Sejak sentuhan singkat namun membekas di ladang, benih-benih perasaan yang lama terpendam seperti disiram air hujan, tumbuh subur dan sulit untuk diabaikan.
Via dan Darwin terjebak dalam pusaran emosi yang membingungkan, semakin sulit untuk mengabaikan getaran aneh yang muncul setiap kali mereka berdekatan.
Ada kerinduan yang menyesakkan d**a, tatapan-tatapan curi yang sulit dihindari, dan kebisuan yang menyimpan berjuta kata yang tak terucap.
Desa Terpencil seolah ikut merasakan kegundahan hati mereka, menyuguhkan suasana yang mendukung kebangkitan kenangan masa lalu.
Hujan mulai sering turun, membasahi bumi dan melarutkan debu-debu keraguan yang selama ini menutupi hati mereka.
Suara tetesan air yang jatuh di atap rumah warga menjadi melodi melankolis yang menemani hari-hari mereka, seolah mengiringi kisah cinta yang sedang berusaha untuk menemukan jalannya kembali, kisah cinta yang terluka namun belum sepenuhnya padam.
Suatu sore yang kelabu, ketika Via dan Darwin sedang beristirahat sejenak di posko KKN setelah seharian bekerja keras di lapangan, radio tua milik Pak Kades yang biasanya hanya menyiarkan berita dan pengumuman penting, tiba-tiba memutar sebuah lagu lawas yang sangat familiar bagi mereka berdua.
Lagu itu adalah lagu yang sering mereka dengarkan saat masih bersama dulu, lagu yang menjadi soundtrack kisah cinta mereka di masa lalu, lagu yang mengingatkan mereka pada janji-janji manis dan impian-impian indah yang pernah mereka bagi bersama.
Liriknya yang menyayat hati tentang cinta yang hilang, penyesalan yang mendalam, dan harapan untuk kembali bersatu, seolah mewakili perasaan mereka saat ini, perasaan yang campur aduk antara kerinduan, penyesalan, dan harapan.
Via terdiam, terpaku pada lagu yang mengalun merdu di udara, membiarkan suara itu merasuk ke dalam hatinya yang rapuh.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, memburamkan pandangannya, seolah-olah ia sedang menonton cuplikan film tentang masa lalunya bersama Darwin.
Ia teringat akan kenangan indah bersama Darwin, saat-saat bahagia yang pernah mereka lalui bersama, ciuman pertama, pelukan hangat, dan janji-janji setia.
Namun, ia juga teringat akan luka yang pernah ia derita akibat pengkhianatan dan kebohongan, luka yang masih terasa perih meskipun waktu telah berlalu.
Darwin, yang duduk di sampingnya dengan wajah yang penuh penyesalan, juga tampak tersentuh oleh lagu itu.
Ia menatap Via dengan tatapan yang penuh dengan kerinduan, kesedihan, dan harapan yang membuncah di dalam hatinya.
Ia ingin meraih Via dan memeluknya erat, namun ia takut jika tindakannya itu akan membuatnya semakin menjauh.
"Lagu ini... mengingatkan kita pada masa lalu, ya?" ucap Darwin lirih, memecah keheningan yang semakin menyesakkan d**a mereka. Suaranya terdengar bergetar, seolah ia sedang menahan air mata.
Via hanya mengangguk pelan, tak mampu berkata apa-apa. Ia merasa ada sesuatu yang menghalangi tenggorokannya, membuatnya sulit untuk mengeluarkan suara.
Ia takut jika ia membuka mulutnya, air mata akan tumpah ruah dan ia akan terlihat lemah di hadapan Darwin.
"Aku tahu aku telah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Aku telah menyakitimu, mengecewakanmu, dan menghancurkan kepercayaanmu. Aku sangat menyesal atas semua yang telah kulakukan," lanjut Darwin dengan suara bergetar, mengungkapkan penyesalan yang selama ini membebani hatinya dan menghantuinya setiap malam.
Ia ingin Via tahu bahwa ia benar-benar menyesal atas semua yang telah ia lakukan dan bahwa ia bersedia melakukan apa saja untuk memperbaiki kesalahan masa lalunya.
"Aku tahu, Win," jawab Via singkat, berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.
Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Darwin, meskipun sebenarnya hatinya sedang hancur berkeping-keping.
"Aku tidak berharap kamu akan memaafkanku begitu saja. Aku tahu aku harus berusaha keras untuk membuktikan bahwa aku benar-benar telah berubah dan bahwa aku pantas mendapatkan kesempatan kedua darimu," kata Darwin dengan sungguh-sungguh, menatap Via dengan tatapan yang penuh harapan.
Ia ingin Via tahu bahwa ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan kembali cintanya dan bahwa ia akan melakukan apapun untuk membuktikan bahwa ia layak untuk dicintai kembali.
"Aku tahu kamu takut untuk percaya padaku lagi. Aku tahu kamu takut terluka lagi. Tapi aku janji, Via, aku tidak akan pernah menyakitimu lagi. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia," ucap Darwin, menggenggam erat tangan Via, memberikan sentuhan yang hangat dan menenangkan.
Via tersentak, merasakan getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Genggaman tangan Darwin mengingatkannya pada masa lalu, saat mereka masih saling mencintai dan tidak ada keraguan di antara mereka.
Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah juga, membasahi pipinya. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
Darwin mendekat dan memeluk Via dengan erat, membiarkannya menangis di bahunya.
Ia tahu bahwa air mata Via adalah ungkapan dari luka yang masih belum sembuh, dari ketakutan yang menghantui, dan dari kerinduan yang mendalam.
Ia memeluknya erat, memberikan dukungan dan kenyamanan yang ia butuhkan.
Setelah beberapa saat, Via akhirnya berhenti menangis. Ia melepaskan pelukan Darwin dan menatapnya dengan tatapan yang lembut dan penuh dengan emosi yang campur aduk.
"Aku tersentuh oleh pengakuanmu, Win," ucap Via dengan suara serak, berusaha mengatur napasnya.
"Aku ingin percaya padamu. Aku ingin kita bisa kembali bersama. Tapi aku masih ragu. Aku masih takut terluka lagi. Aku takut jika semua ini hanya ilusi belaka."
"Aku mengerti, Via," jawab Darwin dengan sabar, mengusap air mata yang masih membasahi pipi Via.
"Aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku begitu saja. Aku tahu aku harus membuktikannya padamu. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan bahwa aku benar-benar telah berubah dan pantas mendapatkan cintamu kembali."
"Aku takut, Win," bisik Via lirih, mengungkapkan ketakutannya yang paling dalam.
"Aku takut jika kau akan menyakitiku lagi seperti dulu. Aku takut jika semua ini akan berakhir dengan air mata dan kekecewaan."
"Aku janji, Via, aku tidak akan pernah menyakitimu lagi. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia," kata Darwin dengan sungguh-sungguh, menatap Via dengan tatapan yang penuh dengan keyakinan dan cinta.
"Tapi aku tidak bisa memaksamu untuk percaya padaku. Kamu harus memberikan kesempatan padaku untuk membuktikannya. Berikan aku kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku layak untuk dicintai kembali."
Via terdiam sejenak, menimbang-nimbang kata-kata Darwin. Ia tahu bahwa ia harus mengambil keputusan yang sulit, keputusan yang akan menentukan masa depannya.
Ia bisa terus hidup dalam ketakutan dan keraguan, menutup hatinya rapat-rapat dari cinta, atau ia bisa mengambil risiko dan memberikan kesempatan kepada Darwin untuk membuktikan bahwa ia benar-benar telah berubah.
"Aku... aku tidak tahu, Win," ucap Via akhirnya dengan suara putus asa, mengakui kebingungannya.
"Tenang, Via. Kita tidak perlu terburu-buru," kata Darwin sambil tersenyum lembut, berusaha menenangkan Via.
"Kita tidak perlu membuat keputusan apapun sekarang. Kita bisa membiarkan waktu yang menjawabnya. Waktu akan menunjukkan apakah kita benar-benar ditakdirkan untuk bersama."
"Maksudmu?" tanya Via, bingung.
"Kita bisa fokus pada proyek KKN ini dan mencoba untuk lebih mengenal satu sama lain. Kita bisa melihat apakah perasaan kita benar-benar tulus dan apakah kita benar-benar bisa kembali bersama," jawab Darwin dengan bijak, memberikan saran yang masuk akal.
Via terdiam sejenak, mempertimbangkan saran Darwin. Ia menyadari bahwa Darwin benar. Mereka tidak perlu terburu-buru.
Mereka bisa membiarkan waktu yang menjawab semua pertanyaan dan membuktikan apakah mereka benar-benar ditakdirkan untuk bersama.
"Baiklah," ucap Via akhirnya, menyetujui saran Darwin. "Aku setuju. Kita akan fokus pada proyek KKN ini dan mencoba untuk lebih mengenal satu sama lain. Kita akan membiarkan waktu yang menjawabnya."
Darwin tersenyum lega. Ia tahu bahwa ini adalah langkah awal yang baik dalam perjalanan mereka menuju rekonsiliasi.
Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa ia benar-benar telah berubah dan pantas mendapatkan kesempatan kedua dari Via.
Hujan terus turun dengan deras, seolah ikut merayakan kesepakatan yang baru saja mereka buat.
Lagu lawas yang menyayat hati itu masih mengalun di radio, menemani kebersamaan mereka yang dipenuhi dengan harapan baru, melankoli yang mendalam, dan ketidakpastian yang menghantui.
Bab ini diakhiri dengan suasana yang menggantung, membuat pembaca penasaran dengan kelanjutan hubungan Via dan Darwin.
Apakah mereka akan berhasil mengatasi luka masa lalu dan kembali bersatu dalam cinta?
Atau akankah ketakutan dan keraguan menghancurkan harapan mereka?