Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tepat hari ini dua bulan Khadijah dan Rayhan tinggal di kota kembang, dimana suaminya itu sudah membeli rumah yang nyaman dan tak jauh dari rumah mertuanya. Khadijah merasakan perubahan sikap pada suaminya, dirinya hanya bisa memendam rasa sakitnya karena diacuhkan oleh Rayhan.
Khadijah hanya bisa melamun mengingat saat-saat Rayhan memperlakukannya dengan baik, tapi apa saat ini yang dia rasakan semua itu hanya angan-angan saja. Sejak kakinya menginjakkan kota kembang, hanya perhatian dan kasih sayang dari Ummah Nazwa dan Abi Rehan saja. Rayhan selalu pulang terlambat bahkan berangkat kerja saja tidak mencicipi sarapan buatannya itu, miris memang jika dirinya harus menceritakan kehidupannya setelah menikah kepada keluarganya.
Khadijah berjalan menuju kamarnya untuk membereskan tempat tidurnya itu, tadi selepas solat subuh dirinya langsung menuju dapur untuk membuatkan sarapan suaminya walaupun tidak disentuh sama sekali olehnya. Khadijah merasakan tidak enak badan sudah beberapa hari ini, bahkan makanan yang dimakan olehnya pun selalu dimuntahkan kembali karena rasa mual itu datang. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi berdiri, pandangannya mulai buram dan saat itu juga Khadijah langsung ambruk di lantai kamarnya.
Rayhan yang baru saja keluar dari rumahnya, dia memeriksa kembali berkas yang ada di tasnya. Rayhan kelupaan dengan ponsel yang tertinggal di kamarnya, dirinya membalikkan badan dan langsung memasuki rumahnya kembali untuk mengambil barang yang tertinggal. Saat sampai pintu kamarnya baru dirinya tidak mendengar suara Khadijah, langkah kakinya berjalan menuju meja yang tak jauh dari tempat tidurnya.
“Khadijah kemana, tumben biasanya jam segini masih di dapur. Sudahlah ngapain juga memperdulikan dirinya, lebih baik berangkat sekarang sebelum terlambat untuk rapat.” monolog Rayhan sambil mengotak-ngatik ponselnya, langkah kakinya berjalan menuju saklar lampu yang berada tepat di samping pintu kamarnya.
“Itu kan kaya kakinya Khadijah,” gumam Rayhan, lelaki itu berjalan menuju ranjangnya dan betapa terkejutnya melihat Khadijah yang terkapar di lantai. Dengan rasa yang khawatir akan kesehatan istrinya itu, Rayhan langsung menggendong istrinya lalu membawanya ke klinik yang tak jauh dari rumahnya.
Sepanjang perjalanan menuju klinik, Rayhan hanya merampalkan doa sebelah tangannya mengusap kepala istrinya yang tertutup khimar. Bagaimana tidak khawatir pada kesehatan istrinya itu, setiap hari dirinya sangat acuh pada Khadijah bahkan seperti mencoba menghindarinya secara perlahan. Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai Rayhan sampai di klinik itu, dengan cekatan Rayhan keluar dari mobilnya dan berlari menuju samping kemudinya untuk menggendong Khadijah.
“Bersabarlah Khadijah, sebentar lagi kamu akan ditangani sama dokter.” Rayhan membawa istrinya menuju UGD, suster menahan Rayhan yang akan memasuki ruangan serba putih itu. Dering ponsel Rayhan berbunyi membuat lelaki itu menjauhi pintu UGD untuk menerima telpon dari perusahaannya, sementara di dalam ruangan itu Khadijah baru saja siuman dengan kepala yang masih terasa pusing, dokter memeriksa denyut nadinya dan tersenyum.
“Ini dimana? Dan saya kenapa Dok?” tanya Khadijah dengan raut yang sangat takut.
“Ibu tenang saja, ini diklinik dan saya ucapkan selamat atas kehamilannya yang berjalan minggu ke 6, dan kedua janinnya dalam keadaan sehat wal’afiat,” ucap dokter wanita yang merawatnya itu, senyuman Khadijah terpancar dari bibirnya tetapi detik itu juga senyumannya pudar.
“Dok, saya mau tanya yang membawa saya kesini siapa yah?”
“Sepertinya suami ibu, soalnya tadi mukanya terlihat akan raut kecemasan. Saya akan kasih beberapa vitamin yang akan ibu konsumsi semasa kehamilan yah, oh iya jangan lupa kontrol setiap bulannya yah.”
“Baik dok, oh iya sama mohon jangan katakan perihal kabar ini terlebih dahulu sama suami saya yah,” lirih Khadijah sementara dokter itu hanya mengangguk saja lalu setelah memberikan resep padanya. Dokter yang menangani Khadijah pamit untuk keluar dari ruangan itu, Rayhan yang baru saja selesai menerima telpon langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan istrinya itu.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya?”
“Tenang saja pak, istri anda hanya kecapean saja. Dan saat ini yang ibu Khadijah butuhkan hanya banyak istirahat saja,” ucap dokter itu dengan senyuman.
“Lalu, apakah saya boleh melihatnya saat ini?”
“Silahkan saja pak, saya permisi kalau begitu.” Dokter Vanisa langsung meninggalkan Rayhan, sementara laki-laki itu langsung memasuki ruangan sang istri. Khadijah yang melihat pintunya terbuka hanya bisa tersenyum kearah suaminya itu, Rayhan menghampiri Khadijah lalu mencium keningnya.
“Mas, kok kamu belum berangkat?’
“Bagaimana saya bisa berangkat, jika melihat kamu pingsan di kamar tadi dan wajah kamu sangat pucat!” ketus Rayhan pada Khadijah, membuat perempuan itu menundukkan pandangannya. Rayhan mengusap pipi istrinya lalu membantunya untuk bangun dari tempat tidur.
“Sebaiknya biarkan saya yang mengantar kamu pulang ke rumah Ummi dulu dan istirahat disana, dan jangan membantu Ummi mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu yang terpenting kesehatan kamu yang paling utama.”
“Baik mas, tapi jangan ketus gitu dong berbicara sama istri. Kenapa sih Mas Rayhan tiba-tiba berubah saat sudah menikah?” tanya Khadijah dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Rayhan yang melihat perubahan raut wajah istrinya itu dengan buru-buru mengusap pipinya dan mencium keningnya.
“Hufh, maaf yah karena Mas belakangan ini banyak masalah di kantor jadi malah kamu yang kena imbasnya. Sekarang kita kerumah Ummi dulu yah, nanti sore Mas akan menjemput kamu,” bujuk Rayhan pada istri kesayangannya itu. Keduanya melangkahkan kaki menuju parkiran, sebelumnya Rayhan sudah mengurus administrasi milik istrinya itu. Sepanjang perjalanan menuju kediaman kedua orang tua Rayhan, Khadijah mengusap perut ratanya dengan senyuman yang selalu dia berikan. Rayhan hanya fokus pada jalanan, sekretarisnya terus saja menelpon Rayhan membuat lelaki itu mensilent ponselnya.
****
Khalil bersama anak buahnya Riko sudah tiba di Kota Bandung, mereka baru sampai langsung menuju kediaman Khadijah. Tetapi sayang seribu sayang, kediaman adiknya itu tidak ada siapapun bahkan sangat terlihat kosong. Kemanakah adiknya itu bersama keluarganya, Khalil menyuruh Riko untuk melacak keberadaan adiknya dengan bantuan anak buahnya yang tidak jauh posisi dari kediaman keluarga Rayhan.
Riko sudah menceritakan semua perubahan sikap Rayhan pada Khadijah semenjak mereka tinggal di kota ini, sesuai data dari mata-matanya Rayhan kerap acuh pada Khadijah. Oleh sebab itu saat ini keduanya berada di Kota Bandung untuk melihat sendiri sikap Rayhan yang semena-mena.
Mobil Rayhan baru saja sampai dikediaman orang tuanya, Ummi Nazwa menyambut dengan hangat kedatangan anak dan menantunya. Rayhan mengatakan jika Khadijah sedang sakit dan baru saja keluar dari klinik terdekat, Ummi Nazwa menatap putra semata wayangnya dengan tatapan mengintimidasi.
“Ray, jelaskan pada Ummi kenapa Khadijah bisa seperti ini!”
“Sudah dulu ya Ummi marah-marahnya, karena Rayhan jam sepuluh pagi ada rapat jadi sekarang putramu ini pamit dulu. Assalammu’alaikum,” setelah mencium telapak tangan Umminya dan berpamitan pada istrinya Rayhan meninggalkan kediaman orang tuanya.
“Nak, coba jelaskan pada Ummi kenapa wajah kamu bisa sepucat itu?”
“Afwan, Ummi, sebenarnya Khadijah sedang mengandung 6 minggu. Dan keadaan kedua cucu Ummi sehat wal’afiat,” lirih Khadijah, membuat raut wajah Ummi Nazwa berbinar. Bagaimana tidak, kehadiran dua cucu sekaligus yang sudah ditunggu-tunggu selama ini akhirnya sudah berada di kandungan menantu tersayangnya itu.
“Alhamdulillah, Nak, Ummi sangat bahagia mendengar kabar ini. Dan apakah Rayhan sudah tahu tentang berita ini?”
“Mas Rayhan belum tahu tentang berita ini Ummi, karena tidak mungkin memberitahunya saat kami diperjalanan kesini. Sepertinya nanti saat kepulangan dari kantor saja Khadijah akan menceritakan kabar bahagia ini Ummi,” ucap Khadijah dengan senyuman.
“Yasudah sebaiknya kamu istirahat saja, dan jika kamu mengidam apapun itu jangan sungkan untuk memberitahu pada Ummi yah!” perintah Ummi Nazwa mendapat anggukan dari menantunya itu, Ummi Nazwa mengantarkan menantunya menuju kamar putra semata wayangnya itu untuk beristirahat. Ummi Nazwa memberikan masukan untuk menantu kesayangannya itu agar menjaga pola makan dan asupan gizi yang dikonsumsinya, bahkan beberapa recommendasi dokter kandungan diberitahukan olehnya dengan antusias.
****
Malam hari pun tiba, Rayhan belum kembali dari kantornya. Bahkan Khadijah kerap menelponnya tetapi tidak juga diangkat, Khadijah merasakan perutnya bergejolak akhirnya berlari menuju kamar mandi. Wajahnya dibasuhi oleh percikan air, dirinya ingin memakan mangga muda, tapi pada siapa dia meminta tidak mungkin pada kakaknya karena jarak dan waktu memisahkannya seperti saat ini. Rasanya jika seperti ini Khadijah merindukan kedua orang tuanya, dimana selalu Alm. Ummi Aisyah yang kerap mencarikan apapun yang dirinya minta.
Deru mobil sampai di kediaman orang tua Rayhan, Khadijah yang baru saja keluar dari kamarnya itu dengan segera berjalan menuju pintu utama untuk menyambut kedatangan suaminya. Selepas adzan magrib Ummi dan Abi Rehan pamit untuk makan malam bersama koleganya, dan meninggalkan menantun kesayangannya itu sendirian sampai kedatangan Rayhan nantinya.
“Mas,” regek Khadijah pada suaminya, saat melihat kedatangannya itu. Setelah mencium punggung tangannya tetapi Rayhan menepisnya dan sama sekali tidak menghiraukan rengekkan istrinya itu.
“Mas, iih Khadijah mau mangga muda.”
“Khadijah! Ini sudah hampir jam 9 malam dan kamu bilang sekarang ingin mangga muda, apakah kamu sudah gila hah!” teriak Rayhan, lantas lelaki itu mendorong tubuh Khadijah hingga perut istrinya membentur meja diruang tamu, sementara Rayhan tanpa merasa bersalah melangkahkan kakinya memasuki rumahnya itu.
Di sisi lain Khalil dan Riko baru saja sampai di gerbang kediaman Abi Rehan, keduanya melihat perdebatan antara adiknya dan Rayhan di depan pintu rumahnya itu. Bahkan Rayhan sudah bersikap kasar pada adiknya itu, Khalil langsung membuka pintu mobilnya dan berlari kearah adik kesayangannya itu.