AZKA ITU MISTERIUS

1055 Words
Cinta bisa datang dengan hal-hal kecil sekalipun, contohnya kita. Rani segera membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja, tangannya berhenti berakfitas di saat tangan seseorang menahan pergerakkannya. "Gue tunggu dua menit lo harus di parkiran," semua isi kelas terpelongo atas hadirnya azka, Rani menelan ludahnya susah payah. Rasanya ia ingin memukul Azka sekarang juga, kemudian dia pergi dengan satu tangan yang ia selipkan di saku celananya, meninggalkan Rani yang kini gelabakan karena ingin cepat, kalau tidak Azka pasti akan mengomelinya persis seperti orang PMS. Rani mengambil langkah panjang untuk menyusul Azka, Azka membalikkan badannya melihat Rani yang sudah berjalan di belakangnya, kedua tangan Rani terpaut di kedua tali ranselnya. Azka menyeringai, melihat hal tersebut membuat Azka berniat usil, Azka melemparkan tasnya pada Rani dan berhasil di tangkap Rani. Gadis itu memasang wajah merah padam,"Maksud lo apa sih!" Ia menatap Azka tajam, giginya bergemelutuk seperti hendak menelan Azka sekarang juga. Azka tidak peduli ia masih berjalan menelusuri koridor, dan Rani malah semakin di buat kesal. Melihat Azka yang tidak merespon, membuat emosi gadis itu semakin membuncah. Rani tidak tahan lagi, ia butuh kejelasan dari Azka. Ia akhirnya memutuskan untuk menghadang langkah Azka, sampai laki-laki itu menaikkan sebelah alis matanya pada Rani. "Minggir," katanya sarkatis. Rani tidak juga minggir, tatapan permusuhannya menatap iris Azka lekat. "Mau lo apasih? Lo datang ke kelas gue tiba-tiba, manggil gue terus gue cuma jawab hal yang menurut gue gak bener, dan lo berpikir gue ngebantah, terus lo jadiin gue pacar lo. Lo sebenarnya tau arti pacaran gak sih?" Azka tetap memasang wajahnya datar tidak peduli dengan reaksi gadis tersebut yang sudah mengomelinya. "Azka dengerin gue!" Rasanya Rani sudah seperti orang gila sekarang. Azka mendengus kesal,"Gue denger, lanjut gih mana kali bisa jadi pendongeng yang baik," balasnya santai. Jujur, Rani ingin mengulurkan tangannya pada wajah Azka agar bisa mencakar wajah sok tampak Azka sekarang juga, Rani menghentakkan kedua kakinya, tangannya menarik tangan Azka penuh emosi, satu tangan lagi menggenggam tas yang Azka lemparkan pada dirinya tadi. "AYOK PULANG!" Kata Rani penuh emosi, Azka hanya mengernyit bingung. Padahal, tadi Rani mengomeli bahkan memarahinya. Sekarang, malah Rani yang mengajaknya pulang. Mereka akhirnya sampai di parkiran sekolah yang cukup luas, semua pasang mata di sana menatap keduanya penuh selidik dan tanya, tapi Rani ataupun Azka tidak peduli. Azka merogoh sakunya, ia mengambil kunci motornya, lalu menaikki motor ninja merahnya tersebut dengan helm full-face miliknya, lalu Rani naik ke atas motor tanpa Azka pinta. Langsung saja Azka melajukan motornya meninggalkan pekarangan padipura, serta meninggalkan penunggu yayasan yang langsung bersorak riuh atas perginya mereka. Azka mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, sehingga membuat gadis yang berada di belakangnya itu langsung memeluk Azka erat seraya menyembunyikan wajahnya di balik punggung Azka, Azka adalah pembalap yang cukup handal. Sebenarnya, Azka juga sengaja melakukan hal tersebut agar Rani ketakutan, dan ia merasa puas. Sepertinya, menjahili Rani akan menjadi hobi baru untuk Azka. "WOII BEGO GUE BELUM NIKAH!" Pekik Rani, ia mengeratkan pelukkannya pada Azka. Azka hanya mengabaikannya saja, sampai mereka sampai di salah satu cafe  yang cukup terkenal dan lumayan mahal. "Turun, udah sampe! Ngapain masih meluk-meluk gitu." Rani membukakan matanya, tangannya langsung saja menengadah seraya menatap langit,"Alhamdulillah ya Allah, Rani gak jadi mati," lalu ia mengusap kedua telapak tangannya ke wajah. Sesudahnya, gadis itu langsung melompat dari motor milik Azka. Rani bahkan tidak pernah bermimpi akan menjadi orang terdekat atapun orang yang akan naik di atas motor berdua dengan Azka. Mereka sebelumnya bahkan tidak pernah saling mengenal, Rani yang bahkan tidak mau tau tentang Azka di saat sahabat sahabatnya menceritakaan tentang Azka. Tapi, takdir terlalu misterius. Sampai mereka di pertemukan dengan hal kecil sekalipun, dengan Azka yang tiba-tiba ke kelasnya tanpa sebab lalu mengklaim Rani begitu saja. Azka turun dari motornya, tangannya lalu menggengam tangan Rani erat, menuntun gadis itu untuk masuk ke dalam cafe. Jujur, jantung Rani sudah bergemuruh hebat kali ini. Kenapa Rani merasa gugup? Seharusnya ia bersikap biasa saja, Azka tidak mencintai Rani dan Rani juga tidak mencintainya, hubungan mereka hanya karena suatu permainan bagi Azka, Rani melakukannya agar beasiswa-nya tidak di cabut. Itu saja, tidak lebih. "Azka ngapain pegang tangan gue sih," pelotot Rani, Azka memutar bola matanya jengah. "Lo diem atau gue tendang ke luar cafe ini," ancam Azka sehingga membuat Rani memilih untuk mengatup mulutnya, hal itu hampir saja membuat Azka tertawa karena wajah lucu milik gadis tersebut. Pengunjung Cafe seperti menanti-nanti kehadiran Azka, Azka berjalan dengan santai menghampiri gerombolan anak laki-laki dan perempuan di sana. Rani tidak mengerti apa-apa, sepertinya cafe tersebut milik pribadi, lihat saja Azka bahkan sangat terlihat tidak asing di sana. "Woww Azka kau bawa siapa ini?" Kata seorang laki-laki berpakaian urak-urakkan, terdapat tindik di telinga juga mulutnya, ia juga memakai jaket kulit berwarna hitam. Jujur, Rani merasa takut dengan penampilanya, Aneh serta menyeramkan. Gadis itupun bersembunyi di belakang Azka, tangan Azka masih juga menggenggam tangannya erat. Terlihat seorang perempuan dengan pakaian kurang bahannya itu menatap Rani tajam,"Jadi ini penggantinya ya? Turun amat selera lo," Ia tertawa kecil di sahuti dengan tawa gadis lainnya. Beberapa laki-laki lainnya bersorak heboh, Rani benci pemandangan ini. Terlalu bebas dan mengerikan. "Sayang," panggil Azka pada Rani. Rani terbelalak begitu saja, Azka langsung merangkul Rani, kemudian mengacak rambut gadis itu lembut,"Dia Athaya Maharani Blythe, siswi baik-baik yang mengejar beasiswa agar tidak menyusahkan kedua orangtuanya, dia Rani gadis baik-baik yang tidak mau menyusahkan orang lain, dia Rani gadis periang yang tidak munafik, dia Rani gadis sederhana dan juga setia," Azka tersenyum kecil. Jantung Rani bereaksi lebih cepat daripada sebelumnya, Azka bahkan memujinya di depan orang banyak. Semua yang berada di sana bertepuk tangan meriah, dan gadis yang tadinya menatap Azka memasang wajahnya penuh amarah terutama pada Rani. "Azka apa-apan in! Lo ngelupain gue gitu aja, Azka gue bukan sampah, yang dulunya lo perjuangin terus lo buang gitu aja!" Ia tampak marah, Tangannya menepuk meja kuat, Rani merasa lebih takut sekarang. Azka masih bersikap santai tapi tatapannya penuh kecewa dam memyeramkan, Azka bisa saja murka kalau dia tidak memilirkan ia tengah membawa Rani, dan ia tidak ingin melinatkan gadis tersebut dengan masalahnya,"Lo selingkuh, jadi siapa yang terbuang sia-sia?" Azka menyeringai. Gadis itu langsung saja menggeram kesal, Azka membalikkan badannya merangkul Rani,"Jangan takut ada gue," bisik Azka yang dapat di dengar jelas oleh Rani. "Azka lo gak boleh pergi gitu aja! AZKA GUE NGOMONG SAMA LO! URUSAN KITA BELUM SELESAI!" Teriak gadis itu, Rani hanya diam penuh kebingungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD