Terulang Lagi?

1877 Words
Arga dan Ziva diam tanpa bicara saat perjalanan pulang. Mereka larut dalam perasaan masing-masing saat ini. Sesekali keduanya saling menatap. Supir yang melihat keduanya bahkan tidak merasa heran, karena sudah biasa seperti itu. Keduanya tiba di kantor siang ini. Arga membereskan barangnya sampai ia pamit untuk pulang. Masih dalam pikiran bersalahnya. Pikiran Arga tertuju pada Arini. Setelah apa yang ia lakukan, apakah ia masih mampu menatap wajahnya? Bahkan Arga tak mampu mendengar suara wanita itu. Arga segera memasuki rumah dengan mata yang mengawasi setiap sudutnya. "Mas Arga...!!" Panggil Arini. Arini segera berhambur dan memeluknya. Sungguh, ia amat merindukan suaminya. "A-arini." Ucap Arga sedikit gagap. Arini meraih tangan Arga dan menyalaminya. "Kenapa gak bilang kalau udah datang, Mas? Kan aku bisa jemput." Ucap Arini. "Maaf ya? Disana jaringannya jelek, jadi sulit untuk mengabari kamu." Ucap Arga. Arga menatap senyum Arini. Sungguh, rasa bersalahnya semakin besar saat ini. "Iya, gak masalah Mas. Asalkan kamu pulang dengan selamat saja, itu sudah cukup kok." Ucap Arini. Arga duduk sejenak di atas sofa untuk menghilangkan penatnya. Arini segera menunduk dan melepaskan sepatunya seperti biasa. "Makan dulu, Mas. Arini sudah siapkan semuanya." Ucap Arini. Arga tersenyum. Bagaimana ia bisa melakukan kesalahan, sementara istrinya itu sungguh baik tanpa cela sedikitpun. Selagi Arga makan siang, Arini kemudian menyiapkan mandi dan pakaian untuknya. "Mama sudah membaik, Mas. Bahkan dia setiap pagi selalu berjemur dan jalan-jalan pagi. Papa juga selalu nasehati Mama. Kata Papa makannya Mama mesti di jaga." Ucap Arini bercerita. Arga tersenyum. Sungguh, Arini adalah seorang istri tanpa keburukan di hatinya. "Mereka memang seperti itu. Setelah ini aku mau lihat Mama." Ucap Arga. "Mandi dulu, Mas. Aku sudah siapkan semuanya." Ucap Arini. Arga lagi-lagi tersenyum. Hingga ia bertekad untuk terus menyembunyikan kesalahannya itu. Tanpa ia tahu, suatu saat kesalahan itu akan jadi bumerang bagi dirinya sendiri. Arga dan Arini tiba di kediaman rumah keluarga besar Dirgantara. "Assalamualaikum ." Ucap Arini dan Arga bersamaan. "Wa'alaikumsalam. " Jawab keduanya. " Mama apa kabar?"Tanya Arga sembari mencium tangannya. "Alhamdulillah, udah membaik nak." Ucap Mamanya. "Kamu baru datang kenapa langsung kesini?" Tanya Papanya. "Mas Arga mau lihat kondisi mama, Pa" Jawab Arini. Arini segera menyiapkan obat Mama mertuanya. Hal yang biasa ia lakukan setiap hari. Mesti harus mondar-mandir antara rumahnya dan rumah mertuanya. " Arini baik sekali, nak. Pesan Mama, jangan pernah kamu sakiti dia." Ucapnya. Arga terdiam sembari menatap kesibukan yang Arini lakukan saat ini. " Iya, ma. " Jawab Arga singkat. ****** Sejak kejadian itu, ada perasaan yang berbeda antara Arga dan Arini. Ada suatu jarak yang Arga rasakan. Dan hubungan itu tak lagi sama seperti awal. "Pak Arga, anda di minta ke ruangan Nona Ziva." Ucap Shela, salah satu karyawan. "Baik, saya kesana sekarang." Jawab Arga. Arga mengetuk pintu ruangan itu beberapa kali. Mata Ziva memandang ke arah pintu dan mempersilahkan Arga untuk masuk. "Silahkan duduk, Pak." Ucap Ziva. Arga menarik kursi yang ada di depannya dan segera duduk. Arga mencoba untuk menetralkan perasaan itu. Berharap jika ia bisa melupakan kejadian beberapa hari yang lalu karena kesalahannya. "Nanti malam, setiap perusahaan di minta menghadiri acara pameran. Kita berdua yang di minta untuk datang. Anda tahu perusahaan besar Airlangga Group, kan?" Tanya Ziva. Sesekali, wanita itu menatap Arga. Berharap lelaki itu mengatakan sesuatu. "Baiklah, saya siap untuk datang." Jawab Arga. Arga kemudian pamit dan keluar dari ruangan itu. Sungguh, Ziva kecewa saat ini. Hatinya bertanya-tanya, apakah benar hanya dia seorang yang tak bisa lepas dari rasa di malam itu. Sementara Arga hanya diam tanpa kata sejak saat itu. "Apa cuma aku yang gak bisa lupa semua itu, Mas? Atau memang aku yang bodoh dan masih mengharapkan kamu." Ucap Ziva lirih. Malam harinya, Arga siap datang ke acara itu. "Maaf ya, mungkin aku akan pulang sedikit malam. Acara ini sedikit mendadak." Ucap Arga. "Iya, Mas. Hati-hati ya." Ucap Arini mengantar Arga sampai ke depan pintu. Setelah kepergian Arga, Arini membersihkan semua rumah. Termasuk jas yang tempo hari Arga gunakan saat tugas ke luar kota. Arini mencium bau parfum wanita yang sangat asing. Dan ia tahu jika itu bukan parfum suaminya. "Kenapa bau parfum cewek ya?" Ujar Arini. Arini segera mengalihkan kecurigaannya. "Ah, siapa tahu Mas Arga kumpul sama karyawan cewek kan. Secara banyak orang disana." Ucap Arini memecahkan kecurigaannya sendiri. Arini kemudian mencucinya dan membersihkan beberapa pakaian yang kotor itu. Arga menerima sebuah pesan dari Ziva. Memberitahu lelaki itu kalau dirinya sudah sampai di tempat acara. Arga segera mempercepat kemudinya dan tak lama kemudian lelaki itu juga sudah sampai. "Pak Arga...!!" Panggilnya. Arga melangkah dan mendekat ke arah Ziva. Keduanya lalu masuk bersama saat itu juga. "Sayang sekali CEO di grup ini tidak hadir. Katanya masih menyelesaikan pekerjaan di luar negeri." Ucap salah seorang yang hadir. "Pak Arga, Nona Ziva. Kita ketemu lagi." Ucap Samuel. Perlu diketahui, Samuel adalah ipar sepupu dari CEO terkenal itu. Istrinya adalah keponakan pemilik perusahaan. "Selamat malam, Mr. Samuel." Sapa Arga. "Nikmati acara ini, ya? Sayang sekali Raffa tidak bisa hadir." Ucap Samuel. Mereka berdua kemudian berkeliling melihat bagaimana keindahan seni yang tercipta. Sekaligus peluncuran kosmetik terbaru perusahaan itu. Jika di tanya hubungannya dengan perusahaan mereka, Perusahaan keduanya menjali kerjasama yang cukup lama. Dan termasuk Investor saham terbesar. "Apa pak Arga tahu, CEO perusahaan ini sangat misterius. Jarang terlihat karena katanya di luar negeri. Dan bahkan dia sulit untuk di temui." Ujar Ziva membuka pembicaraan. "Yang saya dengar, dia cukup cerdas dan kompeten. Bahkan bisa memajukan perusahaan secepat itu." Ucap Arga. Keduanya saling tersenyum. Dan entah kenapa, perasaan Ziva menghangat karena itu. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. "Ya, ponselku mati." Gumam Ziva sembari menatap layar ponselnya. "Ziva berdiri di depan gedung dan berharap menunggu taksi lewat. Namun, cuaca sekali lagi tak mendukung dirinya. Hujan turun dengan amat cepat. "Anda belum pulang?" Tanya Arga. Entah kenapa, ia tak tega melihat wanita itu berdiri sendirian di depan gedung. "Saya sedang menunggu taksi. Sialnya ponsel saya mati." Ucap Ziva. "Kebiasaan. Makanya kalau pergi usahakan ponsel di isi penuh." Ucap Arga. Arga diam seketika setelah mengucapkan kata itu. Entah kenapa, kecerobohan Ziva masih sama seperti dulu. "Maaf." Jawab Ziva. "Mari, akan saya antar." Ucap Arga. Arga kemudian hendak mengantar Ziva pulang ke apartemennya. Keduanya saling diam tanpa bicara saat berada dalam satu mobil. Hening dan tak ada kata di antara mereka. Mobil yang keduanya naiki mogok di tengah jalan. "Ah, kenapa ini?" Ucap Arga. "Kenapa?" Tanya Ziva. "Entahlah, sepertinya ada masalah. Anda di dalam saja. Biar saya lihat." Ucap Arga. Arga kemudian turun dan melihat mesin mobil itu. Sepertinya mobilnya harus masuk bengkel. Ziva melihat Arga kebasahan karena air hujan. Wanita itu jadi tak tega dan saat itu juga ia melihat sebuah payung di kursi belakang. Ziva kemudian meraih payung itu dan segera keluar. Ziva memayungkan nya ke tubuh Arga. Arga berbalik dan menatapnya. "Bagaimana? Apa masalahnya?" Tanya Ziva. "Maaf. Sepertinya harus ke bengkel." Ucap Arga. Ziva tersenyum dan terus menatap Arga sampai ia tak sadar jika keduanya kebasahan akibat air hujan. "Lebih baik masuk ke dalam mobil." Ucap Arga. Keduanya kembali masuk ke dalam mobil. Keadaan jalan malam itu cukup sepi karena hujan yang turun dengan derasnya. "Maafkan saya. Kita jadi kemalaman." Ucap Arga. "Enggak. Seharusnya saya yang minta maaf. Gak seharusnya saya disini. Akhirnya jadi sial." Ucap Ziva. "Mana ada begitu." Ucap Arga. Ziva tersenyum sekilas. Sampai akhirnya kembali berkata. "Ini bukan sekali. Waktu dulu juga pernah, kan? Bedanya waktu itu kita naik motor. Malah mogok di jembatan Suramadu." Ucap Ziva. Arga tertawa kecil saat mengingat hal itu. Bagaimana saat itu mereka sedang jalan-jalan dan pergi ke jembatan. Saat di tengah jembatan, motor Arga mogok dan terpaksa mereka berdua mendorongnya. "Kalau ingat saat itu, lucu ya?" Ucap Ziva. Keduanya kembali bernostalgia mengingat bagaimana bicin nya mereka saat dulu. "Aku merindukan saat itu, Mas." Ucap Ziva dengan tiba-tiba dan berhasil membuat Arga terpaku. Tangan wanita itu menyentuh wajah Arga. Memberikan tatapan penuh cinta yang nyatanya mampu membius Arga. Laki-laki dan perempuan dalam satu mobil, tengah malam saat hujan deras dan di pinggir jalanan yang sepi. "Aku masih mencintaimu. Tolong jujur, kamu juga masih mencintaiku, kan?" Tanya Ziva dengan sorot mata yang sangat jelas. Arga diam seketika. Bahkan kini perasaannya sedang di uji. Beberapa pendapat dari hati kecilnya saling berdebat. "Kamu masih mencintainya sampai sekarang, Arga. Arini hanya pelampiasan saja. Kamu bahkan mengenalnya hanya tiga bulan. Berbeda dengan Ziva yang sudah menjalin hubungan empat tahun lamanya." Kata-kata itu seakan terdengar jelas di telinga, sampai membuat Arga meyakini hal itu. "Aku masih mencintaimu, bahkan setelah aku menikah." Ucap Arga. Arga juga mampu merasakan satu hasrat itu. Perasaan itu makin menguat dalam dirinya. Bahkan ia tak peduli lagi dengan istrinya. Lupa jika ada yang menunggunya di rumah. Keduanya saling menatap cukup lama sampai bibir keduanya menyatu. Saling merasakan dan melakukannya lagi. Arga lupa diri, kembali mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. **** Arini menatap jam dinding di kamarnya. Sesekali ia keluar dari dalm kamarnya. Memperhatikan pintu rumah. Berharap suaminya akan segera pulang karena jam menunjukkan pukul dua belas malam. Dan di luar hujan sangat deras. Arini duduk bersandar di sofa sembari menatap keluar jendela. "Mas Arga kemana ya?" Ucap Arini. Beberapa kali ia menekan nomer Arga pada telepon itu, sayangnya tidak ada jawaban sama sekali walau tersambung. "Enggak, bisa aja mas Arga terjebak hujan." Lagi-lagi Arini meyakinkan hatinya. Arini sampai tertidur dalam posisi duduk. Dia bangun setelah menyadari jika dirinya tertidur saat menunggu suaminya pulang. "Ya Allah, aku ketiduran." Ujarnya. Arini kembali menatap jam dinding yang kini menunjukkan pukul tiga pagi. Dan suaminya masih belum pulang sampai sekarang. Arini bangkit dari tidurnya dan segera mengambil wudhu. Dia yakin kalau Arga akan pulang sebentar lagi. Arini kemudian menggelar sajadahnya dan menunaikan shalat tahajjud sembari mendoakan orang-orang yang ia sayangi. Arga kembali setelah pertarungan panas antara dia dan Ziva. Sungguh, sekali lagi Arga melakukan kesalahan besar. Arga memasuki rumahnya dengan pelan-pelan berharap jika Arini tengah tertidur. Namun, saat ia membuka pintu kamar, justru yang ia lihat adalah Arini yang tengah berdoa dalam shalatnya. Arga terdiam dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Sungguh, ia telah Dzalim pada istrinya. "Lho, Mas Arga udah pulang?" Tanya Arini saat melihatnya tengah mematung di depan pintu. Arga tiba-tiba menjadi kikuk. Dia tak tahu harus berkata apa. "Kamu kok basah gini, Mas?" Tanya Arini lagi. "Ah, maaf ya. Tadi mobil aku sempat mogok. Dan aku terpaksa harus menunggu. Aku sempat mencoba mengecek sendiri dan hasilnya basah." Ucap Arga. Entah, keahlian berbohong itu muncul seketika itu juga. Arini tersenyum. Dia segera membuka mukenah yang di pakainya. Kemudian mendekat ke arah Arga dan menyentuh dadanya. Secara refleks, Arga memundurkan tubuhnya. "Mas, buka. Nanti masuk angin." Ucap Arini. Arga kembali terpaku menatap wajah Arini dari dekat. Tak ada cacat sedikitpun. Wajah istrinya sungguh menentramkan hati. Cantik, manis, sopan dan beradab. Hanya saja, selama tiga bulan dengannya, Arga merasa ada sesuatu yang kurang. Dan kini ia tahu, jika sesuatu yang kurang itu bisa ia dapatkan dari Ziva, mantan kekasihnya. "Biar aku siapkan air hangatnya, Mas. Setelah ini kamu bisa mandi dan jangan lupa shalat subuh di masjid. Kamu tahu, kan? Beberapa hari setelah pulang dari luar kota, kamu belum ke masjid. Ingat lho, sebaik-baiknya shalatnya lelaki itu di masjid. Dan sebaik-baiknya shalatnya perempuan itu di rumah." Ucap Arini. Arga tersenyum. Bisakah untuk kali ini dia egois? Memiliki istri yang shalehah di rumah dan juga memiliki kekasih yang mampu membuat Arga serasa melayang dibuatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD