BAB 16

2075 Words
Niken di kawal oleh mereka untuk kembali kediaman alm. Abi Adam, sepanjang perjalanan Khadijah duduk disamping Rayhan sambil menatap kaca mobilnya. Sementara Rayhan fokus pada kemudinya, sepanjang perjalanan hanya keheningan yang diciptakan oleh keduanya. Tak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil yang ditumpangi Khadijah sampai di Masjid Raya Pekanbaru.                Mobil yang dikendarai Rayhan sudah terparkir, Khalil baru saja sampai di lokasi dengan beberapa anak buahnya yang mengikuti dari belakang. Rayhan membuka seatbelt lalu membantu Khadijah membukanya, tatapan keduanya beradu. Deru napas yang teratur bahkan detak jantung keduanya sama-sama terdengar karena keheningan di dalam mobil tersebut.               Khalil yang melihat adiknya tidak keluar sama sekali dari mobil itu akhirnya menjahilinya dengan mengetuk kaca mobil itu, Khadijah dengan spontan langsung mendorong Rayhan hingga kepala lelaki itu terkena dashboard mobil. Rayhan yang menggeram langsung membuka pintu dan menatap datar Khalil.               “Iya tau kok, yang halal mah bebas, tapi engga di tempat parkir juga kali. Khadijah ayo turun cepat!” perintah Khalil, perempuan itu tersenyum dibalik niqobnya lalu meraih tangan Khalil. Tetapi sebelum tangan Khalil mengulur, Rayhan langsung menarik tangan Khadijah dan memeluknya dari samping.               “Biarkan saya yang membawa Khadijah menuju tempat acara!”               Khadijah memandang wajah suaminya itu lalu menundukkan pandangannya, ketiganya berjalan beriringan menuju tempat akad berlangsung. Khadijah dan Rayhan langsung menandatangani buku nikah dan berpoto ria dengan keluar besarnya, Paman Sadam beserta keluarga meminta kepada tamu yang hadir untuk menuju tempat resepsi.  Ummi Nazwa merangkul Khadijah untuk mengikutinya ke dalam mobil, sedangkan Rayhan bersama Kak Edi mengikuti mobil keluarganya. Setibanya di kediaman alm. Abi Adam, mereka disambut oleh beberapa penari adat yang sudah menunggunya, sedangkan Khadijah sudah berada di pintu masuk menuju pelaminan bersama kedua paman dan bibinya.                 Khalil membantu Khadijah melangkahkan kakinya menuju Rayhan, lelaki itu menerima uluran tangan istrinya lalu mengecup puncak kepalanya. Kedua mempelai berjalan menuju pelaminan dengan di bantu beberapa pagar ayu dan April Dinamika dengan saksofonnya. Pancaran kebahagiaan terpancar dari wajah Khadijah dan Rayhan, Khalil menaiki panggung acara dan duduk didepan piano keyboard. Para tamu bergantian menaiki pelaminan, dan saat Maryam bersama keluarga kecilnya menaiki pelaminan tatapan mereka bertemu. Rayhan melepaskan rangkulannya dari tangan Khadijah lalu menatap Maryam yang hanya bisa menundukkan pandangannya, sementara Noer yang melihat Rayhan menatap istrinya langsung merangkul Maryam posesif.                “Barakallah, buat kamu Ray, semoga menjadi suami yang bisa melindungi dan membimbing keluarga kecil kalian. Semoga cepat dikaruniai putra dan putri yang taat pada agama, eits jadi engga ada saingan lagi untuk mendapatkan Maryam yah karena kita satu sama,” ucap Noer dengan geram Maryam mencubit pinggang suaminya itu.               “Mas, ih, apaan sih.  Barakallah, buat Kak Rayhan dan Ukhti Khadijah yah.” Maryam memeluk Khadijah dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya mereka berdua menuruni anak tangga lalu mencicipi jamuan yang tersedia.                Lantunan demi lantunan lagu nasyid dari sigma dan dinamika disenandungkan, Kak Edi sudah berada di atas panggung dengan Kak Yedo dan Khalil selaku personel dari dinamika.                “Selamat siang para hadirin yang berbahagia, hari ini adalah sejarah baru untuk adik kesayangan saya Khadijah. Selamat menempuh hidup baru untuk dirimu dek, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Lagu ini saya persembahkan untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia,” ucap Khalil sambil memainkan piano keyboard.  Hingga Saatnya Bahagia Dinamika   Ini kisah cintaku cinta seorang manusia Dilanda rasa rindu namun inikah saatnya Kutahu ku merasa setiap insan inginkan bahagia Kini aku serahkan segalanya pada takdir Demi ikrar cintaku janjiku untuk dirimu Harus erat kujaga hingga saatnya bahagia Bukan karena diriku tak jua rasakan cinta Kan kudekap rinduku hingga saatnya bahagia Berikan ku kesempatan akan kuluapkan rasa Ucap ikrar cintaku yang hanya untuk dirimu Duhai Tuhan tuliskan cintaku dalam sebuah cerita Takdirkanlah diriku berdua dalam bahagia Demi ikrar cintaku janjiku untuk dirimu Harus erat kujaga hingga saatnya bahagia Bukan karena diriku tak jua rasakan cinta Kan kudekap rinduku hingga saatnya bahagia Kisah anak manusia mengasuh rasa di dada Segala ikrar cinta hanya untuk dia Demi ikrar cintaku janjiku untuk dirimu Harus erat kujaga hingga saatnya bahagia Bukan karena diriku tak jua rasakan cinta Kan kudekap rinduku hingga saatnya bahagia             Suara gemuruh dari tepukan para tamu undangan, Khalil kembali memainkan pianonya bersama kawan-kawannya. Noer memberikan kode pada Kak Edi untuk memberikan mic kearah mempelai pria, dengan langkah kakinya menaiki pelaminan lalu memberikan mic itu pada Rayhan. “Bernyanyilah Ray, ini adalah malam bahagia kalian. Dan buat kesan paling indah agar Khadijah tidak bisa melupakan masa-masa ini,” ucap Kak Edi lalu meninggalkan pelaminan. Rayhan memegang micnya lalu menggenggam erat tangan istrinya itu, lantunan demi lantunan syair lagu Siti Khadijah yang dibawakan oleh Dinamika feat Sigma nasheed. Khadijah menitikan airmatanya saat Rayhan berjongkok lalu mencium punggung tangan kanannya itu, para tamu yang hadir sangat terkejut dengan keharmonisan kedua mempelai itu. Tepukan tangan bahkan ucapan bahagia melihat pasangan yang penuh dengan cinta di atas pelaminan itu membuat semuanya merasakan kehangatan. Malampun tiba, acara walimatul ursy pun selesai. Kedua orang tua Rayhan pamit untuk ke apartemen lelaki itu, sementara kedua mempelai tengah berada di dalam kamar. Khadijah sibuk melepaskan riasan yang ada di tubuhnya, dengan perlahan semua hiasan itu terlepas. Ponsel Rayhan berdering, lelaki itu yang baru saja membersihkan tubuhnya langsung mengangkat panggilan itu. Rayhan berdiri dibalkon sambil berbicara dengan orang disebrang sana, Khadijah yang merasa diacuhkan itu hanya bisa menghela napas dan mempersiapkan pakaian untuk suaminya.             “Mas, sebaiknya kamu makan malam dulu,” ucap Khadijah pada lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu, Rayhan langsung mematikan panggilan setelah anak buahnya mengakhiri panggilan itu.             “Kalau kamu lapar, sebaiknya duluan saja. Karena saya harus kembali ke kantor untuk menandatangani beberapa berkas!” ketus Rayhan pada istrinya itu, hati Khadijah seperti tertusuk pedang mendengar ucapan acuh suaminya itu.             “Tapi, Mas,” ucapan Khadijah terhenti saat Rayhan langsung kembali masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian formalnya, semetara Khadijah menunggu suaminya hingga keluar dari kamar mandi. “Jangan menunggu saya, mungkin tidak akan pulang karena banyak pekerjaan yang harus saya urus terlebih dahulu.” Saat ingin meraih kunci mobilnya tangan Rayhan di cekal oleh Khadijah. “Tapi mas, alangkah baiknya besok saja menuntaskan pekerjaan kantornya, karena ini sudah sangat larut malam. Tidak baik untuk kesehatanmu, lagi pula memang Mas Rayhan tidak mengambil cuti untuk beberapa hari kedepan?” tanya Khadijah yang masih setia menggenggam tangan suaminya itu. Rayhan menghela nafasnya lalu melepaskan genggaman istrinya itu, “Saya bekerja untuk menafkahi kamu, jadi sebaiknya kamu diam saja. Dan untuk masalah cuti menikah, saya tidak mengambilnya karena itu tidaklah terlalu penting!” ketusnya lalu meninggalkan kamar keduanya, detik itu juga airmata Khadijah menetes dibalik niqobnya.             Khalil yang baru saja beres-beres kursi acara melihat adik iparnya itu menuruni tangga dengan pakaian formal, kemana sebenarnya lelaki itu pergi dimalam pengantinnya itu. Khalil yang penasaran akhirnya menyuruh anak buahnya memata-matai adik iparnya itu. Sementara Bibi Diana membawa nampan makanan untuk Khadijah langsung menghentikan langkahnya ketika keponakannya memanggil.             “Afwan,Bi, apakah itu untuk Khadijah dan suaminya?” tanya Khalil yang sangat penasaran, maklum tingkat kepekaan lelaki itu sangat tinggi.             “Na’am, Nak, ini untuk Khadijah dan suaminya. Karena sejak acara seharian tadi mereka berdua hanya memakan kue saja, bahkan Khadijah sangat sulit untuk Bibi suruh makan.”             “Baiklah Bi, bagaimana jika itu diberikan pada Khalil saja yang memberikannya pada Khadijah.” Bibi Diana menganggukan kepalanya lalu memberikan nampan yang dia bawa pada keponakannya itu.             Khalil melangkahkan kakinya menuju kamar Khadijah, sepanjang kakinya melangkah lelaki itu selalu melantunkan lagu dari salah satu nasheed favoritnya. Ketukan pintu terdengar dari luar kamar, Khadijah dengan terburu-buru menghapus airmatanya dan membukakan pintu kamarnya itu. Khalil dengan senyumannya meminta izin untuk memasuki kamar adik kesayangannya itu.             “Dek, Kakak pegel nih masa tidak diizinkan masuk sama kamu?”             “Hehehehe, Afwan, Kak. Ayo silahkan masuk, tapi maaf kamarnya masih berantakan karena Khadijah baru saja selesai membersihkan badan jadi tidak sempat untuk membereskannya.”             “Tidak apa-apa dek, oh iya ini makan malam untuk kamu dan suamimu. Dan tadi kakak lihat suamimu berpakaian formal mau kemana dia?” tanya Khalil yang sangat kepo.             “Mas Rayhan tadi mendapatkan telepon dari kantornya, katanya harus ada beberapa berkas yang ditanda-tangani oleh dirinya malam ini.”             “Yasudah kamu istirahat saja kalau sudah makan, biarkan nanti Kakak saja yang menunggu kepulangan suamimu.” Khalil mencium puncuk kepala adiknya lalu meninggalkan kamar itu dengan rasa sangat marah.             Khadijah melirik makanan yang dibawa oleh kakaknya itu, perutnya memang sangat lapar tetapi jika dia makan apakah suaminya diluar sana juga makan. Apalagi malam seperti ini apakah dia bisa membeli makanan yang sehat untuk dirinya, Khadijah merasakan kesedihan yang sangat mendalam. Bagaimana tidak seharusnya malam ini mereka berdua menghabiskan waktu satu sama lain untuk mengenal lebih dalam, tetapi karena ke sibukan Rayhan mereka berdua harus mengesampingkan malam bahagia ini.             Malampun semakin larut, tetapi Khadijah sama sekali belum bisa tidur. Dirinya hanya duduk di balkon kamar sambil membaca novel untuk menunggu kedatangan suaminya, matanya menyusuri sebuah mobil yang memasuki rumah yang dia ketahui mungkin itu adalah milik suaminya. Khadijah langsung memasuki kamarnya dan mengunci pintu balkon, perempuan itu keluar kamar untuk menyambut kedatangan suaminya. Rayhan baru saja memasuki mobilnya ke dalam garasi, saat dirinya membuka pintu mobil, istrinya sudah berdiri di depan pintu dengan senyuman hangat.             Khadijah meraih tangan suaminya untuk dia cium tetapi langsung di tepis oleh pemiliknya, hati Khadijah sedikit sakit saat melihat perubahan atas prilaku suaminya itu. Khadijah hanya bisa mengusap dadanya, tanpa keduanya sadari seorang lelaki melihat dari balik tirai kamarnya. Tangannya mengepal bahkan rahangnya sudah mengeras melihat adik kesayangannya diperlakukan sama sekali tidak baik.             Khadijah mengikuti langkah kaki Rayhan memasuki kamarnya, lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya tanpa membuka pakaian bahkan sepatu yang dipakainya. Dengan telaten Khadijah melepaskan sepatu dan kaus kaki suaminya itu, Rayhan sama sekali tidak membuka matanya untuk mengganti pakaiannya. Lelaki itu tidur dengan nyenyaknya, Khadijah menarik selimut untuk menyelimuti tubuh suaminya itu lalu ikut berbaring disebelahnya.             Adzan subuh berkumandang, Rayhan membuka matanya dan menyesuaikan cahaya lampu yang langsung menyorot matanya itu. Lelaki itu melihat kearah sampingnya, Khadijah tidur dengan pulas bahkan terlintas dipikirannya bagaimana khawatirnya istrinya itu saat dirinya baru sampai rumah. Mungkin hanya dengan cara ini Rayhan dapat kembali mengubur rasa cinta yang masih tersimpan untuk Maryam, ya benar sekali selama ini lelaki itu masih mencintai adik dari Bang Edi. Mungkin ini terdengar sangat bodoh, karena cintanya tidak akan terbalas sama sekali.             Rayhan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badan sebelum melaksanakan sholat subuh, Khadijah yang mendengar suara gemercik air langsung terbangun melihat jam di nakas. Perempuan itu langsung membolakan matanya karena merasa meninggalkan sholat disepertiga malamnya untuk pertama kalinya, Khadijah langsung bangun dan menyiapkan sajadah untuk melaksanakan sholat. Rayhan yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung melihat gerak-gerik Khadijah cekatan untuk mempersiapkan sholat.             “Mas, sudah bangun?”             “Seperti yang kamu lihat, cepat sebaiknya ambil air wudhu dan saya akan mengimamimu untuk sholat subuh!”             Khadijah langsung berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya perempuan itu sudah berdiri di belakang shaf suaminya untuk melaksanakan sholat subuh bersama. Setelah melaksanakan solat bersama dan tak lupa berdoa, Khadijah meraih tangan suaminya untuk diciumnya. Desiran di hati Rayhan sangat terasa, bahkan pasokan udara yang dia hirup saat ini mungkin menipis melihat prilaku manis istri yang tidak di harapkannya itu. Khadijah berpamitan untuk membantu Bibi dan Ummahnya mempersiapkan sarapan pagi, Rayhan menganggukkan kepalanya. Khalil yang baru saja keluar dari kamarnya melihat adik kesayangannya sedang membantu di dapur, dengan kejahilannya lelaki itu mengambil anggur lalu melempar kearah Khadijah. Perempuan itu hanya menghembuskan napasnya karena kelakuan kejahilan kakak kesayangannya itu, suara deheman membuat canda tawa kedua kakak beradik itu terhenti.             “Khadijah, hari ini kita akan kembali ke bandung!”             “Ta, tapi Mas, kenapa terburu-buru. Dan Khadijah masih mau mengabiskan waktu dengan keluarga,” ucap Khadijah dengan mata berkaca-kaca.             “Khadijah, kamu turuti perkataan suamimu itu. Karena saat ini surgamu ada pada suamimu, Nak,” ujar Ummah Sabrina sambil mengusap puncuk kepala keponakan kesayangannya itu.             “Tapi Ummah, Khadijah tidak mau berpisah dengan Kak Khalil,” rengek Khadijah lalu memeluk kakak kesayangannya itu. Khalil mengusap kepala adiknya dengan sayang lalu mencium keningnya.             “Ikuti perintah suamimu itu, kakak akan baik-baik saja, dengarkan ucapan kakak yah. Kamu harus berbakti pada suamimu itu, benar ucapan Ummah bahwa surganya seorang anak perempuan sudah berpindah pada suaminya. Oleh sebab itu kemanapun kaki suamimu melangkah maka kamu selalu ada di belakang layaknya jari telunjuk dan jari tengah yang selalu bersama-sama. Insya Allah, kakak akan menengokmu sebulan sekali, sekarang kemasi barang-barangmu nanti kami akan mengantarkanmu ke bandara!”             Khadijah hanya menganggukkan kepalanya lalu berlari ke dalam kamarnya untuk mengemasi pakaiannya, saat memasukkan pakaian satu persatu tak lupa air mata itu membasahi pipinya. Rayhan yang melihat prilaku istrinya hanya bisa menatap jengah, siangpun tiba akhirnya kedua pasangan halal ini diantar oleh keluarga besarnya sampai dibandara. Khadijah hanya bisa menundukkan pandangannya dan mengeratkan pegangan tangannya pada Khalil, setelah Rayhan pamit pada keluarga besar Khadijah. Lelaki itu menghampiri kakak iparnya untuk berpamitan lalu menggenggam tangan istrinya untuk memasuki bandara karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD