~ Ketika hati sudah merasa sakit karena tindakanmu, bahkan kau sendiri yang memulai semua permainan ini. Maka aku yang harus berjuang untuk mengakhiri semua permainan ini dengan caraku~ Khadijah.
Khadijah meremas perutnya yang tertutupi gamis tosca itu, bibirnya yang pucat dia gigit untuk menahan rasa sakit pada perutnya itu. Khalil yang tidak tega melihat adiknya kesakitan akhirnya berlari dan memeluk tubuh lemah itu, Khadijah menatap lelaki di pelukannya itu dan tersenyum sebelum kegelapan menjemputnya. Riko menghampiri Khalil lalu memberikan kunci mobil itu untuk membawa Khadijah ke rumah sakit terdekat, Khalil langsung meraih kunci itu dengan cepat lalu menggendong tubuh lemah Khadijah menuju mobil.
“Rayhan!!”
Riko memasuki kediaman orang tua Rayhan dengan rahang yang mengeras menahan amarah pada lelaki yang menjadi suami dari sahabatnya itu, sorot mata yang tajam mencari keberadaan lelaki itu saat ini. Deru mobil meninggalkan kediaman orang tua dari Rayhan, lelaki itu berjalan ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Riko yang melihatnya langsung memberikan sebuah bogeman pada pipi mulus Rayhan, darah segar keluar dari sudut bibir Rayhan.
“Sialan kamu Ray!”
“Heh siapa anda, berani sekali memasuki rumah saya!” bentak lelaki itu tak lupa mengusap sudut bibirnya yang terasa perih.
“Apa yang kamu lakukan pada Khadijah, kau bodoh yah! jangan kira kami semua tidak mengetahui perbuatan keji yang kau lakukan pada Khadijah adik dari Khalil, jika terjadi sesuatu pada nya ataupun janin yang ada di rahimnya jangan harap kau bisa bertemu kembali dengan keduanya!”
“Maksudmu, ja,, janin bagaimana, siapa yang hamil!” teriak Rayhan saat lelaki itu meninggalkan kediaman Rayhan setelah kacau dibuatnya.
Sedangkan lelaki itu yang tak lain adalah suami dari Khadijah hanya terdiam mendengar penuturan dari Riko. Pikirannya langsung saja tertuju pada wajah pucat dari istrinya itu, ya mungkin Rayhan sangatlah egois dengan mementingkan hidupnya saja bahkan tidak sama sekali memikirkan bagaimana nasib dari pernikahannya itu. apalagi saat ini istrinya sedang mengandung buah cintanya, apakah Rayhan harus bahagia atau tidak. Entahlah hanya dirinya yang bisa mengambil tindakan setelah kejadian ini.
****
Sementara ditempat lain, Khalil sudah menunggu di depan pintu IGD untuk mengetahui kondisi adik kesayangannya itu. Riko tengah menelpon anak buahnya untuk mengurus keberangkatan mereka bertiga kembali ke kota Pekanbaru, dua orang paruh baya berlari dilorong rumah sakit menuju ruang IGD. Raut wajah keduanya sangat panik saat mendapatkan berita dari pembantunya jika menantunya di dorong oleh anak semata wayangnya itu, Khalil yang melihat kedua mertua adiknya itu hanya tersenyum sinis.
“Untuk apa kalian datang kesini!” ketus lelaki itu.
“Nak, izinkan Ummi untuk bertemu Khadijah, dan kami berdua minta maaf atas perlakuan Rayhan pada istrinya,” ucap Ummi Nazwa dengan pipi yang sudah basah oleh airmatanya.
“Tidakkah cukup anak kalian menyiksa adik semata wayang saya!” bentak Khalil dengan amarah yang sudah tidak bisa dikendalikan, sementara Riko yang mendengar keributan di lorong IGD langsung menghampiri Khalil dan menenangkannya. Pintu IGD terbuka, mereka berempat langsung menghampiri dokter yang menangani Khadijah.
“Dokter bagaimana kondisi adik saya?”
“Dok, bagaimana kondisi menantu dan cucu saya?” pertanyaan bertubi-tubi yang di dapat oleh dokter itu dari pihak keluarga.
“Apakah kalian pihak keluarga dari pasien, karena saya akan langsung berbicara hanya pada suami pasien saja,” ucap dokter Vania yang menangani Khadijah.
“Saya suaminya dok,” ucap Riko yang langsung menghampiri dokter tersebut, sementara Khalil dan kedua orang tua Rayhan terkejut mendengar penuturan dari anak buahnya itu.
“Baiklah pak, apakah bisa ikut saya keruangan?” tanya dokter Vania pada Riko.
“Baik dok.”
Riko dan Dokter Vania meninggalkan ruangan IGD lalu menuju ruangan pribadi dokter itu, sementara Khalil dan kedua orang tua Rayhan hanya bisa berdo’a untuk keselamatan Khadijah dengan calon bayi yang ada dalam kandungannya itu. Khalil merasa gagal menjadi seorang kakak yang tidak bisa menjaga adiknya seperti keinginan alm. Kedua orang tuanya dulu, dalam keheningan malam Khalil beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang IGD dimana tempat adiknya sedang dirawat.
“Abi, kenapa harus seperti ini keadaan menantu kesayangan kita. Baru juga Ummi merasakan kebahagiaan yang tak ternilai atas kehadiran calon cucu kita, ini semua karena ulah anak kesayangan kita itu. Ummi sudah salah mendidik Rayhan, bi,” lirih Ummi Nazwa sambil memeluk suaminya itu.
“Ummi, tenang yah! Semoga menantu dan cucu kita selamat, ini juga salah Abi yang selalu saja tidak pernah perduli pada anak kita itu. dan akhirnya seperti saat ini, buah yang sudah kita tanam dalam diri anak kita saat ini tinggal menuainya saja Ummi.” Abi Rehan menenangkan istrinya, beberapa team medis mendorong brangkar milik Khadijah menuju kamar rawat inap yang sudah di siapkan. Kedua orang tua Rayhan mengikuti langkah kaki para medis itu menuju ruang rawat.
Sementara diruangan dokter, Riko mendengarkan ucapan dari dokter yang menangani Khadijah. Urusan kemarahan Khalil dan Rayhan biarkanlah nanti, yang terpenting dirinya mengetahui bagaimana kondisi dari adik sahabatnya itu. Riko menatap hasil USG yang diberikan oleh dokter itu, alangkah bahagia jika memang dirinyalah yang benar-benar menjadi suami dari perempuan itu, tapi nyatanya itu hanya bayangan semu saja.
“Begini pak, terjadinya benturan keras yang dialami oleh istri anda. Yang hampir mengakibatkan kehilangan janin dalam kandungannya, untung saja keluarga membawa ibu Khadijah sesegera mungkin. Jika tidak, maka bayi dalam kandungannya tidak bisa terselamatkan,” tutur Dokter Vania pada lelaki di hadapannya itu.
“Lalu bagaimana keadaan keduanya dok?”
“Alhamdulillah, Ibu Khadijah sedang istirahat saat ini. Akan tetapi kandungannya sangat lemah, jadi saya harap bapak selaku suami dan pihak keluarga yang lain dimohon untuk tidak terlalu membebankan pikiran si pasien. Oh iya sekali lagi selamat untuk kehamilan istri anda yang kembar.” Dokter Vania memberikan selamat pada suami dari pasiennya.
Duarr,,
Bagai bom yang sedang menghantam hatinya, Khadijah tengah hamil anak kembar bahkan hampir saja keguguran karena kecerobohan dari Rayhan. Riko mengepalkan tangannya lalu keluar begitu saja dari ruangan Dokter Vania setelah mengucapkan terimakasih, saat ini dirinya harus mencari keberadaan dari Rayhan untuk menghabisi lelaki biadab itu.
Ditempat lain, Rayhan tengah duduk di meja Bar salah satu diskotik dikota Bandung. Pikirannya kalut saat melihat bercak darah tepat dilantai saat Khadijah terjatuh, saat ini dirinya hanya ingin menenangkan pikiran dengan segelas wisky. Sudah dua kali dirinya meminum benda haram itu semenjak Maryam lebih memilih Noer, dan sekarang karena kebodohannya Khadijah dibawa kembali oleh keluarganya. Bagaimana jika Ummi Nazwa menanyakan ketika sampai dirumah nantinya, apa respon dari Abinya jika Rayhan putra kesayangannya kembali mengecewakan kedua orang tuanya.
Ponsel Rayhan berdering, tapi lebih terfokus pada gelas yang berisi wisky di genggamannya. Sudah hampir tiga botol minuman haram itu dihabiskan seorang diri, dalam satu pikirannya sekarang hanya ada satu nama yaitu Khadijah. Rayhan mengingat betapa pucat wajah istrinya itu, dengan langkah sempoyongan Rayhan meninggakan diskotik.
****
Bau obat-obatan memasuki rongga hidung wanita yang tengah terbaring di brangkar pesakitan itu, Khadijah mengerjapkan kedua bola matanya agar terfokus pandangannya. Tangan kanannya langsung mengelus perutnya yang sedikit membuncit itu, terukir senyum manis dibibirnya. Tanpa disadari oleh Khadijah, Riko yang berada dalam satu ruangan dengan dirinya hanya bisa tersenyum melihat pemandangan di depannya itu.
Pintu ruangan Khadijah terbuka menandakan jika ada seseorang yang memasukinya, Khalil langsung menghampiri adiknya dan tak lupa mencium kening dengan rasa sayang. Airmata Khadijah membasahi pipinya, bibirnya kelu saat mengingat kejadian sebelum dirinya jatuh pingsan.
“Jangan kau pikirkan lelaki b******n itu, Dek,” ucap Khalil dengan ketus.
“Kenapa Kak Khalil bisa ada di Bandung ? bukankah, sudah Khadijah katakan jika disini baik-baik saja!” lirih Khadijah sambil membuang muka kearah lain.
“Kau bilang ini baik-baik saja, mendorongmu dengan kasar bahkan hampir saja membunuh kedua calon keponakanku!”
“A-apa maksud Kakak?” tanya Khadijah dengan gemetar.
“Afwan, karena saya ikut campur. Jadi begini Khadijah, sebenarnya kamu sedang hamil anak kembar. Dan keadaan kalian bertiga kemarin malam sangatlah tidak baik, hampir saja janin itu tidak selamat jika saja kami datang terlambat untuk menolongmu.”
“Kakak, tidak mungkin kan semua yang dikatakan oleh Riko. Jawab Khadijah, Kak!” teriak Khadijah dengan histeris, Khalil merengkuh tubuh adiknya lalu mengusap punggungnya yang gemetar. Sudah saatnya Khalil untuk kembali membawa Khadijah ke pekanbaru demi menyelamatkan janinnya yang lemah hingga waktu kelahiran nanti, dirinya akan membuat Rayhan menderita lebih parah lagi dengan ini.
“Tenangkan dirimu terlebih dahulu, kalian bertiga baik-baik saja. Tapi berjanjilah dengan Kakak untuk ikuti semua keputusan ini demi keselamatan anakmu, kita akan kembali ke Pekanbaru setelah kamu sembuh dari sini. Dan satu hal lagi, ceritakan semua sikap acuh suamimu itu pada kedua orang tuanya. Mertuamu menunggu diluar sekarang ini, Kakak dan Riko akan mengurus administrasi terlebih dahulu yah!”
Khalil dan Riko meninggalkan Khadijah yang sedang mencerna semua ucapan Kakaknya itu, sementara Ummi Nazwa dan Abi Rehan memasuki ruangan dengan wajah yang bersalah karena tidak mengetahui perilaku bodoh anak kesayangannya itu. Ummi Nazwa duduk di kursi samping berangkar Khadijah lalu menggenggam tangan menantu kesayangannya itu.
“U-ummi, di-dimana Mas Rayhan?” tanya Khadijah terbata-bata.
“Nak, maukah kamu jujur pada Ummi masalah rumah tangga kalian ini. Anggaplah Ummi sebagai ibu kandungmu, jangan sungkan menceritakan semuanya pada Ummi.”
“Afwan¸ U-ummi, jika selama ini Khadijah sangatlah tidak sempurna dimata Mas Rayhan, selama menikah beliau selalu acuh sama Khadijah bahkan saat dimalam pengantinpun meninggalkan kamar hotel entah kemana Ummi. Khadijah setiap pagi selalu memasakkan sarapan bahkan makan malam tapi selalu tidak disentuh oleh Mas Rayhan, maafkan Khadijah karena tidak bisa menjadi istri dan menantu yang diharapkan oleh Ummi dan Abi, ijinkan Khadijah untuk kembali pada keluarga di Pekanbaru sampai kedua anak kami lahir nantinya,” ucap Khadijah sambil mengusap perutnya.
“M-maksud kamu nak, dua anak ? berarti calon cucu Ummi dan Abi kembar , Nak?” tanya Ummi Nazwa dengan raut sangat bahagia sedangkan Khadijah hanya menganggukkan kepalanya.
“Pikirkan kembali keputusanmu, Nak. Abi dan Ummi tidak melarangmu untuk kembali pada keluarga, tapi alangkah baiknya utarakan semuanya pada Rayhan terlebih dahulu,” ucap Abi Rehan yang dari tadi hanya diam, Khalil yang mendengar perkataan Abi Rayhan dari luar hanya bisa mengepalkan tangannya dan langsung memasuki ruang rawat adiknya setelah mengurus administrasi.
“Apa yang perlu dibicarakan kembali Bapak Rehan yang terhormat!” ketus Khalil.
“Kakak, apa yang diucapkan Abi benar juga. Karena saat ini Khadijah masih sah menjadi istri dari Mas Rayhan, karena surganya Khadijah saat ini adalah suami. Ijinkan Khadijah untuk berbicara pada Mas Rayhan sekali saja,” pinta Khadijah.
“Baiklah jika itu mau kamu, tapi ingat apapun keputusan suamimu itu nanti. Tetap Kakak akan membawa paksa kamu kembali kerumah mendiang Abi dan Ummi!” perintah Khalil, suasana ruangan semakin panas. Riko memilih untuk keluar kamar rawat Khadijah untuk membeli secangkir kopi di kantin, dari arah datangnya rumah sakit Riko melihat seorang lelaki sedang berjalan sempoyongan bahkan bibirnya sedikit merancau. Dengan sedikit berlari untuk memastikan apakah benar yang dilihatnya adalah suami dari Khadijah atau bukan, dugaannya benar ternyata Rayhan dengan wajah kusut dan bau alkohol menyeruak di hidungnya.
“Punya nyali juga lelaki b******n!” ketus Riko dengan tangan yang mengepal.
“Di mana kamar Khadijah, saya suaminya ingin melihat bagaimana kondisi istri dan anak saya?” tanya Rayhan sambil menepuk pundak Riko.
“Masih pantaskah lelaki seperti anda disebut suami!” Rayhan melihat salah satu suster yang berjalan di sepanjang rumah sakit lalu memberhentikannya.
“Sus, bolehkah saya tahu dimana ruangan Ibu Siti Khadijah?”
“Bapak silahkan naik lift ada di lantai tiga, ruang VVIP pintu kedua sebelah kanan,” ucap suster itu lalu meninggalkan Rayhan dan Riko dilorong rumah sakit.
“Tidak semudah itu bertemu dengan Khadijah!” Riko menarik kerah baju Rayhan lalu memukulnya dengan membabi buta, hingga pekikan seorang suster memenuhi lorong sampai tim keamanan melerai perkelahian keduanya.
“Mohon maaf pak, ini adalah rumah sakit bukan untuk mencari keributan. Sebaiknya bapak keluar jika masih ingin berkelahi,” ujar salah satu satpam
“Saya disini hanya ingin menemui istri saya Khadijah yang sedang dirawat!” ketus Rayhan lalu membenahi penampilannya.
“Baiklah, suster antarkan bapak ini untuk keruang rawat istrinya!” perintah satpam itu lalu meninggalkan tempat kejadian.
Suster dan Rayhan menaiki lift menuju lantai tiga dimana ruangan VVIP berada, sementara di depan ruang rawat Khadijah sudah berdiri Khalil dengan memainkan ponselnya untuk menghubungi salah satu relasi bisnisnya di Pekanbaru. Pintu lift terbuka lalu suster pamit undur diri untuk kembali bekerja, sementara Rayhan dengan menundukkan pandangannya berjalan menuju ruang rawat Khadijah.
Khalil yang mendengar langkah kaki seseorang lalu menatap penampilan Rayhan jauh dari kata rapih, bahkan bau alkohol tercium walau hanya jarak satu meter saja. Khalil berdiri di depan Rayhan lalu menampar pipi suami dari adiknya itu, kilatan amarah terpancar dari mata elangnya. Jika tidak ingat kalau lelaki dihadapannya adalah adik ipar maka sudah mati sejak dulu, bahkan Khalil tidak segan-segan untuk menghancurkan perusahaan milik keluargan Rayhan Farhan.
Tangan kanan Rayhan terus menggenggam jari-jari tangan istrinya, wajah pucat dan perut yang semakin membuncit. Tidak menghilangkan kecantikan dari wajah Khadijah, dicium kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Khalil yang melihat kedua insan manusia berada diambang batas perpisahanpun memilih untuk keluar dari ruangan penuh obat-obatan itu.
Khadijah merasakan tangannya seperti di genggampun akhirnya membuka matanya perlahan, pandangan yang pertama dia lihat adalah wajah suami yang dia cintai selama ini tetapi malah menyakitinya secara perlahan dengan perubahan sikapnya setelah menikah. Bulir airmata membasahi pipi tirus dari Khadijah, Rayhan yang melihat itupun mengusap pipi pujaan hatinya itu.
“Jangan menangis karena pria bodoh ini, maafkan semua kesalahanku ini Khadijah. Saya menerima semua keputusan yang diambil oleh kamu, tapi izinkan suamimu ini untuk tetap mencintaimu hingga hembusan nafas terakhirku ini,” lirih Rayhan dengan pandangan berkaca-kaca.
“M-mas Rayhan kenapa berkata seperti itu, dan i-ini kenapa muka Mas memar ?” tanya Khadijah bertubi-tubi sambil memegangi pipi suaminya.
“Luka ini belum sebanding dengan yang saya torehkan pada hatimu, jika saya meminta satu permohonan saja pada istri ku ini. Apakah boleh?”
“Walaupun Mas Rayhan sudah menggoreskan luka pada hati Khadijah, tetapi dalam Rahim ini tengah bersemayam buah hati kita,” lirih Khadijah lalu menaruh tangan Rayhan diatas perutnya yang sudah membuncit, haru menyelimuti hati kecil calon Abi.
“Maafkan Mas karena sudah menelantarkan kalian selama ini, dan selama enam bulan ke depan perusahaan yang berada di Banjarmasin sedang dalam keadaan anjlok. Abi memerintahkan Mas untuk mengurus perusahaan cabang disana, jika kamu mau ikut silahkan saja. Karena semua keputusan ada pada tanganmu,” ucap Rayhan.
“Khadijah tidak akan ikut menemani lelaki b******n seperti anda bapak Rayhan Farhan yang terhormat!” ketus Khalil setelah memasuki kamar Khadijah dengan muka yang dingin.
“Kak, tapi Mas Rayhan adalah suami Khadijah. Tidak baik jika dirinya berangkat sendiri keluar kota, ijinkan Khadijah mengikuti langkah kaki suami ya, Kak,” lirih Khadijah.
“Khadijah, malam ini juga kita harus kembali ke Pekanbaru. Dan kamu akan dirawat oleh Ummah Sabrina dan juga Kakak disana, lagi pula lelaki b******n ini sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri. Ingat semua sikap bodoh lelaki itu, kakak tidak mau sampai kamu malah lebih memilih dia dan mengikuti ucapan manis lelaki itu!”
Khadijah merasakan dilema pada keadaan seperti ini, sementara Rayhan merasa sadar bahwa dirinya sangat jauh dari kata baik. Selama ini hanya memberikan penderitaan saja, Rayhan memilih untuk meninggalkan ruang rawat Khadijah setelah mencium kening istrinya itu. Haruskah kisah cinta keduanya harus kandas dengan cara mementingkan egonya masing-masing, kenapa penderitaan ini belum cukup membuat Khadijah merasakan arti kehilangan lagi.