bab 5

1265 Words
        Khadijah melangkahkan kakinya memasuki rumahnya langsung disambut oleh teriakan dari keponakan tersayangnya, gadis kecil berumur tiga tahun langsung berlari dan memeluk kaki Khadijah sambil tertawa renyah. Khadijah menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu lalu menggendongnya, pipi gembul dan Khimar yang menutupi rambutnya serta bibir imut yang membuat siapa saja gemas terhadap gadis kecil itu. Badannya yang berisi membuat Khadijah ingin mencubitnya.           Diana berjalan menghampiri keponakannya itu dengan membawa makanan untuk putri kesayangannya, Khadijah menciumi punggung tangan Diana begitupun perempuan itu mencium puncuk kepala Khadijah. Perempuan itu langsung menyuruh Khadijah masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian, Dicky yang melangkahkan kakinya menuju ruang tamu tatapannya terfokus pada keponakannya itu lalu menghampirinya.           “Khadijah, kamu sudah pulang, Nak!”           “Iya, paman, baru saja sampai tadi diantar oleh Sulis. Oh iya, tumben paman sudah pulang bukannya harusnya besok atau lusa baru pulang yah dari dinas luar?” tanya Khadijah lalu duduk di ruang tamu.           “Paman memang memilih pulang lebih awal, karena tidak mungkin kan harus berlama-lama meninggalkan kalian semua disini.”           Khadijah hanya mengangguk, setelah bercanda gurau dengan keponakan kesayangannya. Khadijah meminta izin untuk beristirahat dikamarnya, hari ini dirinya sangat lelah sekali karena kejadian hari ini. Perempuan itu duduk di pinggir ranjangnya lalu mengambil buku novel Fatimah Az-zahra kesayangannya, buliran air mata membasahi pipinya saat melihat sepucuk surat yang terselip dari buku itu.           Surat yang ditulis oleh sang Ummi sebelum hari itu tiba, hatinya terasa sakit setiap mengingat kejadian itu. Khadijah kembali mengatur nafasnya perlahan-lahan, dadanya kembali sakit setiap kembali mengingat beberapa tahun yang lalu. Dengan cepat tangannya mengambil sesuatu di atas nakasnya dan mulai meminum obat itu, perempuan itu mengingat pesan Alm. Oma-nya agar tetap mencari keberadaan kakaknya yang sampai saat ini tidak dia ketahui. ****           Khalil bangun lebih awal dan bersiap dengan pakaian casualnya, dengan tatanan rambut yang rapih membuat ketampanannya tidak terkalahkan. Sementara Riko masih saja terlelap dalam dunia mimpinya, membuat Khalil mempunyai ide yang jail untuk sahabatnya itu. Lelaki itu ke berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air dan sedikit garam, dengan langkah perlahan Khalil mendekati Riko.           Tangan jailnya itu menaburkan garam ke mulut sahabatnya itu, lalu tangan kirinya yang memegang segelas air putih diguyurnya tepat di wajah Riko. Membuat lelaki yang masih tertidur itu langsung terjatuh dari ranjangnya. Riko merasakan bibirnya asin dan melempari bantal ke arah Khalil.           “Ya elah Khalil, kalau ngebangunin orang jangan pakai akal jail juga kali. Asin tau!” ketus Riko dengan tatapan datarnya.           “Yasudah, buruan mandi dan temani saya untuk kembali ke rumah itu lagi. Oh iya satu lagi, sarapan sudah saya belikan dan ada di meja makan.” Khalil berjalan meninggalkan sahabatnya itu.           Sementara Riko berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Khalil duduk di ruang tamu dengan memakan sarapan paginya sambil menunggu sahabatnya itu selesai mandi. Riko yang sudah selesai dengan acara membersihkan dirinya berjalan keluar kamar, lelaki itu duduk di samping Khalil dengan tangan yang memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Khalil yang sedang makanpun terganggu dengan aktivitas sahabatnya itu, lelaki itu pindah tempat duduk dengan membawa cemilannya tetapi kalah cepat dengan pergerakan Riko yang merebut cemilan itu dan berlari.           “Riko! Kembalikan cemilannya.” Perintah Khalil dengan berkacak pinggang, sementara Riko hanya tertawa sambil memakan cemilannya lalu berlari menghindari lelaki itu.           Khalil langsung mengambil jaket kulitnya dan berjalan keluar apartemen itu untuk mencari udara segar, Riko yang melihat Khalil meninggalkan dirinya langsung mengambil kunci mobil dan kacamata hitam untuk mengikuti sahabatnya itu. Setelah menutup pintu apartementnya, dengan langkah cepat lelaki itu memasuki lift dan menekan tombol basement untuk mengambil mobilnya.           ****           Sementara di kediaman Dicky seorang wanita berhijab sedang bersiap untuk kembali beraktivitas walaupun kondisinya masih kurang vit, gadis itu sedang duduk menunggu jemputan kedua sahabatnya. Mobil putih berhenti di pekarangan kediaman Dicky dan mulai membunyikan klakson, Khadijah berlari menuju mobil itu dan memasukinya lalu duduk di bangku penumpang.           Sulis akhirnya menyalakan kembali mesin mobilnya, lalu mobil tersebut keluar dari pekarangan rumah Dicky. Sehabis melakukan sholat subuh Khadijah memang sengaja untuk tidak tidur kembali, karena dalam beberapa hadis yang pernah Khadijah membaca lebih tepatnya larangan tidur setelah sholat subuh. “Sungguh jika aku mendengar bahwa seorang itu tidur di waktu pagi maka aku pun merasa tidak suka dengan dirinya”. (HR. Ibnu Abi Syaibah 5: 222 no. 25442 dengan sanad yang shahih).           Yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah setelah melaksanakan shalat subuh, mereka duduk di masjid hingga matahari terbit.           Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendoakan waktu pagi sebagai waktu yang penuh keberkahan. Yang artinya ; “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606, Ibnu Majah no. 2236 dan Tirmidzi no. 1212. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)           Oleh sebab itu Khadijah sengaja mencari aktivitas yang rutin dilakukan setiap pagi, salah satunya membantu membuat sarapan ataupun menyiram tanaman dihalaman belakang. Diana ataupun Dicky memang sengaja membuat taman dihalaman belakangnya karena mengingat Alm. Kakak ipar bahkan sekarang putri kesayangannya itu sangat menyiukai bunga-bunga, dengan telaten Khadijah merawatnya hingga halaman belakang itu tertata rapih.           Disepanjang perjalan menuju pesantren dimana ketiganya mengajar, karena kecerobohan Sulis saat menyetir membuat mobil yang tengah terparkir di hadapannya itu tertabrak karena ulahnya sendiri. Khadijah yang terkejutpun akhirnya menatap kedua sahabatnya itu, Sulis dan Fatma keluar dari mobil sementara Khadijah sedang merapihkan khimarnya yang sedikit berantakan  dan pergelangannya tangannya karena kecerobohan sahabatnya itu.           Khalil yang sedang memainkan ponselnya terkejut karena mendengar suara decitan mobil dari arah belakang, Riko yang sedang menerima telpon pun akhirnya keluar dari mobil dan melihat posisi belakang mobilnya. Bemper belakang mobilnya rusak parah akibat benturan dengan mobil dibelakangnya, dengan amarah yang memburu lelaki menghampiri siapa pelaku yang sudah menabrak mobilnya itu.           Sulis dengan rasa takut yang berkecambuk akhirnya menghampiri lelaki yang sedang berjalan kearahnya sambil menundukkan pandangannya,sementara Khadijah perempuan itu berdiri dibelakang kedua sahabatnya sambil menatap lelaki itu dan menundukkan pandangannya. Khalil keluar dari mobil itu dengan memakai kacamata, Riko menghampiri Khalil dan mengatakan jika bemper mobil belakangnya rusak karena ulah perempuan dihadapannya itu. Khadijah maju ke depan sambil menundukkan pandangannya.           “Afwan, Kak, tadi kami tidak sengaja menabrak mobil milik teman kakak. Soalnya kami juga sedang terburu-buru.” Khadijah memilin khimarnya, sementara Khalil yang sedang berbicara pada Riko akhirnya memutuskan untuk melihat siapa wanita dihadapannya itu.           “Ah, iya tidak masalah, lagi pula ini juga bukan kesalahan kalian. Tapi ini adalah salahnya temen saya yang parkir sembarangan, yang terpenting kalian tidak ada yang luka atau perlu saya antar ke klinik terdekat dari sini?” tanya Khalil dengan melepaskan kacamatanya dan tersenyum kearah Khadijah.           “Hah, tidak perlu kak, karena kita juga harus buru-buru untuk segera sampai di pesantren. Kalau begitu kami pamit dulu, Assalammu’alaikum.”  Setelah mengucapkan itu pandangan keduanya bertemu dengan terburu-buru Khadijah memasuki mobilnya dan tak sengaja gelang kaki yang dipakainya putus begitu saja.           Mobil yang ditumpangi Khadijah meninggalkan kedua lelaki itu, Khalil yang hendak memasuki mobil langkahnya terhenti lalu membalikkan badannya menuju tempat dimana adiknya tadi berdiri. Aroma parfum masih tercium saat kedua matanya terpejam, Riko menghampiri sahabatnya dan tak sengaja menginjak sesuatu. Lelaki itu menundukkan pandangannya dan mengambil benda yang tidak sengaja dia injak, Riko mengambilnya dan memberikan benda itu pada Khalil.           “Benarkan apa yang ku katakan, jika perempuan itu adalah adikmu dan benda ini akan menjadi bukti kuat kita untuk mengungkapkan pada perempuan itu.”           Khalil mengambil barang itu dan tersenyum, saat dirinya mengingat dimana dulu Umminya pernah menunjukkan gelang kaki itu yang akan dipakaikan oleh adiknya. Dimana nama Khadijah yang sengaja Khalil berikan pada saat adiknya itu terlahir, ditempat lain Khadijah termenung memikirkan siapa lelaki itu, kenapa wajahnya sangat mirip dengan Alm. Abinya. Apakah benar dia adalah selama ini yang dia cari, apakah orang itu adalah kakak kandungnya atau bukan. Khadijah memejamkan matanya tidak sengaja tetesan airmata itu membasahi niqobnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD