Bab 10

1124 Words
Riri turun dari mobil dengan susah payah karena terhalang perut besarnya. Eve langsung berlari ke parkiran. "Say..., kabarin dong kalau sudah nyampe. Biar aku bantuin turun. Duh... untung gak kenapa-kenapa." "Sudah turun. Tolong bayarin ini." Riri menyerahkan tasnya pada Eve kemudian berjalan masuk ke butik. Eve mengurus pembayaran taksinya. Riri duduk di sofa dengan lega. Sedari tadi langkahnya terasa berat. Eve masuk ke dalam butik."Enggak kena macet, kan, say?" Riri menggeleng."Ketepatan belum jamnya pulang kerja, sih, Eve. Tapi sudah hampir. Oh,ya... mana Clay?" Eve melihat jam tangannya."Harusnya sih udah nyampe. Masih di jalan kali, ya." "Mudah-mudahan James enggak marah besar, ya...." Riri melihat ponselnya. "Enggak marah besar? Jadi maksudnya marah yang kecil-kecil aja gitu? Intinya marah, kan." Eve mengibaskan tangannya. "Ya kalau marahnya dikit, gampang dibujuk lah. Dicium aja udah luluh. Kalau marah besar, kudu dikasih jatah double." Riri memukul lengan Eve pelan. Eve terkekeh."Ya gampang, lah kalau itu. Tinggal dikasih aja, sih...." "Heh, perut udah gede banget gini. Rada susah lah. Ada yang ngeganjel," bisik Riri. Eve terkekeh."Enggak bisa bayangin, guenya. Eh... kayaknya itu deh. Iya... itu mobilnya." Benar saja, tak berapa lama mobilnya terparkir, Clara keluar dari mobilnya. "Wah... makin seksi ya tuh anak," kata Riri yang melihat Clay dari dinding kaca. Tapi Clay tidak bisa melihat kejadian apapun di dalam karena tertutup beberapa manequin. Clay masuk ke dalam butik. Langkahnya melambat saat melihat Riri. "Ini kamu, Ri?" "Kenapa? Pasti mau bilang gendut banget ya?" Omel Riri. Clara tertawa dan kemudian memeluk Riri yang sudah berdiri. Pelukan erat, karena mereka sudah lama tidak bertemu. "Rindunya. Ngilang terus ih." Riri memukul lengan Clara pelan. "Ya kan... kita sama, tukang ngilang," Balas Clara. "Sekarang udah diiket, gak bisa ngilang-ngilang kayak dulu," ejek Eve. "Ya udah... duduk ya capek. Maklum... ibu hamil." Riri duduk duluan. "Ri... tugas lo sekarang," bisik Eve. Riri mengangguk. Ia menghubungi James via w******p, sebab ia yakin saat ini pasti Jason yang menyetir. Tak lama berselang, James menelpon Riri. "Halo, sayang?" "Kamu mau nitip sesuatu? Atau pengen makan sesuatu?" "Eng... nggak usah, sayang. Aku ... cuma pengen dijemput." "Hah? Dijemput?! Maksudnya?" "Aku... di butik." Dalam sekejap sambungan telepon terputus. Eve menatap Riri dengan sejuta pertanyaan. "Kayaknya dia marah besar." "Siap-siap sepuluh ronde, deh," balas Eve sambil tertawa puas. Eve,Clara, dan Riri membicarakan banyak hak. Termasuk apa saja yang sudah mereka lakukan selama setahun ini tidak saling berkomunikasi. Pintu butik terbuka. James melangkah lebar. Wajahnya terlihat  marah dan khawatir. Tak lama berselang, Jason juga masuk ke dalam butik. "Sayang...." Tanpa merasa bersalah Riri menyambut James dengan sapaan mesra dan pelukan hangat. Clara dan Eve bertukar pandang dengan heran. Dalam sekejap, kadar emosi James berkurang. Hatinya mendadak meleleh mendapat sambutan yang mesra seperti itu. "Duh... saking khawatirnya, sampe nyetir kayak kesetanan tau nggak," protes Jason. Clara menoleh ke sumber suara dan saat itu juga Jason melihat ke arah Clara. "Loh...?" Ucap Clara. Eve tersadar lalu mengambil alih situasi."Hai, Jason. Udah balik, nih?" "Ehem... iya kemarin," jawab jason yang matanya tak lepas dari Clara. Begitu juga dengan Clara. "Kamu kenal Jason, say?" Eve menyenggol lengan Clara. "Ehmm... dia, kan... pelayan di Kafe itu kan," kata Clara kebingungan. Terlebih saat ini penampilan Jason sangat berbeda. Mengenakan stelan kerja, yang membuatnya terlihat sangat menawan dan seperti memang terlahir kaya. Eve terkekeh."Pelayan lu, Jas. Makanya... kalau ke kafe jangan kayak gembel. Jdi dikirain pelayan deh. Eh, Clay... lupa. Kenalin ini Jason, adiknya James. Ganteng kan?" "What? Jason... adiknya James?" Clara menatap James yang masih berpelukan dengan Riri. "Iya. Jason ini adikku. Dia memang kelamaan tinggal di luar sih... jadi gak pernah kelihatan," jelas James. Clara menepuk jidatnya. Entah harus malu atau bagaimana. Ternyata Jason adalah pemilik kafe, bukan pelayan kafe. Terlebih lagi dia-adalah-adik-James. Yang artinya, Jason itu bukan pria miskin atau pria biasa seperti yang ia kira. "Hai, Darling, kenalin aku Jason." Jason mengulurkan tangannya pada Clara. Clara memberanikan diri menatap Jason yang kini tersenyum penuh arti padanya. Senyuman itu membuatnya harus mengingat saat-saat kebersamaan mereka. Saat ia menculik Jason. Saat ia meniduri Jason dengan paksa. "Mati!" Teriak Clara dalam hati,"Apa yang udah aku lakuin. Astagaa." Tatapan Jason seakan seperti sebuah tatapan kemenangan. Clara merutuk dirinya dalam hati. Malu.... Usai perkenalan itu, mereka semua menuju kafe milik Jason untuk makan malam. Kali ini Jason sendiri yang memilihkan menu untuk semuanya. Menu recommended dari kafenya. "Abis ini kita pulang, ya?" Kata James pada Riri. Pasangan itu menjadi pusat perhatian sebab kelakuan mereka sangat lucu. "Kenapa pulang? Kan, masih pengen ngobrol sama Clay." Riri membantah. "Sayang?" James melotot. Riri terkekeh."Oke... oke. Maaf, ya... aku ke sini tuh cuma supaya Jason ketemu sama Clay aja. Aku pengen ngenalin mereka." "Mau jodohin gitu?" James memandang Jason dan clara. "Yups... bener. Cocok, kan." Eve membenarkan. Jason menatap Clara. Tatapan menggoda."Oh... jadi, Clara pengen kenalan sama aku?" Clara menjadi gelagapan. Ia bingung harus berkata apa. Andai dia bukan Jason, pasti beda ceritanya. Ia tak akan sebodoh ini dalam bersikap. "Rencananya kan, mau ketemu pagi tadi. Modusnya kamu sibuk. Terus... kamu suruh Jason anterin aku. Akhirnya ketemu deh Jason sama Clara." Riri berkata dengan polosnya. Eve hanya bisa geleng-geleng kepala. "Maaf kalau gitu..., maaf ya, Clara. Hari ini kami sibuk di kantor. Kalau tau begitu ceritanya, kan..., aku bisa ikut bantuin susun acaranya. Maaf, sayangku udah marah-marah." James mengecup pipi Riri. Riri mengangguk dan membalasnya dengan kecupan singkat di bibir James. "Memangnya... Jason kerja di kantoran?" Clara memberanikan diri bertanya. "Iya. Jason, kan, CEO nya," balas James. Mata Clara membulat, sementara Jason hanya tersenyum dengan santai. Ia ingin tertawa, tapi tidak mungkin ia lakukan di tempat ramai seperti ini. "Terus... kamu sebagai apa di sana?" Tanya Clara. "Direktur." James tersenyum. Clara termangu seperti orang bodoh. Ingin sekali rasanya saat ini ia menenggelamkan diri di laut yang dalam dan tak perlu bertemu lagi dengan Jason. "Ya sudah... makanan sudah datang. Kita makan dulu." Jason ikut menyajikan makanan yang diantarkan oleh pramu saji. Lagi-lagi Clara hanya bisa membuang wajahnya. Ia tak bisa menatap Jason biarpun sedikit. Ia benci Jason. Usai makan malam, seakan memang sudah direncanakan, Jason mengantarkan Clara pulang dengan mobil Clara. Sementara James, Riri, dan eve pulang dalam satu mobil. "Aku bisa bawa mobil, Clay," kata Jason saat mereka sudah di perjalanan menuju rumah Clara. "Kenapa kamu enggak jujur masalah diri kamu sebenarnya?" Kata Clara dengan wajah yang seperti sudah mau menangis. "Aku enggak tau kalau kamu kenal sama Kakakku, Riri, dan juga Eve. Kita enggak saling kenal. Itu memang benar," jawab Jason dengan santai. "Maksudku... sial bahwa sebenarnya kamu pemilik kafe itu. Kamu juga CEO," balas Carla kesal. "Kamu kan enggak nanya, Clay. Lagipula kamu menculikku karena aku pelayan kafe, kan? Pria miskin enggak punya apa-apa. No problem, Clay. Aku senang kok... diculik sama kamu." Jason terkekeh pelan. Ia terus fokus menyetir. Tak perlu menanyakan dimana alamat rumah Clara karena ia sudah tau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD