bab 6

1381 Words
        “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’ 32]             Hari demi hari dilewati oleh Khadijah, perempuan itu setiap pulang mengajar selalu menyempatkan untuk mencari keberadaan kakak kandungnya itu. Bahkan perempuan itu mengatakan sejujurnya pada Dicky, bahwa sebulan yang lalu sempat bertemu pria yang mirip dengan Alm. Abinya. Dicky awalnya syock mendengar ucapan keponakannya itu, mungkinkah itu adalah putra bungsu yang selama ini dia cari. Jika itu memang keponakannya maka sudah sepantasnya harus mengikhlaskan jika Khadijah kembali kepada keluarga besar dari kakak iparnya itu.           Ditempat lain Rayhan tengah mempersiapkan kepergiannya untuk kembali mengurus perusahaan cabang di pekanbaru, seperti halnya saat ini ketika sedang merapihkan kopernya Islah selaku sekretarisnya di Rehan crop menghubunginya sejak pagi-pagi buta. Rayhan sengaja tidak merespon telpon bahkan e-mail yang dikirim oleh sekretarisnya itu, karena ingin menghabiskan sisa waktunya selama dibandung bersama kedua orang tuanya.           Ummi Nazwa memasuki kamar putranya dengan membawa nampan berisi s**u coklat panas beserta roti selai kacang kesukaan putra semata wayangnya, perempuan paruh baya itu mengetuk kamar putranya dengan senyuman. Rayhan yang mendengar ketukan pintu akhirnya membukanya lalu meraih nampan yang dibawa Umminya untuk di taruh di nakas, Nazwa tersenyum dan meraih koper milik putranya itu.           “Kamu yakin, Nak, akan kembali ke pekanbaru besok?” tanya Ummi Nazwa pada putranya itu sambil memasukkan baju kemaja dan beberapa jas milik Rayhan.           “Na’am,Ummi, Rayhan akan bekerja kembali nanti hari senin. Dan tenang saja putra kesayanganmu ini akan tetap kembali ke rumah ini.” Rayhan meraih setumpuk roti kesukaannya lalu menggigitnya.           “Apakah tidak sebaiknya kamu secepatnya menikah dan melupakan cinta kamu kepada Maryam,Nak. Karena tidak seharusnya kamu masih menyimpan rasa pada wanita itu!”           Rayhan yang mendengar ucapan Umminya itu tidak sengaja tersedak makanannya, Ummi Nazwa meraih segelas s**u coklat panas lalu memberikannya kepada putra semata wayangnya itu.           “Kenapa Ummi mengatakan itu, Rayhan memang sudah siap menikah. Tetapi bukan dalam waktu dekat, karena masih banyak tander yang harus Rayhan menangkan saat ini.”           “Tapi,Nak, alangkah baiknya kalau kamu ada mengurus nanti di sana. Apa perlu Ummi carikan calon istri untukmu.”           “Sudahlah Ummi, biar Rayhan saja yang mencari. Lagi pula sepertinya hati Rayhan sudah memilih seseorang wanita yang bertemu di masjid beberapa minggu lalu.”           “Baiklah kalau itu yang kamu mau, dan ini semuanya sudah siap barang-barang kamu,Nak. Ayo kita sarapan dulu karena Ummi sudah memasakkan makanan kesukaan kamu,Nak.”           “Ayo, Ummi, tau aja kalau putra kesayanganmu ini sudah lapar sekali.” Rayhan merangkul Ummi Nazwa dan berjalan keluar dari kamarnya, Ummi Nazwa sangat menyayangi putra semata wayangnya itu bahkan walaupun menurut Rayhan dia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi menurut pandangan orang tua seorang anak yang beranjak dewasa akan tetap menjadi anak kecil kesayangannya. ******           Di pekanbaru seorang wanita berkhimar tosca sedang membaca kiriman e-mail yang dikirim oleh anak buahnya itu, tatapannya terfokus pada layar laptopnya bahkan amarahnya sengaja dia tahan. Suruhannya itu mengirim beberapa informasi mengenai Khalil dan keluarga dari Alm. Bibinya itu, siapa sangka ternyata adik dari Khalil masih hidup hingga saat ini. Niken menaruh laptopnya di samping tempat duduknya lalu menelpon anak suruhannya itu, dengan amarah yang ada perempuan itu memerintahkan untuk terus mengikuti gerak-gerik dari keluarga alm. Bibinya itu.           Rencananya tidak boleh gagal untuk menguasai semua harta dari keluarga Khalil, Niken tersenyum licik. Selama ini perempuan itu sengaja memperkerjakan beberapa anak suruhannya di perusahaan yang saat ini dikelola oleh Khalil, perempuan itu sengaja membuat laporan keuangan menurun drastis seperti saat ini. Karena rincian pengeluaran uang perusahaan sengaja anak buahnya kirim tanpa sepengetahuan Abi dan Khalil.           “Assalammu’alaikum.” terdengar suara salam dari arah pintu depan, Abi Sadam baru saja pulang dari dinas luar kota dengan muka yang sangat kusut. Niken menghampiri Abinya lalu mencium punggung tangannya. Ummi Sabrina yang mendengar suara suaminya akhirnya keluar dari arah dapur, perempuan itu meraih tas kantor suaminya lalu mencium punggung tangan suaminya.           “Wa’alaikumussalam, Bi, loh! Kenapa muka Abi kusut begitu apakah ada masalah di kantor lagi?” tanya Ummi Sabrina pada suaminya itu, sementara Abi duduk di ruang tamu lalu memejamkan matanya sebentar. Niken yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi teh madu kesukaan Abinya tak lupa cemilan dan roti bakar.           “Iya,Bi, ceritakanlah pada kami siapa tau Niken punya solusi untuk memecahkan masalah itu.”           “Begini Ummi,Niken, belakangan ini pengeluaran perusahaan cabang mengalami penurunan drastis. Bahkan Khalil saja belum tau masalah ini, bagaimana Abi bisa menyampaikan masalah ini pada dirinya!”           “Kalau menurut Niken, Kak Khalil itu kan belum terlalu bisa mengurus untuk masalah perusahaan. Bagaimana kalau Niken turun tangan di perusahaan cabang,Bi.” tawar Niken dengan senyuman kelicikannya.           “Benar Bi, anak kita kan dia fakultas administrasi keuangan. Kenapa kita tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk belajar turun ke dunia bisnis, nantinya putri kita juga akan menjadi penerusmu, Bi.”           Abi Sadam mempertimbangkan usulan Niken dan istrinya itu, apakah benar untuk membawa putrinya terjun ke dunia bisnis dari sekarang. Karena dirinya saja masih kuliah semester 5 dan mana mungkin bisa mengheandle bisnis seperti yang dirinya dan Khalil kerjakan. *****           Setelah solat Ashar Khalil bersiap untuk menuju kediaman Alm. Ummi Aisyah, lelaki itu memakai baju kemeja merah lengan panjang dan celana jeans putih dengan kacamata bertengger di hidungnya menambahkan khrisma ketampanan lelaki itu terpancar dari wajahnya. Riko yang berdiri disampingnya hanya tersenyum menatap aura bahagia dari sahabatnya itu, ini lah yang selama ini sahabatnya tunggu-tunggu untuk bertemu dengan adik kandungnya.           Khalil berjalan keluar dari apartementnya bersama dengan Riko disampingnya dengan membawa beberapa berkas mengenai penyelidikan Khadijah selama ini, dan beberapa dokumen asli mengenai kedua orang tua dari Khalil dan Khadijah. Mobil sedan berwarna hitam itu membelah jalanan kota kembang itu, keduanya senantiasa mendengarkan radio sambil fokus terhadap jalanan. Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil sedan itu sampai di pintu gerbang kediaman rumah alam. Ummi Aisyah. Khalil bersama Riko keluar dari mobil dan menemui satpam yang menjaga rumah itu.           Satpam mengijinkan lelaki itu masuk kerumah milik Dicky, sementara di ruang tamu Dicky dan putri kecilnya sedang asik bermain sambil menonton televisi. Diana yang sudah diberitahu oleh satpam jika ada dua orang laki-laki yang ingin menemui suaminya itu akhirnya mempersilahkan keduanya masuk, Dicky yang sedang duduk di sofa terkejut karena kedatangan lelaki yang sangat mirip dengan kakak iparnya itu.           “Kak Adam, ka,, kakak masih hidup.” Dicky tak percaya bahwa di depannya seorang laki-laki yang mirip seperti kakak iparnya itu.           “Assalammu’alaikum, perkenalkan saya Muhammad Khalil As-Shabri, Putra dari alm. Abi Adam dan Ummi Aisyah.” Khalil membuka kacamatanya dan tersenyum melihat pamannya itu. Sementara Diana yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi 4 gelas minuman dan cemilan hampir saja terjatuh karena terkejut.           “Wa’alaikumussalam, jadi benarkah kamu kakak dari Khadijah?” tanya Diana sambil menaruh nampan di meja yang tersedia lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.           ”Afwan, bibi, paman, karena Khalil baru menjemput Khadijah selama ini. Karena akses pencarian dari beberapa anak buah dari paman Sadam dan anak buah Khalil tidak sama sekali menemukan jejak keberadaan dirinya, tetapi berkat mata-mata yang sengaja saya suruh untuk stanby di kota ini dan mencari data-data tentang Khadijah akhirnya baru saat ini menemukan titik akhir.” Khalil menatap paman dan bibinya berkaca-kaca, sementara Dicky langsung memeluk keponakan kesayangnya itu.           Betapa bahagianya akhirnya lelaki itu dapat bertemu kembali dengan Khalil yang selama ini tinggal bersama keluarga dari pihak Adam, lelaki itu melepaskan pelukannya kepada keponakannya itu dan menuju ruang kerjanya untuk mengambil beberapa berkas dari arsip kelahiran Khadijah dan beberapa berkas rumah sakit beberapa tahun lalu mengenai kondisi keponakan kesayangannya itu. Dalam hatinya Khalil sangat bahagia karena Allah sudah mengabulkan semua do’a-do’anya selama ini, dia tinggal menunggu kedatangan Khadijah saja saat ini.           Khadijah yang sudah pulang dari jam dua siang perempuan itu sengaja mengurung dirinya di kamar sambil membayangkan siapa lelaki yang mirip dengan Abinya itu, ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan perempuan itu, Khadijah berjalan menuju pintu lalu membukanya sambil membetulkan niqobnya.                 Diana mengatakan jika seorang laki-laki ada yang ingin menemui keponakan kesayangannya itu, Khadijah memikirkan siapakah sosok laki-laki itu. Apakah Ustadz Fazmi yang menemuinya atau lelaki lain, dalam hati Khadijah merasakan debaran yang sangat kencang. Perempuan itu menghela napas sebelum keluar dari kamarnya, Khadijah menutup pintu kamarnya dan berjalan beriringan dengan Diana.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD