bab 4

1339 Words
        Niken merasakan dadanya sangat sesak saat mengingat masa kecilnya, dia merindukan Khalil yang selalu ada untuk dirinya. Merindukan sosok lelaki pemberani yang rela mendapatkan cemoohan dari geng yang terkenal sangat berandalan semasa duduk di bangku SMA, hingga pening itu menyerang Niken tertidur pulas diatas tempat tidurnya. Sementara Khalil baru saja selesai membereskan beberapa pakaiannya ke dalam koper yang akan dia bawa ke bandung untuk melakukan pencarian, sudah tiba waktunya lelaki itu untuk menjemput adik kesayangannya.           Saat langkah kakinya tepat di depan pintu sepupunya itu, Khalil membuka pintu kamar Niken untuk berpamitan tetapi keberuntungan bukan pada lelaki itu. Pintu kamar Niken terkunci dari dalam, Khalil hanya menghela nafas mungkin nanti pada saat lelaki itu sampai di Bandung akan langsung menghubungi sepupu kesayangannya itu.            Khalil melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, sementara Sabrina sudah menyiapkan beberapa menu makanan kesukaan keponakannya itu yang akan dimakan pada saat diperjalanan. Khalil mencium punggung tangan Ummah Sabrina, lalu perempuan paruh baya itu memeluk keponakan kesayangannya yang sudah dia anggap seperti putranya sendiri.           “Hati-hati dijalan nak, ingat selama kamu disana jangan telat makan dan jangan tidur malam-malam. Bawalah adikmu ini ke rumah ini, kami akan selalu menerima kalian kapan pun kalian datang.”           “Terima kasih Ummah, tapi di Bandung sudah ada rumah yang akan Khalil tinggali bersama adikku nantinya. Ummah juga sehat-sehat disini dan jaga terus kesehatannya jika Khalil tidak ada, tolong jaga Niken titip adik kesayangan Khalil.” Setelah mengucapkan itu Khalil menarik kopernya dan meninggalkan rumah itu, supir yang bertugas untuk mengantar Khalil ke bandara sudah menunggu di mobilnya.           Disepanjang perjalanan Khalil hanya menatap layar walpaper ponselnya, dimana seorang gadis berumur 15 tahun sedang tersenyum kearah kamera. Tatapan mata gadis itu membuat Khalil rindu sekali ingin segera bertemu dengan adik kesayangannya itu, dan memeluknya. tak terasa tetesan air mata membasahi pipinya karena kerinduan yang amat sangat mendalam. ------           Ditempat lain Khadijah dan teman-temannya sedang diperjalanan menuju pesantren tempat wanita mereka mengajar, tak perlu memakan waktu lama mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Khadijah turun duluan dan berjalan meninggalkan kedua sahabatnya. Sulis hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat sahabatnya berjalan lebih dulu.           Khadijah memasuki ruang guru untuk mengambil beberapa buku hadist untuk dia bawa ke kelas mengajarnya, Fazmi yang baru saja sampai di ruang guru pun melihat Khadijah mencari sesuatu lalu menghampirinya.           “Afwan, ustadzah Khadijah, ukhti mencari apa yah? Biar ana bantu mencarikan barang yang hilang, karena sebentar lagi jam pergantian pelajaran akan selesai?” tanya Ustaz Fazmi pada wanita di depannya itu.           “Begini ustadz, ana mencari buku Fatimah Az-Zahra. Kemarin sih masih ada meja ana, tapi sekarang kemana yah,” lirih Khadijah sambil terus mencari di mejanya.           “Coba ukhti cari pelan-pelan, dan ingat-ingat apakah ada yang meminjam buku tersebut. Karena sejak tadi pagi saya tidak melihat buku itu, tetapi kalaupun emang hilang kan bisa ukhti membelinya lagi.”           “Tidak, ustadz Fazmi, karena di dalam buku itu ada barang yang bisa membawa saya pada kakak kandung saya. Tapi setau saya, kemarin sebelum saya pulang masih disini masa iya sih hilang begitu saja.”           Sementara Sulis dan Fatma baru saja sampai di depan ruang guru, mereka berdua melihat Khadijah yang sangat panik mencari sesuatu. Akhirnya mereka berdua menghampiri Khadijah lalu menenangkan gadis itu, sementara Fazmi membantu mencari di meja guru-guru yang lain hingga ketukan pintu membuyarkan mereka berempat.           “Masuk aja kali Noer, oh iya apakah kamu melihat buku Fatimah Az-Zahra milik Khadijah?” tanya Fazmi pada lelaki yang dihadapannya.           “Oh buku Fatimah Az-Zahra, kemarin saya yang menemukannya di taman samping aula masjid. Pas saya lihat nama yang tertera di buku itu akhirnya saya taruh lagi di dalam laci meja. Sebentar saya ambilkan,” Noer berjalan ke mejanya dan membuka laci untuk mengambil buku tersebut. Sementara Khadijah langsung menghampiri Noer dan merebut buku itu.           “Syukron Jiddan ustadz Noer, karena sudah menemukan buku kesayangan saya ini. Huh! Jika saya tidak menemukan buku ini maka pupus sudah harapan selama ini.”           “Apa pentingnya buku itu ustadzah, perasaan di toko buku saja sudah banyak yang menjualnya. Kenapa tadi kamu sepanik itu, apakah ada sesuatu yang penting dalam novel itu.”           Khadijah yang mendengar ucapan Ustadz Noer membuat hatinya sangat sakit, perempuan itu berbalik menuju pintu lalu berlari membawa buku itu keluar dari ruang guru, sementara Sulis dan Fatma hanya berpandangan satu sama lain. Mereka sudah tau semua rahasia yang selama ini sahabatnya sembunyikan, bahkan setiap perempuan itu membaca buku Fatimah Az-Zahra selalu saja menangis. Apalagi satu buah poto yang terselip di buku itu sangatlah berarti untuk Khadijah. -----           Tepat Adzan Ashar berkumandang, lelaki itu menapaki Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara. Menghirup udara sore yang sangat segar, ini kedua kalinya lelaki itu menapaki tanah kelahirannya. Khalil duduk diruang tunggu bandara, lalu sambil menunggu seseorang yang menjemputnya lelaki itu memejamkan matanya. Mengingat sepotong kenangan kecil dimana Abinya itu selalu mengajaknya jalan-jalan, bahkan menemaninya untuk belajar setiap malamnya. Tetesan liquid membasahi pipi lelaki itu mengingat kilasan kenangan terindah yang dia miliki.           ”Ummi, Abi, doakan putramu ini. Semoga Khalil bisa menjemput putri kesayangan kalian saat ini. Ridhoi langkah kaki putramu ini Bi, Ummi, semoga kalian tenang di alam sana.”           Riko memakai jas hitam dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya menghampiri Khalil yang sedang duduk sambil memejamkan matanya, lelaki itu menepuk pundak sahabatnya, merasakan ada yang menepuk pundaknya Khalil segera membuka matanya dan tersenyum kearah seseorang yang tepat disebelahnya. Riko tersenyum dan mengambil alih koper yang dipegang Khalil, mereka berdua berjalan kearah mobil yang sudah terparkir tak jauh dari mereka berdua duduk diruang tunggu.           “Kita akan kemana dulu,pak Khalil?” tanya Riko saat memasukan koper milik atasannya itu kedalam bagasi mobilnya.           “Sebaiknya kita menuju lokasi yang kamu berikan dulu, kita lihat dari jarak jauh saja baru kamu bisa antarkan saya ke apartement nantinya untuk istirahat!” perintah Khalil pada Riko orang kepercayaannya selama ini.           Setelah keduanya memutuskan untuk menuju rumah dimana salah satu keluarga dari Alm. Ummi Aisyah, Khalil memasuki mobil itu lalu memejamkan matanya untuk mengistirahatkan sejenak karena tiba-tiba rasa penat menganggu konsentrasinya. Sepanjang perjalanan Riko melirik ke arah bangku penumpang dimana atasannya itu tengah tertidur, senyuman terukir di bibir Riko.           Selama ini atasan atau sahabatnya itu selalu semangat untuk mencari keberadaan adiknya, bahkan dengan sengaja menyuruh beberapa anak buahnya mencari di pelosok indonesia untuk menemukan adik kesayangannya itu. Dengan kecepatan sedang akhirnya mobil hitam milik Riko sudah sampai di komplek perumahan, lelaki itu sengaja hanya memantau dari jarak kurang lebih 100 meter yang tak jauh dari rumah Alm. Ummi Aisyah. Riko yang hendak membangunkan sahabatnya itu merasa tidak tega melihatnya, tetapi tatapan lelaki itu masih menyusuri salah satu pintu gerbang yang terbuka. ----           Khadijah yang merasa dirinya tidak tenang untuk mengajar akhirnya memutuskan untuk izin pulang terlebih dahulu, di sepanjang jalan dirinya hanya diam tanpa mengucap sepatah kata apapun. Tetapi wajahnya itu memancarkan kesedihan ketika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, mobil Sulis akhirnya sampai di depan pintu gerbang rumah Khadijah.           “Sudahlah, Khadijah, ku tau bagaimana keadaanmu saat ini. Tenangkan pikiranmu sekarang, dan istirahatlah besok kan kamu harus kembali mengajar lagi.”           “Tapi Sulis, itu tidak mudah buatku untuk melupakan kejadian tadi. Jika buku itu benar-benar hilang bagaimana jadinya untuk mencari keberadaan kakakku, apalagi semua anak buah paman saja tidak menemukan dimana keberadaan mereka!” lirih Khadijah sambil mengusap kedua matanya yang sudah basah.           “Afwan, Khadijah sudah membuat kamu menangis. Yasudah sekarang kita sudah sampai, ingat kamu harus tetap berdoa semoga kakak kamu baik-baik saja yah! Dan kami pamit dulu untuk kembali ke pondok pesantren.”           “Syukron, Sulis dan Marsya sudah mau mengantarkan aku. Dan Fii amanillah yah!”           Setelah mengucapkan itu Khadijah keluar dari mobil putih milik Sulis dengan memegang buku kesayangannya, dan melambaikan tangannya ketika mobil itu sudah jauh dari pandangannya. Sementara Riko, lelaki itu membangunkan Khalil untuk melihat siapa wanita yang sedang berdiri di depan gerbang rumah itu. Pandangan Khalil tertuju pada perempuan yang tengah melambaikan tangan sambil tersenyum, Khalil yang berniat untuk turun dari mobil itu tetapi tangannya di tahan oleh Riko. Lelaki itu menjelaskan fakta yang dia ketahui mengenai gadis itu, semua masa lalu tentang Khadijah adik dari Khalil. Lelaki itu sudah mengetahui dari beberapa anak buah yang tersebar di lokasi ini, bahkan Riko sudah mencari tau dari tempat dimana Khadijah sempat dirawat saat kecelakaan pesawat itu terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD