"Alter ego?" Rainer menaikan sebelah alisnya.
Iloya mengangguk, lalu melanjutkan. "Ya, dia hadir saat kekuatanmu meningkat sekaligus tidak dapat mengendalikan emosi. Dia juga hadir bukan baru-baru ini, melainkan kemungkinan bersamaan saat kamu lahir."
"Dia yang mengatakan itu?"
Sekali lagi Iloya mengangguk, "ya."
Cukup lama Rainer terdiam dan itu membuat Iloya was-was. Walaupun Allard mengatakan Rainer pandai menjaga emosinya. Namun, tetap tidak bisa memastikan dia akan tetap baik-baik saja jika Rainer tidak bisa menerima kenyataan.
Iloya mengerti bila Rainer akan mengamuk atau paling sederhanya marah. Menurutnya itu hal wajar, coba saja, siapa yang ingin berbagi tubuh sendiri? Apalagi selama ini Rainer tidak menyadarinya.
"Sudah kuduga."
Ucapan Rainer barusan sukses membuat Iloya tercengang. Kenapa Rainer malah berucap santai dan tenang seolah sudah menduga akan hal ini? Apa dia yang terlalu parno?
"Kamu sudah mengetahuinya?" Iloya bertanya penasaran. Bahkan dia sudah merangkak mendekati Rainer. Tangannya bertengger di atas paha Rainer, sedangkan dagunya ada di atas tangannya sendiri. Iloya mendongak dengan pandangan mata membulat menunggu Rainer mengiyakan pertanyaannya.
Rainer menunduk memperhatikan wajah Iloya yang terlihat mirip kucing minta makan. Dia terkekeh, lalu mengelus puncak kepala Iloya pelan berulang-ulang.
Iloya mengerjap aneh dengan kelakuan Rainer, tapi tetap diam pada posisinya.
"Wajahmu mirip kucing minta diberi makan."
Rainer terkekeh begitu Iloya menarik wajahnya agar menjauh dari Rainer. Iloya mencebikan bibir. Memangnya bagsa serigala juga suka memelihara kucing? Dasar Raja kampret! Iloya membatin kesal. Namun, sekejap kemudian dia menyesali perbuatannya. Raja ini kan bisa membaca pikiran.
Perlahan Iloya mendongak menatap rainer. Namun, tidak lama kedua sudut bibirnya berkedut menahan lonjakan kesenangan begitu mendapati wajah Rainer yang terlihat masih sama seperti tadi. Itu artinya Rainer benar-benar tidak membaca pikirannya lagi. Iloya tertawa jahat dalam hati, akhirnya dia bisa bebas mengutuk dalam hati lagi.
"Wajahmu terlihat seperti sedang bahagia." Rainer berucap malas. Sedikit banyak dia dapat menebak kenapa Iloya begitu kesengan, apalagi kalau kutukan dalam hati yang dia tunjukan untuknya tidak ia baca lagi.
"Kamu memang Raja yang Amanah dan bijaksana. Beruntung sekali nanti yang akan menjadi Ratumu."
Rainer menggeleng prihatin dengan kebodohan dari otak Iloya. Rainer menjawab malas, "kamu Ratuku."
Iloya terbatuk sekali, dia melupakan akan fakta itu. Dasar otak kampret. "Saya kira kamu tidak mengakuinya." Iloya tertawa paksa.
"Saya akan pergi, pastikan kamu tetap berada dalam jangkauan kedua pelayanmu atau tepat bersama Yakuya. Saya tidak bisa memastikan keamananmu, kecuali ada Yakuya dan kedua pelayan itu berada di dekatmu saat saya pergi nanti."
"Kamu mau ke mana?"
"Ketempat yang kata kamu sangat menakutkan." Rainer berucap jenaka. Kilatan dalam pupil kuning keemasaannya menyorot Iloya geli.
"Ma-maksudmu wilayah bangsa vampir?" Iloya menebak ngeri. Membayangkan dia berada di tengah-tengah orang penyuka darah membuatnya bergidig takut. Jangankan bertemu vampir, mendengarnya saja Iloya sudah ketakutan setengah mati.
Rainer sedikit menarik sudut bibirnya. Tanapa kata dia bangkit dari duduknya. Lalu mulai melangkah menghampiri lemari yang bersebelahan dengan lemari milik Iloya.
Saat Rainer sudah siap dengan baju zirahnya, akhirnya Iloya mengerti kalau Rainer hendak menyamar menjadi prajurit bebas dan itu jelas tujuannya untuk mendekati putri Clarissa. Iloya tidak dapat untuk tidak menahan kedua sudut bibirnya untuk melengkung lebar, mengabaikan setitik perasaan tak rela dalam hatinya.
Iloya bangun dari duduk lesehannya menghampiri Rainer yang tengah menyarungkan pedang. "Kamu mau menemui Putri Clarissa, ya?"
Rainer melirik Iloya malas. Dia tidak mau memusingkan dari mana Iloya mengetahui tentang Putri Clarissa. Dari awal memang Rainer sudah dapat menebak kalau Iloya pasti mengetahui sesuatu, entah itu mengenai dirinya atau yang lainnya. Yang jelas sekarang Iloya memilih ada di dekatnya dan itu cukup baginya.
"Ya."
"Putri Clarissa menyukai bunga Mawar putih, jadi saat kamu mau menemuinya bawa saja itu! Pasti nanti kamu disambutnya dengan baik, lalu jangan lupa untuk menyiapkan kado berupa cincin " Dengan baik hatinya Iloya memberikan petuah pada suaminya sendiri untuk menemui wanita lain. Ya, walaupun Iloya tahu kalau putri Clarissa itu tidak sebaik yang orang kira, tapi bukankah Rainer ini juga sang tokoh antagonis? Jadi Iloya rasa menjodohkan mereka berdua tidak ada salahnya. Walaupun beresiko dia yang berstatus istri sah sekarang kemungkinan akan berganti menjadi selir. Iloya rasa itu bukan hal buruk selama dia tetap jauh dari bangsa vampir.
Saat menatap wajah Rainer yang memerah, Iloya tidak mengerti, kenapa bukannya senang mendapat bocoran informasi mengenai putri Clarissa, Rainer malah terlihat marah. Apa yang salah coba dari ucapanku? Iloya membatin heran.
"Hei, kenapa wajahmu terlihat marah?"
Rainer bergeming dan hanya menatap Iloya datar. Dia mendengus, lalu melangkah pergi meninggalkan Iloya seorang diri yang terheran-heran.
Iloya melihat Mura dan Misako datang setelah beberapa saat Rainer pergi.
"Ampun Yang Mulia Ratu. Raja memerintahkan kami berdua untuk mengajak Ratu mengelilingi istana agar Ratu mengenal tatanan tata letak kerajaan bangsa serigala. Bersediakah Ratu ikut dengan kami?" Mura menunduk hormat saat menyampaikan titah sang raja untuk ratunya.
"Hm, boleh."
Mura dan Misako segera menegakan kembali punggungnya, "mari, Yang Mulia Ratu."
Iloya berjalan duluan diikuti Mura dan Misako di belakangnya. Diam-diam Iloya menyembunyikan senyumannya tatkala dia berpikir dirinya ini seperti putri bangsawan saja.
Saat berjalan di halaman belakang istana, Iloya terpukou dengan berbagai buah tumbuh subur di sana. Ada apel, delima, dan banyak buah lainnya lagi. Bahkan bukan hanya buah yang tumbuh di pohon, yang merambat seperti anggur pun ada. Iloya berdecak kagum, gambaran uang dalam matanya begitu kentara.
Buah-buah di sini begitu baik. Buahnya besar dan bagus tampilannya. Kalau dijual, bisa masuk haraga tinggi di pasaran. Dan akan semakin tinggi lagi harganya bila gue jual dalam wadah khusus semisal dikemas. Bukan hanya orang biasa yang akan beli, tidak menutup kemungkinan bangsawan pun akan berlomba untuk membelinya. Dengan semangat Iloya memikirkan keuntungan apabila dia menjualnya.
Iloya berbalik menatap Mura dan Misako dengan glitter di matanya, membuat Mura dan Misako saling pandang. "Bukankah saya ini Ratu di kerajaan bangsa serigala?"
Mura dan Misako mengangguk serempak.
Iloya menyeringai senang, "berarti buah-buahan yang ada di sini juga termasuk punya saya?"
Sekali lagi Mura dan Misako mengangguk serempak.
Seringaian Iloya makin melebar, "baiklah, Mura, Misako, mari kita berbisnis!"
"Bisnis?" Mura dan Misako menatap Iloya dengan pandangan teraneh yang mereka punya. "Bisnis apa yang di maksud Yang Mulia Ratu?"
Dengan sorot mata misterius, Iloya menatap Mura dan Misako serius. "Kita akan menjadi penjual buah misterius di kota ini."
***