Arini POV
Aku segera berlari memasuki rumah Mama mertuaku. Sungguh, aku merasa sangat khawatir. Satu lagi yang membuat aku sedikit kesal, dalam satu bulan ini, Mas Arga sangat sulit untuk di hubungi. Jika. dalam kondisi dan situasi seperti ini, aku tidak bisa mengabarinya sama sekali.
Aku mengucap salam dan segera menemui Mama.
"Assalamu'alaikum, Ma." Ucapku.
Aku mendengar Mama dan Papa masih bisa mendengar salam ku.
"Wa'alaikumsalam." Jawab keduanya serentak.
Aku segera menanyakan keadaan Mama yang memang saat ini terlihat sedikit lesu.
"Mama kenapa?" Tanyaku.
"Pasti papa. yang nelpon kamu, ya? Harusnya enggak usah, karena Mama cuma sakit biasa. Gak enak badan aja."Ucapnya.
Aku tahu ada satu kebohongan yang tengah Mama sembunyikan dilihat dari mna keadaannyaa sat ini.
Aku segera memanggil dokter untuk mengecek keadaan Mama. Dan tak selang beberapa lama setelah itu, dokter itu datang.
"Bagaimana keadaan Mama, dokter?"Tanyaku.
"Cuma demam biasa. Saya sudah meresepkan obatnya dan tolong segera di berikan. Kalau ada masalah berlanjut tolong hubungi saya." Ucap Dokter.
Aku mengangguk lalu segera mengantar dokter itu ke depan. Setelah itu, aku segera mengendarai motor dan segera menebus obat itu dengan segera. Hanya menebus obat dan segera pulang.
"Terima kasih ya nak, lagi-lagi kamu yang kerepotan." Ucap Mama.
"Enggak, Ma. Jangan bilang kayak gitu. Ini kewajiban Arini juga sebagai menantu. Orang tua Mas Arga juga orang tua Arini." Ucapku pada Mama.
"Nak, berjanjilah. Apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan Arga ya? Cuma kamu wanita yang paling tepat bagi dia." Ucap Mama.
Aku hanya tersenyum lalu mengangguk dengan singkat.
"Iya, Ma. Arini janji gak akan pernah meninggalkan Mas Arga, kecuali satu. Dia yang meninggalkan Arini." Aku menjawabnya dengan sangat sendu. Seakan-akan telah terjadi masalah. Padahal sama sekali tidak ada.
"Ma, Arga kenapa gak aktif nomernya ya?" Tanya Papa.
Aku tahu kalau mereka berdua sama herannya denganku, tapi aku tidak mau mereka berdua menjadi lebih khawatir karena bukan hanya mereka, aku pun merasa ada yang berubah dari dirinya.
"Mama, Pa. Mas Arga pamit kalau hari ini dia sedang ada meeting dan juga lembur. Itulah alasan dia gak bisa di hubungi, kalian jangan khawatirkan itu." Aku tetap berusaha menjaga perasaan mereka.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Mama juga telah tertidur di kamarnya.
"Nak, kamu pulang aja ya? takutnya suami kamu datang dan bingung karena kamu gak ada." Ucap Papa.
Sebenarnya saat ini, aku sedang berada dalam dilema. yang cukup besar. antara pulang ke rumah atau tetap menemani Mama. Namun, karena paksaan Papa, aku akhirnya pulang.
Aku membuka gerbang rumah namun tak mendapati mobil Mas Arga terparkir dalam Garasi rumah. jujur, aku kecewa. Seharusnya, sesibuk apapun dia, jangan sampai mematikan teleponnya.
Aku masuk ke dalam rumah dengan rasa kecewa yang kian membesar. Aku menyadari jika sosok Mas Arga tak sehangat dulu.
Sebenarnya aku merasa lelah, tapi beberapa pekerjaan harus aku selesaikan dengan segera. Aku mulai memasuki kamar. Mengganti pakaian dan juga mandi. Untung saja aku sedang berhalangan shalat, jadi saat di rumah Mama, aku tak perlu shalat di sana. Aku baru tahu hal itu saat akan menunaikan shalat di hotel bersama Aqilah.
Aku menuju tempat pencucian baju, sampai aku menemukan satu jas Mas Arga yang tergantung di tembok. Kebiasaannya tak pernah berubah, padahal berulang kali aku menasehatinya.
Aku merogoh sakunya takut jika ada sesuatu yang penting dan nantinya akan ikut di cuci olehku. Hanya ada beberapa nota yang entah apa alasannya sampai Mas Arga simpan.
"Toko emas dan Berlian." Ucapku sembari membaca tulisan yang ada di nota itu.
Aku cukup terkejut karena Mas Arga melakukan pembelian sebuah cincin berlian dengan harga yang cukup fantastis.
"Apa? Dua puluh lima juta. Banyak banget." Ucapku lirih.
Aku terus memikirkan apa yang sedang Mas Arga lalukan. Tapi, aku mulai tersenyum karena dua hari lagi adalah hari ulang tahunku.
"Apa jangan-jangan untuk ulang tahunku ya?" Ucapku.
Sungguh, aku merasa kalau Mas Arga sangat tidak bisa menyembunyikan kejutannya. Tapi jangan khawatir, sebagai istri yang baik, aku akan berpura-pura tidak tahu. Hanya saja, aku tak menyangka kalau Mas Arga akan membelikan perhiasan yang cukup mahal untuk itu.
Aku mulai memasukkan semua pakaian kotor itu dan mencucinya hingga bersih. Berharap jika dua hari lagi akan menjadi hari yang paling indah.
****
Karena tidak bisa menunaikan shalat, aku bangun jam lima subuh. Menatap di sampingku dan berharap lelaki itu telah pulang, tapi nyatanya tidak ada.
Aku bangun dari tempat tidur dan segera bersiap menyiapkan sarapan.
Aku mendengar suara pintu di buka, dan aku sangat yakin kalau itu adalah Mas Arga. Entah, aku sedikit kecewa padanya karena telah berkata tidak sesuai dengan ucapannya. Berkata akan pulang, nyatanya sampai pagi.
"Assalamu'alaikum." Ucap Mas Arga.
"Wa'alaikumsalam." Jawabku.
Aku sedikit malas menatapnya. Tapi, mau tak mau aku harus mencium tangannya.
"Sayang, Maafkan aku ya? Aku ketiduran di kantor. Tahu-tahu sudah subuh." Ucapnya.
Dari matanya, aku tahu kalau dia terlihat lelah. Melihat itu, aku merasa kalau dia sungguh-sungguh bekerja dengan keras.
"Mandi dulu, Mas. Habis kerja itu ya mandi." Ucapku.
Mas Arga berjalan menuju kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya. Berhubung hari ini adalah hari Minggu, dia libur kerja.
Kami berdua duduk dan sarapan berdua. Du piring nasi goreng dengan toping sosis dan juga telur.
"Kenapa nomernya gak aktif sampai malam, Mas?" Ucapku.
Sesekali aku memang ingin menegurnya.
"Maaf, Sayang. Aku lupa." Jawabnya.
Aku tak mau memperpanjang itu lagi. Hanya ingin menyampaikan kalau Mama tengah tidak sehat.
"Setelah ini kita ke rumah Mama." Ajak ku.
"Ngapain, Sayang?" Tanyanya.
Memang ini yang aku inginkan. Sebuah pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
"Semalam Mama demam. Tapi, aku sudah memanggil dokter dan juga mengompresnya." Jawabku.
Aku melihat dia cukup terkejut dengan apa yang aku katakan.
"Kenapa baru bilang?" Ucapnya seenaknya sendiri. Bukankah dia yang salah karena tak bisa di hubungi.
"Mas, aku dan Papa beberapa kali sudah mencoba mengirim pesan dan menelepon." Ucapku.
Aku lihat lagi, dia hanya diam. Bahkan nasi goreng yang tinggal sedikit itu tak ia habiskan.
"Kita ke sana sekarang." Ucapnya.
Aku bergegas menaruh piring kotor dan segera mengikutinya. Terlihat sekali jika ia sangat khawatir.
Kita telah tiba di rumah Papa dan Mama dengan cukup singkat karena jarak yang tak terlalu jauh. Cukup dengan dua puluh menit saja dan kami sudah sampai di rumah minimalis ini.
Aku lihat Mas Arga dengan cepat masuk ke dalam bahkan lupa untuk mengucap salam. Aku tahu, dia sungguh khawatir terhadap keadaan Mama.
"Mama, bagaimana keadaannya?" Tanya Mas Arga.
Sementara aku hanya memperhatikannya saka sembari menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuh Mama.
Aku kembali dengan handuk dan juga air hangat yang telah aku siapkan. Terlihat Mama sedang menatap Mas Arga dengan tatapan kesal.
"Mama kenapa? Jangan marah gitu." Ucapku.
"Enggak, nak. Mama cuma kasih tahu suami kamu biar dia ini ngerti." Ucap Mama dengan nada kesal.
"Astaghfirullah. Mama gak boleh begitu. Dosa. Memendam amarah itu lebih baik, Ma." Ucapku.
"Mama bukan kamu Arini. Yang hanya diam saja saat di tinggal dan juga tidak marah sedikitpun. Padahal Arga tidak bisa di hubungi sama sekali." Ucap Mama.
Aku hanya menatapnya dengan sebuah gelengan kepala.
"Udah, sini. Biar Arini bersihkan tubuh Mama. Ganti baju juga. Yakin setelah ini pasti Mama tenang. Mas Arga juga, minta maaf sama Mama." Ucapku.
Mama sedikit meredam amarahnya mendengar ucapan ku.
"Arga minta maaf ya, Ma?" Ucap Mas Arga.
"Enggak. Kamu gak perlu minta maaf sama Mama. Yang kamu harusnya minta maaf itu sama Arini." Ucap Mama.
"Iya, Ma. Arga sudah minta maaf sama Arini. Dan janji gak akan pernah ulangi lagi." Jawab Mas Arga.
"Ma, kalau ngobrol terus, kapan selesainya?" Tegur ku.
Mas Arga kemudian keluar karena aku yang harus mengganti pakaian Mama. Setelah itu, aku memberikan Mama sarapan dan juga meminumkannya obat.
Tak selesai sampai disitu, aku membereskan seisi rumah dan juga mencuci pakaian kotor. Sejak Mama sakit, rumah sedikit terbengkalai. Kadang setiap hari aku harus membersihkannya.
"Mama sudah tidur?" Tanyaku pada Mas Arga.
Lelaki itu tersenyum padaku.
"Iya, Sayang. Terima kasih ya? Sudah merawat Mama. Aku gak tahu bagaimana kalau gak ada kamu." Ucapnya.
Akhirnya, alu juga tersenyum padanya. Mengesampingkan rasa kesal ku padanya dan mencoba menerima segala alasannya.
******
Hari ini adalah hari ulang tahunku. Yah, aku merasa sangat senang karena nyatanya, Allah masih memberikan nafas untukku. Walau tandanya, umurku telah berkurang satu tahu. Yang aku harapkan saat ini, semoga Allah menjadikan pernikahanku sampai syurga-Nya. Bersama suamiku, Mas Arga yang aku cintai.
Aku sengaja menunggu kepulangan Mas Arga. Karena aku tahu, sebentar lagi kejutan itu akan ada. Dan aku akan menjadi orang yang paling bahagia hari ini.
Aku mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah kami. Dan aku tahu Mas Arga telah pulang hari ini.
Aku segera membuka pintu dan menyambut kedatangannya. Memberikan senyuman terbaik dan juga penampilan terbaik. Aku melihat Mas Arga menenteng sebuah kotak kue sambil tersenyum ke arahku.
"Assalamu'alaikum." Ucapnya.
"Waalaikumsalam, Mas." Ucapku antusias.
"Selamat ulang tahun ya sayang." Ucapnya sembari mencium keningku.
Kami berdua lalu duduk di meja makan sambil membuka kue. Ku lihat Mas Arga sibuk menghidupkan lilin.
"Selamat ulang tahun istriku. Panjang umur dan bahagia. Berdoa dulu sebelum tiup lilin."
Aku tersenyum mendengar ucapan itu. Mas Arga terlihat tulus mengucapkannya.
"Terima kasih Mas." Ucapku.
Aku mulai memanjatkan doa paling dalam di dalam hatiku.
"Ya Allah, semoga pernikahan kami selamanya bahagia, dan terus jadikan aku sebagai sosok wanita dan juga istri, maupun menantu yang baik."
Aku kemudian meniup lilin itu dan memotong kuenya. Memberikan kue itu untuk Mas Arga. Dan inilah saat yang aku nantikan. Ku lihat Mas Arga mengeluarkan satu kotak kecil dari sakunya.
"Ini hadiah untuk kamu, sayang. Maaf, aku hanya bisa memberikan ini." Ucapnya.
Aku menerima kotak kecil itu dan segera membuka isinya. Namun, aku sungguh tak menyangka. Hadiah ini bukan seperti bayanganku. Hanya sebuah cincin emas yang aku taksir harganya hanya lima juta saja.
"Terima kasih, Mas." Ucapku menyembunyikan kekecewaan.
Beberapa pikiran dan pertanyaan mulai muncul di kepalaku. Tentang cincin berlian yang aku kira untuk kado ulang tahunku. Nyatanya, hanya cincin emas yang dia berikan.
"Lalu untuk siapa cincin itu, Mas?"Tanyaku dalam hati.