“Jangan mendekati arah jam 2! Sekali lagi, jangan dekati arah jam 2! Berbaurlah dan tunggu perintah selanjutnya.” Bima segera mengambil alih perintah yang sebelumnya dipegang oleh Rio,
“Sip!” terdengar jawaban dari Luis dan Jina diwaktu yang hampir bersamaan, dan itu membuat Bima sedikit bernafas lega. Segera ia menarik lengan Astri dan membawanya berjalan dengan cepat namun tidak terlihat panik, mereka berjalan kearah sebuah toko minuman, dan duduk disana setelah memesan dua gelas soda.
Astri dengan heran menatap Bima yang terlihat berfikir keras seraya menatap was-was kearah orang-orang yang berlalu lalang. “Bim!” tegur Astri pada pemuda tinggi itu, sang pemuda kemudian menatap Astri dengan cepat.
“Ya?” tanyanya, tanpa berbicara Astri menggenggem tangan Bima yang diam diatas meja dan mengangguk seolah memberikan sebuah isyarat agar pemuda itu tenang. Sebenarnya Bima tidak terlihat panik, namun Astri tahu lelaki itu kini sedang merasakan panik seperti dirinya dan genggaman itu pun semakin erat ketika Bima balas menggenggam tangan Astri.
“Oke, dengarkan aku! Kita berkumpul didepan fashion shop rose yang ada sekitar 700 meter dari perbatasan, oke?” Bima memberi perintah kepada dua temannya yang lain, entah bagaimana nasib Rio saat ini yang jelas ia harus menyelamatkan dua temannya yang lain terlebih dahulu. Ia harus menyelamatkan teman-temannya terlebih dahulu.
“Sip!” setelah mendengar jawaban itu, Astri dan Bima pergi menuju tempat yang sudah disepakati. Selintas Astri melihat segerombolan orang berpakaian hitam berlari kearah jam 2 dan sayup-sayup ia mendengar ucapan seorang dari orang-orang tersebut, mereka membicarakan seorang pemuda yang berhasil dilumpuhkan oleh Electric gun. Jantung Astri mendadak berpacu dengan kencang, fikiran buruk mengenai Rio terus berdatangan sehingga ia tidak sadar bahwa sedari tadi Bima mengajaknya bicara.
“Astri!” tegur Bima, gadis itu tersadar dari fikiran-fikiran buruk tadi. Ia meremas lengan Bima yang ia genggam sedari tadi, membuat pemuda itu bertanya ada apa dengan dirinya. Dan Astri menjawab dengan pelan,
“Rio... Dia dilumpuhkan dengan Electric gun, bagaimana ini Bima?” ia berbicara seraya menahan tangisnya, meskipun orang yang dimaksud lelaki berbaju hitam tadi belum tentu Rio namun pikirannya sudah mulai kacau.
“Kau mengetahui hal itu dari siapa?” Bima menatap Astri dengan serius, pemuda itu tetap membawa Astri berjalan kearah Fashion shop rose sambil beralih merengkuh bahunya.
“Salah satu dari penjaga-penjaga itu mengatakan bahwa mereka berhasil melumpuhkan seorang pemuda dengan Electric gun.” Bima menyipit dan menegakkan tubuhnya, mencari orang-orang dengan baju hitam yang berjalan kearah jam 2. Mereka berhenti melangkah, Bima berdiri dihadapan Astri. Ia membungkukkan badannya agar mereka bertatapan sejajar.
“Kalau begitu, temuilah Jina dan Luis di Fashion shop yang kita bicarakan itu. Dan tunggulah disana untuk 10 menit, aku akan memastikan bahwa pemuda yang mereka maksud bukanlah Rio.” Astri menggelengkan kepalanya berulang kali, menolak usulan Bima.
“Aku ikut denganmu!” ucapnya tegas, Astri menggenggam lengan pemuda ini semakin kuat. Bima terdiam untuk berfikir sejenak, ia membuang nafasnya dan mulai menekan talkie box yang ada disakunya.
“Apa kalian sudah sampai? Aku dan Astri sebentar lagi sampai disana!” Bima menarik kembali tangan Astri agar melanjutkan langkahnya menuju arah Fashion Shop, gadis itu terkejut karena ia mengira jika Bima akan menariknya menuju lokasi Rio namun ternyata tidak.
“Jangan fikirkan dia, jika memang benar dia tertangkap. Kita tidak dapat melakukan apa-apa kecuali menjalankan tujuan utama kita.” Ucapan Bima tersebut membuat Astri bungkam. Gadis itu kini berfikir mengapa Bima dapat mengatakan hal yang begitu kejam padanya mengenai temannya sendiri?
Akhirnya Toko yang dimaksud tadi sudah terlihat dan Astri dapat menangkap dua siluet yang berdiri dan berbincang disana, Jina dan Luis itu pasti keduanya.
“Jadi Rio sudah tertangkap?” tanya Jina setelah mendengar segala hal yang Astri ceritakan, Astri menggelengkan kepalanya tidak tahu akan kepastian ucapannya sendiri.
“Kami belum memastikannya, Bima mengajakku untuk bertemu kalian terlebih dahulu.” Astri menatap Bima dan Luis yang tengah berbincang dengan jarak yang lumayan jauh dari keduanya, mereka terlihat jelas tidak ingin diganggu. Ya itulah mereka, jika ada suatu hal yang gawat keduanya ataupun ketiganya berserta dengan Rio selalu tidak ingin Astri dan Jina tahu. Entah karena mereka meremehkan kedua gadis ini atau mereka tidak ingin kedua gadis ini merasa takut dan panik.
“Jika Rio benar-benar tertangkap bagaimana?” Jina bertanya kembali, wajahnya ia tundukkan dengan sedih. Astri terdiam berharap hal itu tidak benar-benar terjadi pada Rio, ia menatap kearah kedua lelaki yang masih terlihat bingung disana.
“Bima...” panggil Astri pada pemuda itu, keduanya menoleh menatap Astri yang memperlihatkan kegundahan Jina. Bima menghampiri gadis yang terdiam dengan bahu yang beretar karena menahan tangisnya, Bima mengusap kepala Jina.
“Tenanglah, yang Astri dengar adalah hal yang belum pasti dan teruslah berdo’a agar Rio baik-baik saja.” ucapnya pada Jina yang akhirnya menangis juga, setelah sebelumnya berusaha menahan tangis. Ia memeluk Bima dan menenggelamkan kepalanya di d**a lelaki itu.
Suara ribut tiba-tiba terdengar begitu nyaring ditelinga keempatnya, bahkan ditelinga para pengunjung dan pelayan restoran yang mereka datangi. Seluruh pandangan tertuju pada jendela menampakkan keadaan luar yang terlihat kacau, Bima dan Luis berfikir mungkin saja itu akibat dari kegagalan sistem pemeriksaan kartu identitas atau bisa jadi itu adalah sirine peringatan bahwa ada identitas palsu yang terdeteksi.
“Astri cepat pakai topimu! Luis!” Bima menggerakkan sedikit kepalanya, memberi kode pada Luis agar pemuda itu memastikan apa yang terjadi diluar sana. Tanpa banyak membuang waktu, Luis berjalan keluar dari restoran seraya memakai Talkie box yang masih dibawanya. Setelah melihat kepergian pemuda itu, Bima berdiri tanpa melepaskan pelukan Jina. Ia menarik lengan Astri dan memapah Jina untuk berjalan kearah belakang restoran.
“Permisi Nona, bisakah kami melewati jalan belakang? Teman kami sakit dan mobil kami, ku simpan di belakang restoran ini.” ucap Bima pada seorang pelayan restoran, pelayan tersebut sempat menyipitkan matanya melihat Jina yang ditunjuk Bima sebagai teman yang sakit. Melihat Jina yang pucat dan dipapah oleh Bima, pelayan tersebut mengiyakan dan membukakan pintu belakang restoran tersebut untuk mereka.
“Astri pesankan mobil sekarang!” Bima berbisik, Astri terlihat kebingungan karena ia tidak menggenggam sebuah ponsel.
“Tapi Handphone ku sudah ku buang.” Jawabnya. Bima mendecak kesal, Ia baru menyadari bahwa sebelumnya Handphone beserta kartu identitas mereka diperintahkan untuk dibuang. Kini ia terlihat kebingungan, Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat didepan ketiganya, kaca itu perlahan terbuka seorang pemuda yang tidak mereka kenali membukakan pintu mobil otomatis.
“Cepatlah masuk atau kalian akan tertangkap!” ucapnya, Bima mengerutkan dahinya sebelum akhirnya masuk kedalam mobil mewah itu dengan ragu.
“Siapa kau?” tanya Bima menatap sang pengemudi kendaraan, lelaki tampan itu mendecak.
“Ck, Bisakah kita bahas itu nanti? Sekarang kita harus menjemput teman mu yang keluar lewat pintu depan.” Pemuda tadi memutar stir mobilnya dan berbalik arah menuju pintu depan cafe, disana mereka melihat Luis yang berjalan diantara kerumbunan orang. “Suruh dia kembali dan masuk kedalam mobil ini!” ucap pemuda tadi, Bima mengangguk dan segera menggunakan Talkie boxnya untuk memanggil Luis.
“Luis, berbaliklah dan masuk kedalam mobil hitam yang terparkir diantara kursi jalan dan lampu.” Bima berucap, ia melirik lelaki yang tidak ia kenali itu dengan sudut matanya. Merasa was-was karena mungkin saja lelaki itu adalah petugas perbatasan, atau pihak keamanan negara.
“Sip!” mereka melihat Luis berbalik dan berjalan setengah berlari kearah mobil, dengan santai pemuda itu membuka jendela dan menyuruh Luis untuk duduk didepan. Raut wajah keheranan Luis perlihatkan pada ketiga temannya saat mobil tersebut sudah berjalan.
To be Continued