Arga masih sibuk dengan beberapa laporan yang harus segera ia kerjakan. Setelah semua siap, ia segera mengetuk pintu ruangan Ziva dan hendak menyerahkan semua laporan itu.
"Taruh di meja saja." Ucap Ziva.
Wanita itu kini bangkit, menatap sekitar ruangannya dan merasa sudah aman untuk saat ini.
"Mas, bagaimana kelanjutan hubungan kita?" Tanya Ziva.
Arga berpikir sejenak. Dia sendiri juga bingung dengan keadaannya.
"Aku masih cinta sama kamu." Ucap Ziva.
"Aku juga. Tapi, bagaimanapun juga aku sudah menikah dengan wanita lain." Jawab Arga.
"Mas, lihat mataku. Lebih cinta mana kamu sama dia dibandingkan aku? Wanita yang kamu nikahi dan kamu kenal singkat itu, atau aku yang sudah empat tahun menjalin hubungan dengan kamu." Ucap Ziva.
"Va, aku juga bingung. Hubungan kita ini salah." Ucap Arga.
"Awalnya aku juga berpikir begitu, Mas."Ucap Ziva.
Keduanya saling menatap cukup dalam.
"Sampai setiap malam aku gak bisa tidur. Kejadian itu selalu membayangi pikiranku. Dan aku sadar, aku masih cinta sama kamu." Ucap Ziva.
Mendengar itu, apa yang Arga rasakan juga sama. Dia merasa jika perasaan dan gejolak itu selaalu timbul saat bersama dengan Ziva.
"Aku juga merasakan itu." Ucap Arga menjawabnya.
Ziva mendekat. Mengalungkan tangannya ke leher Arga. Hal itu juga mampu membuat Arga tersenyum suka. Sikap manja Ziva inilah yang Arga suka. Berbeda dengan Arini yang mandiri dan justru berbanding terbalik dengan sikap Ziva padanya.
"Malam ini kita dinner ya?" Ucap Ziva meminta.
"Hei, jangan begitu disini. Ingat, ini kantor." Ucap Arga.
"Jawab dulu, Mas. Baru aku lepas." Ucap Ziva.
"Baiklah, sekarang lepaskan." Ucap Arga.
Ziva tersenyum. Mengecup bibir Arga dengan singkat. Beberapa waktu kemudian, Arga kembali ke ruangannya.
Arga tiada hentinya tersenyum. Kenangan dan cinta di masa lalu itu kini telah kembali lagi.
Arga menatap jam di pergelangan tangannya, menunggu Ziva yang sudah janjian akan pergi bersamanya malam ini.
Baru di pikirkan, sosok wanita itu muncul dan segera masuk ke dalam mobilnya.
"Lama ya nunggunya?" Tanya Ziva.
"Enggak. Setelah ini kita kemana?" Tanya Arga.
"Cari tempat yang sekiranya aman aja, Mas." Ucap Ziva.
Arga ingat, ada satu tempat yang ia rasa aman dan tempat itu ada di pinggiran kota. Lelaki itu segera menuju ke tempat itu.
Di lain sisi, Arini mencoba menghubungi Arga namun ponselnya tidak aktif. Arga biasanya pulang pada jam ini, dan sekarang malah belum kunjung pulang.
Makan malam yang Arini sediakan sudah mulai dingin. Terbesit sedikit rasa kecewa, tapi rasa cas dan kekhawatirannya lebih dari sekedar itu. Lain kali, Arini akan meminta nomer telepon kantor. Setidaknya ia bisa menelepon kesana jika nomer Arga tak dapat di hubungi.
Arga masuk ke dalam rumah. Berharap jika Arini tidak menunggunya.
"Mas Arga." Ucap Arini.
"Assalamu'alaikum." Ucap Arga.
"Wa'alaikumsalam, Mas." Jawabnya sembari mencium tangannya.
"Aku sudah siapkan air hangat. Setelah mandi, kita makan malam bareng ya? Tapi, makanannya sudah dingin dan mau aku panaskan dulu." Ucap Arini.
"Ah, Sayang. Maafkan aku, ya? Aku tadi lembur. Ponselku mati. Satu lagi, aku sudah makan malam. Kamu tahu, kan? Kantor memberi jatah makan malam kalau lembur." Ucapnya berbohong.
"Iya, gak masalah Mas". Ucap Arini dan ia masih bisa tersenyum pada suaminya itu.
"Lain kali, kamu gak usah nungguin aku ya kalau aku lembur. Dan kamu bisa makan sendiri."Ucap Arga menjelaskan..
Arini hanya mengangguk dengan mantap.
"Oh iya, Mas. Minggu depan bisa kan ke acara pernikahan Aqilah, sahabatku." Ucap Arini.
"Baiklah, aku usahakan ya sayang." Ucap Arga.
Tak lupa, ia mengusap pucuk kepala istrinya itu.
Setelah itu, ia segera m**i dan membersihkan diri. Saat Arga sedang mandi, Arini kembali mengambil kemeja kotor milik suaminya dan hendak menaruhnya di dalam mesin cuci, esoknya ia bisa segera mencucinya.
Kedua kalinya Arini mencium bau parfum yang sama. Bahkan kali ini sedikit lebih kuat. Arini jadi penasaran, rekan kerja yang mana yang bisa cukup dekat sampai menimbulkan bau parfum di kemeja suaminya.
Sebelum tidur, Arga masih memainkan ponselnya. Di sebelahnya, ada Arini yang sudah terlelap. Bahkan ketika Arini berada di sampingnya, yang Arga pikirkan saat ini adalah Ziva seorang.
Arga kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia kemudian memandangi wajah Arini cukup lama.
"Maafkan aku, Sayang. Aku juga tak bisa menahan semua ini. Ini kesalahanku yang ternyata hanya menjadikanmu pelarianku semata." Batin Arga.
Arga kembali teringat saat-saat pertama kali ia dekat dengan Arini.
" Arga, sampai kapan kamu akan seperti ini? Ingatlah, jika wanita bukan hanya dia saja. Ada wanita baik di luaran sana dan mungkin saja dia adalah jodohmu." Mamanya lagi-lagi mengatakan hal itu.
"Mama, aku udah move on Ma. Hanya saja memang belum ada yang cocok saja." Ucap Arga menjawab.
"Kamu gak bisa bohongi Mama, nak. Aku ini Mama kamu dan aku bisa membaca perasaan kamu. Buka hati untuk wanita lain. Mama yakin, Allah akan memberikan wanita terbaik untuk kamu."
Ucapan Mamanya hanya di tanggapi dengan senyuman dan anggukan semata. Arga akui, Ziva sangatlah sulit di lupakan karena dia adalah cinta pertama sejak SMA.
Seminggu setelah ucapan itu, Arga tanpa sengaja kembali bertemu dengan Arini. Perempuan yang sempat ia kagumi saat kuliah.
"Kenapa? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Arga menawarkan diri.
Arga melihat Arini tengah kebingungan karena motornya mogok.
"Enggak tahu, Mas. Motor saya mogok. Apa bengkel cukup jauh dari sini ya?" Tanya Arini namun masih belum menatap siapa lelaki yang mengajaknya bicara.
Saat menatapnya, Arini cukup terkejut saat melihat siapa yang tengah mengajaknya bicara.
"Mas Arga." Ucapnya lirih.
"Kamu tahu nama saya?" Tanya Arga.
"Iya, Mas Arga kan kakak senior saya di kampus." Ucap Arini.
Arga tersenyum. Dia tak menyangka jika dia di kenali oleh sosok wanita seperti Arini.
"Kamu Arini, kan?" Tanyanya.
"Lho, Mas juga tahu nama saya?" Tanya Arini polos.
"Iya, siapa yang gak kenal sama perempuan yang pernah bikin heboh satu kampus karena kecantikan dan merdunya suara kamu." Jawab Arga.
Arini cukup terkejut saat mendengarnya. Buktinya, ia tak sepopuler itu. Saat itu ia juga di paksa untuk menyanyi karena waktu itu dia masih junior di kampus itu dan baru masuk.
"Coba saya cek motor kamu." Ucap Arga.
Lelaki itu kemudian mengeceknya dan ia tahu kalau masalahnya sedikit berat.
"Sepertinya kamu mesti ganti aki. Bengkel disini cukup jauh." Ucap Arga.
Arini merasa sedikit fustasi. Dia menghela nafas panjang karena nyatanya ia kebingungan.
"Kalau kamu mau, biar motor kamu taruh sini. Saya telpon bengkel biar benerin motor kamu. Kamu ikut saya saja. Tujuan kamu kemana?" Tanya Arga.
"Saya kerja di bank xxxx, Mas" Ucap Arini.
"Kebetulan kita searah." Ucap Arga.
Setelah berbincang cukup panjang, Arga mengantarkan Arini ke tempat kerjanya.
Dari sanalah keduanya bertukar nomer telepon dan mulai dekat.
Arini satu-satunya wanita yang mampu membuka hati Arga. Tapi, baru tiga bulan pernikahan mereka, Arga justru mengkhianati wanita itu.