nenek. Dia berkata Daddy tidak peduli pada mereka. Asal Daddy tahu, mereka menyesal mendidik Daddy begitu keras," ujar Emilie. "Sungguh naas," sambung Emilie dengan menggelengkan kepala. "Aku menyesal kau sering bermain dengan nenek dan Kakekmu!" Richard berkata dengan berlalu. Emilie tersenyum getir. Richard pergi meninggalkan Emilie. Gadis berambut madu itu sadar dia telah melanggar peraturan rumah. Setiap penghuni rumah dilarang untuk menyebut nama kedua orang tua Richard yang adalah kakek dan nenek Emilie. Entah masalah apa sehingga Richard begitu tidak suka. Namun Emilie tidak akan menyerah untuk mencari tahu dan menyatukan keluarga yang terpecah belah itu. Richard seakan tahu isi pikiran anaknya. "Jangan bertindak hal yang aku benci, Emilie. Jika tidak ingin aku mengirim-mu ke Afrika untuk ternak unta di sana!" ancam Richard. "Maaf, unta di Arab, Dad," koreksi Emilie. Richard membalikkan setengah badan, menatap tajam ke arah Emilie. Gadis berambut madu itu menggigit lidahnya. "Memang lidah tidak bertulang," umpatnya pada diri sendiri. William Philip pria tampan yang menjadi sahabat Emilie sejak kecil, sekaligus tetangganya. Pria kelahiran Amsterdam ini memiliki rahang tegas, pandangannya tajam, rambutnya pirang, berhidung mancung, berkulit putih dan memiliki bibir sensual yang membuat wanita tergoda. Dalam diam dia menyukai Emilie. Dan tidak ada yang tahu soal ini. Rasa cinta yang besar membuat ia rela melakukan apapun untuk Emilie. Ia juga menunda masuk sekolah agar bisa satu angkatan dan melindungi Emilie. William seumuran kakak Emilie yang bernama Jennifer. William tidak bisa memejamkan mata, dia sangat khawatir. Takut jika Emilie kembali di hukum di ruang bawah tanah bersama para tikus. William meringis, tidak sanggup membayangkan hal buruk terjadi pada Emilie. dia merogoh ponselnya yang berada di atas nakas, menghubungi Emilie dengan berjalan membuka pintu balkon dari sini dia bisa melihat Emilie jika sahabatnya membuka tirai kamar. Emilie mengangkat panggilan dari William, menyimpan ponselnya di telinga. dia berjalan dan membuka pintu balkon. Hati senang menyerang William saat melihat senyum ceria di wajah gadis pujaan. Dari jarak yang tidak cukup jauh mereka bertemu. Emilie hendak berteriak memanggil William." "Jangan berteriak, nanti Daddy-mu marah," ujar William di balik sambungan telepon. Emilie terkekeh dan mengangguk. Emilie mengatakan pada William agar pagi-pagi sudah bersiap. Dia mengatakan akan mengenalkan William pada orang yang sangat istimewa. William hanya mengangguk, dia sudah bisa menebak bahwa Emilie akan mengenalkan pada salah satu anak jalanan dan itu sudah biasa. Tanpa William ketahui Emilie berniat mengenalkan dia pada Zahid.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD