Ditempat lain, mobil yang membawa Niken dan Khadijah akhirnya sampai di tempat tujuannya yang tak jauh dari lokasi dilaksanakannya akad nikah, Niken keluar dari mobil itu lalu membuka pintu sebelahnya dan menarik pergelangan tangan Khadijah dengan kasar.
“Cepat keluar!” perintah Niken dengan tatapan yang mengerikan.
“Niken, tapi ini bukan tempat yang kita tuju,” ucap Khadijah.
“Diam! Lebih baik ikuti ucapan saya jika kamu ingin selamat.” Niken mencengkram pergelangan tangan Khadijah dengan erat.
“Niken, tanganku sakit. Kenapa kamu menjadi jahat seperti ini, apa salahku?” tanya Khadijah pada sepupunya itu.
“Kamu bertanya apa salahmu, salahmu itu sangat banyak Khadijah. Yang pertama kamu sudah membuat Khalil lebih menyayangimu dari pada saya, yang kedua kamu mendapatkan fasilitas dan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Itu kesalahan yang sangat fatal, oleh sebab itu dengan kematianmu menyusul paman Adam dan bibi Aisyah sangat membahagiakan bagiku,” ucap Niken dengan senyuman sinis, Khadijah mengigit tangan Niken dan mencoba berlari dari sepupunya itu.
“Faisal, tangkap dia jangan sampai lolos!” perintah Niken dengan tatapan membunuh, Faisal langsung berlari mengejar Khadijah.
Khadijah terus berlari tetapi kakinya tersandung hingga tersungkur diatas rerumputan itu, Faisal mencengkram bahu Khadijah dan membawanya menuju Niken. Perempuan itu menghampiri Khadijah lalu dengan tatapan yang memancarkan amarahnya melayangkan tampar pada pipi Khadijah, perempuan yang didepannya itu hanya bisa memegang pipinya yang sangat panas karena tamparan dari Faisal.
Niken menghampiri anak buahnya dan langsung menyeret Khadijah untuk memasuki taman yang sangat luas, perempuan itu berjalan dengan cepat agar tidak ada yang mengikutinya menuju ketempat persembunyian. Khadijah mencoba untuk melepaskan cengkraman di tangan Niken tetapi tidak bisa, perempuan itu hanya bisa menangis merasakan sakit di tangannya dan merasakan ketakutan jika terjadi sesuatu pada dirinya.
Riko melacak dan memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Khadijah, ketika beberapa kilo meter menuju Masjid raya Khalil mendapatkan kabar dari salah satu anak buahnya jika melihat mobil yang sangat mirip dengan milik Niken. Dengan cepat kilat Riko meminta anak buahnya mengingat plat mobil itu dan kembali melacak keberadaannya, tidak membutuhkan waktu yang lama anak buahnya sudah melacak mobil milik Niken yang berada tidak jauh dari masjid raya itu.
Riko dan beberapa anak buahnya turun dari mobil hitam dan memasuki taman yang sangat sepi itu, beberapa anak buahnya menyewa intel untuk mencari keberadaan Khadijah dibantu dengan adanya anjing pelacak. Niken terus menarik pergelangan tangan Khadijah, tetapi perempuan itu mencoba melepaskannya dan berteriak meminta tolong. Riko yang mendengar teriakan seseorang dengan cekatan langsung berlari kearah suara itu, lelaki itu melihat dengan matanya sendiri Niken menarik seseorang yang dipastikan dia adalah Khadijah.
Riko berlari kearah keduanya dengan membawa balok di genggamannya, lelaki itu bersama anak buahnya mengepung Niken dan langsung memukul pundaknya, Khadijah melepaskan dirinya lalu berlari menuju belakang Riko. Lelaki itu langsung menghubungi Khalil dan mengatakan jika dirinya harus datang ke lokasi kejadian itu.
“Assalammu’alikum, pak, saya sudah menemukan Khadijah dan sekarang sedang bersama kami. Sebentar lagi saya akan kirim lokasi tkpnya,” ucap pria disebrang sana.
“Kerja yang bagus Riko, cepat kirim sekarang lokasinya. Saya akan kesana bersama paman Dicky!” perintah Khalil.
Riko langsung mengirim lokasi pada Khalil, Lelaki itu langsung berpamitan pada keluarganya untuk menjemput Khadijah. Paman Dicky mengikuti keponakannya, Khadijah duduk di taman bersama dengan Riko yang tak jauh dari lokasi itu. Tangisnya sangat pilu ketika mengingat betapa kagetnya perlakuan Niken yang dia pikir selama ini sangat baik itu tetapi hanya kedok belaka, Riko memberikan minuman botol dan tisu untuk perempuan itu.
Tetapi Khadijah hanya diam, dia saat ini hanya bisa menenggelamkan wajah cantik itu tepat dilututnya. Rayhan yang melihat Khalil dan Paman Dicky meninggalkan tempat akad, dengan rasa penasaran mengikuti Khalil dari belakangnya. Khalil meraih helm lalu mengendarai motornya bersama paman Dicky, sementara Rayhan dia mengendarai mobil pribadi milik keluarga besarnya.
Sepanjang perjalanan Rayhan mencoba melacak keberadaan Khadijah, lalu anak buahnya memberitahukan jika istrinya itu berada di taman yang tak jauh dari lokasi acara. Rayhan mengendarai mobil itu dengan kecepatan diatas rata-rata untuk segera sampai dilokasi. Khalil memarkirkan motor itu lalu melepaskan helmnya, anak buahnya Agis menghampiri Khalil memberitahukan dimana Riko dan Khadijah berada saat ini. Dengan langkah seribu, Khalil dan Paman Dicky berlari kearah dimana yang ditunjuk oleh Agis.
Rayhan menuruni mobil yang dikendarainya setelah terparkir asal dan berlari memasuki taman yang sangat sepi itu, Khalil yang tak jauh berada di depannya itu sudah berdiri tepat dihadapan perempuan yang tengah terisak pilu. Rayhan mendekati ketiganya dengan langkah kaki yang gontai, tangannya gemetar saat mendengar tangis dari istrinya itu.
“Khadijah,” ucap Khalil dengan nada sedikit gemetar. Khadijah mendongakkan kepalanya.
“Kakak.” Perempuan itu langsung berdiri dan memeluk Khalil dengan erat, tetesan airmatanya membasahi tuxedo milik Khalil. Sementara lelaki itu mengecup puncak kepalanya dan mengusap punggung adiknya dengan sayang.
“Untungnya kamu baik-baik saja, kakak sangat cemas saat Riko mengatakan kamu tidak ada dirumah dan sudah berangkat ke Masjid bersama Niken. Astagfirullah, dimana perempuan itu yang sudah menyakitimu, dek?” tanya Khalil pada adiknya itu.
“K-khadijah sangat takut kak,” ucap Khadijah dengan nada gemetar dengan muka yang sangat pucat. Khalil melepaskan pelukan pada adiknya saat melihat Rayhan yang tak jauh darinya, Rayhan memegang pundak bergetar Khadijah untuk memberikan ketenangan pada istrinya itu.
“Kamu tenang saja, saya dan Khalil akan menjaga kamu dari Niken yang picik itu,” ucap Rayhan lalu merangkul istrinya.
“Benar yang dikatakan Rayhan, sekarang lebih baik kita kembali ke Masjid disana sudah banyak yang menunggu kedatangan kalian berdua!” perintah Paman Dicky disetujui oleh Rayhan dan Khalil, keduanya merangkul Khadijah lalu meninggalkan lokasi itu.
Sementara Khadijah terus melihat kebelakang saat anak buah Riko dan anak buah Rayhan menyeret Niken dengan sadis untuk ikut ke kantor polisi, sementara perempuan itu menghentikan langkahnya menatap Khalil dengan tatapan memohon.
“Kenapa kamu malah berhenti, dek?” tanya Khalil saat melihat adiknya menghentikan langkah kakinya.
“Tolong kak, jangan sakiti niken. Apalagi membawa dia ke pihak berwajib. Apakah kakak tidak kesian pada Ummah Sabrina jika tau anak semata wayangnya terjerat hukum dan mendekam di jeruji besi itu.”
“Tapi itu balasannya karena sudah menyakiti kamu, dek. Ingat apa yang sudah perempuan laknat itu lakukan pada adik kesayangan kakak.” Khadijah langsung menatap geram Khalil saat menekankan kata laknat.
”Astagfirullah, Kakak, apakah Ummi dan Abi mengajarkan kita untuk membalas dendam pada orang yang sudah menyakiti kita. Bahkan mereka malah mengajarkan kita untuk ikhlas menjalani hidup dan tidak menaruh dendam pada siapapun,” lirih Khadijah dengan tatapan sendu ketika mengingat perkataan alm. Ummi dan Abinya.
“Ucapan Khadijah ada benarnya juga, dalam hadis saja sudah disebutkan,” Rayhan menjeda ucapannya lalu melanjutkannya
“Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114).
“Memaafkan adalah amalan yang sangat mulai, ketika seseorang mampu bersabar terhadap gangguan yang sedang ditimpa pada diri kita kak. Serta memaafkan kesalahan orang padahal dia sangat mampu untuk membalasnya, tapi itu hanya bisa membuang-buang waktu apalagi mengotori tangan kakak saja, apakah kakak ingat arti dari surah Asy-syura ayat 40 ,” lirih Khadijah dengan mata berkaca-kaca.
Allah berfirman :
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Q.S. Asy-syura : 40)
“Syukron, Dek, karena sudah mengingatkan Kakak.” Khalil menghela napas lalu memandang anak buahnya itu.
“Siap, pak!” ucap Riko sambil hormat pada Khalil.
“Lepaskan dia, tetapi kalian harus tetap awasi dirinya jangan sampai membuat onar kembali. Apalagi sampai mengacaukan acara resepsi hari ini, dan buat kamu Niken. Kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal oleh Allah, karena sudah membuat anak yatim seperti kami menderita bahkan membuat Khadijah meneteskan airmatanya.”
Riko melepaskan genggaman pada Niken lalu menatap perempuan di depannya itu dengan sinis, sementara Khalil, Khadijah dan Rayhan memasuki mobil yang sudah terparkir sembarangan tak jauh dari mereka berdiri saat ini. Niken berdecak pelan sambil menghentak-hentakkan kakinya karena usahanya sudah gagal untuk membatalkan acara hari ini, Faisal yang ditarik tangannya bahkan dibekap mulutnya dengan kain oleh anak buah dari Rayhan.