Sementara itu Jason yang ternyata memang baru saja dari kamar mandi masih saja berusaha mencari keberadaan mantan kekasihnya itu. Lalu memutuskan kembali menemui Carla tapi matanya masih tetap berusaha mencari keberadaan Yessi. Jason tak menemukan Carla di tempat dimana terakhir kali ia bersama dengan Carla. Lalu ia merasajan seseorang menabraknya dari belakang. Jason menoleh.
"Maaf, Mas." Gadis itu meminta maaf sambil tersenyum.
Jason menaikkan kedua alisnya. Ia mengenal gadis itu."Viola?"
Viola yang masih mengusap wajahnya Karena menabrak punggung Jason langsung berbinar."Kamu... ehmm ... kayaknya aku pernah liat."
"Oh, ya?" Kata Jason dengan sikap cool yang dibuat-buatnya. Tapi, memang pada dasarnya Jason itu memang cool.
"Kak Jason bukan, sih? Tapi, kok beda? Lebih...."
"Lebih apa?" Goda Jason.
"Lebih cakep, ganteng, dannnn seksiii," pekik Viola.
"Makasih," jawab Jason.
"Jadi, ini beneran kak Jason? Ya ampunn!" Viola memeluk Jason. Tangannya melingkar di leher. Gadis itu tak sungkan-sungkan bergelayut manja.
"Kamu ngapain ke sini? Temennya yang ulang tahun juga?" Tanya Jason.
Viola tersenyum gugup."Ya... gitu deh, kak. Eh... kakak ke sini sendiri?"
"Sama temen."
"Kak... sini duduk, yuk. Udah lama enggak ketemu. Kangen tau!" Viola mengajak Jason duduk di kursi meja bar. Vio memandang Jason yang luar biasa malam ini. Biasanya ia melihat Jason memakai kaos dan celana jeans beserta celemek. Kali ini Jason mengenakan Kemeja yang membentuk tubuh.
Vio mendekatkan tubuhnya pada Jason."Kakak punya pacar?"
Jason menggeleng."Enggak."
Vio berteriak dalam hati dan menarik Jason ke area yang lebih gelap.
"Vio, mau apa?" Jason bingung karena Viola hanya menggeretnya kesana ke mari. Vio melingkarkan tangannya ke leher Jason dan melumat bibir Jason.
Jason sempat kaget dan terdiam beberapa saat. Tapi kemudian ia membalas ciuman Viola. Ciuman yang bisa membuat Viola seakan terbang ke langit ke tujuh. Jason sempat terbawa suasana, meraba-raba bagian tubuh Viola yang paling sensitif. Lalu di saat ia hampir tenggelam dalam situasi, matanya secara tak sengaja menangkap bayangan seorang wanita yang dicarinya sejak tadi. Jason melepas ciumannya. Viola melenguh kecewa sebab Jason merusak suasana.
"Hei..."
"Hmm... aku pergi dulu, Viola. Temen aku nyariin. Sampai nanti. Dahh!" Jason berjalan cepat agar tidak kehilangan jejak.
Viola memegang bibirnya yang masih basah sambil memandang punggung Jason yang kian menjauh. Lalu mendadak ia menunduk, tersipu malu.
"Jay!" Carla melipat kedua tangannya di d**a sambil memanggil Jason yang melintas di hadapannya.
Jason menoleh."Hei... aku nyariin kamu."
"Makanya... kalau mau pergi pamit dong, sayang," kata Carla dengan nada suara manja.
Jason terlihat bingung. Tapi kemudian ia melihat Carla memberi kode. Ia menghampiri Carla."Maaf, ya... tadi udah kebelet."
"Ini siapa, bebs? Ganteng!" Bisik Grace.
"Oh.. ya... ini gebetan baru aku namanya Jason. Jason... ini temen aku Bianca dan Grace."
"Pacar apa gebetan? Ganteng banget sih. Hai,aku Grace."
"Jason."
"Aku Bianca. Kamu ... pacar atau gebetan?"
"Jason. Hmm... apa ya,mungkin saat ini masih gebetan, sih. Kecuali kalau Clay ngasih jawaban yes saat ini juga." Jason mengerlingkan matanya dengan jahil.
"Ya ampun..., Clay... kamu ngegantung Jason? Gue aja rela diselingkuhin deh kalau penggantinya kayak Jason gini."
Carla justru menjadi salah tingkah dengan jawaban Jason. Sementara Jason malah santai saja seolah sedang tidak terjadi apa-apa barusan.
"Jawab iya," kata Bianca mendorong tubuh Carla ke arah Jason.
"Jadi, gimana,clay? Kamu terima aku jadi pacar kamu enggak?" Tanya Jason membuat Carla melotot. Ia tak percaya kalau Jason akan melakukan hal ini. Ini terlalu manis untuk sebuah pacaran yang pura-pura.
Mau tak mau Carla mengangguk. Ini kan keinginannya."I... iya."
Bianca dan Grace bertepuk tangan.
"Akhirnya... gue yakin, setelah ini... kalian bakalan jadi pasangan paling serasi ngalahin itu tuh," tunjuk Grace.
Jason menoleh ke arah yang dimaksud Grace. Itu adalah Yessi dan Revan. Jason mematung beberapa saat melihat Yessi yang berpenampilan tak biasanya. Mungkinkah ia salah lihat atau ini hanyalah mimpi.
"Jason?" Carla menyentuh pundak Jason yang tengah mematung.
Jason tersentak dan tersadar bahwa sedari tadi ia memerhatikan mantan kekasihnya itu."Eh... iya?"
"Kamu ngeliatin Yessi terus. Belum bisa move on?" Tanya Carla.
Jason terkekeh."Aku, kan, sudah punya pacar baru. Kamu, kan?"
Clara mendelik saja."Aku bertanya serius, Jason. Kamu masih sayang sama Yessi?"
"Mungkin. Kenapa nanyain itu? Kamu cemburu ya?" Goda Jason.
Clara menggeleng dan melangkah hendak meninggalkan Jason. Tapi, dengan sigap Jason menarik lengan Clara hingga masuk ke dalam pelukannya.
"Hei, mau kemana? Kita di sini pacaran, kan? Jangan jauh-jauh dariku."
"Oke," balas Clara sambil membalas pelukan Jason. Sebab saat ini Revan dan Yessi tengah melihat ke arahnya dan Jason. Kini Clara harus menunjukkan kepura-puraannya lagi. Ia harus bermesraan dengan Jason sepanjang malam.
"Setelah ini... aku harus pulang, Clay," bisik Jason.
"Kenapa?" Clara menatap wajah Jason yang sepertinya memang sedanh serius dengan ucapannya.
"Aku punya pekerjaan. Aku harus cari uang," jelas Jason.
Clara mengembuskan napasnya singkat."Aku kan sudah janji akan membiayai hidup kamu selama bersamaku. Ngapain harus capek-capek kerja."
"Lebih nyaman kalau ngasilin uang hasil keringat sendiri, Clay. Aku nyaman dengan pekerjaanku. Jadi, aku mohon biarkan aku pergi. Kamu bisa hubungi aku kapan saja kamu mau." Jason berusaha meyakinkan Clara. Bagaimana pun juga ia harus kembali. Ia harus tau bagaimana kondisi kafenya.
"Oke." Clara mengalah.
Malam itu entah kenapa mood mereka berdua sama-sama buruk. Mungkin masing-masing masih memiliki rasa dengan mantan masing-masing. Sesuai denfan perjanjian, Clara melepaskan Jason. Ia mengantar Jason ke kafenya. Clara mendadak frustasi, ia butuh teman bicara. Kemudian ia teringat sesuatu. Diarahkannya mobilnya ke butik yang tak jauh dari kafe dimana ia mengantarkan Jason.
"Clay?" Eve mengernyitkan kening saat teman lamanya itu datang menemuinya di butik.
"Eve!" Clara duduk dengan santai di sebelah Eve.
"Udah lama gak ada kabar... datang-datang nyelonong aja. Main langsung duduk. Enggak dipeluk dulu gitu eyke?" Eve mencolek lengan Carla.
Carla tertawa kemudian memeluk eve dengan erat. Eve menarik rambut Carla pelan. "Jahat, ya! Kemana aja selama ini? Aku pikir udah jadi simpanan orang," kata Eve jahat.
"Eh busyet... aku masih waras. Masih banyak pria lajang mau jadi suami aku. Masa iya jadi simpanan... kayak enggak punya duit aja." Carla terkekeh.
Eve mengangguk."Nah, eke setuju kalau itu. Cari duit sendiri lebih endes ya, Cyin..., eh jadi udah punya suami? Pantes ngilang."
Clara menarik napas berat, kepalanya sekilas menunduk lalu menengadah lagi seolah sedang berusaha mencari kekuatan dalam dirinya."Bukan. Aku ngilang bukan nikah atau apalah itu. Cuma kemarin ngurusin harta warisan. Oma kan meninggal."
Eve menutup mulutnya, ekspresinya sangat kaget."Innalillahi... kamu kok enggak kabarin aku, sih? Kamu anggap aku apa, heh? Wanita jahara."