Pukul 08.30 kelimanya telah berkumpul di ruang tengah dengan semua tas yang sudah mereka kemas, hening didalam ruangan itu untuk beberapa saat, mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing. Astri beranjak dan memberikan sebuah file dalam chip kecil kepada Rio, “Itu adalah video yang aku susun sendiri untuk kita perlihatkan pada semua orang bahwa Dunia sudah tidak seindah dulu!” ucapnya kembali duduk ditempatnya, ia masih sedikit sebal namun ini bukanlah saat yang tepat untuk mendahulukan egonya.
“Aku membuat ini, dan jika kau menyutujuinya iklan ini akan tersebar keseluruh sosial media yang ada. Iklan berbayar yang sudah kupersiapkan tanpa harus melalui pengujian sensor.” Jina memberikan layar laptopnya pada Rio. Dilihatnya apa isi dari iklan yang Jina susun, setelah itu ia meletakan layar itu tepat disamping chip milik Astri.
Rio dan Bima menatap Luis yang masih terdiam, tak berapa lama lelaki itu membuka suaranya. “Aku sudah mencari semuanya, Zat pencemar lapisan ozon disebut ODS atau Ozone Depleting Substances didalamnya terdapat CFCs, HCFCs, Halons, Methyl Bromide, Carbon Tetrachloride, dan Methyl Chloroform. Yang sebagian besar terkandung dalam pendingin AC dan kulkas, Fire extinguishers, pestisida dan Aerosol propellants. Dan kenyataannya semua sudah sangat mengkhawatirkan, usaha PBB pada tahun 1987 dengan menandatangani Protokol Montreal ternyata tidak berhasil menekan laju kerusakan lapisan ozon. September 2003 luas lubang di Benua Antartika mencapai 29 juta kilometer persegi, itu mengindikasikan atmosfer Bumi secara alami tidak mampu memulihkan kerusaka lapisan Ozon.”
Rio, Bima, Jina dan Astri terkejut dengan penjelasan Luis mengenai lapisan ozon. Kemudian lelaki itu meneruskan penjelasannya, “Itu belum seberapa dibandingkan gas rumah kaca yang disebabkan oleh CO2 atau Karbon dioksida yang dihasilkan dari bahan bakar minyak, batu bara, dan bahan bakar organik. Selain itu Nitrogen monoksida dan Nitrogen dioksida serta Gas Metana dan Klorofluorokarbon (CFC) juga memegang peranan penting dalam meningkatkan efek gas rumah kaca. Pada tahun 1750 terdapat 281 ppm molekul karbondioksida dan meningkat pada 2007 menjadi 383 ppm, pada tahun 2100 mencapai konsentrasi 540 hingga 970 ppm. Semuanya sudah ku susun dalam sebuah artikel berbentuk Presentasi, dan Makalah.” Luis menatap keempat temannya yang terlihat tidak percaya terhadap apa yang telah ia dapatkan.
“Bagaimana Rio?” tanya Bima, Rio terlihat mengangguk dihadapan keempatnya setelah sebelumnya meneguk ludahnya sendiri.
“Kita harus melakukan semuanya dengan cepat, Aku tidak mau menunggu Dunia semakin rusak! Kita akan menghadapi Pemimpin Negara terlebih dahulu.” Rio berdiri dari tempatnya, diiringi anggukan dari keempat temannya. Mereka pergi meninggalkan resort tersebut dan memulai perjalanan untuk menemui pemimpin negara yang tidak diketahui akan seperti apa rintangan kedepannya.
Langkah kaki kelima remaja itu sempat ragu ketika berpapasan dengan sistem deteksi yang ditempatkan diperbatasan kota, Astri menatap Rio yang tetap menatap kearah perbatasan itu.
“Bagaimana sekarang? Apa kita harus kembali?” tanya Jina pada Rio yang berjalan didepannya, keempatnya sempat berhenti melangkah saat Rio terdiam. Lelaki itu menatap kearah saku jaket miliknya dan mengeluarkan ponsel serta dompetnya.
“Tidak, tinggalakan handphone dan kartu identitas kalian disini!”
“Kartu Identitas?” Jina terkejut mendengar perintah Rio yang mengharuskan mereka membuang kartu identitas mereka, Rio hanya mengangguk kecil padanya. Mereka segera mengikuti perintah Rio dan mengeluarkan kartu identitas milik mereka.
“Tapi kenapa?” Astri yang kebingungan akhirnya bertanya,
“Lihatlah layar besar disana! Berpencarlah dan kita akan kembali berkumpul setelah melewati sistem deteksi itu.” Bima menatap sebuah layar yang ada diatas sebuah gedung tinggi, merekapun ikut mengangkat kepala untuk menatap layar tersebut. Terlihat beberapa foto dilengkapi dengan nama yang tertulis dibawahnya, dan kelimanya tahu bahwa dari berpuluh-puluh orang yang ada difoto itu tertulis juga nama mereka. Karena foto orang pertama yang terpampang disana adalah Astri serta Bima,
“Ok, aku mengerti sekarang. Kita benar-benar dianggap seperti seorang penjahat.” Astri berucap dengan nada sedih, ia merasa terfitnah dengan hal tersebut.
“Kalian siap?” tanya Rio, kelimanya saling menatap dan mengangguk. Rio segera membagikan sebuah Identitas palsu dan sebuah Talkie box yang terlihat seperti remote tipis lengkap dengan headset.
“Berhati-hatilah!” Rio memasang headsetnya dan berjalan menjauh dari keempat temannya, Astri menatap seluruh temannya yang berjalan memencar satu persatu. Ia mengeluarkan ponselnya dan kartu identitasnya, berjalan kearah sebuah tempat penghancur sampah. Tanpa banyak berfikir ia membuang kartu identitas beserta ponselnya kedalam tong penghancur yang menggiling langsung kedua benda itu.
“Kenapa anda menghancurkan kedua benda itu nona?” Astri terkejut ketika seorang gadis kecil yang berdiri disampingnya bertanya, Astri membuang nafas pelan dan berjongkok menyamakan tinggi gadis itu.
“Apa yang sedang kau lakukan disini? Mana orang tua mu?” tanya Astri memegang kedua bahu gadis kecil ini dengan tersenyum, gadis itu hanya terdiam menatap aneh pada Astri. Astri mulai was-was, bagaimana jika gadis kecil ini menangis dan menarik banyak perhatian? Maka dengan segera ia meninggalkan gadis itu dan kembali berjalan kearah perbatasan kota. Beberapa penjaga berbaju hitam dan bersenjata berdiri dipintu perbatasan, Astri membenarkan kacamata kitam besar yang ia pakai dan berjalan dengan santai menghadapinya.
“Pemeriksaan! Silahkan tunjukkan kartu identitas anda!” Astri dengan sedikit ragu mengeluarkan identitas palsu miliknya yang diberikan oleh Rio tadi, salah satu petugas menatapnya curiga dan hendak meraih kacamata yang ia kenakan.
“Jangan bergerak!” Astri diam membatu ketika seorang petugas berteriak disamping kanannya, ia menoleh perlahan ketika mendengar suara seorang pemuda berteriak-teriak meminta untuk dilepaskan.
“Kau boleh kembali berjalan nona!” ucap petugas yang memeriksa identitas Astri, ia mengembalikan kartu itu dan mempersilahkan Astri untuk kembali berjalan. Astri bernafas lega dan menatap pemuda yang berteriak tadi dari kejauhan.
“Kita bertemu 100 meter didepan pintu itu arah jam 2 oke?!” Astri mendengar perintah Rio dari saluran Talkie box yang tetap terpasang dengan sebuah headset.
“Sip!” bisik Astri, ia berjalan kearah jarum jam 2. Ia melirik kanan dan kirinya, beberapa orang terlihat sibuk dengan apa yang mereka kerjakan. Dimulai dari seorang anak yang sedang memainkan gadget nya, sekumpulan pemuda yang bermain papan jet seluncur, sekumpulan wanita dengan gaya fashion yang tinggi dan beberapa pria berjas yang menawarkan saham untuk investasi pada pejalan kaki disana.
Seseorang menepuk pundaknya, membuat gadis dengan tinggi badan 170 itu menoleh. “Lebih baik jika kita berjalan bersama nona, jadi kau akan merasa lebih aman!” pemuda berparas tampan tersenyum dan berjalan menyamai jalannya Astri. Gadis itu menghela nafasnya dan mengusap pelan dadanya yang terasa sakit karena merasakan kejutan jantungnya yang keras beberapa detik sebelumnya.
“Kau membuatku takut!” Astri memukul pelan bahu Bima yang lebih tinggi darinya, hanya kekehan kecil yang dilakukan oleh Bima saat menerima pukulan tersebut.
“Gawat! Sssttt... Hhh... Hh... Mereka curiga padaku dan mulai mengikutiku! Hh... Krsssstt.” Suara Rio terdengar sedikit terengah-engah dengan langkah kaki yang terdengar cepat, dan sudah dipastikan saat ini pemuda itu tengah berlari dari sebuah kejaran yang entah siapa. Baik Astri maupun Bima yang mendengar hal itu dari masing-masing Talkie box kini terdiam dan saling menatap.
To Be Continued