Ruang dosen, yang seharusnya menjadi oase ketenangan di tengah hiruk pikuk kampus, pagi itu justru terasa menyesakkan bagi Via.
Di balik meja kerjanya yang tertata rapi, ia memandangi layar laptop dengan tatapan kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.
Di hadapannya, sebuah email dari bagian administrasi terpampang jelas: surat penugasan KKN.
Ia menghela napas panjang, merasakan gelombang malas dan enggan menjalar ke seluruh tubuhnya, meruntuhkan semangatnya yang biasanya membara.
Tugas KKN. Kenapa harus sekarang? Pikirnya kesal, membayangkan waktu dan tenaga yang akan tersita.
Ia lebih memilih berfokus pada penelitiannya yang sedang berjalan atau mempersiapkan materi kuliah untuk semester depan, kegiatan yang lebih sesuai dengan minat dan keahliannya.
Detail penugasan itu terpampang jelas di layar, seolah mengejek ketidaksetujuannya.
Lokasi: Desa Sukamaju, Kecamatan Cilengkrang. Sebuah nama yang asing di telinganya, langsung membangkitkan bayangan tentang daerah terpencil yang sulit dijangkau dan minim fasilitas.
Via membayangkan jalanan berlumpur, rumah-rumah reyot yang jauh dari standar kenyamanannya, dan segala macam ketidaknyamanan yang akan ia rasakan selama berada di sana.
Ia selalu membenci ketidakpastian dan kesulitan, lebih memilih kepastian dan kenyamanan.
Durasi: Dua bulan penuh.
Terlalu lama untuk berada jauh dari apartemennya yang nyaman, dari kesunyian yang ia nikmati, dan dari rutinitas yang sudah ia susun rapi dengan begitu hati-hati.
Dua bulan yang membentang di hadapannya terasa seperti siksaan, waktu yang akan terasa sangat lama dan membosankan.
Tugas: Membantu masyarakat desa dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Sebuah tugas yang mulia, tentu saja, tapi ia merasa tidak kompeten untuk melaksanakannya.
Ia lebih nyaman dengan data dan teori, dengan menganalisis masalah sosial dan menyusun strategi pemecahannya, daripada berinteraksi langsung dengan masyarakat, mengajar anak-anak membaca, atau memberikan penyuluhan kesehatan.
Ia merasa keterampilan dan pengetahuannya tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat desa.
Anggota Kelompok: Daftar nama mahasiswa dan dosen pendamping hanya ia lirik sekilas, tanpa minat untuk membaca satu per satu.
Ia merasa tak perlu mengenali mereka terlalu jauh, toh tugas ini hanya perlu diselesaikan, bukan dinikmati atau dijadikan ajang untuk mencari teman baru.
Ia lebih suka bekerja sendiri dan mengandalkan kemampuan sendiri.
Konflik internal yang berkecamuk dalam dirinya semakin menguat.
Ia ingin menolak tugas ini, mengajukan alasan logis kepada dekan fakultas, seperti padatnya jadwal penelitian dan persiapan kuliah.
Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu itu mustahil.
Ia adalah seorang dosen profesional, terikat oleh tanggung jawab dan komitmen terhadap universitas.
Ia tak ingin mengecewakan pihak universitas, merusak reputasinya, atau menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri.
Dilema itu semakin membuatnya tertekan, merasa terjebak dalam situasi yang tak mungkin ia hindari.
Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk, membuyarkan lamunannya.
Via tersentak kaget, segera merapikan penampilannya dan berusaha menyembunyikan rasa frustasinya.
"Masuk," ucapnya berusaha tenang, meskipun suaranya terdengar sedikit bergetar.
Pintu terbuka, dan Pak Fadli, seorang dosen senior yang ramah dan selalu memberikan dukungan, masuk dengan senyum lebar di wajahnya.
"Selamat pagi, Via! Bagaimana kabarmu hari ini?" sapanya dengan nada ceria.
"Baik, Pak Fadli," jawab Via, berusaha membalas senyumnya meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja. "Bapak sendiri?"
"Saya baik juga. Saya dengar kamu dapat tugas KKN ya?" tanya Pak Fadli, matanya berbinar.
Via mengangguk lesu, tidak bisa menyembunyikan ekspresi yang kurang bersemangat. "Iya, Pak. Di Desa Sukamaju."
"Wah, desa yang indah itu! Saya pernah ke sana beberapa tahun lalu. Pemandangannya luar biasa, udaranya segar, masyarakatnya ramah dan gotong royong," cerita Pak Fadli antusias, seolah berusaha membangkitkan semangat Via.
Via hanya tersenyum tipis, tidak tertarik dengan cerita Pak Fadli.
Ia lebih tertarik pada kenyataan bahwa ia harus meninggalkan kenyamanannya selama dua bulan.
"Tapi memang terpencil," lanjut Pak Fadli, nadanya sedikit berubah menjadi lebih serius.
"Jalan sulit dijangkau, fasilitas minim, dan banyak tantangan lainnya. Kamu harus mempersiapkan diri baik-baik, Via. Bawa perlengkapan yang memadai, jaga kesehatanmu, dan jangan lupa untuk selalu berhati-hati."
"Terima kasih, Pak Fadli," ucap Via tulus.
Nasihat Pak Budi memang masuk akal, meskipun tidak menghilangkan rasa enggan dan malas yang ia rasakan.
"Semangat ya! Saya yakin kamu bisa menjalankan tugas ini dengan baik. Kamu dosen yang pintar, kreatif, dan berdedikasi. Jangan lupa untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat, belajar dari pengalaman mereka, dan memberikan yang terbaik yang kamu bisa," pesan Pak Fadlu sebelum berpamitan dan meninggalkan ruangan Via.
Kata-kata Pak Fadli, entah bagaimana, sedikit mengubah sudut pandangnya.
Ia menyadari bahwa ia tak bisa terus menerus bersikap negatif dan hanya melihat sisi buruk dari tugas KKN ini.
Ia harus mencoba melihat sisi positifnya, sebagai kesempatan untuk belajar hal baru, mengembangkan diri, dan berkontribusi bagi masyarakat yang membutuhkan.
Ia juga harus mengingat bahwa ia adalah seorang dosen, seorang pendidik yang memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan yang terbaik bagi mahasiswanya dan masyarakat luas.
Dengan tekad yang lebih kuat, ia melihat lagi daftar anggota KKN.
Kali ini, ia sengaja mengabaikan nama-nama mahasiswa dan langsung mencari nama dosen pendamping.
Ia membaca dengan seksama, berharap tidak menemukan nama yang ingin ia hindari, nama yang akan membangkitkan kenangan pahit masa lalu.
Ibu Sari, dosen senior dari jurusan pendidikan, terkenal sabar dan penyayang.
Pak Heru, dosen muda dari jurusan pertanian, ahli dalam bidang teknologi pertanian dan pemberdayaan masyarakat.
Dan... jantung Via berdebar keras, tangannya gemetar saat matanya tertuju pada satu nama yang sangat familiar.
Darwin.
Nama itu bagai petir menyambar di siang bolong, menghancurkan pertahanannya dan membangkitkan kenangan masa lalu yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.
Senyum Darwin, tawanya, sentuhan lembutnya, semua terbayang jelas di benaknya.
Masa-masa bahagia yang pernah mereka lalui bersama, kebersamaan yang dulu terasa begitu indah dan abadi, kini terasa begitu jauh dan tak mungkin terulang kembali.
Lalu, pengkhianatan, kebohongan, dan luka yang dalam kembali menyerbu benaknya, membuatnya marah, sedih, dan bingung.
Pertemuan dengan Darwin adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan.
Ia merasa terjebak dalam situasi yang tak mungkin ia hindari, tak tahu bagaimana harus bersikap, bagaimana harus bekerja sama, dan bagaimana harus mengatasi perasaan yang masih tersisa di hatinya.
Ia membenci Darwin karena telah menghancurkan kepercayaannya, meninggalkannya dalam kesedihan, dan merusak impiannya tentang masa depan yang bahagia.
Rasa penasaran muncul, mengalahkan rasa takut dan cemas.
Bagaimana reaksi Darwin saat bertemu dengannya?
Apakah pria itu masih mencintainya, ataukah sudah melupakannya?
Apakah mereka bisa melupakan masa lalu dan memulai babak baru sebagai rekan kerja yang profesional, ataukah luka lama akan kembali menganga dan menghancurkan segalanya?
Ia tidak tahu, dan ketidaktahuan itu membuatnya semakin cemas.
Yang pasti, perjalanan KKN ini akan sulit, sangat sulit.
Bukan hanya karena lokasinya yang terpencil dan tugas yang menantang, tetapi terutama karena kehadiran Darwin.
Pria itu akan menjadi bayangan masa lalu yang terus menghantuinya, ujian berat yang harus ia lalui untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia adalah wanita yang kuat, mandiri, dan mampu mengatasi segala rintangan.
Via menutup laptop dengan kasar, bersandar di kursi, dan memejamkan mata.
Ia merasa lelah secara fisik dan mental, seolah seluruh energinya telah terkuras habis.
Ia tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi ia tahu bahwa ia harus siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk pertemuannya dengan Darwin.