Bab 11. Tentang buku tua dan Mandata si pengkhianat

1023 Words
Begitu Rainer dan Iloya sampai di istana, Yakuya adalah orang pertama yang menghembuskan napas lega. Dia begitu bersyukur saat melihat Iloya masih hidup dan Rainer yang sudah kembali menjadi dirinya sendiri. Ini adalah pelajaran yang sangat penting bagi dirinya, karena mulai sekarang semua akan berubah dari sebelum Rainer meminum darah Iloya. Ya. Yakuya memang sudah mencari tahu penyebab Rainer semalam hilang kendali dan seolah-olah menjadi orang lain saat menelusuri jejak dalam buku tua yang terlihat sedikit aneh. Saat mengetahui kebenarannya, Yakuya sangat marah pada Mandata si penajaga buku tua yang berkhianat dengan mengubah sebagian isi buku tua. Kini Mandata sudah meringkuk di sel penjara dan menunggu keputusan untuk hukuman. Iloya yang masih lemas karena belum ada asupan nutrisi dari semalam untuk mengganti darahnya yang dihisap Rainer hanya bisa menyandarkan kepalanya pada d**a Rainer. Saat ini dia sedang berada dalam gendongan Rainer, sedangkan Rainer sendiri malah terlihat sangat segar. "Lapar," Iloya terus menggumamkan kata itu sedari tadi, sampai Rainer sendiri bosan mendengarnya. Sebenarnya Iloya malu meminta makan, apalagi ditatap selekat itu oleh orang-orang berbaju mewah yang berjajajr seolah memberi jalan untuk Rainer lewati. Namun, peliharaan dalam perutnya terus meronta minta jatah makan. "Yakuya, tunggu saya di ruang kerja!" "Baik Yang Mulia Raja." Yakuya menjawab hormat. Tentu saja saat ini dia bertugas sebagai penasihat kerajaan, tutur bahasa dan gerak tingkahnya disesuaikan, apalagi saat ini banyak para petinggi kerajaan lainnya yang ikut serta menyambut kedatangan Raja mereka. Setelah mendudukan Iloya di atas ranjang, Rainer langsung pergi begitu kedua pelayan Iloya datang dengan berbagai macam makanan. Iloya sampai melongo sendiri, kapan Rainer menyuruh Mura dan Misako mengantarkan makanan untuk dirinya. Iloya makan seperti orang yang tidak makan selama seminggu, begitu rakus dan terburu-buru. Makanan yang dibawa Mura dan Misako itu hanya setengah jam langsung ludes, bahkan Iloya masih meminta manisan serta buah-buahan juga. Mura dan Misako sampai harus bolak-balik membawakan pesanan Ratu mereka. Namun, justru mereka senang karena baru merasa jasanya dibutuhkan oleh Ratu mereka. "Kenyang." Iloya menyenderkan punggung pada kepala ranjang sambil mengusap-usap perutnya. Rasa makanan kalau sedang lapar memang selalu bertambah nikmat berkali-kali, Iloya sampai membuat Mura dan Misako kecapean demi menuruti keinginannya. "Kami sangat senang Yang Mulia Ratu selamat, kami kira Yang Mulia Ratu sudah tiada di tangan Yang Mulua Raja karena kehabisan darah. Mohon ampuni kami yang tidak bisa menjaga Ratu dengan baik." Mura dan Misako berlutut hormat di bawah ranjang. Dengan cuek Iloya mengibaskan tangannya, "yang penting saya baik-baik saja, jadi kalian tidak sampai merasa bersalah seperti itu. Mending srkarang kalian keluar, saya butuh sendiri." Mura dan Misako mengangguk mengerti. Mungkin sang Ratu butuh istirahat serta menenangkan diri setelah shok mengetahui ternyata suaminya bisa menyakiti diri Ratu. Itulah pikiran Mura dan Misako, padahal Iloya sudah tidak sabar ingin meredam diri di pemandian hangat itu tanpa ada orang yang mengganggu. "Kalau begitu kami undur diri dulu Yang Mulia Ratu," Mura dan Misako berjalan keluar setelah mendapat anggukan dari Iloya. "Gila, lemas banget ini badan. Dasar si Allard kurang ajar, main hisap darah orang sampai hampir habis." Bibirnya terus mengeluarkan rutukan, sedangkan tangannya berpegangan erat pada pinggir ranjang, kemudian tembok yang menyambung ke arah pintu ruang pemandian. Dia berjalan sambil sempoyongan karena pusing dan lemas melandanya. Iloya baru dapat bernapas lega saat dirinya sudah merendam tubuh di air hangat pemandian. Iloya merasa seluruh tubuhnya yang lengket dan terasa remuk perlahan segar kembali. Iloya menyandarkan tubuhnya pada pinggiran bak, lalu mulai mengambil botol sabun yang beraroma lavender. "Sekarang tidak akan salah lagi dengan memakai sabun ini ke kepala." Berbeda dengan Iloya yang tengah memilah sabun, di ruang kerja terjadi pembahasan penting yang membuat Rainer memijit pelipisnya pusing. "Maksudmu mulai sekarang saat bulan purnama tiba, saya tidak bisa lagi mengendalikan diri sepenuhnya?" Rainer menatap Yakuya penuh tuntutan. Yakuya menunduk merasa bersalah, "maaf, karena kelalayan saya, kamu jadi seperti ini. Harusnya saya tidak begitu saja mempercayai si kakek tua itu, sekarang Mandata ada di sel menunggu hukuman yang akan kamu berikan." "Kurang ajar," desisnya marah. Mengingat sesuatu, Rainer mengernyitkan dahi bingung. "Tunggu, bukankah bila saya menggila saat bulan purnama, harusnya siapapun yang ada di depan saya itu menjadi lawan. Katamu saya sempat menjawab pertanyaanmu? Itu berarti seolah-olah ada jiwa lain dalam tubuh saya." "Benar." Yakuya juga sama bingungnya dengan Rainer. Sebelum bulan purnama kemarin dan tentu sebelum Rainer menghisap darah istimewa itu, saat bulan purnama tiba Rainer memang selalu menggila. Namun, tidak pernah dia mengingat siapapun dan selalu menyerang setiap ada yang mendekatinya, tapi kemarin jelas-jelas Rainer menjawab ucapannya. Bahkan yang lebih mengherankan dari Rainer yang seolah menjadi orang lain, Iloya dapat selamat dari keganasan Rainer selama bulan purnama datang. Ini sangat membingungkan, Yakuya juga sama memijit pelipisnya. Rainer menatap Yakuya serius, "di mana buku tua itu sekarang?" "Maaf buku itu hancur karena Mandata sudah memberi mantra penghancur, kini tidak ada lagi pegangan untuk kita mencari tahu cara menggunakan darah istimewa itu untuk memperkuat segel dalam tubuhmu." Yakuya sungguh sangat merasa bersalah. Dia menunduk tidak berani mengangkat wajah saat menyampaikan berita itu. "Angkat wajahmu!" Dengan patuh Yakuya mengangkat wajahnya dan menatap lurus Rainer. Rainer kembali berpikir, "menurutmu kenapa Mandata bisa sampai menghianati saya?" "Menurut saya dia adalah mata-mata musuh atau bisa juga karena dia menyimpan dendam pada kamu. Saya belum bisa memastikannya, karena bisa saja masih ada alasan yang lainnya juga. Namun, saat kita nanti mengintrogasinya, kita akan mendapatkan jawabannya dengan menggunakan keistimewaanmu yaitu telepati milikmu untuk membaca pikirannya." "Bagus. Pastikan dia tidak kabur, kalau tidak kamu akan tahu akibatnya." Rainer menyorot Yakuya dengan tatapan penuh ancaman. Ditatap seperti itu, Yakuya tidak dapat untuk tidak menelan ludah gugup. Mandata adalah seorang yang mempunyai pengetahuan tinggi, tentu dia hebat dalam hal mengelabui. Jadi dia harus benar-benar ekstra dalam menjaganya 24 jam. "Baik, Rainer." Setelah mereka sama-sama terdiam, Yakuya kembali membuka suara. "Kenapa Iloya dapat selamat dari malam kemari? Sebagai bangsa manusia yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa selain darah istimewa, harusnya Iloya tidak bisa membela diri. Darah istimewanya tidak dapat menjadi kekuatan untuk dirinya, lalu kenapa dia selamat?" "Saya harus menanyakannya langsung pada Iloya. Dia pasti mengetahui sesuatu." Sebelum sempat Yakuya membalas ucapan Rainer, Rainer sudah lebih dulu melesat meninggalkan ruangan kerja. Yakuya yang ditinggal hanya menatap kosong kertas yang bergetar akibat hembusan angin dari Saat Rainer pergi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD