Pintu gerbang rumah Carla terbuka, mobil berhasil masuk dan langsung menuju garasi.
"Ke... kenapa kamu ikut masuk?" Carla mberkata sedikit keras pada Jason. Ucapan kasarnya itu disebabkan rasa malu yang sudah tak bisa lagi ia tutupi.
Jason menaikkan alis kirinya."Aku, kan pacar kamu." Tanpa memedulikan Carla, Jason memilih terus berjalan masuk ke dalam rumah Carla.
"Je...." Carla menghentikan langkah Jason.
Jason berbalik arah."Iya,kenapa?"
"Aku pengen sendiri, Jas..., please. Makasih udah anterin aku."
Jason terdiam beberapa saat. Tanpa berkata apa-apa lagi, Jason membopong tubuh Carla dan membawanya ke kamar.
"Jason! Apa-apaan, sih? Turunin!" Carla meronta minta diturunkan.
Jason baru menurunkan Carla setelah mereka berada di kamar. Carla menghentakkan kakinya dengan kesal.
"I hate you, Jason."
"But, I love you." Jason memeluk Carla dari belakang merapatkan tubuh mereka dengan mesra. Kini Jason menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Carla,menghirup aroma tubuh Carla dengan sangat dalam. Carla terdiam.
"Jas...."
"Hmmm." Jason menjawab sambil terus menelusuri leher Carla. Sesekali ia menjilatnya.
Carla membalikkan badannya menghadap Jason. Sambil menyatukan kedua telapak tangannya ia berkata,"Maaf untuk ucapanku kemarin. Aku benar-benar tidak tau siapa kamu. Aku mohon maaf. Tapi, jangan perlakukan aku seperti ini. Aku akan tebus kesalahanku."
Jason mengernyit bingung."Memperlakukanmu seperti apa maksud kamu?"
"Kamu... sengaja cium aku. Bikin aku terangsang... Tapi, kalau itu untuk menghukumku... tolong jangan lakukan itu. Apapun... akan kulakukan, Jas. Asal jangan itu." Tatapan sendu itu membuat hati jason luluh.
Jason memegang kedua pundak Clars, menatapnya lekat-lekat."Carla... aku tidak bermaksud melecehkanmu, sayang. Apa aku melakukannya dengan kasar?"
"No." Carla menggeleng.
"Ya... aku melakukannya dengan sangat lembut. Apa yang kamu takutkan? Mana diri kamu yang minggu lalu meniduriku? Menyiksaku. Tapi... aku tidak akan menyiksamu. Aku akan meminta langsung padamu."
Carla menatap Jason dengan bingung."Maksud kamu?"
Wajah Jason condong ke wajah Carla, lalu berbisik,"Aku menginginkanmu."
"I dont believe. Aku tau ini cuma pembalasan kamu atas perbuatanku, kan?"
Jason menggeleng."Kalau kamu menolak, Its okay, Clay. Aku tak memaksa. So... aku bisa pergi dari sini."
"Jas." Dengan spontan Carla menarik pergelangan tangan Jason.
Jason berbalik."Iya?"
"Maaf...."
Jason tersenyum," its okay. Semua baik-baik saja, Clay."
Carla tersenyum, kini tatapannya tak lepas dari mata Jason. Ia mendekat, merapatkan tubuh mereka. Jason sempat tak bisa menerka apa yang akan terjadi selanjutnya sebab ia mendapat penolakan sebelumnya. Tanpa diduga, Carla mengalungkan kedua tangannya ke leher Jason. Tatapannya seakan meminta sesuatu pada Jason.
"What are you doing, Honey?"
"Menurut kamu?" Carla masih menatap Jason.
Jason tersenyum, kemudian merangkul tubuh Carla dan mengangkatnya ke atas tempat tidur. Jason menurunkan dress dari tubuh Carla. Membuka branya lalu menghisap p****g kanannya dengan rakus. Sementara tangan kanannya memilin p****g sebelah kiri. d**a itu memang sangat mempesona dengan ukuran yang membuat semua pria tergiur ingin menyentuhnya.
Carla menjambak rambut Jason pelan, sesekali mengusapnya sambil menikmati perlakuan Jason.
"Jason...."
Wajah Jason mendongak, kini ia melumat bibir Carla hingga tak dapat melanjutkan ucapannya. Hanya terdengar suara gesekan tubuh mereka dan kecupan-kecupan basah. Sesekali terdengar suara desahan.
"Jason..." panggil Carla sekali lagi. Kini Jason mencoba untuk mendengar.
"Iya, sayang?"
"Aku... ingin...." Napasnya tersenggal ketika tangan Jason menyentuh bagian vitalnya.
Jason menyeringai," iya.. kamu ingin apa,sayang? Katakanlah...."
Carla berusaha mengatur napasnya."Aku... inginkan lebih dari ini. Aku ingin dipuaskan. Aku inginkan kamu."
"Apapun untukmu, sayang. Nikmatilah." Jason kembali melumat bibir Carla. Carla meraba setiap inchi tubuh Jason, dan secara perlahan melucuti pakaian Jason. Ia menginginkan lelaki itu, sekarang.
**
Jason terbangun karena ada sebuah gerakan yang mengusiknya. Carla sedang berusaha melepaskan pelukan Jason.
"Kamu mau kemana?"
"Banyak sekali pekerjaan yang harus aku urus, Jas," kata Carla sambil berjalan ke kamar mandi.
Jason mengangguk sambil meraih ponselnya. Sepertinya ia juga akan sangat sibuk hari ini. Ia masih harus bekerja di kantor membantu James. Aktivitas di Kafe harus ia percayakan dahulu pada Randy. Usai Carla mandi, Jason pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua terlihat sama-sama sibuk sebab harus ke kantor. Jason harus kembali ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya.
"Aku pulang, Clay," kata Jason.
Carla yang tengah memakai sepatunya mendongak."Pulang?"
Jason mengangguk."Aku mau ganti pakaian, lalu ke kantor. Kamu hari ini kemana?"
"Menemui beberapa klien dan setelah itu menemui Eve," jawab Carla.
"Lunch bareng?"
Carla mengangguk saja. Dirinya masih gugup akibat peristiwa semalam.
"Aku pergi, Clay." Jason menghampiri Carla dan mengecup kepalanya.
Carla mematung di tempat, sementara Jason sudah menghilang dari pandangannya. Wajah Carla bersemu merah. Perasaannya terlalu senang untuk memulai hari ini.
Jason duduk di ruangan bersama James. Ia tampak duduk santai sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Matanya menerawang ke langit-langit. Jason melirik ke arah James yang sejak tadi memerhatikan dirinya.
"Ada apa, Kak?"
James terkekeh."Tidak ada apa-apa. Aku hanya melihat dirimu semakin tua."
Jason menggeram saja."Jadi, kapan keponakanku lahir?"
"Prediksi dokter bulan depan. Lalu... kapan kau menikah?" James balik bertanya.
"Kapan-kapan. Lagipula aku belum menemukan wanita yang tepat. Aku pikir kemarin aku menemukannya, tetapi, dia mengkhianatiku." Jason termenung sejenak.
"Maksudmu Yessi? Masih belum move on?" James terkekeh geli.
Jason memperlihatkan wajah datarnya."Sama dengan kakak, kan, yang tidak pernah move on dari Riri."
James berdiri dari tempatnya."Tapi, pada akhirnya aku memiliki wanita yang aku cintai, Jas. Riri memilihku.
"Intinya aku tidak separah dirimu yang tidak bisa move on bertahun-tahun." Jason melepas jasnya.
"Aku rasa, Carla tertarik denganmu?" James ikut-ikutan membuka jasnya. Memakai jas membuatnya kurang nyaman, tapi meeting yang baru saja berakhir memaksa mereka memakai jas tersebut.
Jason menggeleng. Pikirannya melayang pada wanita yang pernah menculiknya itu."Aku ada janji makan siang dengannya."
James berdiri."Aku pun ingin segera makan siang, bersama isteriku tercinta." James mengambil kunci mobilnya lalu bergegas keluar ruangan.
Begitu juga dengan Jason, ia juga akan segera keluar untuk memenuhi janji makan siang bersama dengan Carla. Diambil ponselnya untuk menghubungi Carla.
"Mati!" Baterai ponselnya habis. Tapi, seperti yang dikatakan Carla bahwa ia akan menemui Eve di butik. Artinya Jason harus menemuinya di sana.
"Pak, ada seseorang yang ingin menemui Bapak." Giani, sekretaris James menyampaikan hal tersebut saat mereka berpapasan di depan pintu ruangan kerja James.
"Saya? Mungkin James?"
Giani menggeleng."Bapak Jason. Tapi, wanita itu tidak mengatakan namanya Pak. Hanya mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan Bapak."
Jason tersenyum. Sepertinya ia tau siapa wanita yang menunggunya di bawah."Baik. Terima kasih, Gi. Kebetulan saya memang mau turun ke bawah."
Giani mengangguk."Iya, Pak."
"Oh, ya... setelah makan siang saya sudah tidak ke kantor. Urusan selanjutnya sudah diurus Pak James."
"Iya, Bapak CEO." Giani terkekeh.
Jason hanya melempar senyuman manis pada Giani lalu mengerlingkan matanya sebelum ia pergi. Giani memegang dadanya."Bapak...."