Pertemuan Pertama

1706 Words
Arini dan Arga sudah tiba di acara pernikahan Aqilah dan Bram. Arini menggandeng tangan suaminya itu dengan sangat erat. Hari ini pertama kalinya mereka pergi bersama ke sebuah acara pernikahan setelah tiga bulan menikah. "Itu Aqilah, Mas." Ucap Arini. Mereka berdua langsung memberikan salam pada kedua mempelai yang tengah duduk sebagai raja dan ratu sehari itu di singgasananya. Hal itu juga membuat Arini ingat tiga bulan pernikahannya saat itu, karena ia dan Arga yang juga duduk di singgasana pernikahan kala itu. "Barakallah, selamat ya Aqilah, sahabatku." Ucap Arini "Arini, aku rindu sama kamu." Jawab Aqilah. " Aku juga kangen, La." Ucap Arini. Arini suka menyebut Aqilah dengan nama Lala. Sementara Aqilah suka menyebut nama Arini dengan nama Arin. " Arin, ini Mas Bram." Ucap Aqilah memperkenalkan suaminya. Arini menangkupkan tangannya sebagai tanda kalau ia menerima perkenalan itu. "Ini Mas Arga." Ucap Arini. "Udah tahu, kok . Kan emang impian kamu bisa." Arini membungkam mulut Aqilah yang sangat ember dengan tangannya. "Lala, apaan sih." Ucap Arini. Kedua lelaki itu tertawa melihat tingkah istrinya itu. Sahabat yang lama tak bertemu dan saat bertemu, beginilah jadinya. "Qila, jangan di acak bicara terus, suruh mereka menikmati hidangan." Suruh Bram. Aqilah hanya tersenyum kemudian mempersilahkan mereka berdua menikmati hidangan. Bram terus memandangi pintu keluar, sedang menunggu tamunya yang berkata akan datang hari ini juga. "Nungguin siapa sih, Mas?" Tanya Aqilah. "Partner kerja aku. Dia putri tunggalnya. Aku kenal cukup dekat." Ucap Baram. Seorang wanita datang dan membuat Bram tersenyum. "Selamat ya Mas Bram." Ucapnya. "Terima kasih juga Ziva. Salam buat Om ya?" Ucap Bram. Ziva dan Aqilah juga berkenalan. Dan entah kenapa, Aqilah sedikit tidak suka pada Ziva. Ziva kemudian hendak mengambil makanan, ia mengambil sedikit nasi dengan bebrlerapa lauk yang menurutnya sangat menarik. "Mas mau makan apa?" Tanya Arini. "Terserah kamu." jawab Arga. Ziva menatap dua insan yang terlihat mesra di depannya . Itu adalah Arga kekasihnya, yang saat ini sedang bersama Istri Sah-nya. " Silahkan di nikmati ya?" Ucap Bram bergabung dengan para tamunya sekaligus Ziva dan Arini. Arga dan Arini menatap mereka. Dan yang mengejutkan, Arga membeku karena saat ini Ziva ada di depan Arini. Bahkan keringat dingin mengucur di tubuh lelaki itu. Arini hanya tersenyum. Mengira Ziva adala salah satu kerabat Aqilah. " Hai Pak Arga." Ucap Ziva menyapa. Berbeda dengan Arga, Ziva justru terlihat santai dan tidak tegang sama sekali. Arga hanya diam, dia sedikit bingung harus berkata apa. "Hai Bu Ziva." Ucap Arga kemudian membalas dengan intonasi yang sedikit bergetar. Arini tersenyum pada Ziva. Walau ia tak pernah bertemu degannya sebelumnya. Tapi, dari ucapan Arga, ia tahu kalau Ziva adalah rekan kerjanya. "Sayang, dia ini atasan aku di kantor." Ucap Arga. "Salam kenal, saya Arini, istrinya Mas Arga." Ucap Arni mengenalkan diri. "Ziva, teman kantornya Pak Arga." Ucap Ziva. Wajahnya menunjukkan satu kekecewaan. Itu semua karena Arga yang mengenalkan Arini sebagai istrinya. Sementara mereka mempunyai hubungan yang sama layaknya suami istri. "Arin, makan dulu." Ucap Aqilah menghampiri mereka. "Selamat menikmati, Bu." Ucap Arga lalu menghindar dari Ziva. Arini sesekali menatap Ziva dan tersenyum padanya. Sementara Ziva cukup tahu siapa istri Arga. Memang cantik, tapi ia juga tak menyangka kalau tipe wanita itu jauh dari kriteria Arga. Karena Ziva tahu kalau dirinya wanita yang Arga inginkan. Setelah selesai makan, Aqilah mengajak Arini dan Arga untuk berfoto bersama mereka. "Ayo kita foto bareng." Ajak Aqilah. Arini dan Arga mensejajarkan posisi mereka berdua. "Ziva, kemarilah. Foto bareng juga." Ajak Bram. Ziva juga maju dan hendak berfoto. Sayangnya, dia sengaja mengambil posisi di dekat Arga. Dan hal itu tentu saja membuat Arga tidak nyaman. Di sampingnya ada Arini dan juga Ziva. Arga seperti di hadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Arga merasa sangat lega saat akhirnya ia dan Arini telah pulang ke rumah. Sedari tadi, Adrenalin nya seakan terpacu dengan cepat karena pertemuan tak di sengaja itu. Pertemuan pertama antara Ziva dan juga Arini. Sementara itu, Ziva yang merasa kesal malah melempar beberapa barangnya ke lantai. Dia kesal karena ia pikir istri Arga biasa saja, nyatanya semuanya jauh dari apa yang ia pikirkan. Istri Arga sangat cantik, sopan dan yang penting ia berhijab. Walau Ziva tahu, wanita seperti itu bukan tipe kesukaan Arga. Tapi, Ziva yakin kalau wanita itu juga pilihan keluarganya. "Mas Arga, aku akan melakukan apapun, agar kamu dan dia berpisah. Kamu akan jadi satu-satunya milikku." Ucap Ziva. **** Aqilah masih menatap foto antara ia dan Arini tadi. Bukan hanya sekali dua kali, tapi ia berfoto dengan Arini beberapa kali. Tatapan Aqilah beralih pada Ziva. Aqilah tersenyum saat melihatnya. Bukan sebuah senyuman suka, melainkan tidak suka melihatnya. "Mas Bram. Kenal Ziva ini udah lama belum?" Tanya Aqilah. "Iya lumayan. Kadang juga dia ikut Papa Mamanya tiap ada pesta." Ucap Bram menjawab. Dia tak tahu kenapa istrinya itu malah menanyakan soal Ziva pada dirinya. "Kenapa? Kok malah nanyain dia?" Tanya Bram. "Aku enggak suka, Mas. Tiap di foto dia kayak ngelihatin suaminya Arini terus. Ini lagi tadi fotonya kayak mepet sama suaminya Arini. Kayak gatel gitu sih." Ucap Aqilah. "Hus, jangan begitu. Dia ini wanita terhormat Sayang. Gak mungkin dia mau suka sama suami orang." Ucap Bram. "Iya kan, siapa tahu. Soalnya mereka satu kantor juga." Ucap Aqilah. "Enggak akan. Percaya sama aku. Suaminya Arini bukan tipe keluarganya." Ucap Bram meyakinkan. Aqilah hanya diam. Entah kenapa, sejak dulu Aqilah sangat tajam pemikiran serta penglihatannya. Saat berkuliah dulu, ia di juluki detektif. Bahkan, dialah yang tahu pertama kali mengenai perselingkuhan dosen dan Mahasiswa. Arini saja sampai tak percaya. "Mungkin saja ya, Mas." Ucap Aqilah. "Iya udah. Harusnya yang kamu tanya itu malam ini kita berapa ronde?" Ucap Bram menggoda. Hal itu membuat Aqilah malu dan malah melempar Bram dengan bantal. "Lho, kok kamu malah begitu sih, Sayang." Ucap Bram. "Shalat dulu, Mas." Ucap Aqilah. Bram tersenyum. Dia terlalu menggebu sampai lupa jika ada sesuatu yang wajib ia lakukan sebelum meminta haknya di malam pertamanya ini. **** Arga menatap Arini yang sudah tertidur lelap. Lelaki itu kemudian mengendap keluar kamar. Sedari tadi ia menghindari sesuatu, yaitu pesan dan telepon dari Ziva. Entah, wanita itu meneleponnya beberapa kali. Untung saja Arini bukan tipe wanita yang suka membuka ponsel suaminya. Arga segera menuju ruang tamu dan mulai menelepon Ziva. "Hallo, ada apa? Kenapa terus menelepon? Kamu tahu kan? Istriku bersamaku." Ucap Arga. "Mas, aku ada di depan. Keluarlah sebentar." Ucap Ziva. Arga terdiam. Sungguh, ia tak tahu jalan pikiran Ziva. Beraninya wanita itu datang ke rumahnya. Arga menatap seisi rumahnya dan meyakinkan jika Arini takkan bangun. Arga kemudian keluar dan mendapati sebuah mobil warna merah terparkir di jalan depan rumahnya. Ia segera menghampiri mobil itu dan masuk ke dalamnya. "Kamu sudah gila? Untuk apa kamu kemari?" Tanya Arga sedikit kesal dengan kelakuan Ziva. "Mas, aku bela-belain nyetir kemari lho. Dan kamu malah gak senang aku kesini. Aku cuma mau bilang kalau aku kangen sama kamu." Ucap Ziva. Arga memijat keningnya. Tak tahu harus bersikap apa pada wanita di depannya ini. "Iya, tapi kalau Arini tahu bagaimana?" Tanya Arga. "Its Okay. Aku tahu dia udah tidur. Dan gak mungkin dia bangun jam segini." Ucap Ziva. Jemarinya menyentuh d**a Arga, membuat lelaki itu menghentikan amarahnya untuk sesaat. "Ziva, jangan seperti ini." Ucap Arga melemahkan suaranya. "Habisnya, aku cemburu sama istri kamu, Mas. Masa iya kamu lebih perhatian sama dia dari pada aku." Ucap Ziva. Arga menggenggam tangan wanita itu dengan erat. "Kamu pikir aku tidak? Aku juga merindukan kamu. Tapi, jangan disini." Ucap Arga. Ziva tersenyum. Mengecup bibir Arga singkat. "Mas, besok ke hotel ya?" Ajaknya. "Gak bisa, Va. Besok aku ada janji sama Arini mau makan malam bersama." Ucap Arga. Ziva kembali memajukan bibirnya. Inilah resiko jika menjadi yang kedua. Tapi, bukan Ziva namanya jika tak bisa membuat lelaki itu takluk. "Oke, kamu senang-senang aja sama istri kamu. Lupain aku. Aku juga bisa keluar sama laki-laki lain besok malam. Jangan salahkan aku, ya?" Ucap Ziva mengancam. Ancamannya berhasil membuat Arga berpikir kembali. Ia tak mau jika Ziva dekat dengan lelaki lain selain dia. "Jangan lakukan itu." Ucap Arga. "Habisnya, kamu lebih milih dia. Aku juga bisa, Mas." Ucap Ziva. "Baiklah, kita ke hotel besok. Aku akan mencari alasan untuk membatalkan acara itu dengan Arini." Ucap Arga. Ziva kembali menyunggingkan senyumannya. Kemudian memeluk Arga. Dia tahu kalau Arga tak akan membuatnya kecewa. Sama seperti saat ia masih berpacaran dulu. Ziva tahu, Arini hanya pelarian baginya. "Kalau begitu kamu pulang sekarang." Suruh Arga. "Baik, Mas. Nanti aku share hotel mana ya?" Ucapnya. Arga mengangguk kemudian turun dari mobil itu. "Hati-hati. Satu lagi, alasan aku setuju juga karena kamu sampai menyetir sendiri kemari." Ucap Arga. Ziva tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Arga. "Aku juga belajar keras, Mas. Gak selamanya aku harus naik taksi atau minta antar supir." Ucapnya. Lagi-lagi Arga tersenyum. Karena dia sangat ingat alasan Ziva tak mau menyetir mobil sendiri. Arga melihat kepergian Ziva. Kemudian ia kembali tidur di samping Arini. Menatap wanita itu untuk waktu yang cukup lama. Sungguh, ini bukan kehendaknya. Dia juga tak berdaya, satu sisi Arini sangat baik sebagai istri dan satu sisi, Arga yang memang masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu. Di pagi harinya, Arga mulai menyampaikan maksudnya pada Arini. Dan hal itu ia katakan saat sedang sarapan. "Sayang, sepertinya kita harus menunda acara dinner kita. Rekan kerjaku bilang kalau Boss menyuruh lembur lagi malam ini." Ucap Arga. Arini hanya tersenyum walau ada kekecewaan di hatinya. "Ya sudah, Mas. Kerjaan juga penting. Dinner kan bisa lain kali." Ucap Arini menjawab. Arga juga tersenyum. Sungguh, Arini terlalu baik baginya. "Kamu gak usah nungguin aku ya? Aku nanti makan dari jatah kantor. Kamu makan aja. Aku gak mau kamu sakit." Ucap Arga. "Iya, Mas. Aku pasti makan kok. Telepon aku kalau ada apa-apa ya?" Ucap Arini. Arga tersenyum. Dia ada di antara dilema yang membingungkan. Jika disuruh memilih antara Arini dan Ziva, dia tidak akan bisa. Karena baginya kedua wanita itu sama-sama berharga. "Aku berangkat dulu ya?" Ucap Arga. "Iya, Mas. Hati-hati ya?" Ucap Arini sambil mencium tangan lelaki itu. "Assalamu'alaikum." Ucap Arga. "Wa'alaikumsalam." Ucap Arini menjawab. Arga mengecup kening istrinya itu kemudian pergi sembari menatapnya dengan senyuman. Sepanjang perjalanan, Arga memikirkan semuanya. Dia akan terus menjaga rahasia ini dan membuat kedua wanita itu bersama menjadi miliknya. Apalagi Ziva yang tak keberatan menjadi yang kedua walau sudah tahu jika ia memiliki seorang istri. Keputusan Arga untuk Mendua telah bulat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD