AZKA ITU KAYAK BUNGLON

1018 Words
Sebenarnya lo itu Azka apa bunglon sih? Berubah mulu kayak cewek! Azka memberhentikan motornya pada pekarang rumahnya, jujur ini adalah pengalaman pertama Azka memboyong seorang perempuan untuk bermain ke rumahnya, apalagi perempuan itu adalah berstatus pacarnya. Entahlah, apa yang membuat Azka ingin membawa Rani ke rumahnya, yang jelas mata Rani terkesiap saat tau rumah siapa yang telah ia kunjungi itu, rumah keluarga 'Adiguna' yang terkenal akan kekayaan mereka sekaligus ketua yayasan Cyber School. Rani turun dari motor Azka yang besar, matanya menjelajahi jelas rumah yang sangat besar, serta hamparan halaman yang luas tersebut, Azka punya segalanya. Jadi, wajar jika Azka terlalu mudah mengklaim sesuatu yang jika ia ingin maka itu miliknya. Azka melepaskan helm-nya sehingga menampakkan rambutnya yang lebat. "Lo ngapain bawa gue kerumah lo? Mau kenalin gue ke orangtua lo? Astaga Azka ini kan cuma hukuman doang, jangan terlalu menjerumuskan gue dengan susuatu di luar batasan deh!" Rani menghentakkan kedua kakinya, ia menatap Azka yang malah menatapnya tenang. Azka menaikkan sebelah alisnya, tangan kanannya memasukkan kunci motornya ke dalam saku celana,"Heh, lo pikir lo siapa yang pantas gue kenalin sama kedua orangtua gue," omelnya pedas sampai membuat Rani menjadi sangat malu. "Terus lo ngapain bawa gue ke sini?" Rani kesal sendiri akan tingkah Azka, bukannya menjawab Azka malah menarik tangan Rani untuk masuk ke dalam rumahnya yang besar tersebut. Rani meronta tapi genggaman Azka malah semakin kuat, sampai ia merasa sedikit sakit, padahal baru saja tadi Azka menerbangkan kupu-kupu pada perasaannya. Dia bilang, jangan takut ada gue' sekarang, yang terjadi malah sosok Azka yang sudah berubah menjadi galak. "Kayak bunglon lo berubah-berubah!" Geram Rani, ia mencebik pada laki-laki yang sudah membuat perasaanya bercampur aduk sekarang. Kenapa takdir begitu manis sampai menghadirkan sosok Azka, lalu takdir juga menjadi pahit setelah Rani mengenalnya. Kini mereka sudah berada di ruang tamu,"Duduk!" Perintah Azka ia mengambil tas-nya dari pelukkan Rani lalu pergi ke kamarnya, tak lama kemudian muncul seorang wanita terbilang cukup muda membawa nampan berisi nasi serta s**u dan air putih. Lalu ia menunduk sopan pada Rani, dan meletakkan nampan itu di depan Rani,"Pacarnya ya Non?" Ia tersenyum menggoda pada Rani. Rani sedikit risih, tapi ia tersenyum ramah dan mengangguk kecil. Ia tidak tau Azka menganggap dirinya apa, mau bilang pacar tapi layaknya babu, mau bilang babu tapi Azka bilang pacar, yaudahlah Rani lelah. "Ini punya siapa bi?" Tanya Rani menatap nampan yang sudah di letakkan wanita itu di depan Rani. "Punya non, Den Azka yang nyuruh kasih ini ke non, katanya non belum makan takut kelaparan." Mendengarkan hal tersebut, entah kenapa membuat hati Rani menjadi hangat,"Duduk bi di sini!" Rani menepuk sofa di sebelahnya. "Nama bibi siapa?" Tanya Rani sesopan mungkin, wanita itupun beranjak lalu duduk di sebelah Rani. "Bi Serli," katanya dengan mendok jawanya yang masih jelas. Rani mengambil nasi yang tadi di bawa Serli lalu memakannya,"Memangnya sebelumnya Azka gak pernah bawa pacar bi?" Rani kepo sendiri di buatnya. Bi Serli tergelak,"Gak pernah bawa perempuan malah non, non beruntung jadi orang pertama yang udah den Azka bawa," jelas Serli. Rani meletakkan kembali piringnya lalu meminum s**u dan air putih,"Bibi udah makan? Oh iya Bi rumahnya sepi, emang kedua orangtua Azka ke mana?" "Kalau masih sore emang kadang suka sepi, tapi kalau hari minggu rame kok non, apalagi malam, kedua orangtua aden kan kerja non, maklumlah non orang sibuk," Serli menjelaskan kembali, Rani hanya mengangguk saja. "Kia mau sekolah di sekolah abang nanti!" Keduanya menengok pada seorang laki-laki yang sudah menggendong anak kecil berusia lima tahun itu, Azka yang sekarang hanya berbalutkan celana lepis pendek serta pakaian putih polosnya terlihat sangat tampan. Nama anak kecil yang Azka gendong dengan rambutnya yang ikal-ikal tersebut adalah Radinazkia Putri Adiguna, gadis kecil yang sangat cantik. "Bibi permisi ya non," pamit Serli. Rani mengangguk sopan,"Iya bi." "Nuhun Non," ia berjalan sopan seraya menundukkan kepalanya ketika lewat di depan Rani. Azka sekarang sudah berada di depan Rani, ia membawa gadis kecil tersebut untuk duduk di pangkuannya. "Abang Azka, ada bidadari," ia menunjuk Rani, mata Azka spontan saja melirik Rani yang sekarang malah tersipu. "Adek lo ya?" Rani gemas sendiri jadinya. "Iya, namanya Radinazkia Putri Adiguna, lo bisa panggil dia Kia, tujuan gue bawa lo ke sini, gue mau lo jadi guru les dia, karena kalau belajar sama gue dia suka ogah-ogahan," kata Azka pada Rani. Kia berlarian kecil dari pangkuan Azka untuk mendekati Rani,"Kakak bidadari calon istrinya abang Azka ya?" Mata Rani melotot,"Ha? Enggak kok kakak cuma temen," bantah Rani. Azka menghela napasnya,"Kia sayang, dia cuma temen kakak kok." Kia cemberut,"Kata abang Azka, dia cuma maunya bawa perempuan ke rumah, kalau dia yakin itu calon isterinya." "Istri Kia buka isteri, lagian kamu dari mana dapat kata-kata itu, masih kecil juga, belajar dulu yang bener," cerocos Azka pada Kia yang sudah memamerkan wajah kecewanya. "Abang bilang gitu kok pas di tanya papa, Kia denger!" Gadis itu membenarkan. Azka menyerah akhirnya,"Yaudah Seterah Kia aja deh," kata Azka dengan sengaja memakai logat Kia. Rani menahan senyumnya,"Terserah Azka, jangan galak ama anak kecil." Kia naik ke atas sofa dengan susah payah yang akhirnya di gendong oleh Rani, Rani mendudukkan gadis itu di pangkuannya lalu membelai manja rambut ikal milik Kia. "Kakak bidadari kata abang Azka kakak bidadari bakal ngajarin Kia, Kia mau kok kalau yang ngajarinnya kakak bidadari," Kia berujar manja. Rani yang memang sangat menyukai anak kecil, langsung saja memeluk Kia gemas, entah kenapa Azka sangat menyukai pemandangan ini. "Bentar lagi pulang ya, udah sore. Nanti, gue antar mulai malam besok lo gue jemput buat ngajarin Kia," Azka beranjak dari tempat duduknya. "Abang Azka mau ke mana?" Alhasil laki-laki itu menoleh lalu berjalan seraya berjongkok di hadapan Kia, yang saat itu posisinya Kia masih duduk di pangkuan Rani. Azka mencubit pipi kanan Kia gemas,"Abang mau ke kamar bentar ya." Kia menggelengkan kepalanya, tangan kecilnya menarik tangan kanan Azka secara paksa,"Enggak mau, Kia mau main sama kakak bidadari juga dengan abang," ia menatap Azka dengan wajah sedih, Azka menjadi sangat tidak tega melihatnya. "Emang Kia mau main apa sama kita?" Selidik Azka. Kia tersenyum jahil,"Main mama papa, Kia jadi anaknya! Kakak bidadari jadi mamanya, abang jadi papanya." Rani serta Azka saling lirik-lirikkan,"Yaudah," laki-laki tersebut hanya bisa pasrah saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD