“Apa tidak sebaiknya kita menghubungi mereka lagi Luis?” Astri memberi saran, menatap Luis dengan penuh harap. Setidaknya hanya untuk memastikan keadaan kedua temannya benar-benar baik saat ini. Luis menghela nafasnya untuk sesaat, ia mempertimbangkan beberapa hal sebelum akhirnya menyetujui saran Astri.
“Baiklah, kita hubungi mereka!” Luis menjawab, ia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Rio. Lama mereka menunggu sambungan tersebut, membuat Astri gelisah. Sampai dimana saat mereka berhasil terhubung, suara Rio terdengar jelas dan ia mulai tenang.
“Ada apa Luis?” Tanya Rio yang jauh disana.
“Bagaimana keadaan kalian? Mengapa sampai saat ini kalian belum juga sampai kesini?” Astri merebut ponsel tersebut dari tangan Luis, menyela Luis yang akan membuka mulutnya dan Jina ikut mencondongkan tubuhnya mendekati ponsel. Terdengar tawaan ringan dari Rio dispeaker ponsel itu, membuat Astri dan Jina saling bertatapan.
“Tenanglah, kami sudah menatap kalian yang tengah berkumpul memandangi sebuah ponsel didepan sebuah resort!” Astri, Jina dan Luis sontak mengangkat kepala mereka dan menatap kearah dua orang lelaki yang tersenyum pada ketiganya. Astri dan Jina segera berlari memeluk salah satu diantara keduanya, Jina memeluk Rio sedangkan Astri memeluk Bima dan setelahnya mereka bergantian, Jina memeluk Bima dan Astri memeluk Rio seperti itulah. Terdengar kekehan dari Rio, sementara Bima hanya tersenyum samar. Luis dengan santai menghampiri keduanya dan berjabatan tangan seraya saling menabrakan bahu, ciri khas para lelaki ketika bertemu.
“Ayo masuk! Lebih baik kita bicarakan semuanya didalam.” ucap Rio yang melangkah masuk kedalam resort yang telah mereka pesan. Ia sebenarnya ingin beristirahat namun pembahasan tentang rencana mereka belum selesai, jadi setidaknya ia bisa merebah selagi mereka membahas.
“Apa yang terjadi?” tanya Jina menatap Rio ketika lelaki itu menghempaskan dirinya keatas sofa, Bima dengan santai duduk disamping Luis dan Astri, raut lelah juga terlihat di wajahnya ketika ia bersandar dan memejamkan matanya.
“Ceritanya pajang! Dan satu hal yang pasti, kita harus terus menjalankan tujuan awal kita. Karena kita tidak bisa lagi kembali kesana atau tidak bisa menyerah, kita ada dalam daftar pencarian sekolah saat ini.” Bima menjelaskan hal penting pada ketiganya, Astri berjalan mengambil lima buah gelas dan mengisinya dengan cola dari sebuah mesin pembuat cola yang tersedia disana.
“Daftar pencarian?” Luis bertanya seakan ia tidak mengerti dengan jelas apa yang dijelaskan oleh Bima barusan,
“Kita berlima masuk kedalam daftar pencarian karena telah merusak pagar pembatas sekolah yang sangat mahal, membuat alarm kebakaran palsu yang mengakibatkan kerugian waktu dan materil, memukul beberapa anggota kedisiplinan, melakukan penyadapan cctv ilegal, memecahkan kaca Aula B yang terbuat dari kaca bertekhnologi mutakhir, jadi kita telah melanggar aturan sekolah.” Jelas Rio yang bangkit dari posisi berbaringnya, “Oh dan satu lagi yang dilupakan, yang paling inti dari semua ini adalah kita kabur dari sekolah!” sambungnya dengan sebuah senyuman yang dibuat-buat seraya meminum cola yang ada dihadapannya.
“Tapi kenapa harus kita dimasukkan kedalam daftar pencarian?” Luis kembali bertanya, karena menurutnya semua ini tidak seburuk penjahat kejam yang harus dimasukan kedalam daftar pencarian.
“Karena kita adalah tersangka!” ucap Bima, Jina dan Astri yang awalnya biasa saja dengan pembahasan mereka, kini mulai terkejut dengan ucapan Bima.
“Tersangka? Bukankah kita tidak melakukan tindak kejahatan?” Jina merasa keberatan dengan statusnya saat ini, ia menatap Bima dengan serius. Dia merasa dirinya tidak bisa begitu saja dijadikan tersangka ketika tidak melakukan tindak kejahatan apapun.
“Bagi mereka, hal yang kita lakukan adalah sebuah kejahatan Jina.” Rio berucap seraya mengacak-acak rambutnya sendiri karena rasa penat di kepalanya. Jina hendak melayangkan protesnya kembali, namun Bima sudah terlebih dahulu berbicara,
“Meskipun aku menjadi tersangka, aku tidak akan berhenti menyelamatkan dunia! Itu pendirianku mulai dari saat ini.” dan ucapan itu sukses membuat keempatnya terdiam, Astri menggelengkan kepalanya dan berdiri dari tempat dimana ia duduk.
“Tidak!” ia berteriak dan mendapatkan tatapan heran dari teman-temannya, “Bukan hanya kau Bima, tapi meskipun kita menjadi tersangka, kita tetap tidak akan berhenti menyelamatkan dunia!” Astri menatap Bima dengan keyakinan penuh, ia mengepalkan tangannya dengan yakin. Maka setelah melihat nya Pemuda itu membalas ucapannya melalui sebuah anggukan dan senyuman, begitu pula dengan Rio, Luis dan Jina.
Hari dengan cepat berganti, diruang tengah resort seorang pemuda dengan jaket hitam yang dikenakannya tengah sibuk mengutak-atik sebuah benda hitam kecil yang bentuknya sedikit mencurigakan. “Pagi Luis, apa itu?” sapa Jina yang baru saja keluar dari kamarnya dan mengikat rambutnya dengan sebuah kawat elastis, ia menghampiri Luis yang berkutat dengan benda tersebut.
“Pagi Jina, aku sedang membenarkan Projektor.” Jawabnya dengan tangan dan mata yang masih terfokus pada benda tersebut, Jina menghela nafasnya ketika ia duduk di sebrang Luis.
“Itu tidak terlihat seperti projektor, apa fungsinya?” Jina kembali bertanya, Luis berhenti dengan kegiatannya dan menatap Jina yang menatapnya kebingungan. Luis menunjuk-nunjuk benda tersebut,
“Fungsinya adalah untuk Alat Presentasi, Pemutar Video dan Media Informasi.” Luis menjawabnya seraya mengangkat kedua sudut bibirnya, memperlihatkan senyuman mengejek pada Jina. Jina merasa seperti di ejek oleh lelaki itu, ia melipat kedua tangan didadanya dan menegakkan duduknya.
“Bukan itu maksudku, aku tahu fungsi Projektor yang utamanya. Namun, untuk apa kau membawa projektor? Apakah kita akan melakukan sebuah persentasi?” kini Jina bertanya dengan lebih spesifik dengan sedikit kesal, Luis mengangguk-angguukkan kepalanya pelan tidak menyerah untuk menggoda Jina kembali.
“Hanya Rio yang tahu.” Jawabnya singkat, Jina memanyunkan bibirnya dan menghentakkan kakinya beberapa kali kelantai lalu pergi meninggalkan Luis yang tertawa puas karenanya. Rio yang baru saja keluar dari kamarnya sempat mengerenyitkan dahi mendengar tawaan Luis yang terbilang kencang, ia menghampiri sumber suara dan bertanya,
“Kau kenapa Luis?” ia mengambil kursi disebrang meja yang Luis pakai, duduk di tempat yang sama dengan Jina sebelumnya.
“Tidak, aku hanya bercanda saja dengan Jina.” Rio mengangguk pelan seraya menuangkan air yang tersedia disebuah botol kedalam gelas. Luis tiba-tiba terdiam sesaat, ia memperhatikan Rio yang sedang meneguk air dengan serius.
“Ada apa?” Rio hampir tersedak melihat Luis yang menatapnya seperti itu,
“Apakah ini akan berhasil?” Luis kembali menundukkan kepala, mengutak-atik Projektor tersebut dengan peralatan kecil miliknya. Rio menyimpan gelasnya keatas meja, dan ikut memperhatikan alat yang sedang Luis tangani.
“Ini adalah cadangan, Jika nanti kita tidak didengar maka kita akan menggunakan benda itu.” ucapnya,
“Benda apa?” Tiba-tiba Astri yang penasaran pun ikut masuk kedalam pembicaraan kedua pemuda ini, Luis menggelengkan kepalanya dan terdiam sementara Rio hanya tersenyum seolah tidak ingin Astri mengetahui apa yang mereka bicarakan. “Kenapa kalian menyembunyikan sesuatu? Apa itu? Mengapa aku tidak boleh tahu?” berturut-turut Astri melontarkan pertanyaannya seakan-akan ia kecewa jika benar ada yang kedua pemuda ini sembunyikan darinya.
“Kau akan mengetahuinya nanti...” Rio bangkit dari duduknya dan pergi menuju toilet meninggalkan Astri yang terdiam, ia menatap Luis yang terlihat jelas tidak ingin membuka suara. Sebal dengan hal itu, Astri berjalan keluar menghampiri Jina yang terlihat duduk diteras depan sendirian.
“Mengesalkan, mengapa mereka menyembunyikan suatu hal dari kita?” gerutu Astri duduk disamping gadis itu, Jina meliriknya dan tersenyum samar.
“Ku rasa mereka tidak ingin kita merasa cemas atau khawatir Astri, biasanya jika Rio mempunyai suatu hal yang ia sembunyikan. Itu berarti benda tadi adalah rencana cadangan jika kita gagal!” Astri terdiam menatap taman yang diselimuti rumput dan tanaman sintetis yang mampu membuat hatinya merasa sedikit tenang meskipun itu semua palsu.
“Aku tidak suka dengan suatu hal yang disembunyikan.” Astri berkata dengan tatapan yang masih menatap lurus kedepan, Jina menghela nafasnya dan menengok kearah Bima yang ternyata sudah berdiri dibelakang kursi Astri.
“Ayo bersiap, kita akan berangkat setengah jam lagi!” ucap Bima yang sukses membuat Astri terdiam kaget, ia melirik Jina yang mengangguk dan berdiri dari tempatnya pergi bergegas meninggalkan Astri dan Bima.
“Percayakan semuanya pada Rio, kuyakin dia tidak akan mengecewakan kita.” Bima menepuk kedua bahu Astri sebelum berjalan pergi dari tempat itu. Lama ia terdiam di tempat dengan beribu pikirannya, akhirnya Astri menatap kearah langit yang ditutupi oleh awan, entah itu awan hujan ataupun polusi yang ada dilangit namun yang jelas awan itu terlihat gelap dan Astri berharap tidak akan ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada mereka hari itu.
To Be Continued