Bab 9

1011 Words
Carla hanya bisa cengar-cengir."Maaf... waktu itu aku sedih banget. Terus emang gak ada kabarin siapa-siapa. Lu tau kan... cuma Oma keluargaku satu-satunya. Aku kehilangan banget. Abis itu aku harus urus beberapa aset Oma... usaha aku. Agak ribet." Eve mengangguk-angguk mengerti."Turut berduka cita ya, Clay... kamu masih punya keluarga tau. Aku... masa kamu enggak anggep aku." Clara memeluk Eve lagi."Hmmm... kamu sahabat aku, Eve. Thankyou. Yang penting sekarang aku ada di sini. Oh iya... kamu sendiri?" "Iya... sekarang, kan aku yang urus butik. Aku tanggung jawab semuanya. Riri kan lagi hamil," balas Eve. "Riri hamil? Siapa yang hamilin? Berani-beraninya orang itu." Clara mendadak mencengkram pundak Eve. Eve cengengesan."Hei... hei... hei... sabar, Buk. Yang hamilin ya suaminya lah. Riri udah nikah tau." Carla mendesah lega."Ah... aku pikir ada yang tega hamilin dia. Kapan nikahnya? Aku kok enggak tau." "Heh...wanita jejadian, Situ sendiri yang menonaktifkan semua akun sosmed, kontak gak bisa dihubungin. Kita nyariin tau enggak. Anak-anak club juga." Eve ngomel-ngomel sendiri. "Ya... kan aku udah cerita alasannya kenapa. Eh, Riri nikah sama siapa?" "James," jawab Eve singkat. "What? James? Kok bisa?" Carla seperti sedang berpikir keras. Ia tau bahwa Riri tak mencintai James. Hubungan mereka hanya sebatas teman dari kecil sekaligus teman tidur. "Namanya juga jodoh, say. James itu kan memang cinta mati sama Riri. Udah hampir setahun sih pernikahan mereka. Tuh lagi hamil si Riri," cerita Eve. Carla menopang dagunya."Hmmm enaknya Riri sudah bertemu dengan jodohnya." "Lah... kamu kapan?" Selidik Eve. "Baru juga diputusin, sih. Dia selingkuh tau! Ya ampun... mana cewek yang jadi selingkuhannya cewek biasa-biasa aja lagi. Yang cuma pengen hartanya Revan doang." Mendadak Carla menjadi emosi tingkat dewa. "Enggak ngerti ya sama cewek kayak gitu. Apa susahnya coba cari kerja. Apa aja... yang penting halal. Kita juga dulu kerja mulai dari jadi pelayan kafe... cuci piring. Enggak ngerti deh sama yang gak mau capek." Eve mengembangkan kipas lalu mengibaskannya pelan di dekat leher. "Tau, ah... pengen aku tenggelamkan aja itu cewek. Tapi, ya udahlah... sudah terjadi. Tapi, aku masih enggak rela, Eve...." carla sedikit merengek. Eve menepuk-nepuk pundak Carla."Hei... jelek tau. Masa wanita karir begini cengeng. Cari lagi, lah. Yang lebih oke... lebih kaya bila perlu." "Cariin...." kata Clara manja. "Astaga... kalau udah begini bego lu kumat, Ya, Clay. Ya udin... nanti aku cariin cowok yang pas buat kamu. Dijamin enggak nyesel. Eh... ntar nginep di apartemen aku aja. Aku udah tinggal sendirian, sih." "Iya ya... Riri udah sama James. Eh suruh Riri datang ke apartemen dong." Carla mengguncang tibuh Eve. Eve menggeleng." Enggak bisa. Nanti aku dipenggal sama James." "Lah..  kenapa?" Tanya Clara bingung. "Ya... kan Riri lagi hamil. Enggak boleh kemana-mana. Terus, James itu kan memang dasarnya udah cinta banget sama Riri ya. Jadi, kayak posesif banget gitu, deh," kata Eve dengan mengurangi volume suaranya. Takut terdengar para karyawannya. "Kasihan dong Riri." "Dese malah enak-enak aja tuh. Dia nyaman banget sama James. Padahal dulu, ya... kamu liat sendiri." Eve terkekeh mengingat masa-masa kebersamaan mereka dulu. "James ganteng juga sih... pasti anak mereka cakep. Coba aja ya nemu pria ganteng juga." Carla terkekeh. Eve mengangguk kemudian teringat sesuatu."Eh... iya... aku baru ingat. Gimana kalau kamu... aku kenalin sama adiknya James." "James punya adik? Kok aku enggak pernah tau, sih. Aku pikir dia anak tunggal." Carla terlihat sangat antusias. "Iya. Selama ini adiknya itu ikut sama Mami sama Papi. Jason lebih ganteng loh dari James.... dan... Jason itu pengusaha. Oke kan," bisik Eve. Carla mengangguk dengan semangat."Beneran? Huaaa... kenalin... kenalin...." "Sabrina,say. Dese lagi tugas luar kota ngegantiin James. Paling juga minggu depan baru balik. Ntar, aku atur deh... supaya kalian bisa ketemu." Carla mengangguk setuju. Kini ia menjadi penasaran bagaimana wujud dari adiknya James itu.   **   Jason memasuki rumahnya dengan gontai. Akhirnya ia tiba di rumah. Sudah dua hari ia menginap di kafe sebab banyak yang harus ia urus. "Jason?" James menatap Jason heran. Jason memandang James."Ya? Kenapa?" "Kemana aja beberapa hari ini? Bukannya meeting dibatalkan?" James menatap Jason curiga. Tatapannya seakan meminta penjelasan Jason yang sejujur-jujurnya. "Hmm... iya, aku... liburan." Jason cengengesan. Tentu saja ia berbohong, kan. Mana mungkin ia akan bilang kalau kemarin ia diculik. "Kenapa enggak bilang? Aku cariin. Nomor kamu enggak aktif lagi. Aku butuh bantuan kamu di kantor." James menyodorkan beberapa file dalam sebuah map. Jason meraihnya. Menimangnya sekilas."Mama nanyain enggak?" James mengangguk."Ya... aku bilang kamu meeting lah seminggu. Aku enggak tau kamu kemana. Masa aku bilang kamu ngilang." "Ya udah... aku pelajari dulu filenya. Besok aku ke kantor." Jason mengucek matanya sambil menguap. Ia ingin sekali tidur saat ini. James mengangguk saja apalagi ketika melihat mata Jason sudah merah sekali. James pergi ke kamarnya. "Sayang." Riri mengalungkan tangannya di leher James saat James naik ke tempat tidur. James mengecup pipi Riri."Iya, kenapa sayang?" "Besok, aku ke butik, ya?" Kata Riri sambil menggerak-gerakkan telunjuknya di d**a James. James menangkup wajah Riri."Mau apa?" Riri menunjukkan senyum malaikatnya."Aku pengen ketemu Eve. Boleh, ya? Enggak kemana-mana kok. Palingan nanti kita makan siang di kafenya Jason." James menatap Riri dengan geli."Sayangku... besok, aku enggak bisa anterin kamu. Jadi, aku enggak bisa kasih izin kamu pergi." "Ya... kenapa gitu? Aku bisa naik taksi... atau Eve yang jemput aku. Atau... aku nebeng Jason aja." Riri meneruskan usaha merayu suaminya itu. James menggeleng."Besok... Jason juga sibuk,sayang. Besok Jason ke kantor. Jadi, Maaf, ya, sayang. Besok ... kamu di rumah dulu." "Oh... Jason sibuk." Riri berpikir keras. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti memaksa James mengizinkannya pergi. "Jadi, gimana? Enggak apa-apa ya?" James memeluk Riri. "Kalau malam... kamu atau Jason sibuk enggak?" Tanya Riri. James menggeleng. "Enggak. Cuma seharian aja. Dari pagi sampe sore... sibuk. Enggak bisa handle kamu dulu ya sayang." Riri tersenyum. "Iya deh." Riri mengecup bibir James. "Kamu istirahat, ya, sayang. Perut kamu makin gede... sesak enggak?" James mengusap perut Riri. "Iya, sesak. Tapi, enggak apa-apa ini udah bersandar gini. Udah enakan." Riri meraih ponselnya yang sedari radi berbunyi. Pesan masuk dari Eve. Sepertinya rencana mereka untuk bertemu besok siang batal karena James tidak mengizinkannya pergi James mengalakan televisi, menonton berita malam. Sementara Riri, tangannya sedang sibuk mengetik pesan untuk Eve. Mereka berjanji akan bertemu tapi di waktu yang berbeda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD