“ Kebahagiaan yang paling indah adalah ketika Allah mempersatukan kembali mutiara dalam hidup kami.”#Khalil
Langkah kaki seseorang membuat Khalil dan Riko langsung memandang ke arah tangga dimana dua orang wanita berhijab syar’i menuruni anak tangga, salah satunya Khalil perkirakan mungkin dia adalah adiknya yang selama ini dia cari. Siapa lagi kalau bukan Siti Khadijah gadis manis dengan mata yang sedikit sipit, wajah anggun dan lesung pipi di sebelah kanan membuat Riko tidak berkedip sama sekali.
Hal itu mengakibatkan Khalil mencubit tangan kanan sahabatnya itu dan memberikan tatapan tajam pada Riko. Diana menyuruh Khadijah duduk di sebrang Khalil, perempuan itu masih menundukkan wajahnya. Khalil yang bahagia karena bertemu adiknya itu hanya dapat tersenyum lalu menaruh beberapa lembar poto alm. Abi dan Umminya.
Khadijah mengambil lembaran poto itu dan menatapnya bergantian, rasanya dia tidak percaya bahwa lelaki di depannya itu mempunyai poto mendiang kedua orang tuanya. Dengan tangan bergetar Khadijah mengangkat pandangannya dan melihat wajah lelaki di depannya itu, mulutnya terbuka dan airmatanya menetes begitu saja.
“A,, abi,,” lirih Khadijah dengan pundak yang bergetar, sementara Diana merengkuh tubuh mungil keponakannya itu.
“Siti Khadijah, ka,, kamu masih hidup dek?” tanya Khalil dengan tatapan berkaca-kaca, Lelaki itu berdiri dan menghampiri adiknya itu. Sementara Khadijah dia masih tidak percaya pada kenyataan ini.
“Khadijah, nak, dia adalah kakak kandung kamu bernama Khalil. Dia sangat merindukan dirimu nak, dan dia kesini membawa beberapa berkas asli kepemilikkan Alm. Ummi dan Abimu.”
Khadijah mengusap airmatanya dan melihat kearah sampingnya dimana kakak kandungnya itu sedang duduk sambil merentangkan kedua tangannya, Khadijah yang masih merasa canggung dengan perlahan memeluk erat tubuh kakak kandungnya itu. Kebahagiaan terpancar dari wajah kedua keponakannya itu, Diana dan Dicky tersenyum dan merasa bahagia karena Allah telah kembali mempersatukan kembali kedua keponakannya itu.
Dicky menghela napasnya sebentar dan meminum minuman yang dibuatkan oleh istrinya, lelaki itu menatap Khalil dan menceritakan kronologi mengenai kecelakaan itu, bahkan sampai alm. Nenek dari Khadijah mencari segala cara untuk menyelamatkan penerus dari keluarga Aisyah. Hingga saat Khadijah koma selama kurang lebih satu tahun semenjak kejadian kecelakaan itu, dan dokter sudah pasrah akan keadaan pasiennya.
Diana yang senantiasa membantu nenek Aminah untuk menjaga Khadijah, hingga malam itu datang dimana dokter menjelaskan jika Khadijah tidak terselamatkan. Keluarga itu hanya pasrah saja, tapi Allah maha besar atas kuasanya Khadijah dapat terselamatkan walaupun beberapa luka di wajahnya harus di operasi beberapa hari kemudian.
Khalil yang mendengarkan fakta terbaru mengenai perjalanan hidup Khadijah merasakan sangat perih, namun kuasa Allah akhirnya lelaki itu bisa kembali memeluk adik kandungnya. Khadijah tersenyum dan memejamkan matanya tepat dipelukan hangat Khalil. Riko menjelaskan bagaimana Khalil selama beberapa tahun ini mencari jejak Khadijah sampai dirinya menemukan titik akhir, Khalil berterima kasih kepada Dicky dan Diana yang sudah merawat adik kesayangannya itu.
“Kalau begitu sekarang sudah tugas Khalil untuk menjaga Khadijah,Paman.”
“Iya,Nak, tugas paman tinggal satu. Melihat Khadijah dan dirimu menikah bersama orang yang kalian cintai!” ucapan Dicky membuat Khadijah dan Khalil tersenyum satu sama lain.
“Kenapa Kakak baru menjemputku sekarang, apakah kakak tau selama ini Khadijah selalu bermimpi jika ucapan Abi dan Ummi itu tidaklah benar.”
“Memang Ummi dan Abi berbicara apa pada dirimu?” tanya Khalil sambil mengusap puncuk kepala Khadijah.
“Abi dan Ummi bilang,” Khadijah menjeda ucapannya “Kasih tau engga yah apa yang Ummi dan Abi katakan?” tanya Khadijah sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagu.
“Oh, jadi begitu kamu tidak mau menceritakan apa yang Abi dan Ummi katakan. Yasudah Kakak lebih baik kembali ke pekanbaru saja!” Khalil melepaskan pelukan Khadijah lalu mengambil kunci mobil yang terletak di meja. Khadijah menatap Khalil dengan wajah berkaca-kaca, Diana dan Dicky begitu juga dengan Riko sengaja meninggalkan ruang tamu untuk memberikan ruang kepada keduanya.
“Abi,, Ummi,,” lirih Khadijah sambil menghentak-hentakkan kakinya. Khalil tersenyum melihat tingkah laku adiknya itu, lelaki itu tak kuat untuk menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Khadijah. Dengan tangan jahilnya Khalil memotret wajah Khadijah yang sangat lucu bagi dirinya.
“Hehe,, Afwan, dek, kakak hanya bercanda kok. Tapi kamu mau kan untuk ikut bersama keluarga besar Abi di pekanbaru?” tanya Khalil dengan hati-hati sambil memeluk adik kesayangannya itu, Khadijah mengusap airmatanya dan tersenyum.
“Asalkan kakak berjanji, tidak akan meninggalkan Khadijah lagi. Karena kata Abi banyak sekali saingan dalam dunia bisnis yang tidak menginginkan kehadiran Khadijah.”
“Kakak berjanji dek, karena dalam mimpi pun Abi berkata untuk terus menjaga dan melindungi anak manja tapi sholeha seperti dirimu.” Khalil mengecup kening Khadijah.
Ponsel Riko berdering, lelaki meminta ijin pada Diana dan Dicky untuk mengangkat telpon lalu berjalan menuju taman belakang. Anak buah Riko mengatakan jika perusahaan cabang sudah berpindah alih ketangan seseorang, bahkan keuangan yang selama ini melonjak tinggi itu adalah kecurangan dari salah satu keluarga Alm. Abi Adam sendiri.
Riko mengepalkan tangannya saat telpon itu terputus, besok mereka bertiga harus kembali ke pekanbaru untuk membereskan masalah besar ini. Bagaimana bisa perusahaan cabang yang seharusnya di kelola oleh Khadijah sudah berpindah tangan ke wanita ular itu. Riko berjalan masuk untuk menemui sahabatnya tetapi langkahnya terhenti karena melihat kehangatan keluarga yang selama ini Khalil cari. Lelaki itu berdeham membuat Khalil melepaskan pelukan kepada adiknya dan menatap sinis pada sahabatnya itu.
“Tenang dulu kakak Khalil, ini lebih penting untuk kau dengar saat ini.” Khalil menimpuk bantal sofa pada sahabatnya itu membuat Khadijah tertawa terbahak-bahak.
“Cepat katakan Riko!” perintah Khalil dengan tatapan yang mengintimidasi.
“Sebaiknya besok kita harus kembali, karena anak buah saya mengatakan jika tidak ada yang beres di perusahaan cabang.”
“Kakak pergi saja, biarkan Khadijah disini menunggu kakak kembali untuk menjemput,” lirih Khadijah sambil memainkan ujung khimarnya.
“Tidak, dek, kamu harus ikut sama kakak untuk bertemu dengan paman Sadam dan Ummah Sabrina. Beliau yang sudah merawat kakak selama Ummi dan Abi pindah ke bandung untuk mengelola bisnisnya disini, kakak harap kamu mau ikut yah.” Khalil menatap mata hazel Khadijah, sementara perempuan itu masih tidak sanggup untuk meninggalkan keluarganya disini.
“Benar yang dikatakan kakak kamu Khadijah, sebaiknya kamu ikut terlebih dahulu dengan dirinya. Karena rumah ini terbuka lebar untuk kedatangan kalian berdua keponakan kesayangan paman.” Dicky merentangkan kedua tangannya, Khadijah dan Khalil menghampirinya dan memeluk pamannya itu.
“Syukron paman, kami akan berkunjung kembali ke kota ini. Karena disini juga ada perusahaan milik alm. Abi, awalnya Khalil ingin tinggal berlama-lama disini tapi di pekanbaru, perusahaan cabang sedang bermasalah oleh sebab itu Khalil harus turun tangan melihat kondisi disana.”
“Tidak apa-apa Nak, karena tugas kamu lebih penting untuk tetap menjaga amanah dari Alm. Abimu untuk tetap menjalankan bisnisnya, semoga perusahaan cabang kondisinya tidak separah seperti cabang yang di bali bangkrut karena salah satu musuh alm. Abimu. Paman hanya ingin menitipkan Khadijah untuk kau jaga sampai tugasmu tergantikan oleh calon suami dari Khadijah nantinya.”
“Yasudah, sekarang kalian bisa istirahat. Menginaplah disini nak, besok pagi kalian akan kembali untuk ke pekanbaru!” perintah Diana pada keponakannya itu.
“Afwan, bi, malam ini kita akan kembali ke apartemen saja. Dan mempersiapkan barang-barang yang akan kami bawa ke pekanbaru, dan untuk kamu Khadijah jangan tidur malam-malam karena besok kita harus bertemu sanak saudara disana.” Khadijah menahan tangan Khalil dan menggelengkan kepalanya berharap jika sang kakak akan menginap malam ini, dengan napas berat akhirnya Khalil menganggukkan kepalanya menyetujui jika adiknya itu tidak ingin berada jauh dari dirinya kembali.
Sementara di pekanbaru Sadam dan Sabrina yang baru saja diberi kabar oleh keponakannya dan dikirimkan poto Khadijah, akhirnya kebahagiaan yang selama ini hilang telah kembali dengan adanya Khadijah pada keluarga besar Alm. Adam, Sabrina menyiapkan kamar kosong yang begitu luas dan menata beberapa barang dengan rapih untuk penyambutan keponakannya yang hilang itu. Niken yang baru saja beres makan melihat Umminya sedang merapihkan kamar yang sudah lama tidak ditempati itu sempat merasa curiga, dari pada penasaran Niken menghampiri Ummi Sabrina lalu memeluknya.
“Ummi, sibuk ngapain sih! Ini kan kamar sudah lama tidak ditempati kenapa harus di dekor lagi, kalau tahu begitu lebih baik Niken saja yang mengisi kamar seluas ini yah, Ummi,” ucap Niken dengan senyuman di bibirnya.
“Memangnya kamar kamu masih kurang luas,Nak?” tanya Ummi Sabrina sementara gadis kesayangannya itu hanya tersenyum.
“Lalu ini untuk siapa, bukankah kak Khalil masih di bandung. Ini sudah malam Ummi lebih baik ayo kita tidur!” niken mencoba menarik tangan Umminya untuk keluar dari kamar itu, sementara Abi Sadam sedang membawa beberapa pigura poto alm. Adam dan keluarga kecilnya.
“Bi, itu kenapa poto paman dan bibi dimasukkan ke kamar ini?”
“Iya,Nak, karena besok Khalil dan Khadijah akan kembali kerumah ini. Akirnya kedua putra dan putri penerus As-Shabri croup telah Allah pertemukan saat ini, oleh sebab itu kita harus menyambut mereka. Dan kamu Niken, kalau mau tidur duluan saja karena Abi dan Ummi masih sibuk!” perintah Abi Sadam pada Niken membuat perempuan itu menatap tidak suka kedua orang tuanya.
Perempuan itu berjalan menuju kamarnya sambil menghentak-hentakkan kakinya, kedua orang tuanya lebih memperdulikan adik dari Khalil itu dari pada putri satu-satunya. Niken tersenyum sinis dan menutup pintu kamarnya, perempuan itu mengambil berkas dokumen yang sangat berarti untuk menghancurkan keluarga dari alm. Abi Adam dan Ummi Aisyah termasuk menyingkirkan Khadijah untuk menyusul kedua orang tuanya.
Niken berjalan menuju jendela kamarnya lalu merogoh ponselnya yang berada saku gamis untuk menghubungi seseorang, senyum licik Niken saat anak buahnya sudah siap untuk memberikan hadiah kejutan atas kedatangan Khadijah akan dimulai besok pagi saat mereka sampai di bandara.