Jason menuju lobi, Carla pasti sudah menunggunya lama. Tapi, sayangnya ia tak menemukan wanita itu.
"Jason!"
Jason menoleh ke arah sumber suara."Yessi? Kenapa kamu ada di sini?"
"Iya, aku ingin menemui kamu." Yessi tersenyum.
Jason memperhatikan penampilan Yessi dari bawah sampai ke atas. Gadis itu memiliki banyak perubahan dari segi penampilan. Lebih modis dan sepertinya sudah mengenakan pakaian branded. Wajahnya juga sudah dipoles make up sehingga terlihat jauh lebih dewasa.
"Menemui aku? Untuk apa?"
"Hmm... banyak hal yang ingin aku bicarakan, Jas," kata Yessi dengan sendu.
"Tapi, maaf, Yes aku sedang menunggu seseorang. Sebentar." Jason menoleh ke sana ke mari. Lalu ia melihat Giani.
"Gia!" Panggil Jason.
Gia menghampiri Jason dengan cepat."Iya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?"
"Mana orang yang mau ketemu dengan saya?" tanya Jason sambil berkacak pinggang.
Giani menggaruk kepalanya kebingungan."Saya tanya dulu sama resepsionist ya, Pak."
Giani berlari ke resepsionist,lalu dengan gesit kembali menghadap Jason."Maaf, Pak. Wanita yang ingin bertemu dengan Bapak, Mbak yang ada di depan Bapak ini."
Jason menepuk jidatnya."Akh... harusnya ditolak saja," bisik Jason.
"Wah, sudah terlanjur, Pak. Saya permisi, ya, Pak. Kebelet." Giani ikut berbisik.
"Ih... sana ke toilet!"
Giani terkekeh sambil berlari kecil menuju toilet.
"Jas... gimana?" Tanya Yessi.
Jason menggeleng."Tidak bisa,Yes. Aku ada janji sama orang. Aku harus pergi sekarang."
Jason melangkah keluar kantor.Yessi mengejarnya,"jadi, kapan kita bisa bicara, Jes?"
Jason menghentikan langkahnya."Yes, itu urusan nanti. Sekarang aku harus pergi sebab aku ada urusan." Jason menuju mobilnya dan mengemudikan dengan cepat sebelum Carla pergi bersama Eve. Yessi menghentikan taksi yang kebetulan lewat lalu mengikuti mobil Jason. Di dalam mobil, Jason mencharge ponselnya dan berusaha menghubungi Carla. Tapi, tak ada jawaban. Mobil Carla terparkir di halaman butik Rila, Jason mendesah lega.
"Selamat datang, Pak," sapa Friska.
Jason tersenyum."Dimana Eve?"
"Aku di sini!" Teriak Eve dari sudut ruangan.
Jason menghampiri, di sana hanya ada Eve sendirian."Mana Carla?"
"Di atas, katanya perutnya agak sakit. Jadi, tiduran gitu deh," kata Eve sambil memainkan kipasnya.
"Aku ke atas deh." Jason memutuskan.
Eve mengangguk cuek, ia sedang sibuk memesan makan siang.
"Clay?" Panggil Jason.
Carla yang tengah terbaring menoleh perlahan."Hai...."
"Kamu kenapa?" Jason duduk di sisi tempat tidur.
Carla menggeleng."Tidak tau, perutku sakit."
Jason mengusap perut rata Carla."Kamu sudah makan pagi?"
Carla mengangguk."Sudah. Mungkin makanannya tidak cocok denganku."
"Mau makan siang? Nanti aku siapkan makanan panas supaya perutmu lebih enakan," kata Jason.
Carla mengangguk. Ia bangkit dari tidurnya."
Eve melirik saat Jason dan Carla turun bersamaan."gimana perut kamu, say?"
"Sudah sedikit membaik."
"Terus, mau kemana ini?"
"Mau ke kafe. Biar aku buatin makanan yang baru biar perutnya enakan," kata Jason.
Eve mengangguk."Oke. Sukses ngedatenya, ya, say. Jes... pesenanku jangan lama-lama. Laper berat eyke...."
"Sabar, dong. Lagi rame mungkin. Nanti aku sampein ke mereka supaya duluin pesenan kamu." Jason memeluk pundak Carla dan membawanya pergi.
Eve hanya mengacungkan jempol, lalu disibukkan kembali dengan ponselnya. Mobil Jason terparkir di halaman kafenya. Keduanya turun bersamaan, memancarkan aura pasangan yang sangat serasi. Banyak pelanggan kafe yang tak sengaja melihatnya dari dinding kaca sampai dibuat terkagum-kagum. Keduanya masuk.
"Kamu duduk di sini, ya." Jason memilih tempat paling sudut yang merupakan bukan tempat khusus pengunjung, melainkan tempat untuk dirinya sendiri. Tempat itu dibatasi oleh partisi.
Carla mengangguk. Jason berdiri hendak menghampiri Randy untuk memesan kopi untuknya.
"Kak Jason, kamu lama banget, sih. Aku udah nungguin dari tadi." Suara wanita itu membuat Carla menoleh. Pemandangan yang entah kenapa membuatnya muak. Jason tengah berpelukan mesra dengan seorang wanita. Sayangnya wajahnya tak terlihat.
Carla meneguk saliva. Matanya memanas,hatinya terasa sakit. Dengan segera ia meraih tas lalu pergi meninggalkan kafe.
"Loh, Clay!" Jason mencoba mengejar tapi wanita itu menarik Jason. Seluruh pengunjung menatap mereka. Jason mendesah kesal, ia tersenyum sebagai permohonan maaf pada pengunjung karena sudah terganggu dengan teriakannya.
"Viola... hentikan ini, ya. Ini tempat umum." Jason menarik Viola ke lantai dua. Di lantai dua sedikit lebih sepi karena mungkin arena outdoor.
Viola justru menjadi salah tingkah."Kakak... lama enggak kelihatan. Kemana aja? Idih, kakak keren banget pakai jas begini."
"Vio, ada apa? Kamu mau makan, ya? Silahkan duduk, nanti pramusajinya datang," kata Jason dengan sabar. Sebab ia berhadapan dengan pengunjung kafenya.
"Aku mau ketemu kakak, makan siang bareng, yuk," kata Vio.
Jason menepuk jidatnya. Sekarang ia kehilangan jejak Carla, kemana wanita itu pergi.
**
Jason menghempaskan tubuh lelahnya dengan kesal. Diliriknya James dan Riri yang tengah menonton televisi. Mereka berpelukan mesra.
"Kenapa, Jes?" Tanya James geli melihat wajah adik satu-satunya itu muram.
"Pusing," jawab Jason.
"Abis kencan kok pusing, sih, Jes," kata Riri.
"Kencan apanya...yang ada malah masalah." Jason mengusap wajahnya kasar.
"Kamu tadi pergi sama Carla, kan?" Tanya James memastikan.
Jason mengangguk."Iya, sama Carla. Tapi, ada beberapa insiden terus Carla ngambek. Dia pergi entah kemana. Aku cari ke rumahnya enggak ada."
"Memangnya kamu apain sampai dia marah gitu?"
"Tadi, tiba-tiba ada cewek yang meluk aku. Di depan dia lagi. Ya, dia salah paham terus kabur. Aku cari-cari udah enggak ada," jelas Jason.
James mengangguk-angguk."Jadi, intinya kamu sudah tertarik dong sama Carla. Eh, maksudnya kamu menseriusi Carla sebagai wanita terakhir kamu."
Jason melirik."Memangnya aku ada bilang gitu?"
"Loh, jadi maksud kamu nyariin dia itu kenapa? Kamu takut dia marah, kan pasti ada sebab. Kamu enggak mau kehilangan dia. Iya, kan?" Kata Riri menegaskan.
Jason hanya bisa cengengesan."Aku enggak tau juga, sih. Aku juga enggak tau kenapa aku ngejar Carla."
Riri menatap James dengan geli."Adik kamu kelamaan jomblo atau gimana, Sayang?"
James membelai rambut Riri."Dia itu kebanyakan cewek, sayang, makanya jadi begini. Saking banyaknya, enggak ada satu pun yang menetap."
"Kalian ngomongin aku, ya?" Tanya Jason pura-pura bodoh.
"Bukan. Kita ngomongin seorang pria yang katanya tampan, tapi sayangnya otaknya tidak berjalan dengan baik." James tertawa.
Jason mencebik kesal."Kakak...hati-hati, Riri lagi hamil. Menghinaku membuat anak kakak mirip denganku, ya."
James bersandar di bahu Riri dengan manja."Yang penting masih mirip Morinho. Iya, kan, sayang." Dikecupnya pipi Riri.
"Terus aku harus cari Carla kemana, nih?"
"Enggak tau, Jes. Usaha cari, lah! Carla itu sama kayak Riri. Suka ngilang berbulan-bulan." James melirik Riri yang ternyata sudah melotot ke arahnya. Riri sering sebal jika James menyindir masalah masa lalunya yang suka menghilang entah kemana.
"Masa, sih... Jadi, sekarang aku enggak usah cari dia, dong?" Kata Jason.
Riri menggelengkan kepalanya, tak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Jason."Kalau kamu sayang, cari sampai ketemu. Kalau enggak, ya udah... Enggak usah."
"Iya, Ri." Kemudian Jason terdiam. Matanya menerawang ke langit-langit memikirkan kejadian hari ini. Bertemu dengan Yessi yang semakin cantik, dipeluk oleh Viola yang memiliki tubuh imut dan seksi, lalu berduaan dengan Carla yang bertubuh sintal. Saat ini belum ada yang spesial di hatinya. Yessi dulu sempat menjadi satu-satunya di hati Jason, bahkan ia memang berniat sekali menikahi Yessi. Tak peduli kalau dia adalah orang biasa. Tapi, sayangnya Yessi harus berkhianat. Sekarang, ia tak mungkin kembali pada Yessi.