Bab 8

1635 Words
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”” (QS. Asy Syu’ara: 216).           Khalil terbangun untuk melaksanakan shalat tahajjud, lelaki itu keluar kamar tamu dan berjalan menuju lantai atas dimana kamar adiknya berada. Khalil berniat untuk mengajak adiknya melaksanakan shalat berjamaah, saat ingin mengetuk pintu ternyata pintunya sudah terbuka sedikit, Khadijah sedang melaksanakan shalat tahajjud dengan khusu.           Khalil tersenyum dan langkah kakinya membawa dirinya kedalam mushola yang berada tepat di sebelah kanan kamarnya, setelah mengambil air wudhu Khalil melaksanakan shalat tahajjud dan bermunajat pada Allah. Kebesaran atas nikmat yang Allah berikan kepada lelaki itu, dengan bantuannya lelaki itu dapat bertemu kembali dengan amanah dari sang Abi.           Tak terasa tetesan air mata membasahi pipinya setelah melaksanakan shalat, Khalil mengambil al-qur’an dan membaca surah Asy-syu’ara. Lantunan ayat suci al-qur’an terdengar begitu merdu oleh telinga Khadijah, perempuan itu melipat mukenanya dan bergegas memakai khimar untuk mengetahui siapa yang tengah membaca kalam suci di malam-malam seperti ini. Karena biasanya paman Dicky dan bibi Sabrina akan terbangun saat adzan subuh saja, dengan langkah perlahan Khadijah berjalan menuju sumber suara itu.           Khalil yang baru saja selesai membaca kalam suci Al-Qur’an lalu menaruh kembali ke rak buku yang tersedia, lelaki itu memperbaiki letak pecinya dan berdiri. Khadijah tersenyum sambil menganggupkan kedua tangannya di d**a, sosok kakak dan panutan yang selama ini dia impikan. Pengganti seorang Abi yang selama ini dia rindukan, Khadijah melamun dan tidak sadar jika Khalil sudah berada di depannya. Dengan jahil lelaki itu mencubit hidung mancung adik kesayangannya hingga merasa kesakitan.           “Aw, sakit Kak, akan Khadijah adukan pada Abi.” Khadijah langsung menundukkan pandangannya ketika mengingat alm. Abinya, bahunya bergetar membuat Khalil merasa salah karena menjahili adiknya itu. Lelaki itu langsung merengkuh tubuh adiknya lalu mengecup puncak kepala Khadijah dengan sayang.           “Kamu rindu Abi, dan Ummi kan kalau begitu sebelum kita ke bandara bagaimana untuk menemui mereka. Pasti Abi, Ummi bahkan nenek senang karena putra ganteng kesayangannya itu sudah menjemput putri cantik yang mereka sayangi.”           “Khadijah memang sering merindukan mereka kak, baiklah janji yah kalau sebelum ke bandara kita harus menemui mereka dulu, dan Khadijah akan menceritakan jika kakak sudah menyakiti hidung ini sampai merah,” gurau Khadijah sambil tersenyum.           “Baiklah, yasudah ambil air wudhu sekarang dan kita sholat berjama’ah!” perintah Khalil pada adiknya, sementara Khadijah memberikan hormat layaknya seperti petugas upacara.           Khadijah berlari ke kamarnya untuk mengambil air wudhu dan mukenanya, sementara Dicky dan Diana keluar kamarnya saat mendengar suara adzan yang merdu terdengar dari mushola di dalam rumah mereka. Kedua suami istri itu sudah siap untuk melaksanakan sholat subuh, Khadijah bersama Riko memasuki mushola itu dan mereka melaksanakan shalat subuh.           Dicky menyuruh Khalil untuk menjadi imam sholat hari ini, saat takbir berkumandang setiap bacaan sholat yang lelaki itu ucapkan Khadijah merasakan adem dalam hati kecilnya itu. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka beres melaksanakan sholat subuh, Khadijah mencium telapak tangan Khalil.           “Khalil, Khadijah, ada baiknya kalian sebelum berangkat lebih baik ziarah ke makam kedua orang tuamu terlebih dahulu. Karena selama ini yang Abimu tunggu sampai ajal menjemputnya adalah kamu,Nak!” perintah paman Dicky pada kedua keponakannya.           “Benar yang dikatakan paman kamu sayang, alangkah baiknya kalian kesana dahulu. Dan bibi akan membuatkan bekal kalian untuk di perjalanan, jangan lupa memberikan kabar ke kami jika kalian sudah sampai yah!”           “Tenang saja bibi, tadi sebelum sholat subuh juga baru saja Khalil dan Khadijah membicarakan ini. Kami akan menemui mereka sebelum berangkat ke bandara, dan setelah sampai di rumah paman Sadam kami akan senantiasa memberi kabar pada kalian. Terima kasih Paman, bibi, karena sudah merawat dan menjaga anugerah yang Allah berikan setelah kepergian Abi dan Ummi, kalau begitu Khalil masuk ke kamar dulu untuk mengganti pakaian.”           Khalil dan Riko melangkahkan kakinya menuju kamar tamu, sementara Khadijah berjalan ke dapur membantu Diana untuk membuat sarapan pagi seperti biasa. Dicky membereskan beberapa berkas mengenai perusahaan yang dia pegang, mungkin ini saatnya untuk memberikan hak sepenuhnya pada Khalil dan Khadijah. Karena ini amanah dari alm. Adam untuk memberikan seluruh aset perusahaan di Bandung kepada Khalil.           Sarapan pagi sudah selesai, Khadijah menuju kamar dimana kakaknya menginap. Saat tangannya ingin mengetuk pintu ternyata sudah terbuka, Khalil tersenyum dan merangkul Khadijah sambil menciumi pipinya.           “Geli kak, ayo cepat sarapan! Khadijah dan bibi sudah membuatkan makanan untuk kalian semua, baru setelah itu kita menuju pemakaman Abi dan Ummi.”           “Rik, sepertinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ummi dan Abi, padahal masih pagi sudah bawel sekali yah kamu.”           “iih, kakak, biarin Khadijah bawel juga. Orang kata Ummi keturunannya yang bawel hanya Khadijah, dari pada Kakak selalu saja serius engga ada senyumannya sama sekali.” Khadijah menjulurkan lidahnya dan berlari meninggalkan keduanya. Khalil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Khadijah, sementara Riko menatap Khadijah dan Khalil bergantian.           Sarapan pagi telah usai, Dicky menyuruh kedua keponakannya untuk menemui dirinya di ruang kerja. Khadijah merasa aneh karena pamannya tumben sekali ingin mengatakan hal yang penting pada dirinya, Khalil berjalan bersama Khadijah disampingnya. Dicky yang sedang menaruh berkas dihadapannya pun menyuruh Khadijah dan Khalil duduk di kursi tepat berhadapan dengannya.           “Ada apa paman, tumben sekali menyuruh Khadijah bersama kakak ke ruang kerja paman?” tanya khadijah dengan penuh rasa penasaran.           “Begini nak, berhubung kalian sudah kumpul kembali. Paman mau memberikan sesuatu untuk kalian, dan semoga kalian mau menerimanya yah.” Dicky menyodorkan 7 file berkas pada Khadijah dan Khalil.           “Apa ini paman?” tanya khalil dengan rasa penasaran membuka salah satu berkas dan membacanya.           “Sebelum alm. Abimu meninggal, beliau mewasiatkan perusahaan yang tengah berkembang saat ini dan Ummi juga mempunyai butik ternama di kota ini. Oleh sebab itu sudah saatnya Khalil dan Khadijah untuk meneruskan usaha bisnis kedua orang tua kalian, oh iya satu lagi salah satu dari file itu ada aset rumah dan ini kunci mobil sport yang Abimu punya.” Dicky menyodorkan kunci mobil, STNK, dan SIM pada keponakannya itu.           “P-paman ini sangatlah berlebihan. Di Pekanbaru dan Dumai juga perusahaan cabang dan pusat milik Abi yang tengah Khalil urus, bagaimana dengan waktu bersamaan Khalil bisa mengurus bisnis milik Abi yang ada dikota ini. Dan Khadijah dia apakah mau untuk meneruskan bisnis milik Ummi? Dek, apakah kamu mau meneruskan ini semua?” tanya Khalil pada Khadijah sambil menatap bolamatanya.           “Kalau kakak mengijinkan Khadijah untuk mengurus bisnis milik Ummi, Insya Allah Khadijah akan belajar tapi menurut kakak apakah ini tidak berlebihan Abi memberikan harta yang berlimpah. Sementara hidup kita sudah sangat berkecukupan kak, apa sebaiknya separuh dari harta yang kita punya sedekahkan pada panti asuhan, masjid, dan beberapa pondok pesantren.”           “Kamu benar juga dek, separuh harta yang kita punya akan disumbangkan bagi mereka. Insya Allah niat baik kita untuk bersedekah akan Allah permudahkan, dan ini demi menerangkan jalan Ummi dan Abi menuju surga yah!”           Dicky tersenyum dan bangga akan pemikiran kedua keponakannya itu, selain dewasa keduanya sama-sama memikirkan yang berada dibawah mereka. Karena sejak kecil keduanya selalu diajarkan untuk berbagi pada orang yang tidak mampu bahkan setiap hari jum’at Adam selalu menyantuni anak-anak yatim di sekitarnya.           Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 245 yang artinya; “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikemblikan.”           “Baiklah paman, kalau begitu kami pamit untuk ke bandara sekarang. Tapi sebelumnya Khadijah akan mengajak Khalil ke makam Ummi dan Abi terlebih dahulu.”           “Yasudah nak, hati-hati yah dijalan. Ingat pesan paman untuk selalu menjaga adikmu dan lindungi dirinya dari orang-orang yang selalu mengincar bisnis Abimu!”           Khalil tersenyum dan mencium punggung tangan Dicky, begitupun dengan Khadijah. Diana dan Riko sudah mempersiapkan koper kedua keponakannya itu untuk segera berangkat kebandara. Khadijah memeluk tubuh Diana sambil menangis, dan mengucapkan banyak terima kasih karena selama ini sudah menjaga dan menyayangi dirinya layaknya seperti keponakan kandungnya sendiri.           Setelah berpamitan pada Dicky dan Diana walaupun keduanya tidak ingin berpisah kembali dengan kedua keponakannya itu, namun dengan ucapan Khadijah membuat keduanya harus ikhlas melepas keponakannya itu. Mobil sedan hitam milik Riko membelah jalanan bandung, lelaki melajukan mobilnya menuju pemakaman umum di daerah bandung. Setelah sampai di lokasi, Khadijah sengaja membeli bunga dan air mawar di kedai yang berada di tempat pemakaman umum itu.           Khalil mengikuti setiap langkah Khadijah menuju pemakaman kedua orang tuanya, air matanya menetes kala melihat kedua batu nisan yang bersebelahan. Khadijah duduk di sebelah nisan kedua orang tuanya dan mulai membaca kalam Allah, Khalil mengusap batu nisan Ummi Aisyah dengan mata berkaca-kaca menahan rasa rindu yang teramat dalam.           “Ummi, Abi, lihatlah kami berdua sudah bertemu sekarang. Semoga kalian tenang di surga sana, titip salam rindu Khadijah kepada nenek yah. Khadijah merindukan kalian semua, rindu pelukan hangat Ummi dan Abi,” lirih Khadijah dengan memegang dadanya yang terasa sesak, Khalil menghampiri Khadijah lalu merengkuh tubuhnya.           “Assalammualaikum Abi, Ummi, maafkan Khalil yang baru pertama kali menemui kalian. Sekarang sudah menjadi tugas Khalil untuk terus menjaga dan melindungi Khadijah, kalian berdua tidak perlu takut. Khalil berniat untuk membagi separuh dari harta Ummi dan Abi untuk kaum duafa dan anak yatim, semoga niat kami berdua di beri kelancaran oleh Allah Mi,Abi. Khalil sudah ikhlas melepas kalian berdua, tunggu kami di pintu surga Ummi,Abi. Kalau begitu kami pamit dulu, Assalammualaikum.”  Setelah membacakan doa taz’ah dan menabur bunga di kedua batu nisan kedua orang tuanya Khalil mengajak Khadijah untuk kembali ke parkiran mobil dimana Riko sudah menunggunya.           Riko memasuki mobilnya kembali saat melihat Khalil dan Khadijah berjalan kearahnya, mobil sedan hitam itu membelah jalanan untuk meneruskan perjalanannya menuju bandara Husein Sastranegara. Tanpa menunggu waktu lama akhirnya mereka bertiga sampai di bandara, Khadijah merasa ketakutan hingga pelipis dan jari tangannya terasa dingin, dadanya tiba-tiba merasa sesak karena kurangnya oksigen saat mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Khalil yang melihat adiknya yang hampir limbung dengan cekatan lelaki itu menahan tubuh Khadijah sambil mengusap pipinya berkali-kali agar adiknya tetap dalam keadaan sadar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD