Pevita membuka matanya begitu mobil berhenti. Saat menoleh, dia sudah tiba di depan rumah. Pevita terlalu lelah usai bertemu Gara. Merasa hatinya terlalu ekstra berusaha kuat dan baik-baik saja, sementara pada kenyataannya ada rindu yang terselubung di balik raut datar yang dia tunjukkan. Pevita membuka sabuk pengaman, kemudian turun dari mobil yang kemudian disusul oleh Gilang. "Mbak Pe, Mbak yakin nggak apa-apa langsung aku tinggal?" tanya laki-laki yang lebih muda darinya itu, ketika Pevita menyuruhnya lekas pergi. Pevita mengangguk. "Iya, nggak apa-apa, Lang. Toh, ada Pak Wawan dan Kak Evelyn lagi di perjalanan pulang," balas Pevita. Gilang tampak merenung. Sangat tampak raut khawatir di wajahnya. Namun setelah beberapa lama, akhirnya dia hanya mengangguk mengiyakan perintah atasann

