LUKA YANG BELUM KERING
Mentari pagi, meski perlahan merayap naik, tak mampu sepenuhnya mengusir kelam yang bersemayam di balik tirai krem apartemen Via.
Cahaya yang masuk terpecah-pecah, membentuk pola geometris di lantai parket yang mulai usang, seolah berusaha meniru keharmonisan yang dulu pernah hadir di ruangan itu.
Lima tahun. Lima tahun sudah berlalu sejak ia menginjakkan kaki terakhir kali di rumah besar yang dulu ia sebut “rumah kita.”
Lima tahun sejak ia menandatangani lembaran perceraian, kertas putih yang terasa dingin di tangannya, seperti mengubur hangatnya mimpi yang pernah mereka rajut bersama.
Lima tahun sejak ia melepaskan cincin itu – simbol cinta abadi yang ternyata tak sekuat baja – dari jari manisnya.
Dan lima tahun sejak Darwin, pemilik senyum yang dulu selalu berhasil mencairkan hatinya, menghilang dari radar kehidupannya, meninggalkan hampa yang menganga.
Di usia pertengahan tiga puluhan, Via adalah representasi wanita modern yang mandiri.
Ia adalah seorang dosen Sosiologi di salah satu universitas ternama di kota itu, mengajar dengan dedikasi tinggi dan semangat membara.
Ia dikenal sebagai dosen yang cerdas, kritis, dan memiliki kemampuan unik untuk membangkitkan minat mahasiswa terhadap isu-isu sosial.
Para mahasiswanya mengagumi kecerdasannya, menghormati ketegasannya, dan terinspirasi oleh idealismenya.
Namun, di balik fasad dosen yang kuat dan mandiri, bersembunyi seorang wanita yang rapuh dan kesepian.
Luka perceraian itu bagaikan infeksi yang terus menggerogoti hatinya, menghantuinya dalam setiap aktivitas dan pemikiran.
Ia berusaha keras untuk menyembunyikan lukanya, memasang topeng ceria di depan orang lain, namun di kedalaman jiwanya, ia merasa kosong dan kehilangan arah.
Rutinitas paginya adalah ritual yang membosankan, namun juga memberikan sedikit rasa aman dan kontrol.
Ia bangun pukul 06:00 tepat, merebus air untuk kopi instan. Ia sudah lama tak menikmati kopi tubruk seperti yang dulu selalu disiapkan Darwin untuknya dan menyantap sarapan seadanya: selembar roti gandum dengan selai kacang murah.
Dulu, Darwin selalu menyiapkan sarapan mewah untuknya: omelet dengan sayuran segar, pancake dengan sirup maple, atau bubur ayam hangat. Namun, semua itu hanyalah kenangan yang kini terasa seperti mimpi.
Setelah sarapan, ia mandi dan berpakaian. Ia mengenakan pakaian profesional: blus kemeja dengan rok span selutut atau celana panjang formal.
Ia tak pernah berlebihan dalam berdandan, hanya mengenakan sedikit pelembab dan lipstik nude. Ia ingin terlihat profesional dan berwibawa, namun tak ingin menarik perhatian yang tak perlu.
Dulu, Darwin selalu memujinya setiap kali ia berdandan, mengatakan bahwa ia terlihat cantik apapun yang ia kenakan. Namun, kini ia tak lagi memiliki siapa pun untuk dipuji.
Via tak memiliki banyak teman dekat. Ia lebih sering menghabiskan waktu sendirian di apartemennya, membaca buku, menonton film klasik, atau mendengarkan musik jazz.
Ia tak suka keramaian dan obrolan basa-basi. Ia merasa lebih nyaman berada dalam kesunyian dan ketenangan.
Sesekali, ia bertemu dengan teman-teman lama, namun ia selalu menghindari topik pernikahan dan perceraian.
Ia tak ingin membahas masa lalu yang menyakitkan dan memicu air mata yang sudah lama ia tahan.
Hubungannya dengan keluarganya pun terjalin renggang. Orang tuanya tinggal di kota lain dan jarang berkunjung.
Ia merasa orang tuanya tak benar-benar memahami dirinya dan terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Ia lebih memilih memikul bebannya seorang diri dan mencari solusi atas masalahnya sendiri.
Di dinding ruang tamu, masih terpasang lukisan abstrak yang mereka beli saat anniversary pernikahan mereka yang kedua.
Lukisan itu menggambarkan lanskap surealis dengan warna-warna yang kontras dan bentuk-bentuk yang tak terduga.
Dulu, mereka berdua berdebat panjang lebar tentang makna lukisan itu. Darwin melihat kebebasan dan ekspresi diri, sementara Via melihat kekacauan dan ketidakpastian.
Kini, lukisan itu hanya mengingatkannya akan perbedaan mendasar antara dirinya dan Darwin, perbedaan yang akhirnya menjadi pemicu keretakan hubungan mereka.
Di rak buku, tertata rapi novel-novel karya Jane Austen, Virginia Woolf, dan Simone de Beauvoir.
Dulu, ia dan Darwin sering menghabiskan malam dengan membaca dan mendiskusikan karya-karya tersebut.
Mereka berdebat tentang feminisme, cinta, dan eksistensi manusia. Darwin selalu memiliki pandangan yang berbeda darinya, pandangan yang seringkali membuatnya kesal namun juga terinspirasi.
Ia merindukan perdebatan intelektual itu, rindu pada kehadiran Darwin sebagai teman diskusi dan lawan bicara yang setara.
Bahkan, aroma kopi yang menguar di pagi hari pun membawa serta kenangan tentang Darwin.
Pria itu selalu menyiapkan kopi untuknya setiap pagi, dengan takaran gula dan s**u yang pas sesuai seleranya.
Ia selalu menghias permukaan kopi dengan latte art sederhana, seperti hati atau daun. Ia merindukan perhatian kecil itu, sentuhan personal yang membuat setiap pagi terasa istimewa.
Namun, semua itu hanyalah fragmen masa lalu yang kini terasa jauh dan tak terjangkau.
Darwin telah pergi, membawa serta sebagian dari dirinya. Ia tak yakin apakah ia akan pernah bisa mencintai orang lain seperti ia mencintai Darwin.
Terkadang, ia bertanya-tanya apakah ia memang ditakdirkan untuk hidup sendiri, selamanya dihantui oleh kenangan masa lalu.
Tiba-tiba, dering telepon memecah lamunannya. Via tersentak kaget dan segera mengangkat gagang telepon.
"Halo?" sapanya dengan suara sedikit serak.
"Selamat pagi, Ibu Via," suara seorang wanita yang familiar terdengar dari seberang telepon. "Saya dari bagian administrasi fakultas, Ibu."
Via mengernyitkan dahi. "Pagi. Ada apa ya, Mira?"
"Begini, Bu, saya mau menyampaikan informasi terkait penugasan KKN tahun ini."
Napas Via tercekat. KKN. Tugas rutin yang selalu ia hindari karena menyita terlalu banyak waktu dan tenaga.
Ia lebih suka fokus pada penelitian dan pengajaran di kampus. Namun, sebagai dosen tetap, ia tak bisa menolak tugas KKN.
"Oh ya?" tanyanya dengan nada datar, berusaha menyembunyikan rasa enggan. "Saya ditugaskan di kelompok mana?"
"Ibu ditugaskan sebagai dosen pembimbing untuk kelompok KKN di Desa Sukamaju, Kecamatan Cilengkrang, Bu," jawab Mira dengan nada formal. "Surat penugasan resminya akan kami kirimkan melalui email, mohon dicek ya, Bu."
"Baik, Mira. Terima kasih atas informasinya," jawab Via singkat, lalu menutup telepon.
Ia menghela napas panjang, merasa lelah bahkan sebelum tugas itu dimulai.
Ia membenci tugas-tugas administratif seperti ini. Ia lebih suka berinteraksi langsung dengan mahasiswa di kelas atau melakukan penelitian lapangan.
Ia beranjak dari meja makan dan berjalan menuju jendela. Ia menatap langit pagi yang kelabu, seolah ikut merasakan kesedihannya.
Ia merasa terjebak dalam rutinitas yang membosankan dan tak berarti. Ia merindukan sesuatu yang baru, sesuatu yang bisa membangkitkan semangatnya.
Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benaknya. Mungkin, tugas KKN ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk keluar dari zona nyaman, untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, dan mungkin saja, untuk menemukan kembali dirinya sendiri.
Mungkin, desa terpencil di Sukamaju itu menyimpan sesuatu yang ia butuhkan, sesuatu yang selama ini ia cari.
Ia tersenyum tipis, merasakan secercah harapan menyala di dalam hatinya.
Mungkin, ia tidak perlu membenci tugas KKN ini. Mungkin, ini adalah awal dari sesuatu yang baru.
Kemudian, ingatannya kembali pada nama yang tertera di daftar dosen pembimbing KKN.
Darwin. Kenangan pahit itu kembali menyeruak, membuyarkan harapan yang baru saja tumbuh. Pertemuan yang tak terhindarkan.
Perjalanan kembali ke masa lalu. Akankah ia mampu menghadapinya?
Akankah luka itu kembali menganga, atau justru sembuh dengan sentuhan waktu dan pengalaman baru?
Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Dan Via, dengan segala keraguan dan keberaniannya, siap untuk menghadapi babak baru dalam kehidupannya.